Sabtu, 23 Januari 2010

Cuaca Buruk, Nelayan Ciparage Libur Melaut

CUACA BURUK:
Hujan dan badai yang tiap hari menghantui pesisir laut utara Karawang membuat para nelayan takut melaut. Seperti yang terjadi pada nelayan Ciparage, sudah lebih dari sebulan mereka hanya memarkir perahunya di muara sungai. Kondisi seperti ini tentu saja sangat menyulitkan perekonomian para nelayan (baca halaman 8/wahadi/raka).

MANG RAKA

CAWALGUB PKS

Menurut pengurusnya, siapapun yang akan dicalonkan sebagai bupati dari PKS, calon wakil bupatinya harus dari kader PKS sendiri.

MANG RAKA:
Okelah kalo begitu....!

PKS Patok Calon Wakil Bupati, Siapapun Calbup Yang Diusungnya

KARAWANG, RAKA – Enggan dibilang bingung dalam menentukan bakal calon bupati dan wakil bupati, serta disebut minim kader yang siap dimajukan dalam Pilkada 2010 nanti, pengurus PKS dengan garangnya mulai berani menantang. Parpol pemiik 6 kursi di DPRD Karawang ini menerapkan syarat wajib, bahwa siapapun peminat nyalon orang nomor satu harus siap menerima orang keduanya dari kader PKS sendiri. Bila tidak, PKS menolak dilamar pihak luar, baik dari kalangan parpol maupun non parpol sebagai rekan koalisinya.

Keberanian sikap PKS tersebut dikemukakan anggota Tim Optimalisasi Musyarokah (TOM) atau tim penjaringan bakal calon bupati/wakil bupati internal DPD PKS Karawang, H. Nanda Suhanda. “Parpol kami sudah wajib memajukan kader untuk dipasangkan dengan calon koalisi di posisi calon wakil bupati. Bagi yang tidak siap, tawaran apapun kami tolak,” tegasnya.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan tidak berhasil mendapatkan teman koalisi akibat dari penerapan syarat wajib itu, Nanda merasa tetap yakin kalau PKS bakal diburu parpol atau figur lain yang siap naik panggung Pilkada 2010. Alasannya, soliditas kader PKS menjadi salah satu modal terbesar parpolnya dalam merebut kemenangan atas pilihan rakyat.

“Kami tidak boleh pesimis. Insya Allah PKS jadi rebutan. Terus terang, sampai saat ini sudah ada figur bakal calon dari salah satu parpol yang secara intensif mendekati PKS. Hanya sampai hari ini pula kami selalu menolak bila harus datang ke markas figur bersangkutan. Bukan apa-apa, pengalaman pahit kami di Pilkada 2005 lalu menjadi pelajaran sangat berharga,”ucap Nanda bernada tinggi.

Pelajaran berharga yang dimaksudkannya, Nanda menyebut, tidak berharap lagi PKS dicemooh ketika keringat perjuangan belum kering. Padahal waktu itu peran parpolnya dalam menyukseskan keberhasilan pasangan calon yang diusungnya sangat optimal. Namun karena nasib baik untuk memperoleh kemenangan belum bisa digapai, akhirnya hanya umpatan dan fitnah yang diterima. “Pengalaman masa lalu itu sangat kami hindari. Tidak ada cara lain, PKS harus maju dengan kader sendiri.

Kalau pun hanya sebagai calon orang keduanya. Kami juga sadari, PKS belum jadi parpol besar yang bisa jalan tanpa koalisi dengan parpol lain. Tidak tertutup kemungkinan PKS berkoalisi dengan PDI-P, Golkar, Demokrat, atau parpol-parpol lainnya,” tandas Nanda. Disebut dia, kader PKS yang telah disiapkan itu adalah Eka Herdiana yang anggota DPRD Jawa Barat. Nama lain, Budiwanto yang kini tercatat sebagai wakil ketua DPRD Karawang. Termasuk anggota DPRD di sini lainnya dari Fraksi PKS, seperti Dedi Sudrajat dan Karmin Amrullah. Namun berdasarkan hasil survei internal parpolnya, kata Nanda, nama Eka Herdiana memperoleh dukungan terbanyak. Sehingga kemungkinan yang bakal dimajukan PKS orang bersangkutan.

Sedangkan syarat tambahan yang mutlak harus dipenuhi bakal calon bupati yang diijinkan diberikan rekomendasi PKS, lanjut Nanda, merupakan orang yang benar-benar diterima masyarakat Kabupaten Karawang. Artinya, elektabilitas calon tersebut tinggi. Selain itu, figur calon yang diusungnya nanti harus pula memiliki jiwa leadership tinggi, minimal sekelas Dadang S. Muchtar. Berakhlak mulia, dan memiliki dukungan kuat dari mayoritas parpol. “Pemerintahan yang kuat harus didukung banyak parpol,” tandasnya lagi. (vins)

Pelita Tunggu Dewi Fortuna

BERAT: Pelatih Pelita Karawang Pandi Ahmad harus memutar otak agar Pelita menang di kandang sendiri.

KARAWANG, RAKA -
Menghadapi Persipura Jayapura dalam laga lanjutan Indonesia Super League (ISL), di Stadion Singaperbangsa, Minggu (24/1) sore, Pelita Jaya Karawang FC akan berharap kemunculan Dewi Fortuna. Pasalnya saat ini, Pelita masih dirundung masalah ketajaman penyerang dan lemahnya barisan pertahanan. Terlebih pada pertandingan sebelumnya Pelita menelan pil pahit setelah dipangkas Persitara Jakarta Utara (1-0) di Stadion Soemantri Brodjonegoro, Sabtu (16/1) silam.

Setelah mengalami kekalahan ketika bertandang ke Persitara Jakarta Utara, membuat peluang Pelita untuk meraih poin penuh di kandang akan mengalami kesulitan. sebab secara mental anak-anak Pelita pasti turun, setelah melihat saat ini Pelita masih berkutat di klasemen paling bawah. Terlebih ketika Fandi Ahmad memberikan sinyal akan memecat penyerang yang dianggap mandul selama laga ISL berlangsung.

Melihat karakter anak-anak papua yang agresif dan tidak kenal lelah membangun piramida serangan dengan pola serangan cepat melalui umpan-umpan pendek dan memiliki kemampuan menyerang maupun bertahan sama baiknya, Pelita Jaya Karawang FC yang diarsiteki Pelatih Fandi Ahmad kemungkinan akan tetap memainkan pola permainan umpang-umpan panjang dan sesekali melakukan tendangan dari luar kotak penalti dengan mengandalkan Firman Utina dan Yuthajak Kojan sebagai playmaker.

Seperti yang dikatakan Fandi beberapa waktu yang lalu, dari barisan pertahanan sampai penyerangan semuanya tidak menampilkan permainan yang terbaik. "Mencetak gol susah, bertahan tidak bisa, sungguh sangat mengecewakan," tandasnya. Agar Pelita Jaya bisa selamat dari jurang degradasi, Fandi mengatakan setelah melakukan evaluasi, manajeman akan melakukan perombakan besar didalam tim. "Beberapa penyerang akan dipecat, dan manajemen akan membeli penyerang baru," tuturnya.

Persipura yang memiliki penyerang sekelas Alberto Goncalves yang sudah menjaringkan sepuluh gol pada musim ini, akan menjadi momok yang menakutkan apabila barisan pertahanan Pelita yang digawangi oleh Johan Ibo, kembali lengah di menit awal seperti menghadapi Persitara Jakarta Utara dan menit akhir ketika ditahan imbang Persebaya Surabaya.

Meski dari sisi pertahan dan penyerangan, Pelita masih mengalami masalah. Apabila pada saat nanti melawan Persipura, pemain Pelita bermain all out, ada kemungkinan Pelita membuat kejutan. Sebab menurut Fandi, lemahnya permainan Pelita karena banyak para pemain yang bermain tidak sepenuh hati. Makanya dalam pertandingan lanjutan ISL di Stadion Singaperbangsa, Minggu (24/1) sore, selain semangat juang pemain harus digenjot, diperlukan juga dukungan penuh dari Laskar Pelita.

Di sisi lain, Persipura yang kini menduduki peringkat kelima sedang memiliki kepercayaan diri setelah berhasil menggasak Persijap Jepara (1-0) di Stadion Andi Matalatta, Mattoangin, Makassar, Rabu (20/1). Selain itu, Persipura diuntungkan dengan bermain di kandang lawan, mereka bisa bermain lepas. Melihat kondisi tersebut, Pelatih Persipura Jayapura Jackson F Tiago tidak akan bermain terlalu kebelakang. Kemungkinan tim yang berjuluk 'Mutiara Hitam' akan mempertahankan kesimbangan antara penyerangan dan pertahanan, ditambah saat ini kondisi Persipura dalam kondisi baik. (psn)

Acep Ogah Disebut Calon Bupati

Acep Jamhuri Menolak Disebut Balon Bupati

KARAWANG, RAKA – Acep Jamhuri meminta masyarakat untuk tidak lagi mengait-ngaitkan atau menyebut dirinya sebagai bagian dari figur bakal calon bupati maupun wakil bupati. Wacana kearah itu, diharapkannya, agar segera ditutup. Karena ia lebih memilih concern sebagai Pegawai Negeri Sipil.

“Sebagai PNS saya tidak boleh ikut-ikutan politik praktis. Baik sebagai pendukung calon tertentu, apalagi maju nyalon. Tugas jadi kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sudah cukup nyaman. Saya lebih memilih patuh terhadap tugas, loyal terhadap pimpinan, dan konsisten menjadi abdi negara dalam melayani rakyat,” tegas Acep.

Pernyataan sikap Acep ini menanggapi pemberitaan RAKA edisi Kamis (21/1) bahwa berdasarkan hasil survei LSM Madani Institute, dirinya masuk pada barisan tokoh yang mendapatkan respon atau dukungan masyarakat. Kalau pun dukungan itu memperoleh nilai signifikan, tandas dia, dirinya tetap menolak jadi calon, apalagi dicalonkan.

“Saya minta tolong jangan diusik-usik lagi. Tak pernah terpikir sedikit pun punya hasrat ikut nyalon di Pilkada 2010. Terus terang, yang ngajak memang banyak. Malah ada yang siap memberi modal bila saya mau maju. Tapi semua itu saya tolak. Kiprah saya di Disbudpar saja sudah lebih dari cukup. Di sini untuk berkarya makin tertantang. Kalau sampai mau jadi bupati atau wakil bupati mah, jujur saja saya harus ngaca diri,” tandas Acep.

PKB Hari Ini Muscab
Sementara itu, PKB Kabupaten Karawang pada Sabtu (23/1) hari ini akan menggelar Musyawarah Cabang (Muscab). Tempat pelaksanaan yang dipilih adalah aula Wisma Asih di samping sekretariat parpol mereka di Jalan Kartini Karangpawitan. Selain melakukan pemilihan calon ketua DPC baru, para pengurus PKB ini juga telah mempersiapkan agenda kegiatan bagi pemenangan Pilkada 2010 bagi pasangan calon yang akan diusungnya nanti.

Dikatakan Ketua DPC PKB, Akhmat 'Zimmy' Jamakhsari, pelaksanaan Muscab kali ini merupakan Muscab dipercepat. Yakni, bagaimana parpolnya bisa makin mensolidkan pengurus dan kader-kadernya dalam menyongsong perhelatan politik sekelas Pilkada. “Berdasarkan SK DPP PKB No.3554/DPP-03/V/A.1/VIII/2008, kepengurusan DPC sekarang harusnya berakhir Agustus 2010. Namun karena Pilkada makin dekat dan butuh konsentrasi penuh, makanya Muscab dimajukan,” jelasnya.

Di sisi lain, tambah Zimmy, pihaknya ingin pula mengakomodir sebagian pengurus lama yang belum tercatat dalam kepengurusan pada SK DPP tersebut. Hasil konsultasi dia bersama pengurus DPC lain ke DPP, saran yang diberikan untuk mengakomodir penambahan pengurus harus dilakukan melalui forum Muscab. “Dasar pemikiran itulah yang kemudian kami di DPC sepakat menggelar Muscab dipercepat. Padahal kalau pun Muscab tidak sekarang, kepengurusan atas SK DPP itu tetap masih bisa mengeluarkan keputusan politik terkait penjaringan bakal calon untuk Pilkada 2010,” ucap Zimmy lagi yang mencalonkan kembali sebagai calon ketua DPC periode 2010-2015. (vins)

Mobil Terdakwa 'Kasus Macan" Dibobol

RAWAN: Polisi periksa mobil milik Didin yang dibobol.

KARAWANG, RAKA – Area di lingkungan Pemkab mulai tidak aman lagi. Setelah beberapa bulan lalu sempat terjadi pencurian sepeda motor, kini aksi sejenis terulang. Kali ini yang jadi korban adalah Kabid Angkutan pada Dinas Perhubungan (Dishub), Didin Abidin yang kini berstatus terdakwa dalam dugaan korupsi pengadaan 3 ekor anak macan yang diawetkan(ofset).

