Rabu, 06 Januari 2010

Hujan Campur Angin, Gerbang Terminal Klari Karawang Roboh

AKIBAT HUJAN ANGIN: Hujan deras disertai angin kencang yang terjadi kemarin merobohkan pintu gerbang Terminal Klari. Dari kejadian tersebut, sempat membuat panik para awak bus dan angkot.

KLARI,RAKA- Gerbang pintu timur Terminal Klari, Selasa (5/1) sore kemarin roboh di terjang angin kencang, yang datang saat hujan deras turun. Dari kejadian tersebut, tidak ada korban yang tertimpa. Pintu gerbang berhasil ditahan oleh penyangga, sehingga tidak roboh total. Tapi walau demikian, untuk sementara aktifitas terminal sedikit terganggu.

Ketika ditemui RAKA di tempat kejadian, petugas terminal, Dedi Rusmiadi menuturkan, angin menerjang pintu gerbang sekitar pukul 16.00 WIB. Angin bertiup cukup kencang, sehingga pintu gerbang tidak bisa menahannya. "Angin cukup kencang, pintu gerbang tersebut tidak mampu menahan angin sehingga roboh. Untungnya, robohnya tidak sekaligus, perlahan-lahan sehingga bisa ditahan pake peralatan seadanya. Kalau tidak ditahan sudah terjungkal," paparnya.

Karena kejadian tesebut, untuk sementara pintu timur terminal ditutup. Karena mobil tidak bisa lewat, soalnya kemiringan gerbang terminal tidak lebih dari 4 meter. Khawatir atap mobil mengenai kontruksi gerbang. "Untuk sementara, pintu gerbang ditutup. Takut nanti kendaraan menabrak tiang penyangga dan roboh. Untungnya terjadinya sore hari, jadi tidak terlalu mengganggu aktifitas terminal," terangnya.

Menurut Dedi, kejadian tersebut terjadi karena kontruksi pintu gerbang tidak terlalu kuat, sehingga diterpa angin bisa roboh. "Kontruksinya kurang kuat, ditiup angin sedikit juga, bergoyang. Tadi anginnya cukup kencang, jadi tidak mampu menahan. Sebetulnya ini bukan kami yang buat, dari pihak sponsor swasta. Saya berharap, nanti kontruksinya di perkuat supaya tidak mudah roboh." harapnya.

Ketika dihubungi RAKA, Kepala UPTD Terminal Klari, Kusnadi, mengatakan, supaya tidak menganggun aktifitas terminal. Gerbang pintu terminal tersebut akan segera di perbaiki. "Kami telah melaporkan kejadian ini pada pihak Sampoerna. Mudah-mudahan bisa segera diperbaiki, supaya aktifitas terminal tidak terganggu," pungkasnya

Sementara itu, hujan deras yang mengguyur Kota Karawang, membuat sejumlah ruas jalan terendam banjir. Bahkan banjir tidak hanya terjadi di jalan utama, jalan dalam kota pun ikut terendam. Berdasarkan pantauan RAKA, untuk jalan utama, dari jalan Surotokunto dan depan Pasar Johar terendam, ketinggian diperkirakan mencapai 10 cm. Untuk dalam kota, ruas jalan Husni Hamid dan jalan Panatayudha juga terendam. Peristiwa ini terjadi, karena drainase yang ada tidak berfungsi dengan baik. Akibat peristiwa tersebut, banyak motor yang mogok dan didorong pengendaranya. (asy)

MANG RAKA

CALON BUPATI
Detiawarman bersaing dengan Karda Wiranata untuk menjadi calon Bupati Karawang dai PDIP.

MANG RAKA:
Muncul deui tah....

Endet Saingi Karda, Untuk jadi Balonpub Karawang dari PDIP

KARAWANG,RAKA- Selain Karda Wiranata, bakal calon bupati (balonbup) yang sudah mengembalikan formulir ke DPC PDIP Karawang sebelum pukul 19.00 WIB malam tadi, masing-masing H. Detyawarman OS (Endet), H. Endang Helmi, Suherman, Eka Suryana.

Sedangkan yang mengembalikan formulir untuk posisi wakil bupati adalah Letkol Hidayat Abdullah. Menurut Ace Sudiar,S.Si, seluruh nama balon bupati itu akan terlebih dahulu diverifikasi sebelum diajukan dalam konfercab yang berlangsung di Aula Rumah Makan Alamsari, Desa Purwadana, Kecamatan Telukjambe Timur, Rabu (6/1).