Mobil Kijang Super jenis pick up bernomor Polisi T-8098-D yang sedang diparkirnya saat shalat Jum`at (22/1) di masjid Al-Amal Pemkab, dibobol maling. Barang-barang yang berhasil diembat maling, menurut pengakuan Abidin, 1 unit laptop merek Toshiba, 4 unit handphone ( Esia, Nokia 5610, N 93 dan IMO B 819 ) uang tunai Rp 1 juta, dan pulsa elektronik seharga Rp 1 juta.
“Handphone merek itu IMO B 819 baru saya beli dari toko di dekat pintu rel kereta api Jalan Tuparev. Dari kantor Dishub di Cikampek saya tidak kemana-mana lagi, kecuali beli handphone.

Setelah itu langsung meluncur ke Pemkab untuk shalat Jumat di masjid ini,” tutur Abidin.
Tanpa curiga apa-apa, karena sudah terbiasa, ia memarkir mobilnya tidak jauh dari depan masjid. Merasa mobil plat merah yang jadi kendaraan dinasnya itu sudah tua, dan memang tanpa remote kontrol, pintu depan cukup dikunci manual. Ia langsung bergegas masuk masjid untuk menunaikan shalat Jumat.

Ia langsung kaget ketika usai shalat kembali menuju mobilnya, rumah kunci mobilnya itu dalam kondisi rusak bekas congkelan benda keras semacam obeng atau kunci T. Ketika dicoba pintu dibuka tanpa lebih dulu memasukan kunci, ternyata posisi pintu sebelah kanan sudah tidak terkunci lagi. Yang makin mengagetkan dirinya, seluruh barang bawaannya yang tersimpan dalam jok depan kiri sudah lenyap.

Spontan ketika ia sontak kaget, beberapa orang di sekitarnya yang sama-sama usai menunaikan shalat Jumat mengerubutinya. Termasuk beberapa orang wartawan. Abidin sadar kalau ternyata dirinya jadi korban aksi pencurian. Selang beberapa menit setelah dipastikan barang-barang berharganya dicuri maling, Abidin kontak polisi.

Ketika berita ini ditulis, kemarin sore, aparat kepolisian dari Polres Karawang sedang melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Abidin juga menyebut, ada dokumen penting lain miliknya yang juga raib digondol maling. “Saya curiga jangan-jangan aksi pencurian di mobil dinas saya ini ada motif lain. Masa sampai dokumen pribadi saya diembat juga? Total kerugian kalau dijumlahkan dengan nilai uang sekitar Rp 25 juta,” ujarnya.

Di tempat terpisah, KBO Polres Karawang Iptu Surdin Simangunsong didampingi Kanit Ekonomi, Aiptu Asep Rudi mengatakan, berdasarkan hasil olah TKP, pelaku yang cukup lihai memanfaatkan situasi diperkirakan terlebih dahulu menjebol pintu kanan mobil itu sebelum mengambil barang-barang elektronik tersebut. "Pintu kanan mobil pick up itu diduga dijebol dengan menggunakan kunci palsu," kata Surdin.

Selain sebuah laptop yang diakuinya milik Dishub, Didin, timpal Asep, juga kehilangan 1 memori eksternal 120 giga dan sebuah modem merek Wimod."Untuk sementara, kita baru meminta keterangan dari korban karena korban datang tidak didampingi saksi lainnya," ujar Asep. (Vin/Ops)

Warga Mulyasejati Berharap Tanahnya Dikembalikan

SENGKETA: Saan Mustopa terima pengaduan warga.

KARAWANG, RAKA
– Warga Desa Mulyasejati Kecamatan Ciampel dipertemukan oleh Fraksi Demokrat DPRD kepada anggota DPR RI dari fraksi yang sama, Saan Mustofa, di gedung wakil rakyat Karawang, Jum`at (22/1). Mereka sepakat menyelesaikan persoalan terkait status tanahnya yang dianggap telah diklaim Perhutani dituntaskan di tingkat pusat.

Sebelumnya, di hari yang sama kemarin, perwakilan warga Mulyasejati tersebut hendak menuju Senayan untuk bertandang ke gedung DPR RI. Namun karena sudah ada kabar bakal datang Saan ke Karawang, akhirnya mereka sepakat lebih menunggu kehadiran yang bersangkutan tanpa harus pergi jauh ke Jakarta.

“Seperti tekad kami sejak lama, bahwa ketika persoalan ini tidak pernah ada ujung pangkalnya, upaya akan terus kami lakukan. Apalagi ketika surat permohonan kepada Presiden SBY melalui Sekretariat Negara telah dikirim jauh sebelumnya, dan sampai sekarang belum dapat tanggapan, kami coba lagi melalui jalur legislatif. Harapan kami, mereka bisa menembus langsung ke pemerintah pusat,” ujar juru bicara warga, Agus Suntara.

Dalam pertemuan mereka dengan Saan, wakil rakyat dari daerah pemilihan Karawang-Purwakarta-Bekasi ini menjanjikan siap mempelajari semua berkas yang diterimanya dari warga Mulyasejati itu. Untuk menyelesaikan persoalan pertanahannya, fraksinya nanti di DPR RI bisa merujuk ke Komisi IV. Sedangkan kaitan hukumnya, dapat ditangani Komisi III.

“Segala kemungkinan akan kita coba upayakan. Kalau memang perlu langsung ke Presiden, kenapa tidak? Apalagi kalau saya baca dari dokumen yang dimiliki warga, mereka ternyata sudah berjuang meminta haknya kembali sudah lama. Insya Allah pekan depan telah bisa kita bahas bersama-sama di Fraksi Demokrat DPR RI dulu. Hasilnya nanti kita terus koordinasi dengan warga bersangkutan,” ujar Saan.

Seperti dijelaskan berkali-kali oleh Agus, bahwa warga Desa Mulyasejati, khususnya yang tinggal di Kampung Patunjang, Kebon Ceret, Cirametek, Ciawitali, dan sekitarnya, mulai terusik ketika pihak Perhutani memindahkan tata batas ke perkampungannya. Sehingga tanah yang merasa mereka miliki, dijadikan tempat tinggal, dan digarap secara turun temurun sejak tahun 1918, tiba-tiba diklaim jadi bagian dari milik Perhutani.

“Berdasarkan fotografi tahun 1942, dilahan kami sudah dinyatakan ada perkampungan. Malah peta ihtisar Perhutani juga sempat memperkuat data itu. Anehnya, di peta Perhutani sekarang justru jadi bagian milik mereka (Perhutani -red). Inilah yang kemudian warga tidak terima. Kami sudah mengajukan semua berkas dari bukti-bukti kepemilikan tanah tersebut ke Menteri Kehutanan, Menteri Pertanian, hingga ke Perhutani sendiri, sampai kini belum ada hasil yang diharapkan. Bahkan telah mengirim surat ke Presiden segala melalui Setneg,” ungkap Agus.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Fraksi Demokrat DPRD, Muhtar, SH, menambahkan, penjelasan dari salah seorang pejabat di Badan Pertanahan Nasional (BPN) Karawang pernah menyebutkan, tanah seluas kurang lebih sekitar 1.500 hektar itu adalah tanah inklab atau tanah masyarakat yang masuk Perhutani. Dengan adanya topdam (pengukuran) mulai tahun 1970, akhirnya muncul status lain yang kemudian diprotes warga. (vins)

Buah Naga Klari Dipasok ke Jakarta

BUAH NAGA: Kepala Kebun Buah Naga Klari, Junaedi Irwansyah terlihat tengah memetik buah naga siap panen. Januari ini merupakan panen kedua sejak perkebunan itu berdiri.

KLARI,RAKA
- Untuk kedua kalinya di tahun 2010, perkebunan buah naga merah di Klari berhasil dipanen dengan hasil yang cukup lumayan. Buah naga Klari tersebut akan di pasarkan ke Jakarta sebagai wilayah utama pemasarannya.

"Ini merupakan panen kedua di tahun 2010. Minggu pertama 2010, telah dilakukan panen yang pertama, "ucap Kepala Kebun Buah Naga Klari, Junaedi Irwansyah SPdI saat ditemui RAKA, Jumat (22/1) pagi ketika akan memanen buah naga Klari yang dikelolanya.

Dilanjutkannya, dalam tiga minggu sekali, dari 1000 pohon buah naga merah yang dikelolanya, menghasilkan 50 kilo buah naga. "Prospek usaha buah naga cukup bagus. Buah naga tidak ada musimnya, setelah panen langsung berbuah lagi. Tahun yang lalu juga, buah naga yang berhasil di jual mencapai 13.903 buah. Harganya juga relatif bagus. Kami tidak takut kalah bersaing dengan buah naga impor yang banyak di pasaran.

Selain mengembangkan buah naga, pria lulusan SPMA Karawang ini juga mengembangkan bibit buah naga merah Klari. Bahkan bibit yang dikembangkannya tersebut telah di kirim ke berbagai daerah di luar Karawang, misal Bandar Lampung, Pontianak dan ke daerah Jawa. "Permintaan buah naga cukup banyak, apalagi bibitnya, terutama dari daerah Lampung. Setiap bulannya, saya pergi ke Lampung, karena diminta untuk mengembangkan buah naga Klari di sana," ungkapnya.

Bahkan, lanjut Junaedi, konsumennya di Bandar Lampung telah memesan bibit buah naga merah Klari lebih banyak lagi. Karena perkebunan buah naga yang ada di sana, akan diperluas lagi seluas 25 hektar. "Saya khawatir yang di Lampung semakin berkembang, karena mereka akan memperluas lahannya. Padahal, bibit mereka berasal dari sini (Klari-red) dan dikembangkan oleh saya. Mungkin kedepan saya akan kembangkan lagi buah naga merah, karena sangat potensial. Supaya buah naga merah Klari bisa lebih terkenal," harap pria asal RT 02/03 Dusun Cirejag Desa Cibalongsari Kecamatan Klari.

Akan tetapi, tambahnya, dalam mengembangkan buah naga bukannya tidak ada kendala. Saat ini, banyak hama yang mengganggu buah naga yang siap panen. seperti burung dan musang. "Dalam semalam, musang bisa menghabiskan 10 kilo buah naga. Saya mensiasatinya dengan membuat pancing dengan buah naga yang telah di beri racun, hasil cukup efektif. Untuk bulan februari sudah ada yang memesan untuk upacara keagamaan. Saya berharap, buah naga merah Klari, bisa terus berkembang," pungkasnya.(asy)

Pelita Jaya Lawan yang Berat, Jackson F Tiago: Kami Bertekad Curi Poin dari Pelita

PERSIAPKAN DIRI: Pemain Persipura Jayapura tengah mempersiapkan diri, Jumat (22/1) sore di lapang Klari Futsal Center (KFC) Klari. Besok mereka akan menghadapi tim berkarakter Pelita Jaya di Stadiun Singaperbangsa.

KLARI,RAKA - Persipura Jayapura tidak ingin menganggap remeh Pelita Jaya Karawang yang dihadapinya Minggu (24/1) besok di Stadion Singaperbangsa Karawang. Walaupun saat ini Pelita Jaya Karawang berada di dasar klasemen sementara Indonesia Super League (ISL). Persipura bertekad mencuri poin di laga tandangnya kali ini.

"Kami bertekad mencuri poin dari Pelita. Tidak ada satu pemain Pelita yang diberikan perhatian secara khusus. Tapi semua pemain Pelita harus diawasi. Karena hampir semua pemain Pelita bisa mencetak gol. Firman bisa, Jajang bisa, Eduardo juga bisa. Mereka memiliki kemampuan yang cukup baik," ucap pelatih Persipura Jayapura, Jackson F Tiago. Saat ditemui RAKA, Jumat (22/1) sore ketika melakukan latihan di lapang Klari Futsal Center (KFC) Klari.

Saat ini, lanjutnya, persiapan yang dilakukan Persipura, adalah mengembalikan kondisi fisik para pemainnya. Karena perjalanan yang cukup menguras tenaga dari Makassar menuju Karawang. "Kita sedang mengembalikan kondisi para pemain, setelah bermain di Makassar dengan kondisi hujan, perjalanan yang cukup jauh juga, untuk mengemalikan feeling ball anak-anak. Dan kita fokus hari ini (kemarin, red) untuk hal itu," ujarnya.

Sementara itu, ketika ditanya mengenai strategi yang akan digunakan Persipura dalam menghadapi Pelita, Jackson menjawab bahwa Pelita merupakan tim yang memiliki karakter, pihaknya telah mempersiapkan strategi yang dinilai tepat untuk menghadapi Pelita. "Yang namanya strategi dalam perang, tentunya harus disimpan. Tapi yang jelas kita telah memiliki persiapan untuk menghadapi Pelita dan berusaha untuk mencari poin," terangnya.

Diteruskannya, timnya akan bermain dengan penuh keseimbangan, antara menyerang dan bertahan sesuai dengan karakter Persipura saat ini. "Sepakbola itu ada dua poin, saat kita punya bola, kita tentu harus menyerang. Saat lawan punya bola kita tentunya harus bertahan. Maka dari itu, kita perlu keseimbangan antara menyerang dan bertahan. Kita bermain sesuai dengan karakter Persipura, yang selalu andalkan kerjasama dan keseimbangan dalam bertahan. Kondisi tim baik, semua pemain bisa bermain. Tim tidak diberikan beban yang penting bermain baik," ungkapnya.

Sementara itu, dalam pertandingan yang akan digelar besok sore, diperkirakan tekanan akan berada di kubu Pelita, walaupun menjadi tuan rumah. Pasalnya saat ini Pelita membutuhkan kemenangan untuk menjauhkan dirinya dari jurang degradasi. Selain itu, tekanan dari sporter juga diperkirakan akan terjadi. Pasalnya, pendukung Pelita sudah merindukan kemenangan. Terakhir kali melihat Pelita menang di Singaperbangsa, kala menjamu Bontang FC, setelah itu tidak ada kemenangan lagi yang diraih.

Masyarakat Karawang berharap, agar pada pertandingan kali ini, Pelita bisa memberikan kemenangan walaupun hal itu akan berat untuk diwujudkan. Karena lawan yang akan dihadapi merupakan juara bertahan ISL musim lalu. "Saya berharap, Pelita bisa mengalahkan Persipura. Kami akan mendukung sepenuhnya Pelita. Suporter Pelita sudah merindukan kemenangan, agar tidak terdegradasi. Pelita harus bermain taktis dan tenang. Jangan terburu-buru dalam meraih kemenangan," harap pendukung Pelita asal Klari, Lukman (25) pada RAKA.(asy)

Naker Karawang Identik Buruh Pabrik

PENCAKER: Para pencari kerja (pencaker) yang memadati halaman sebuah outsourching di ruas Kosambi, Klari.

KLARI,RAKA - Tingginya minat masyarakat menjadi buruh pabrik bisa dilihat dari banyaknya pencaker yang berkerumun di depan outsourching. Seperti yang terjadi disebuah yayasan di Kosambi, Klari. Puluhan orang berseragam hitam putih nampak berkumpul untuk melihat informasi tes masuk pabrik.

Usia mereka relatif muda dan masih produktif. Tidak jarang dari calon pegawai tersebut yang sudah melakukan tes kerja namun belum diterima. "Disini saya untuk melihat pengumuman waktu tes kerja di pabrik. Saya sudah sering mengikuti tes seperti ini, banyaknya tidak lulus," ungkap seorang pencari kerja, Tri Puji (21), saat ditemui RAKA, Jumat (22/1) siang di sebuah yayasan di Kosambi, Klari.

Pria yang lulus SMA tahun 2007 ini menambahkan, mencari pekerjaan saat ini dinilainya sulit, kalaupun ingin bekerja di pabrik, harus melalui yayasan terlebih dahulu. Padahal, melalui yayasan merugikan karyawan. Soalnya, gaji karyawan harus dipotong yayasan. "Sekarang mah sulit cari kerja. Kalau mau kerja di pabrik, harus lewat yayasan. Mau tidak mau harus mengikutinya, padahal kalau lewat yayasan, gaji di potong dulu untuk yayasan. Saya berharap, kalau mau kerja di pabrik tidak melalui yayasan, seperti dulu lagi," harapnya.

Ditemui ditempat yang sama, pencari kerja lainnya, Kalan (22) tahun menambahkan, sistem outsourching harus dihapuskan, karena sangat merugikan karyawan. Dengan outsourching, nasih karyawan di buat tidak jelas. "Kontrak yang dilakukan pabrik sebentar-sebentar, paling lama bisa nyampe dua tahun setelah itu habis kontrak. Harusnya, sistem outsourching dihapuskan, karena merugikan karyawan. Tidak ada jaminan masa depan, mending kalau habis kontrak masih berusia produktif, kalau sudah tua tidak bisa bekerja di pabrik lagi," tutur pria yang sudah tiga kali bekerja di pabrik yang selalu habis kontraknya.

Diteruskannya, sebetulnya, menjadi buruh pabrik bukan menjadi tujuan akhirnya. Dia ingin memiliki usaha yang tetap yang memiliki jaminan masa depan, hal tersebut bisa diwujudkannya dengan berwirausaha. "Inginnya saya berwirausaha, tapi belum punya modal. Di pabrik terus tidak memiliki masa depan yang jelas. Untuk itu, saya bekerja dulu di pabrik, buat ngumpulin modal, setelah itu saya mau berwirausaha, "pungkasnya.(asy)

Saan Sebar Sembako di Tambaksari

TIRTAJAYA, RAKA - Anggota Komisi III DPR RI Saan Mustopa berikan bantuan sembako bagi korban banjir di Kecamatan Tirtajaya, Jumat (22/1) sore. Bantuan banjir ini diberikan untuk 8 desa dari 11 desa sekecamatan yang kebanjiran dan ditampung di kantor Desa Tambaksari. Bantuan ini dari kocek pribadi Saan Mustopa.

"Bantuan kita akan fokus pada daerah yang terisolir akibat banjir, karena kita tahu dampak banjir akan muncul wabah penyakit, setelah bantuan ini kita akan lakukan bakti pengobatan oleh Fraksi Demokrat seperti yang pernah kita lakukan tahun sebelumnya," kata Saan.

Menurutnya, banjir rutin tahunan di Kecamatan Tirtajaya ini akibat infrastruktur saluran air untuk pertanian rusak. Dia meminta pada semua pihak yang berkepentingan untuk memikirkan perbaikan ini. Bantuan yang turun sore ini sementara untuk 4 desa dari Saan Mustopa, sedangkan 4 desa lainnya akan mendapat bantuan serupa oleh Fraksi Demokrat dalam waktu dekat.

Di tempat sama, Kades Tambaksumur, Leles Lesmana berharap, bantuan ini jadi motivasi bagi wakil rakyat lainnya. Kata dia, bantuan seperti ini memang sangat diharapkan bagi korban banjir, harusnya pemerintah atau wakil rakyat tidak berlama-lama menurunkan bantuan, mengingat para korban banjir sangat mengharapkan adanya bantuan untuk meringankan beban derita yang mereka alami.

Diketahui, ada 8 desa dari 11 desa se-Kecamatan Tirtajaya yang kebanjiran, tercatat 1.600-an lebih rumah di kecamatan ini terendam. Hingga hari ini, banjir sudah mulai surut, kecuali 4 dusun yang masih parah, diantaranya Dusun Serani dan Cibese Desa Tambaksari, juga Dusun Saca dan Karya Makmur Desa Tambaksumur. (get)

Tikus Resahkan Petani Kalang Suria

RENGASDENGKLOK, RAKA - Usia tanaman padi pada ribuan hektare lahan pesawahan di Desa Kalangsuria, Kecamatan Rengasengklok, diperkirakan mulai memasuki masa panen akhir bulan febuari 2010 mendatang. Sayangnya, mulai sepekan ini, tanaman padi yang sudah mulai menunduk dan memperlihatkan hasil mulai terserang hama tikus.

Alhasil, petani meragukan hasil Panen di masa panen mandatang bakal maksimal. Namun demikian, petani sedikit diuntungkan dengan kenaikan harga gabah kering yang mencapai sekitar 5000/kg. Sebaliknya, masyarakat dirugikan dengan kenaikan harga beras yang mencapai Rp 5200/liter.

"Untung tetap saja tidak bisa dirasakan petani. Sebab, kami pun harus membeli beras dengan harga yang cukup tinggi dipasaran, "ungkap petani Desa Kalang suria, Darya (43) kepada RAKA, Jum'at (22/1) kemarin. Kata dia, kerugian yang bakal dialami petani dimasa panen mendatang diperkirakan cukup besar . Mengingat, serangan hama tikus yang melanda belakangan ini cukup merepotkan. "Kami hanya bisa melakukan berbagai upaya antisipasi terhadap hama sawah OPT, untuk hama tikus kami memang kewalahan, "jelasnya.

Petani lainnya selaku ketua RT 01/02 Dusun Kobak Karim, Marta (45) membenarkan hal itu. Lanjut dia, untuk pencegahan terhadap hama para petani terpaksa harus mengeluarkan dana yang cukup besar. Maka dari itu, jika serangan hama tikus terus terjadi hingga masa panen mendatang dipastikan bakal ada kerugian sangat besar bagi kaum tani. "Ditambah masa panen akan terkendala dengan kondisi cuaca. Sebab, diperkirakan hujan akan terus turun hingga bulan ketiga nanti,"ungkapnya. (get)

Kasus Dana Partisipasi Dengklok Makin Melebar

RENGASDENGKLOK, RAKA - Kejaksaan Negeri Karawang terus meningkatkan pengembangan terkait kasus dugaaan penyelewengan dana bagi hasil desa pemerintah daerah karawang 2009. Hal itu, untuk mengetahui secara jelas mengenai proses dan fakta terkait aliran dana partisipasi.

Seperti diketahui, pencairan Angaran Dana Desa (ADD) tahap I 2009 tersebut, ditujukan untuk pemerataan dan peningkatkan pembangunan wilayah desa sekabupaten Karawang. Namun demikian, usai pencairan justru timbul kontroversi hasil temuan salah satu Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) Kompak Karawang, yang diduga kuat ada bentuk penyelewengan.
Dugaan penyelewengan dana ADD itu, setelah LSM Kompak mempelajari bahwa tidak ada dan tidak tertera dalam Juklak maupun Juklis pelaksanaan realisasi ADD untuk pengalokasian dana yang di sebut sebagai dana Partisipasi. Sebaliknya, dana partisipasi itu timbul dengan alasan untuk anggaran sejumlah kegiatan muspika di Wilayah Kecamatan Rengasdengklok.

Mengetahui hal itu, Kejari Karawang segera mengambil langkah cepat untuk mengetahui kejelasan mengenai bentuk yang di dugaan penyelewengan hingga dilaporkan LSM Kompak Karawang kepada MaPolsek Rengasdengklok, Mapolres Karawang dan Mapolwil Jabar. Belakangan, Pihak Kejari segera memanggil pihak-pihak yang terlibat dalam kontroversi dana partisipasi itu. Diantaranya, pemanggilan dilakukan pada seluruh Kepala Desa Sekecamatan Rengasdengklok. Dan itu, Dilakukan secara bertahap supaya tidak menganggu pelayanan maupun Pembangunan sebagai salah satu tugas dari para kepala desa.

Selanjutnya, Sebagai perimbangan Keterangan Kejari turut memangil Camat Rengasdengklok. R. Sopandi. Namun disayangkan, Camat rengansdengklok tidak hadir karena dalam kondisi sakit. Belum lama ini, Kejari Melalui Kasi Intel Asep Sontani Kepada RAKA, Ketika dihubungi melalui Ponselnya mengatakan bahwa proses pemeriksaan masih tetap berjalan. "Jika ada yang mengatakan kami tidak memiliki cukup bukti itu hanya rekayasa saja, kami akan terus melakukan pemangilan hingga bukti yang dibutuhkan terpenuhi, "jelasnya.

Secara terpisah, Sekertaris camat Irlan suirlan membantah keras bahwa pihaknya yang menyebar isu bahwa kejari tidak memiliki cukup bukti. Ia pun menyesalkan dengan adanya isu yang menyatakan bahwa kasus ini buntu. "Kita serahkan saja senmua pada pihak kejari sebagai yang berkewenangan, mudah mudahan secepatnya kontroversi ini bisa diungkap oleh kejari karawang, "tegasnya. (get)

Harga gabah di Desa Sukamakmur Mencapai Angka 3.100/kg

PANEN:
Harga gabah di Desa Sukamakmur Kecamatan Telukjambe Timur menyentuh angka Rp. 3.100/kg. Kenaikan tersebut dipicu langkanya gabah di penggilingan. Meski demikian, kenaikan harga gabah tersebut tidak disertai dengan meningkatnya produksi padi. Tampak seorang petani Desa Sukamakmur sedang memanen padi, Jum'at (22/1) sore. (psn)

Dalam Sepekan Harga Sembako Naik

SEMBAKO: Seorang pedagang sembako di Pasar Johar sedang merapikan tumpukan telur, Jum'at (21/1) siang. Dalam sepekan ini harga sembako terus mengalami kenaikan.

KARAWANG, RAKA - Dalam sepekan, harga sembako di Pasar Johar dan Pasar Baru Karawang terus naik. Seperti yang dikatakan Ganda (54) salah seorang pedagang sembako di Pasar Baru Karawang, Jum'at (22/1) siang, harga gula pasir dari Rp 9.000 per kilogram (kg) menjadi Rp 11.000 per kg, terigu Rp 5.000 menjadi Rp 5.500 per kg, Minyak curah Rp 7.500 per kg menjadi Rp 9.000 per kg.

"Setiap pergantian tahun selalu ada penyesuaian harga, dan biasanya selalu naik. Kondisi tersebut diperparah dengan minimnya pasokan barang dari distributor ke grosir," katanya. Meski terjadi kenaikan, Ganda mengaku daya beli masyarakat relatif normal. Tapi ia berharap harga sembako tidak terus naik.

"Sebetulnya harga sembako sudah terlihat mulai naik sejak akhir Bulan Desember 2009, tapi kenaikannya tidak terlalu kelihatan. Setelah memasuki Bulan Januari, mulai dari gula sampai minyak terus menerus naik," kata Ganda. Hal sama juga terjadi di Pasar Johar, mulai dari terigu, gula pasir, minyak curah rata-rata naik seribu rupiah.

Namun kenaikan tajam bisa terlihat dari harga telur, yaitu dari Rp. 10.000 per kg menjadi Rp. 13.000 per kg. Menurut Nana (32), harga telur mulai naik memasuki awal tahun. "Kenaikan telur dipicu oleh minimnya pasokan telur dari Indramayu. Menurut berita yang saya dengar, setiap memasuki musim hujan banyak peternak yang mengalami kesulitan karena ayam petelor banyak yang sakit," katanya.