Ketua Tim Verifikasi bakal calon bupati (balonbup) dan wakil bupati Karawang, H Tono Bachtiar ketika dihubungi RAKA melalui ponselnya kemarin malam mengatakan, secara administrasi kelima balonbup dan seorang balon wabup tersebut lolos dalam tahap verikasi."Dalam tahap verifikasi kita hanya memeriksa persyaratan administrasinya saja terutama sesuai dengan yang dipersyaratkan undang-undang minimal SLTA. Sedangkan soal teknisnya, akan dimunculkan lewat konfercab besok(hari ini)," kata Tono.

Bagi warga Karawang maupun kader PDIP Karawang, nama Detyawarman sudah tidak asing lagi karena sebelumnya yang bersangkutan juga calon bupati yang diusung DPC PDIP pada pilkada 2005 lalu. Demikian juga halnya dengan Eka Suryana yang sudah gencar melakukan sosialisasi pada pilkada lalu. Sayangnya Eka saat itu tak bisa ikut bertarung karena tidak mempunyai kendaraan politik. Sedangkan, Endang Helmi pengusaha asal Telagasari itu juga sudah tak asing lagi bagi kader PDIP. Sebab, dalam pemilu legislatif 2009 lalu, mencalonkan diri menjadi calon anggota legislatif PDIP dari dapil 6 Karawang.

Suherman asal Telukjambe dan Letkol Hidayat Abdullah asal Johar masih merupakn orang baru dalam kancah perpolitikan Karawang. Sebelumnya, Karda mengaku telah mendapat lampu hijau dari Megawati Soekarnoputri untuk maju sebagai calon bupati. Kendati mengenai koalisi yang akan dibangun, Karda sendiri belum dapat memastikan dengan parpol atau tokoh mana yang siap digandengnya.

“Soal dukungan Bu Mega, tidak ada masalah. Beliau sudah oke. Hal itu saya dapatkan ketika menghadiri ulang tahun pak Taufik Kiemas, Minggu (3/1). Pada pertemuan itu memang saya sempatkan melapor kalau saya mau maju mencalonkan diri menjadi calon bupati Karawang pada Pilkada 2010. Bu Mega maupun pak Taufik langsung setuju,” aku Karda saat itu kepada para wartawan.

Namun, pernyataan itu kemudian mendapat reaksi dari kader PDIP lainnya, seperti Moch Chattaman. Menurut Chattaman, pernyataan Karda tidak lebih hanya sekadar akal-akalan yang bersangkutan sebagai bagian dari manuver politik. Diyakini dia, sangat tidak mungkin orang sekelas Megawati memberikan dukungan sebelum konferensi cabang (konfercab) PDI-P digelar.


“Kalau pun hanya sekedar dukungan lisan atau informal, saya tidak yakin itu dilakukan Ibu Mega. Apalagi orang yang selama ini terbilang dekat dengan beliau (Ibu Mega -red) yang saya tahu baru Detiawarman. Yang kenal dekat Karda dari DPP hanya pak Taufik Kiemas. Hanya itu tadi, saya belum yakin benar pernyataan dukungan begitu mudah mengalir sebelum proses dari mekanisme partai ditempuh,” ungkap Chattaman saat itu. Siapakah yang akan maju sebagai balonbup PDIP Karawang? Tentunya akan ditentukan Rabu ini pada Konfercab yang digelar di RM Alamsari Telukjambe Timur. (ops)

9 Kapolsek Dimutasikan, 168 Personil Naik Pangkat

Kapolres Rudi Antarik-sawan saat menyematkan tanda jabatan kepada Hermawan Kapolsek Karawang kota yang baru.

KARAWANG,RAKA- Memasuki awal Januari 2010, sembilan pejabat kepala polisi sektor (Kapolsek) di lingkungan Polres Karawang dimutasikan.Mutasi yang ditindaklanjuti dengan serah terima jabatan (sertijab) itu berlangsung di Aula Tanahatu, Polres Karawang, Selasa (5/1) kemarin. Sementara sebelumnya, sebanyak 168 personil mendapat kenaikan pangkat setingkat dari pangkat sebelumnya.

Para kapolsek yang turut serta dalam mutasi tersebut masing-masing,AKP Hermawan yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolsek Pakisjaya dipromosikan menjadi Kapolsek Karawang Kota. Posisi Hermawan digantikan AKP Sutejo yang sebelumnya menjabat sebagai penyelidik pada Satuan Intelkam Polres Karawang.

Selanjutnya, AKP Sukiyo yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Biro Operasional (KBO) Satlantas Polres Karawang juga dipromosikan menjadi Kapolsek Majalaya menggantikan AKP Suparyanto yang dialihtugaskan ke Polwil Purwakarta. Sukiyo yang baru sehari menyandang pangkat AKP itu dipercaya menjadi salah satu abdi pelayanan masyarakat di wilayah Kecamatan Majalaya.