Meskipun daya beli masyarakat tidak mengalami penurunan, namun tetap saja lonjakan tersebut meresahkan masyarakat. Hal itu diungkapkan oleh Lina (39) warga Johar. "Semuanya serba mahal, ya merepotkan masyarakat, terutama para ibu rumah tangga yang sehari-harinya mengurusi masalah keuangan keluarga. Kalau uang belanja ditambah, bisa mengurangi pengeluaran yang lain, kalau tidak ditambah, dapur tidak mengepul," tuturnya.

Ia melanjutkan, seharusnya pemerintah cepat tanggap ketika lonjakan harga terjadi. Pasalnya apabila dibiarkan, ditakutkan, harga sembako akan terus membumbung tinggi. "Belum satu minggu, harga gula pasir naik, sekarang diikuti oleh terigu dan telur. Jangan-jangan nanti semua harga sembako terus melambung tinggi. Kalau orang kaya sih tidak akan mempermasalahkannya, tapi bagaimana dengan orang yang tidak mampu," ungkapnya. (psn)

Pedagang Johar Didesak Pilih Sendiri Keamanan, Kepala Keamanan Hasil Tunjuk Disperindag Dinilai Gagal Koordinir Pedagang

KARAWANG, RAKA - Disperindag mendesak pedagang Pasar Johar agar pergantian dan pengangkatan kepala keamanan dipilih secara langsung oleh mereka. Pasalnya sejak Kepala keamanan ditunjuk oleh Disperindag kondisi keamanan di Pasar Johar tidak terkoordinir.


Hal itu diungkapkan tokoh pedagang Pasar Johar, Heri Sudaryanto, Jum'at (22/1) siang. "Saat ini ratusan pedagang Johar sudah gerah dengan kondisi keamanan disini. Selain kurang terkoordinir dengan rapi, para pedagang merasa kepentingannya tidak tercumpuni apabila mekanisme pengangkatan Kepala Keamanan bukan berasal dari pemilihan langsung. Atas dasar itulah, kami meminta kepada pemerintah agar pemilihan kepala keamanan dikembalikan seperti semula," tuturnya.

Masa tugas Kepala Keamanan Pasar yang akan habis tanggal 22 Januari nanti, menurut Heri keinginan pedagang harus segera mendapat sinyal hijau dari pemerintah. Pasalnya ia mendengar apabila keinginan pedagang tidak didengar, dikhawatirkan akan terjadi gejolak di pasar. "Meski Kepala Keamanan saat ini, yaitu H. Kakay Koswara sudah legowo apabila ia digantikan oleh kepala yang baru, namun kami mendengar ada sinyalemen dari pemerintah kalau Kepala Keamanan akan kembali ditunjuk bukan dipilih oleh pedagang," katanya.

Heri yang juga pengurus Ikatan Pedagang Pasar Johar mengatakan, saat ini pihaknya sudah membentuk panitia sementara pemilihan Kepala Keamanan Pasar. "Meski belum mendapatkan restu dari Disperindag, kami sudah bentuk panitia. Dan hasilnya sekarang sudah ada tiga orang yang mencalonkan diri menjadi Kepala Keamanan. Diantara yaitu, Brampi Tasane dan Hendra Brend," katanya.

Ditempat yang sama, salah satu tokoh pemuda Johar, Heriyawan mengatakan keamanan lebih efektif apabila dikembalikan kepada pedagang. Apabila para pedagang lebih menginginkan Kepala Keamanan dipilih oleh mereka, maka sudah seharusnya pemerintah mengakomodir keinginan pedagang. "Selama ini yang menggaji Kepala Keamanan kan pedagang melalui retribusi. Jadi kalau para pedagang ingin pemilihan langsung, ya harus diikuti.

Hal ini untuk menghindari adanya gejolak di Pasar Johar," tuturnya. Ia melanjutkan, apabila ternyata ketika Kepala Keamanan yang dipilih para pedagang tidak bisa mengakomodir kepentingan pedagang, maka para pedagang juga yang nantinya akan merasakan. Hal ini akan membuat kondisi di Johar lebih kondusif, apabila pemilihan Kepala Keamanan ditunjuk oleh pemerintah. "Saya kira kalau pedagang yang milih, nanti tidak akan ada nada protes dari mereka," ujarnya.

Kepala Keamanan yang nantinya terpilih oleh para pedagang, Heri mengatakan, kepala tersebut bisa dengan mudah merangkul semua elemen pasar. Tapi akan sangat sulit bagi Kepala Keamanan untuk merangkul elemen pasar apabila yang terpilih nanti bukan hasil dari pemilihan langsung oleh para pedagang. "Kalau ternyata pemerintah tidak mengiyakan keinginan pedagang, kita bisa lihat nanti, apa yang akan terjadi dengan Pasar Johar," ungkapnya.

Brampi Tasane, salah satu yang mencalonkan diri menjadi Kepala Keamanan Pasar mengatakan, dirinya akan mengikuti mekanisme yang ada. Kalau ternyata sistem yang diajukan pedagang ditolal pemerintah, maka ia akan menerima hal itu. "saya akan tetap mengikuti prosedur. Kita lihat nanti apakah keinginan pedagang dipenuhi pemerintah atau tidak," katanya. Ketika RAKA mau meminta tanggapan mengenai gejolak yang terjadi di Pasar Johar, ternyata Kepala Disperindagtamben Saridin Sinabang sedang tidak ada ditempat. (psn)

Diguyur Hujan Truk Terjungkal

TERJUNGKAL: Truk pengangkut koil nahas yang terjungkal di Jalan Interchange, Karawang Barat, Jum'at (21/1) pagi.

KARAWANG, RAKA - Hujan yang mengguyur Jalan Interchange Karawang Barat, mengakibatkan truk pengangkut koil terjungkal. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun sopir truk nahas L 8234 UR, Aming (32) ditemukan dalam kondisi terluka-luka.

Menurut Aming, kejadian tersebut bermula ketika muatan yang ia bawa terlepas dari tali pengikat. Karena tidak mampu menahan beban koil, akhirnya truk yang ia bawa kehilangan keseimbangan dan terjungkal ke kiri jalan. "Kalau saja waktu itu tidak hujan, mungkin saya masih bisa mengendalikan truk. Tapi sayang, kondisi jalan yang licin membuat saya tidak bisa mengendalikan truk," ungkapnya, Jum'at (22/1) siang.

Koil berbobot 20 ton yang rencananya mau ia bawa dari Karawang Timur ke Jakarta, terpaksa harus kandas ditengah jalan. "Harga koil itu mencapai puluhan juta rupiah. Meski kondisinya masih relatif bagus, tapi kalau ada sedikit cacat biasanya nilai koil tersebut menjadi berkurang. Diperkirakan kami mengalami kerugian belasan juta rupiah," katanya.

Rendi (29) salah seorang saksi mata warga Desa Sukamakmur Kecamatan Telukjambe Timur mengatakan, kecepatan truk tersebut tidak terlalu kencang, tapi secara tiba-tiba menjadi miring ke kiri dan terjungkal. "Ketika mulai miring ke kiri saya melihat sopir truk mencoba untuk mengendalikan truk, mungkin karena berat koil tersebut berat akhirnya sopir tidak bisa mengendalikan truk," katanya. Ia melanjutkan, pada saat truk tersebut terjungkal kondisi jalan relatif sepi. "Kalau saja waktu arus lalu-lintas ramai, mungkin akan terjadi tabrakan beruntun. Karena biasanya kendaraan yang melintasi Jalan Interchange selalu melaju dengan kecepatan tinggi," katanya.

Hal sama dikatakan Wahyu (32) salah seorang tukang ojek. Ia mengaku truk pengangkut koil tersebut oleng ke kiri meski sopir truk berusaha menyeimbangkan posisi truk. "Mungkin karena koil yang diangkut sangat berat, makanya truk ikut terbawa ke kiri," katanya. Menurut pantauan RAKA, proses evakuasi menelan waktu cukup panjang. Hal ini mengakibatkan kemacetan lalu-lintas karena trailer pengangkut koil memakan hampir setengah badan jalan. (psn)

Aplikasi Fiktif Honda CS Lenyap

KARAWANG,RAKA - Setelah tidak menemukan alamat debitur Honda CS 12A 1 RR T 3630 GK yang telah menunggak selama 4 bulan, koordinator kolektor PT Nusantara Surya Ciptadana (NSC) Serianto (24), Jumat (22/1), mendatangi Polsek Karawang untuk melapor.Sebab, akibat kejadian tersebut perusahaan tempatnya bekerja dipastikan akan menderita kerugian Rp 19 juta.

Menurutnya, berdasarkan aplikasi yang digunakan untuk mendapatkan motor tersebut secara kredit (sewa-beli) pada September 2009 lalu, debiturnya atau nama dan lamat sesuai dengan surat tanda nomor kendaraan (STNK) diketahui bernama Riki, warga Kampung Sukahati Johar Utara RT 03/18 Kelurahan Karawang Wetan, Kecamatan Karawang Barat, Karawang. "Hingga dugaan penggelapan ini dilaporkan ke polsek, tak seorang pun yang mengenal nama Riki, "ujarnya.

Beberapa warga yang ditemui dialamat tersebut menegaskan bahwa nama tersebut tidak dikenal. Bahkan, rumah yang dijadikan alamat sesuai aplikasi tersebut diketahui rumah milik Ombi. Kemudian, Ombi sendiri juga mengaku pernah mengontrakkan rumah kediamannya kepada orang lain. "Sampai sekarang kami belum mengetahui apakah nama Riki ini benar-benar ada atau tidak. Sehingga untuk sementara kami menduga aplikasi yang diajukan untuk mendapatkan motor tersebut fiktif," katanya kepada petugas.

Dikatakannya, secara garis besar, mekanisme yang dilakukan untuk membeli motor secara kredit yakni, calon nasabah harus menyerahkan foto copy KTP, KK, PBB, bukti pembayaran listrik dan keterangan penghasilan. Data aplikasi diteruskan kepada sales dan diteruskan kepada tim survey hingga akhirnya motor dikirim. "Namun dalam kegiatan ini ada hal yang tidak lazim karena surveyornya digantikan oleh surveyor yang tidak sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya," lanjutnya.

Kapolsek Karawang AKP H Hermawan ketika ditemui RAKA di kantornya mengatakan, untuk mengungkap kasus ini termasuk menangkap pelakunya, pihaknya harus ekstra hati-hati. Sebab, proses penjualan motor tersebut melibatkan banyak pihak. "Makanya, untuk mengurai benang kusutnya, pihaknya akan meminta keterangan dari semua yang terlibat dalam proses penjualan motor tersebut. Mudah-mudahan dalam dua atau tiga pekan mendatang, kasus ini sudah terungkap tuntas," kata Hermawan.(ops)

Alap-Alap Ranmor Batujaya Diciduk

BATUJAYA, RAKA - Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polsek Batujaya, menangkap tersangka pencuri spesialis kendaraan bermotor roda dua, dan mengamankan barang bukti. Tersangka dikenal cukup berani dalam melancarkan aksinya di kawasan pemukiman warga Kecamatan Batujaya.

Seperti dikatakan Kapolsek Batu jaya, Subagio Kepada RAKA, Kamis (21/1) di ruang kerjanya. Kata kapolsek, tersangka diringkus ketika hendak mencuri di Dusun Lolohan Desa, Teluk Ampel, Kecamatan Batujaya, Rabu (20/1) lusa. Kapolsek menjelaskan, modus tersangka dalam melancarkan aksinya, adalah memanfaatkan kelalaian para korban, yang sembarang memarkir kendaraan di halaman rumah. Bahkan, tersangka, biasa menjalankan aksinya di malam hari. "Melihat motor yang diparkir di halaman rumah, pelaku langsung melancarkan aksinya," katanya.

Tersangka, kata Kapolsek, mengincar kawasan permukiman di wilayah sekitar Kecamatan Batujaya, Tirta jaya dan Kecamatan Rengasdengklok. Hal itu, jelas Kapolsek, dikuatkan dengan adanya laporan kasus kehilangan kendaran bermotor roda dua yang terjadi di beberapa kecamatan di kabupaten Karawang beberapa pekan terakhir. "Bahkan, kadang tersangka tidak segan segan masuk ke teras rumah dan langsung mengambil sepeda motor di sana," kata Kapolsek.

Setelah dilakukan pengejaran, petugas dari Polsek, akhirnya berhasil meringkus tersangka dengan bantuan laporan warga. "Kini kami sedang melakukan pengembangan untuk mengetahui para penadahnya. Kami pun meminta dukungan warga untuk mengetahui dimana saja hasil kejahatan tersangka yang sebelumnya,"ungkapnya.(get)

Smanet Mentereng Ekskul, Brow

Di pelantikan Bantara Pramuka Smanet, acara diikuti anak-anak kelas X. Di kesempatan itu Kak Cipto yang jadi pelatih mengajak anak-anak menyatu dengan alam. Sedang kak Tati, sang senior, pun merasa bahagia lantaran anak-anak Smanet sepakat ramah lingkungan. Okelah kalo begitu..

SMANET
is OK Brow. Hehe... "Pokoknya segala ada, deh. Dijamin mentereng," bangga Dijah bareng Elda, ketua OSIS en MPK Smanet, nama gaul SMAN 1 Telagasari.

Nggak pake dilebih-lebih, deh. Kecuali yang udah terekspose eksis macem pramuka gitu, Smanet yang di bawah Kepsek Pak Nedi Rohendi, ini oke juga tuh di kegiatan lainnya. Yang wajibnya ada paskib, di olahraga ada bola basket, di dunia seni ada paduan suara alias padus tea, trus yang ilmiahnya ada KIR.

Oke kita kupas soal bola basket dulu, deh. Jenis olahraga yang sering dibikin identik jadi 'trade mark' dunia gaul kiwari ini anak Smanet udah lumayan sering dapet prestasi, tuh. Lewat bimbingan Pak Asep Permana dan pelatih Kang Andi Maulana yang biasa disebut Kang OB, trus dipimpin Surwalim ini udah jadi juara III putra tingkat Kabupaten Karawang, dan juara III putri di Yos Sudaraso cup dan buanyak lagi prestsi lainnya.

Kata Surwalim, kita-kita yang di basket emang udah punya tekad mo raih kemenangan dan jadi yang terbaik. Pokoknya semua optimistis banget tuh bakal bisa ngeraih titel jawara di berbagai ajang kompetisi. Pokoknya keren, lah.

Di paduan suara alias padus, yang dibina Pak Agus Sri Rahmat dan diketuain Ida Farida juga sama. Ida Farida bercerita, sejarah berdirinya padus di Smanet itu awalnya tahun 2007. Itu, sebut Ida lantaran Pak Agus yang guru pembiana, waktu itu ngakunya rada-rada prihatin gitu, coz banyak fasilitas musik di skul yang kurang dimanfaatin.

Dari situ Pak agus lalu merintis kelompok padus. Kiatnya, saban kelas wajib nyertain dua siswa jadi anggota. Dan hasilnya alhamdulillah. Sampe sekarang nyatanya padus tetep jalan. Malah juga prestasi sempat bisa diraih, di antaranya jadi juara di ajang pentas seni yang digelar STIE Budi Pertiwi, Karawang. "Lainnya juga ada dan masih banyak juga, sih. Intinya, kita-kita juga nggak ketinggalan, deh," aku Ida.

Seirama aktivitas di padus dan bola basket, kegiatan paskibra di Samanet juga relatif nggak kalah lho. Ekskul paskib ini jadi binaan Pak M. Habybuththoyyib alias Pak Habib pada 1990, trus diganti sama Pak Suswara pada 1998 sampe 2002, dan sejak 2003 sampe sekarang jadi penanganan Pak Hamim.

Paskib Smanet yang mulai berdiri pada 1988 ini, dari taun ke taun lumayan banyak banget deh perubahannya. Tau nggak, prestasi yang diraih anak-anak paskib ini di antaranya jadi juara II dan juara III LTUB (latihan tata upacara bendera) tingkat Kabupaten Karawang. Trusdi LBB (lomba baris berbaris) tingkat Kabupaten Karawang jadi juara II dan III madya, dan di LBB tingkat Provinsi Jawa Barat jadi juara II bina.

Wah.. tunggu dulu neh, itu masih belum cukup tuh. Paskib anak Smanet juga saban taun sejak 2003 selalu ikutan Diklatsar yang sekarang katanya jadi hajatannya Bapak-bapak pengurus di Sie Pemuda Bidang PO Disdikpora Karawang, juga jadi Paskibra Kabupaten alias Paska. Dan yang pernah bikin bangga lagi, anggota paskib Smanet pernah juga jadi pembawa baki di pengibaran bendera tingkat Kabupaten Karawang.

Bangga bunget loh jadi anggota paskib di Smanet. Buat ahal ini, para awaknya malah suka koor berjamaah: Kita Bangga Menjadi Paskibra Smanet.

KIR (Karya Ilmiah Remaja) di Smanet juga nggak ketinggalan Brow. Di bawah binaan Pak Suswara dan diketuai Siti Muslimah Mutia ini, gerombolannya anak-anak jenius di Smanet ini udah banyak juga tuh bikin percobaan plus karya yang udah dicipta.

DSi liar itu, ada juga tuh salah satu awaknya, Sunarya yang sama juniornya sering dipanggil Kak Sun, udah banyak ngeraih prestasi. Antara lainnya sempat juara 1 olimpiade fisika dan matematika dan faramudita, juara bahasa Inggris di Kabupaten Karawang, dan lainnya. Lantaran itu, Dijah en Elda juga sepakat nggak rugi deh sekolah di Smanet. (bowo en anak-anak jurnalis Smanet/raka)

Walaupun Biaya Besar dan Tugas Berat, Jabatan Kades Tetap Diminati

KEPALA desa (kades) merupakan jabatan yang cukup diminati. Pasalnya, setiap ada perhelatan pemilihan kepala desa (pilkades) di Kabupaten Subang, calonnya selalu lebih dari dua orang dan partisipasi masyarakat cukup tinggi.

oleh: AGUS EKO MS, Subang

Padahal, biaya yang harus dikeluarkan untuk penyelenggaraan pilkades ditanggung para calon tidak sedikit dan setelah jadi pun, tugas berat menanti mereka dalam menyukseskan program pembangunan. Ikhlas Simon, salah seorang pantia Pilkades Desa Cinangsi, Kecamatan Cibogo, membenarkan bila minat masyarakat untuk menjadi kepala desa masih tinggi.

Buktinya, daerah Cinangsi yang berbatasan dengan Kota Subang dan masyarakatnya pun plural, ternyata yang mengikuti Pilkades sebanyak 4 orang, yakni H Dadang Suherlan, Asep Setiawan, Aip Saefulloh dan Cucu Irma Marantika. “Semua tahapan sudah tuntas tinggal menunggu pelantikan. Selain itu panitia pun telah melaporkan ke badan perwakilan desa anggaran yang dipergunakan, dan kini masih menunggu dana bantuan dari pemerintah daerah karena dana yang kami galang dari setiap calon Rp 7,5 juta masih kurang,“ ujarnya.

Bahkan, dana yang digalang di Desa Sukamulya, Pagaden, jumlahnya cukup lumayan besar mencapai Rp 14 juta setiap calon. Pada Pilkades yang bersamaan waktunya dengan Desa Cinangsi dan Majasari, Cibogo akhir bulan Desember 2009 lalu, tercatat calon peserta Pilkades di Sukamulya sebanyak 5 orang. “Memang dana yang dipungut atas kesepakatan bersama mencapai Rp 14 juta, tetapi kalau dihitung-hitung dengan pengeluaran sebelum dan setelah pemilihan habis sekitar Rp 100 juta,“ tambah Jajang, anggota PWI yang terpilih jadi kades dengan mengantongi suara 2.232 pemilih.

Pengamat Pemerintahan Desa H Yaman saat ditemui di rumahnya di Pagaden, Jumat (22/1), mengatakan, sudah sejak puluhan tahun Pilkades yang selalu berulang dan dilaksanakan secara demokratis baru penyelenggaraannya diserahkan ke badan permusyawaratan desa (BPD) sejak munculnya peraturan daerah (Perda) No. 18 Tahun 2006. Sedangkan pembiayaannya yang memakan dana cukup besar tetapi belakangan tidak dibantu oleh pemerintah daerah, padahal setelah mereka terpilih dan menjabat beban tugasnya cukup berat.

“Dahulu memang ada bantuan, sekarang sepertinya terserah masing-masing desa. Kalau unsur di pemerintahan desanya kreatif mungkin menyisihkan anggaran dalam anggaran pembangunan dan belanja desa(APB Des), tetapi kebayakan tidak melakukannya karena ada yang sama sekali memungut iuran desa,“ ujar Yaman. Untuk itulah pemerintah daerah perlu segera kembali menganggarkan dana bantuan Pilkades untuk tahun-tahun selanjutnya sehingga tidak terlalu membebani para calon. “Saya kira anggota legislative pun akan mendukungnya karena ada beberapa anggota yang sebelumnya pernah menjadi kepala desa,“ tambahnya.

Belum lagi nuansa pesta demokrasi yang berbiaya cukup besar ini, diperkeruh oleh ulah para spekulan penjudi yang datang dari berbagai daerah. Mereka tidak memandang siapa figure kuat dan layak memimpin desa, tetapi yang dikejar adalah keuntungan. Untuk yang satu ini, kata Yaman, memang sulit dicegah karena memang sangat tertutup. Seperti halnya permainan money politik dari setiap calon. Namun, bagaimana pun juga perlu terus diwaspadai jangan sampai merusak suasana dan keinginan masyarakat memilih yang terbaik malah sebaliknya.

Asisten Administrasi Pemerintahan Pemkab Subang H Saad Abdulgani mengakui bila dalam Pilkades peran pemerintah hanyalah sebagai fasilitator karena segala sesuatunya sudah jelas tertuang dalam Perda No. 18 tahun 2006 tentang tata cara pemilihan, pengangkatan dan pemberhentian kepala desa. “Kita memang sebagai pembina bila calon kades telah terpilih sehingga diadakan bimbingan teknis. Demikian pula menjadi pelaksana manakala ada sesuatu hal yang bertentangan dalam perjalanan pemerintahannya,“ jelas Saad.

Yang lebih berperan adalah BPD di desa masing-masing karena 6 bulan menjelang habis masa jabatan Kades habis sudah diberitahu. Kemudian Kades menyampaikan laporan akhir masa jabatan penyelenggaraan pemerintahan desa kepada bupati melalui camat dan laporan pertanggungjawaban akhir masa jabatan kepada BPD serta menginformasikannya kepada masyarakat. Demikian pula dalam pembentukan panitia pemilihan merupakan tanggungjawab BPD, serta hasil kerja pantia pun kembali ke BPD kemudian kepada Bupati melalui Camat dan baru setelah ada rekomendasi dari Camat disahkan menjadi Kades terpilih.

Mengenai biaya sendiri sudah diatur untuk Pilkades, bersumber dari APB Desa, bantuan pemerintah kabupaten dan bantuan pihak ketiga yang sah dan tidak mengikat. “Kita akui kalau untuk tahun 2009 tidak ada bantuan dari Pemda, dan untuk selanjutnya sudah diajukan anggarannya sekedar membantu saja dalam APBD 2010,“ ungkap Saad.

Sehingga, besar kecilnya keperluan berdasarkan pemantauannya tergantung jumlah pemilih. Sebab, biaya pilihan dipergunakan mulai dari pengadaan kelengkapan pemungutan suara, biaya administrasi hingga operasional penyelenggaraan pemilihan. Kepala Bagian Pemerintahan Pemkab Subang Cecep Supriatin mengatakan, selama tahun 2009 terdapat 11 desa yang menyelenggarakan Pilkades. Sedangkan untuk tahun 2010 tercatat 12 desa sesuai dengan data Kades habis masa jabatannya yang berpariasi. “Yang menggembirakan selama pelaksanaan Pilkades tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan walaupun suasananya cukup meriah,“ tambahnya.

Ke 12 desa yang akan menyelenggarakan Pilkades selama 2010 yaitu Desa Mayang, Kecamatan Cisalak, Desa Gambarsari, Gunungsari dan Desa Jabong, Kecamatan Pagaden, Desa Jatibaru Kecamatan Ciasem, Desa Bunihayu dan Desa Tambak Mekar Kecamatan Jalancagak, Desa Tegalurung Kecamatan Legon Kulon, Desa Gandasari Kecamatan Cikaum, Desa Tenjolaya Kecamatan Kasomalang, Desa Cisaga Kecamatan Cibogo dan Desa Sidamulya Kecamatan Cipunagara. (eko)

Kades Diminta Buat Perdes Pendidikan

SUBANG, RAKA - Kepala Dinas pendidikan Kabupaten Subang Makmur Sutisna meminta lurah dan kepala desa membuat sebuah peraturan desa (perdes) yang berkenaan dengan pendidikan. Hal ini diungkapkannya saat meresmikan Taman Asuhan Anak Muslim di Kelurahan Dangdeur, Jumat (22/1).

Menurut Makmur, untuk mendapatkan generasi yang akan datang lebih berkualitas, diperlukan pendidikan sejak dini, oleh karena itu, Makmur meminta kepada Lurah Dangdeur supaya membuat peraturan kelurahan, yang salah satunya mengatur tentang siswa yang akan masuk sekolah dasar. “Saya meminta kepada kelurahan untuk membuat peraturan desa, agar siswa yang akan masuk sekolah dasar, supaya memiliki sertifikat atau ijazah dari diniyah atau dari taman kanak-kanak Al Quran,” ungkap Makmur. Dengan masuk ke taman kanak-kanak atau diniyah, siswa yang masuk ke sekolah dasar siap menerima pengajaran. Karena, tambah Makmur, di taman kanak-kanak, diterapkan pola pengajaran yang akan menunjang terhadap pendidikan di sekolah dasar.

Pada kesempatan yang sama, Camat Subang Tatang Supriyatna mengapresiasi positif dengan dilaksanakannya peresmian Taman Kanak-kanak Al-Quran Taman Asuhan Anak Miskin dan Diniyah Takmiliyah Alawaliyah di RW 10 Kelurahan Dangdeur Kecamatan Subang. “Karena ini sejalan dengan program Desa Kelurahan Mandiri gotong royong, dengan adanya Yayasan At-Tin yang mendirikan sekolah, merupakan sebuah partisipasi dari masyarakat yang diprakarsai oleh Mayjen (Pur) Adang Sonjaya,” ujar Tatang.

Dengan diresmikannya sekolah tersebut, menurut Tatang, Indeks pembangunan manusia di desa atau kelurahan, akan lebih meningkat lagi. Sebab dengan begitu, akan membangun akhlak, budi pekerti pada warga masyarakat. Saat diresmikan, hadir para muspida serta kepala dinas pertanian Kabupaten Subang, saat itu pun Ketua Yayasan Attin Mayjen (Purn) Adang Sonjaya hadir bersama istrinya. Bukan itu saja, sedikitnya seratus siswa yang menjadi murid disana pun turut hadir dalam kegiatan peresmian sekolah mereka. (eko)

Masyarakat Diminta Ikut Tanggung Jawab, Pelihara Jalan Lingkungan

SUBANG, RAKA – Kerusakan jalan yang terjadi di Kabupaten Subang, umumnya terjadi di daerah dataran rendah dan tanahnya labil. “Padahal apabila masyarakat atau kepala desanya pro aktif guna mempertahankan keutuhan jalan, kemungkinan besar kerusakan jalan akan dapat dipertahankan dalam kurun waktu yang cukup lama,” kata Kepala Seksi Perencanaan Bina Marga Kabupaten Subang Ir H Wakijo saat dikonfirmasi RAKA melalui ponselnya.

Kondisi tersebut, lanjut Wakijo, diketahui ketika dirinya melakukan survei kesejumlah jalan yang ada di sejumlah desa dan kecamatan yang ada di Kabupaten Subang. Menurutnya, kerusakan yang paling terparah, terjadi di sepanjang perkebunan tebu PG Rajawali, baik yang ada di Kecamatan Purwadadi maupun yang ada di Kecamatan Kalijati, sebagian jalan rusak berlubang bagaikan kubangan kerbau saat musim hujan terjadi karena rendahnya badan jalan dari pada bahu jalan, sekaligus tidak adanya atau kurangnya maksimal leaning yang ada disebelah kiri dan sebelah kanan jalan yang mengakibatkan air tumpah kejalan berdampak pada kondisi jalan cepat rusak.

Pun terjadi, Wakijo menunjukan, sejumlah jalan yang ada di bantaran pesawahan, dimana jalan yang ada lebih rendah dari bahu jalan yang diakibatkan sejumlah masayrakat maupun petani membuang sampah tanahnya ke atas bahu jalan yang mengakibatkan bahu jalan lebih tiinggi dari badan jalan. “Selain petani juga, ada masyarakat yang mempunyai bangunan rumah maupun pertokoan di pinggir jalan pada saat membangun rumah, pertokoan maupun pagar halamannya tidak disertai pembuatan leaning dan bahkan terkesan disengaja menutup bahu jalan dengan tembok atau beton lebih tinggi dari jalan yang ahirnya pada saat musim hujan air tumpah semua ke jalan,” ucapnya.

Untuk itu, Wakijo menuntut kesadaran masyarakat, petani maupun pihak manapun yang membangun sesuatu yang lokasinya di pinggir jalan, serta meminta kepala desa proaktif untuk membina masayrakatnya pada saat mendirikan bangunan untuk tidak menutup bahu jalan dan tanpa diseertai drainase yang cukup untuk membuang air hujan maupun air buangan limbah masyarakat. (pir)

Karatedo Subang Berjaya

ATLET Subang (kanan) berprestasi di Inkanas.

SUBANG, RAKA - Sebanyak 15 karateka Forki dari perguruan Inkanas (Institut Karatedo Nasional) Pengurus Cabang Subang yang sebagian besar merupakan atlet porda Kabupaten Subang telah mengikuti Kegiatan Nasional Inkanas dari tanggal 9-15 Januari 2010 di Jakarta.

Menurut pendamping, penanggungjawab karateka atlet Kabupaten Subang juga bertindak sebagai Ketua Bidang Pertandingan pada kejurnas tersebut, Nurhadi SPd dari 15 karateka tersebut, sebanyak 8 karateka mengikuti gashuku tanggal 9-11 Januari 2010 dan ujian DAN (sabuk hitam) tanggal 12 Januari 2010, 7 orang ujian ke DAN I yaitu Taufiq Ekaputra Hadi, Putra Yogi Tanjung, Nenden Wanindri, Putri Ishariyati, Marina (keempatnya atlet yang lolos porda 2010), Asep Andriana dan Fatwa Nugraha serta 1 orang ujian ke DAN II, yaitu Doni Saparin. “Semuanya lulus dengan hasil baik bahkan 2 orang lulus dengan sangat baik dan masuk nominasi untuk memperebutkan sebagai peserta ujian terbaik yaitu Taufiq dan Nenden.

Sementara 4 orang karateka mengikuti kejurnas III Inkanas mewakili Jawa Barat dan keempatnya berhasil meraih medali 3 perak dan 2 perunggu, yaitu Yudi Fatkhurohman (atlet porda) medali perak kata beregu putra dan medali perunggu kumite kelas bebas putra, Nia Kurniasih (atlet porda), medali perak kata beregu putri, Dinie Dianita Bakri (atlet porda), medali perak kumite +68 kg putri, dan Rifqy Hadi Hammami (9 thn), medali perunggu kata perorangan usia dini,” ungkap NUrhadi.

Kejurnas itu sendiri, tambah NUrhadi, sudah dilaksanakan tanggal 14 dan 15 Januari 2010 di GOR POPKI Cibubur Jakarta. Sementara itu Rizki Amalia SH juga atlet porda Kabupaten Subang mengikuti penataran wasit juri dan memperoleh kualifikasi Juri B (JB) Nasional Inkanas. “Semula Rizki juga akan mengikuti ujian ke DAN II akan tetapi karena pada saat gashuku mengalami cedera lutut, akhirnya membatalkan ikut ujian DAN. Selain itu, yang juga karateka porda Subang Dadang Ginanjar SSi turut serta dalam kejurnas dan ditunjuk sebagai pelatih tim Inkanas Jawa Barat,” tambah Nurhadi.

Nurhadi menambahkan, pada kegiatan Nasional Inkanas juga berlangsung Kongres II Inkanas tanggal 11 Januari 2010 bertempat di Gedung Serba Guna Polda Metro Jaya dan terpilih sebagai Ketua Umum PB Inkanas periode 2010-2014 Kapolri Jendral (Pol) Bambang Hendarso Danuri menggantikan Taufik Effendi, mantan menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan). (eko)

Warga Tuntut Lurah Diganti

SUBANG, RAKA - Tokoh masyarakat dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Parung, Kecamatan Subang, meminta Bupati Subang Eep Hidayat untuk mengganti lurah mereka. Salah satu alasan permohonan tersebut, karena lurah dinilai sudah tidak harmonis dengan mitra kerjanya.

Permohonan tersebut diajukan kepada bupati melalui surat bernomor 01/LPM- PRG/ 2009. “Sebulan sudah kita melayangkan surat kepada bupati tetapi masih belum ada realisasinya dan kita masih bersabar tetapi untuk sementara pintu utama kantor kelurahan tetap kita kunci,“ ujar Ketua LPM Parung H Yakub Suryana yang ditemui wartawan, Jumat (22/1). Menurut Yakub, apa yang dilakukan oleh para tokoh masyarakat didasarkan hasil musyawarah pertengahan Desember 2009 silam. Agendanya, membahas kinerja kepemimpinan pejabat Lurah Parung yang baru beberapa bulan ditugaskan.

“Hasilnya kami berpandangan sudah tidak ada keharmonisan. Sebab, dedikasi, loyalitas dan pengorbanannya dalam memajukan kelurahan tidak nampak. Termasuk tidak ada keterbukaan terkait dengan bantuan keuangan,“ jelasnya. Untuk itulah, tambah Yakub, pihaknya memohon segera digantinya untuk sementara oleh staf Kelurahan Parung Insan Mutaqien. Hanya saja sampai saat ini belum ada realisasinya dan bila terus-terusan terjadi kevakuman masyarakat akan menanyakan langsung ke Pemkab Subang.

Camat Subang Tatang Supriyatna yang dihubungi terpisah, Jumat (22/1), mengakui telah lama menerima keluhan warga Parung dan pada Rabu (20/1) telah digelar rapat dengan dinas terkait. “Hari ini pun kami telah mengutus Sekmat serta Kasi Pemerintahan ke sana, tetapi belum ada laporannya. Kami mohon untuk bersabar karena segala perlu ada proses dan diusahan terjadi islah karena mungkin saja ada miskomunikasi yang perlu diperbaiki bersama,“ ujarnya. (eko)

Pedagang Pasar Panjang Diultimatum

SUBANG, RAKA - Ratusan pedagang Pasar Panjang diultimatum oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Subang. Menurut Kabag Ops Satpol PP Subang Indri Tandya, jika sampai 3 minggu kedepan tidak segera pindah, mereka akan direlokasi paksa.

Ultimatum tersebut, menurut Indri, dilakukan karena sampai Jumat kemarin, ratusan pedagang di Pasar Panjang masih belum melakukan proses pemindahan mereka ke lokasi di Pasar Baru. Padahal hal tersebut merupakan hasil kesepakatan antara pedagang dengan dinas terkait yang dilakukan pada awal Januari yang lalu. “Kami masih memberikan toleransi kepada mereka, jika dalam waktu tiga minggu dari batas akhir ketentuan penempatan lokasi sebagaimana perjanjian yang telah dilakukan mereka masih bertahan, kami akan merelokasi mereka secara tegas,” ungkap Indri.

Hingga Jumat, ratusan pedagang di Pasar Panjang, masih bertahan di lokasi saat ini, sementara berdasarkan kesepakatan sebelumnya, per tanggal 20 Januari, ratusan pedagang di Pasar Panjang harus sudah menempati lokasi di pasar Baru. Sementara kepada wartawan, pengelola Pasar Panjang, Rusli Efendi mengatakan, jika pihaknya menyanggupi untuk mengisi los 192 di Pasar

Baru yang disediakan Pemkab Subang, namun tidak berarti pindah dari lokasi saat ini. “Kami sudah tegaskan, lahan ini milik kami dan kami pun sudah meminta perlindungan hukum. Para pedagang menyanggupi untuk menempati Pasar Baru, namun tidak berarti meninggalkan tempat ini,” tandasnya. (eko)

Pengadaan Mebeler Diduga Dimarkup

DIMARKUP?: Pengadaan mebeler bagi sekolah dasar yang ada di Kabupaten Subang, diduga kuat dimarkup. Pasalnya, terdapat selisih harga antara pengakuan perajin dengan RAB yang dipampang di sejumlah sekolah.

SUBANG, RAKA - Dugaan marukup pengadaan mebeler menyeruak pada program Dana Alokasi Khusus (DAK) sekolah dasar di Kabupaten Subang. Sejumlah pengusaha pembuat mebeler meja dan kusi sekolah mengatakan bahwa harga tertinggi 1 unit mebeler hanya Rp 250.00, sementara harga mebeler dalam program Dana Alokasi Khusus (DAK) sekolah dasar di Kabupaten Subang mencapai Rp 375.000 per set.

Hal itu diketahui dalam papan proyek yang dipasang di sejumlah sekolah yang mendapatkan proyek DAK. “Kami biasa menerima order dan bahkan menjual mebeler meja kursi sekolah harga tertinggi Rp 250 ribu per unitnya dan bahan material kayu yanag digunakan kualitas tinggi, kayu basiah,” kata seorang pengusaha mebeler yang enggan disebutkan namanya.
Namun pada saat ditanya di sejumlah sekolah harga tertinggi mencapai Rp 375.000, pengusaha tersebut tidak tahu, pasalnya hal tersebut bukan urusan perajin. ”Soal itu engga tahu mas, saya ga mudeng (ngerti)," ucapnya.

Sementara itu, Sekjen LSM PPK Bhineka Kabupaten Subang Wawan Setiawan mengatakan bahwa harga mebeler meja kursi sekolah dasar yang dana pembelaiannya dibiayai Dana Alokasi Khusus (DAK) jelas terjadi markup. Sepengetahuannya, kata Wawan, baik yang terpampang dalam papan proyek maupun dalam RAB, jelas tertera bahwa dari 1 ruang kelas biaya mebeler sebesar Rp 7,5 juta dengan jumlah 20 unit mebeler. “Bisa dibayangkan apabila di sejumlah perajin dan pengusaha mebeler meja kusri sekolah yang ada di Kabupaten Subang harga tertingginya sekitar Rp 250.000 per unit, sementara harga mebeler di sekolah mencapai Rp 375.000 per unitnya,” ucapnya.

Sementara itu, mebeler yang dibeli oleh sejumlah sekolah di Kabupaten Subang, materialnya juga produk perajin Subang dan bahan materialnya tidak jauh berbeda dan bahkan tidak semuanya akan sesuai dengan bestek. “Jelas dong, harga mebeler dalam program DAK diduga kuat dimark up, karena harga dalam RAB dengan di lapangan selisih Rp 125.000 per unitnya, hitungan itu dari harga tertinggi, sementara material yang dibeli oleh sejumlah sekolah harga maksimalnya hanya Rp 200.000 per unitnya,” tambah Wawan. (pir)

BPR Raih Nasabah Sebanyak-banyaknya

SUBANG, RAKA – Guna memperoleh nasabah sebanyak-banyaknya, Kepala Bank Perkreditan Rakyat (BPR) melakukan segala cara agar meningkatkan kenaikan CAR.

“Kami, dalam meraih nasabah tidak ada pembatasan wilayah, baik di dalam maupun di luar kecamatan maupun kabupaten pun dilakukan dan tidak ada larangan,” kata Kepala BPR Ciasem Yayat Hidayat SE saat dikonfirmasi RAKA di ruang kerjanya. Dilanjutkan Yayat, di ujung Kabupaten Subang, yakni di sekitar wilayah Kecamatan Jalancagak dan sekitarnya maupun keluar Kabupaten Subang, terus dilakukan. Menurutnya, meraih nasabah kemanapun, dimanapun tidak ada larangan, termasuk perekrutan nasabah ke sejumlah perusahaan.

Seperti yang diakuinya di perusahaan peternakan ayam Leong ada sekitar 30 karyawan telah menjadi nasabahnya, pun di perusahaan garment PT Texpia Site Ciasem ada terdapat 80 nasabah, rata-rata nasabah pinjaman kredit paling tinggi senilai Rp 2 juta dengan jaminan Askes dan ATM karyawan. Namun pinjaman yang ditawarkan kepada sejumlah karyawan tidak bisa melebihi dari senilai Rp 2 juta, adapun alasannya tidak tidak banyak mengungkapkan.

“Namun saat ini pinjaman kepada karyawan masih bersifat perorangan terutama dalam penagihan, insya Allah bulan depan akan dikolektifkan di perusahaan setelah saat ini telah terjadi MoU dengan perusahaan garmen,” ucapnya. Disinggung soal raihan nasabah yang menggunakan tangan pihak ketiga, Yayat bersikukuh bahwa siapapun yang mampu melobi nasabah, itu yang akan menjadi mitra BPR asalkan sesuai dengan koridor aturan perbankkan yang diberlakukan di lembaganya.

Sayangnya, hasil penemuan di lapangan, adanya nasabah yang direkrut dari perusahaan, seorang karyawan mesti menyerahkan kartu Askes dan kartu ATM berikut nomor PIN-nya, dia berdalih nomor PIN diminta agar dalam penyetoran cicilan pinjamannya mudah, namun untuk bulan depan pihaknya tidak lagi susah-susah untuk menagih cicilan bulanan karyawan pabrik atau garmen. “Pada ahirnya upaya raihan nasabah dengan berbagai cara, akan tetapi tidak melenceng dari aturan perbankkan. Saya dan pegawai akan terus dilakukan guna meningkatkan CAR,” ucapnya. (pir)

Perhatikan Nelayan

TEMPURAN, RAKA - Musim hujan merupakan musim paceklik bagi para nelayan. Hal itu juga dirasakan para nelayan yang berada di Desa Ciparagejaya, Kecamatan Tempuran.
Mereka pada musim ini tak bisa mendapatkan penghasilan karena absen melaut akibat buruknya cuaca dan tingginya gelombang. Akibatnya, tak ada penghasilan pada musim ini, mengingat terlalu besar resiko yang harus mereka tangung jika terjadi gelombang besar di lautan.

Terkait hal itu, Ketua Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ciparagejaya H Muhammad Zaid ketika ditemui RAKA, Jumat (22/1), mengatakan bahwa nelayan khususnya nelayan Desa Ciparagejaya harus lebih diperhatikan. Pasalanya, melihat kondisi nelayan yang terkadang harus menjual perabot rumah tangga seperti piring dan parabot lainya demi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama untuk makan, ketika mereka libur melaut.

Zaid berharap, pemerintah lebih memperhatikan para nelayan, khususnya nelayan Desa Ciparagejaya. Selain itu, kondisi muara yang menjadi akses pulang perginya perahu nelayan dalam mencari ikan, juga tehambat akibat pendangkalan muara kali tersebut. "Saya berharap agar permasalahan nelayan yang terkadang susah untuk makan jangan ditambah lagi dengan proses yang susah pula seperti akses jalan untuk keluar masuk nelayan dalam mencari ikan," katanya. (cr1)

Jalan Rusak Masih Tersisa


TEMPURAN, RAKA - Jalan menuju Desa Ciparagejaya, Kecamatan Tempuran, sebagian besar telah selesai dibangun. Namun begitu, masih terdapat bagian jalan yang rusak sekitar 1 kilometer.

Munawair, salah seoarang warga Desa Ciparagejaya yang sehari-harinya melintasi jalan ini mengaku terasa terbantu karena jalan yang menghubungkan Desa Ciparagejaya ke daerah Tempuran ini sudah lebih baik dari sebelumnya. Selain itu, dengan selesainya jalan ini bukan hanya para nelayan saja yang merasa dipermudah untuk menjual ikan hasil tangkapannya, para pelajar serta masyarakat pedagang yang sehari-harinya melintasi jalan ini merasa sangat terbantu.

Tokoh masyarakat setempat, H Zaid mengungkapkan, memang dengan adanya pembangunan jalan masyarakat merasa terbantu, namun ia mengaku tidak tahu panjang jalan yang dibangun dengan menggunakan anggaran dana sekitar dua miliar tersebut. "Untuk panjangnya saya tidak tahu karena tidak ada papan proyek tersebut, jadi kami tidak tahu jarak yang telah selesai dibangun ini," katanya.

Zaid berharap, jalur ini bisa awet atau bisa tahan lama. Dengan begitu, masayarakat Desa Ciparage tidak dipusingkan dengan jalan yang menjadi akses pokok masyarkat desa Ciparage.
Sementara itu, Muhidin, salah seoarang mahasiswa Universitas Singaperbangsa Karawang asal Desa Ciparagejaya juga mengungkapakan bahwa dirinya cukup terbantu dengan diperbaikinya jalur tersebut. Selama ini, katanya, ia dan para pengguna jalan lainya sering mengeluh dengan kondisi jalan yang rusak parah sehingga waktu tempuh menjadi lama. Meski begitu, saat ini masih ada bagian jalan yang rusak dan belum tersentuh perbaikan menuju daerah paling utara tersebut. (cr1)

Tanggul Kalen Bawah Jebol

CILAMAYA WETAN, RAKA - Akibat tingginya debit air, dua tanggul Kalen Bawah di Desa Muara, Kecamatan Cilamaya Wetan, jebol. Saat dihubungi RAKA melalui telepon selulernya kemarin, Kepala Desa Muara Syarifudin DZ mengatakan, tanggul tesebut sudah jebol dua kali, yang pertama pada tanggal 18 Desember 2009 dan yang terakhir tanggal 7 Januari 2010.

Ia mengatakan, meski memiliki dana yang sangat terbatas, pihaknya tetap menyewa alat berat untuk memperbaiki tanggul jebol tersebut. Menurutnya, jika hal itu tidak langsung ditangani, maka dipastikan terjadi gagal tanam pada ratusan hektar tanaman padi yang ada di desanya. Selain itu, ratusan hektar tambak di desa tersebut juga terancam. Selain menimbulkan gagal tanam, luapan air dari Kalen Bawah juga akan mengakibatkan banjir di perkampungan. "Kami berharap Pemkab karawang segera memperbaiki dua tanggul agar petani dan petambak tidak rugi," katanya.

Sementara itu, bencana banjir yang belakangan telah melanda wilayah Karawang bagian utara, khususnya wilayah Cilamaya dan sekitar wilayah pesisir yang kerap menjadi sasaran banjir ini mendapat perhatian dari warga Karawang kota. Usai melaksanakan sholat Jumat, jamaah mendoakan para korban bencana banjir serta menggalang dana untuk sekedar meringankan beban para korban banjir.

Khotib sekaligus imam yang memimpin sholat Jumat di Masjid AljihadDrs H Muchlis Imanurdin MPdi, usai memimpin shalat Jumat ia menghimbau kepada seluruh jamah yang hadir agar kita selau peduli dengan masayarakat lainya dengan membantu meringankan beban para korban bencana bisa melalui apa saja seperti dinsos, kesra serta lembaga lainya yang berkaitan dengan sosial.

"Kami pun berusaha menggalang dana untuk disumbangkan kepada para korban banjir dengan bekeja sama dengan percetakan buku untuk menjual buku-buku tersebut yang sebagian dari hasil penjulan itu akan disumbangkan kepada para korban banjir," katanya. Sementara itu, Sahetapi, salah seoarang jamaah mengungkapkan, dirinya meski pendatang tetapi dapat merasakan penderitaan yang kini menimpa warga Karawang bagian Utara. Menurutnya, ide penjualan buku dengan sebagian dari hasil penjualan disumbangkan bagi korban bencana merupakan hal yang patut diapresiasi. (Cr1)

Tanah Kosong Terlantar Akan Dikuasai Negara

TAMAN POHON: Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, saat penanaman pohon pada acara penandatanganan Kerjasama Pola Tanam Jati Unggulan Nusantara (JUN) di Desa Cijantung, lusa (21/1) kemarin.

PURWAKARTA, RAKA - Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengingatkan para pemilik tanah terutama pemegang HGU agar memanfaatkan tanahnya dengan menanam tanamanm produktif. Sebab, bila hal itu tidak dilakukan menteri mengatakan negara akan mengambil alih penguasaan tanah tersebut.

Himbauan tersebut diungkapkan Menteri Kehutanan usai melaksanakan penanaman pohon pada acara penandatanganan Kerjasama Pola Tanam Jati Unggulan Nusantara (JUN) di Desa Cijantung, Kecamatan Jatiluhur, Purwakarta, lusa (21/1) kemarin. "Peraturan Pemerintah yang mengatur mengenai pengambil alihan lahan terlantar itu akan lahir pada bulan Februari depan. Tanah terlantar itu merupakan lahan yang tidak dimanfaatkan secara optimal yang berada di luar kawasan hutan,"ungkapnya.

Dijelaskannya, peraturan pemerintah yang mengatur penguasaan tanah terlantar itu merupakan program Badan Pertanahan Nasional (BPN) yang diintegrasikan dengan program Departemen Kehutanan. Maka dengan itu, Menhut juga mengimbau agar tanah-tanah kosong atau terlantar segera bisa dimanfaatkan. "Maka saya pun menghimbau, lebih baik tanah itu harus dimanfaatkan atau bekerjasama dengan negara agar produktif dan tidak dikuasai negara,"tandasnya.

Saat ini lanjut Menhut, ada sebanyak 7 hektar areal lahan kosong tidak produktif sesuai hasil pendataan pihaknya. Kendati demikian, rencananya kedepan areal itu akan dipadukan dengan program menanam pohon di 500 ribu hektar, seperti dalam bentuk hutan tanaman rakyat (HTR) maupun hutan desa. Dengan demikian keberadaannya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan tentunya bisa menyerap lapangan pekerjaan. "Operasional dari peraturan pemerintah itu memerlukan pemikiran yang mendalam seperti harus berapa lama laha yang dikategorikan lahan tidur tersebut serta luas lahan tersebut. Tapi yang jelas dengan pemberdayaan itu akan menyerap lapangan pekerjaan,"ujarnya.

Oleh karena itu, pihaknya juga menghimbau kepada para bupati agar memanfaatkan kawasan-kawasan hutan yang tidak berhutan agar dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat seperti dalam bentuk hutan tanaman rakyat. Dikatakannya, lahan yang ada sebaiknya jangan dipagari dengan kawat senjata tapi dipagari dengan kesejahteraan seperti pagar ketela, jagung dan lainnya. "Kawat itu jangan dipagari dengan senjata tapi dipagari dengan kesejahteraan seperti pagar ketela, jagung dan lainnya," jelasnya.

Sementara itu, Direktur Utama Perum Perhutana, Ir. Upik Rosalina Wasrin menambahkan bahwa lahan-lahan terlantar yang akan dikuasai negara itu merupakan lahan-lahan hak guna usaha (HGU) yang dikuasai badan ataupun perorangan. "Jadi yang dikatakan Menhut itu bukan tanah pribadi yang bersertifikat yang akan dikuasai oleh negara. Tentunya kalau itu dilakukan akan menjadi persoalan hukum," tambahnya.

Dikatakannya, berdasarkan data yang dimiliki Perum Perhutani, lahan terlantar di pulau Jawa itu seluas 3,7 juta hektar, sedangkan di Jabar mencapai sekitar satu juta hektar. Dijelaskan, pihaknya sudah melakukan pendataan lahan-lahan terlantar di Jabar termasuk di Purwakarta. Lahan-lahan terlantar itu akan ditingkatkan produktivitasnya dengan melibatkan masyarakat sekitar lahan itu berada. "Lahan terlantar itu yang akan ditingkatkan produktivitasnya akan dicarikan sumber pendanaannya, " ungkap Upik Rosalina. (ton)

Pejabat Desa Diminta Tegas Beresin Pajak

DARANGDAN, RAKA - Aparat desa di Kecamatan Darangdan diminta untuk lebih serius mengurusi masalah administrasi ditingkat permerintah desa masing-masing. Selain berkaitan dengan administrasi keuangan prioritas lain juga masalah pelayanan kepada masyarakat. Langkah itu perlu dilakukan, guna mendukung dan menciptakan pemerintahan yang bersih hingga tingkat terbawah (desa dan kelurahan).

Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Kecamatan Darangdan, Fauzi, S.E saat memimpin rapat minggon, lusa (20/1) kemarin, di aula Desa Depok Kecamatan Darangdan. Dihadapan peserta minggon yang mayoritasnya adalah para sekdes itu, Fauzi juga menyatakan, para pengurus desa saat ini harus sudah bisa bekerja secara profesional.

Sebab, katanya, imbas dari diberlakukannya undang-undang tentang otonomi daerah, kedepannya akan banyak hal yang bisa dilakukan oleh pemerinatahan di tingkat desa, sehingga desa tersebut dituntut juga untuk bisa mempertanggungjawabkannya baik secara hukum maupun secara administratif. "Mau tidak mau kedepan para aparat desa pun harus pintar, sebab jika tidak bagaimana masyarakat akan bisa terlayani dengan baik." katanya.

selain itu, kata Fauzi, guna meningkatkan partisipasi masyarakat dalam hal pembangunan di tiap desa, para pejabat desa terutama bagian yang biasa mengurusi masalah administrasi pajak (kolektor pajak), misalnya untuk PBB (Pajak Bumi dan Bangunan), mereka diminta untuk lebih serius lagi melakukan penagihan ataupun melakukan pendekatan ke masyarakat di tahun 2010 ini. "Saat melakukan penagihan kepada masyarakat gunakan cara yang santun. kalaupun masih ada warga yang belum memahami betul tentang keharusan membayar pajak, maka sudah menjadi kewajiban seorang pejabat desa setempat juga untuk memberikan pemahaman tentang itu, "ujar Fauzi tegas.

Hasil pantauan RAKA, saat digelarnya minggon yang juga dihadiri oleh beberapa unsur muspika setempat seperti Danramil dan Kapolsek Darangdan itu, para aparat desa juga sempat diminta untuk bisa membenahi secara baik administrasi yang berkaitan dengan masalah keuangan (SPJ). jika tidak, kata Sekcam, hal ini akan menjadi bumerang buat pengurus desa itu sendiri. "Apalagi yang berkaitan dengan masalah keungan, kalau peng-SPJ-annya tidak benar, bisa jadi hal ini akan merepotkan pejabat desa itu sendiri, "terangnya. (nos)

Warga Tegalwaru dan Maniis Mulai Tagih Janji Caleg

TEGALWARU, RAKA - Anggota DPRD dari Daerah Pemilihan (Dapil) VI diminta agar menjaring aspirasi masyarakat Kecamatan Tegalwaru dan Maniis.
Pasalnya, setelah menjadi penghuni 'rumah rakyat' mereka malah terkesan melupakan janjinya untuk turun ke masyarakat.

Syahroni (35) warga Tegalwaru, kepada RAKA, Jumat (22/01) menuturkan, hingga kini dirinya mengaku belum pernah bertemu kembali dengan anggota dewan yang sudah terpilih dari daerahnya itu. Padahal, katanya, saat berkampanye dulu para calon wakil rakyat itu terlihat sangat meyakinkan. "Jangankan ngobrol untuk membicarakan masalah warga, bertemu pun saya belum pernah dengan anggota dewan yang sekarang, "ungkapnya.

Padahal, kata Roni, semua caleg yang sempat berkampanye didaerahnya, termasuk yang berhasil lolos dan duduk dikursi dewan saat ini, mereka pernah berjanji untuk selalu memperjuangkan aspirasi masyarakat, termasuk warga Tegalwaru. Tidak hanya itu, tambah Roni, dengan gamblang mereka pun pernah membeberkan masing-masing program unggulannya. "Namun, entah lupa atau memang mereka telah sengaja melupakannya, jangankan membicarakan program itu, sampai saat ini berkunjung pun mereka tidak pernah, "ungkap pria yang mengaku sebagai penggarap lahan itu.

Juhaeni (41) warga Tegalwaru lainnya, malah menyebut, dari awal ia sudah merasa tidak yakin dengan istilah janji dan komitmen yang pernah disampaikan para caleg itu. Sebab, katanya, berkaca pada kejadian di masa pileg musim sebelumnya kebanyakan para anggota DPRD yang telah duduk selalu lupa untuk 'berdiri' untuk kembali mendekati masyarakat. "Kalau saya sih sudah tidak merasa aneh, karena memang kebanyakannya seperti itu. banyak aleg yang lupa 'berdiri' kalau sudah duduk, "terangnya Juhaeni. Secara terpisah, Dedi (28) warga Kecamatan Maniis, saat ditemui RAKA menyebutkan karena daerah tempat tinggalnya merupakan daerah kawasan pertanian dikarenakan banyaknya areal persawahan, banyak caleg saat berkampanye dulu mereka menjanjikan akan memajukan kualitas pertanian masyarakat di daerah itu.

Bahkan, kata Dedi, mereka juga sempat berjanji akan memperbaiki berbagai infrastruktur yang berhubungan dengan masalah peningkatan hasil pertanian. Namun, katanya, janji itu hingga kini ternyata hanya sekedar mampir dalam ingatan warga masyarakat saja. "Dulu ada caleg yang akan memajukan kawasan ini (Maniis, red), terutama dalam dalam hal peningkatan hasil pertanian dan peternakan ikan, namun hingga kini belum ada sinyalemen ke arah sana. Mereka (caleg, red), ingatpun sepertinya tidak. "Terang Dedi, sambil mengatakan kalau masyarakat di daerahnya itu sangat berharap agar para caleg yang berhasil duduk saat ini, bisa sering turun langsung kepada masyarakat. (nos)

Kerugian Jembatan Cikao Tanggung Jawab Pelaksana

PURWAKARTA, RAKA - Inspektorat Kabupaten Purwakarta menyebut ambruknya jembatan Cikao belum lama ini adalah peristiwa bencana alam. Meski demikian, mereka menandaskan kerugian pembangunan jembatan penghubung itu sepenuhnya ditangan pelaksana PT Zidan Pratama Agung.

"Itu adalah bencana alam karena naiknya air sungai diluar diperkirakan, namun demikian kerugian tetap ditanggung pelaksana," kata Kepala Inspektorat Dadan Koswara kepada RAKA baru-baru ini. Menurut dia, ambruknya rangka jembatan masih dalam proses pelaksanaan, Inspektorat menyatakan tidak ada kerugian materi sepeser pun yang dialami pemerintah dari peristiwa itu.

Hanya saja, pelaksanaan pembangunan yang seharusnya selesai pada tutup tahun 2009 itu menjadi terhambat. "Kedepan, dengan kejadian ini pelaksanaan proyek nantinya juga perlu perhatian khusus dalam aspek penelitian lingkungannya. Jangan sampai hal ini malahan terulang kembali, "kata Dadan Koswara.

Dadan mengaku baru melakukan monitoring ditingkat lapangan dan belum melakukan pemeriksaan pada dinas bersangkutan. Usai proses yang saat ini masih ditangani beberapa pihak terkait kemudian Inspektorat akan terjun melangsungkan fungsinya. "Nanti akan kita lihat dari aspek administrasi dan rencana pekerjaannya. Meski belum konfirmasi ke Bina Marga kami juga memprediksi hal ini adalah bagian dari lemahnya perencanaan, "ucap Dadan.

Sebelumnya, Ketua DPRD Purwakarta Ucok Ujang Wardi dan Ketua Komisi III DPRD Purwakarta Ujang Kardiwan juga mengatakan permasalahan ganti rugi proyek setengah jalan (belum rampung) itu juga sepenuhnya menjadi tanggungan pelaksana meskipun hal itu kemudian dijelaskan sebagai faktor bencana alam. "Dalam perjanjian pelaksanaan proyek biasanya ada klausul klausul yang menyebut kerugian pelaksanaan suatu proyek yang terkendala atau semacamnya sebelum pengucuran dana dari pemerintah dibebankan pada pelaksana, "kata Dadan. (rif)

Satpol PP Tegaskan Ketertiban Kota

PURWAKARTA, RAKA - Satuan Polisi Pamong Praja Purwakarta menegaskan bakal tetap konsisten menciptakan kondisi yang tertib, aman dan tenteram dalam rangka mensukseskan kebijakan pemerintah. Demikian disampaikan Kastpol PP Pemkab Purwakarta Budi Bunyamin melalui Kasi Dal Ops Satpol PP Purwakarta AB Subekti kepada RAKA dilingkungan Kantor Satpol PP Purwakarta.

Keberadaan Pol PP sangat penting dan strategis. Baik dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah maupun penyelenggaraan pemerintahan di tingkat nasional maupun daerah, pihak Satpol PP terus berupaya maksimal mengamankan program-program pemerintah daerah, khususnya dalam penegakan peraturan daerah (Perda). “Ini juga sekaligus memantapkan posisinya sebagai salah satu unit kerja di dalam struktur pemerintah daerah untuk mendukung suksesnya pelaksanaan program pemerintah,” kata AB Subekti.

Diakui Subekti, penyelenggaraan katertiban umum dan ketentraman di daerah Purwakarta secara umum beberpa tahun kebelakang cenderung menunukan perkembangan yang menggembirakan. Tindak kekerasan fisik mengalami penurunan yang cukup signifikan. Beberapa faktor yang selama ini seringkali memicu konflik di daerah pun dapat dikenali dan diselesaikan dengan baik. “Kontribusi kami untuk terus melakukan deteksi dan penanganan dini untuk memperlihatkan kemajuan kelangsungan kebijakan pemerintah,” ujarnya.

Ia menyampaikan, unit satuan PP dalam menegakkan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah dalam bentuk operasi lapangan hendaknya bersikap dan bertindak secara profesional. Begitu juga ketika menghadapi masyarakat umum, jangan dengan cara yang kasar, seperti memaksa, mengancam dan menggunakan kekerasan. “Tetapi dengan cara-cara persuasif, simpatik dan edukatif seperti yang diperintahkan sehingga sedapat mungkin dihindari penggunaan kekerasan dan represif dan lebih mengedepankan pendekatan care, share dan fair,” jelasnya.(rif)

Warga Perum Bumi Persada Kisruh

PURWAKARTA, RAKA - Sejumlah warga perumahan Bumi Inti Persada di Desa Ciwangi, Kecamatan Bungursari Purwakarta mengaku kecewa dengan sikap developer perumahan yang membebankan biaya pemasangan KWH pada konsumen. Kekecewaan diutarakan lantaran warga mengklaim biaya pemasangan KWH sudah dibayarkan satu paket saat awal akad jual beli.

"Padahal saat awal akad jual beli ketika uang DP dibayarkan oleh kami pihak developer mengamini bila pembayaran sudah termasuk dengan pemasangan KWH, tapi realisasinya kita malahan dimintai kembali untuk mengeluarkan biaya tambahan untuk percepatan pemasangan," sebut satu warga perumahan BIP Purwakarta yang enggan disebutkan namnya kepada RAKA, belum lama ini.
“Menurut warga, permintaan biaya tambahan yang dibebankan pada konsumen perumahan oleh pengembang itu karena perjanjian pihak developer dengan instaler atau pemasang (PT.PLN) tidak bisa dipenuhi karena pihak pemasang sedang mengalami defisit.

Dan atas dasar itu, lanjutnya, untuk memenuhi kebutuhan listrik penghuni perumahan yang mendesak kemudian pengembang memberikan solusi dengan menawari warga untuk melakukan pemasangan KWH dengan biaya sendiri sesuai anjuran pemasang. "Desakan dari warga supaya pengembang memenuhi perjanjian untuk pemasangan KWH yang tak kunjung ada itu malahan kemudian dibebankan pada kami untuk membiayainya sendiri sebesar Rp 500 ribu karena dipastikan pihak PLN belum bisa menyanggupi perjanjian akad jual beli sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan, "katanya.

Terkait hal itu, GM perumahan Bumi Inti Persada, Adam T didampingi Owner perumahan Undang, saat dikonfirmasi RAKA belum lama ini membenarkan keluhan warga. Menurutnya, cacatnya perjanjian akad jual beli itu lantaran pihak pemasang tidak bisa memenuhi kesepakatan waktu pemasangan karena sedang mengalami kerugian. Pihaknya juga mengaku sudah dirugikan akibat hal itu lantaran akad jual beli dengan pihak konsumen menjadi cacat dan berpengaruh terhadap kelangsungan penjualan. "Hal ini juga tidak terjadi di perumahan yang kami kembangkan saja. Ini sudah menjadi isu nasional dan upaya kami memberesi hal ini sudah naik ketingkat kanwil, hanya saja jawaban yang kami terima tidak memuaskan,"kata Adam diamini Undang.

Menjawab pertanyaan, keduanya menyampaikan belum ada kepastian dari pihak PLN mengenai pergantian uang yang sudah dibayarkan untuk pemasangan KWH yang terbilang batal sementara itu. "Kita belum ada konfirmasi lagi dari pihak PLN, yang kita dapat cuma pemasangan yang belum diketahui waktunya. Padahal uang Rp 900 juta untuk pemasangan itu sudah kami setorkan,"ujar Adam dan Undang.(rif)

NumberOfComments

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 
 
 
 
Copyright © Subang Raya
Design by Eko Subang