AKP Maksum yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolsek Jatisari dimutasikan ke Polwil Purwakarta dan, posisinya digantikan oleh AKP Agus Suwarsono yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolsek Pedes. Posisi Agus diisi AKP Wazirman yang sebelumnya menjabat sebagai Negosiator Sat Samapta Polres Karawang.

Kemudian, AKP Relisman Nasution, SH yang sudah menjabat sebagai Kapolsek Telagasari selama 4 tahun 6 bulan, dialihtugaskan ke Polwil Purwakarta dan posisinya digantikan oleh AKP Syafari,SH. Kapolsek Rawamerta AKP Winarsa,SH juga dialihtugaskan ke Polwil Purwakarta dan posisinya diisi AKP Sudiharjo yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolsek Batujaya.

Terakhir, Kapolsek Cibuaya AKP Subagiyo dialihtugaskan menjabat Kapolsek Batujaya, sementara posisinya dipercaya kepada AKP Sutrisno yang sebelumnya menjabat sebagi penyidik muda di Polwil Purwakarta. AKP Sutrisno sendiri sudah tidak asing lagi di lingkungan Polres Karawang karena sebelumnya sempat menjabat sebagai Wakapolsek Cikampek dan Kanit Buser di Polres Karawng pada sekitar tahun 2001-2002 lalu.

Kapolres Karawang AKBP Rudi Antariksawan,S.Ik ketika dihubungi RAKA melalui ponselnya kemarin mengatakan, mutasi atau alihtugas merupakan hal yang biasa agar roda organisasi tetap berjalan. Mutasi juga merupakan penyegaran dan promosi jabatan. "Mutasi kali ini lebih didominasi penyegaran dan ada juga yang sifatnya promosi. Tentunya, penyegaran dan promosi tersebut dilakukan untuk meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat," katanya.

Selain mutasi tersebut, diakuinya bahwa sehari sebelumnya terdapat 168 anggotanya yang mendapat kenaikan pangkat setingkat. Mereka yang pangkat antara lain Kabag Ops Polres Karawang Haryo Tejo Wicaksono,S.Ik yang sebelumnya berpangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP) menjadi Komisaris Polisi (Kompol) atau dari perwira pertama (Pama) menjadi perwira menengah (Pamen).

Kanit Telematika Aiptu Rahmat Senja menjadi perwira berpangkat inspektur dua (Ipda). Rahmat mendapatkan kenaikan pangkat tersebut setelah dinyatakan lulus dalam seleksi alih golongan (SAG) di Polda Jabar. Kedua perwira tersebut menerima dan mengikuti acar kenaikan pangkat di lingkungan Polda Jabar, Senin (5/1) lalu. Perwira lainnya yang naik pangkat masing-masing, Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak, Kumisih dan, Kasubbag Ops Endang Saefudin yang sebelumnya berpangkat Ipda menjadi Iptu. Endang Rohendi, Sukiyo, Suratna yang sebelumnya berpangkat Iptu menjadi AKP. (ops)

Pengadaan Beras Bulog Berkurang

KARAWANG, RAKA – Target pengadaan beras Bulog di berbagai daerah di Indonesia dikurangi memasuki tahun 2010. Karawang dan Bekasi sendiri dalam satu wadah Sub Divre Bulog, pengurangannya hingga 15 persen dari pagu sebelumnya 65.000 ton menjadi 51.600 ton.

Kebijakan ini, menurut Kepala Sub Divre Bulog, Dadang Edi Jumana, sudah menjadi keputusan Pemerintah Pusat. Sebagai pelaksana di lapangan, pihaknya hanya menjalankan tugas apa yang telah ditentukan itu. Khusus pengadaan bagi Kabupaten Karawang sendiri, kata dia, sekitar 29.000-an ton.

Hanya saja, sampai beberapa pekan di awal tahun 2010, diperkirakannya, Bulog di sini belum dapat melakukan pembelian. Selain karena masa panen sudah lewat, stok yang tersedia juga masih cukup banyak. Selain pengaruh harga gabah kering panen (GKP) yang dipatok pemerintah sudah naik menjadi Rp 2.400/kg dari sebelumnya Rp 2.200/kg.

“Soal HPP baru sebenarnya saya belum dapat menjelaskan. Mengingat sampai hari ini (kemarin -red) copy-an Keputusan Presiden terkait hal itu belum diterima kami di sini. Yang pasti, mengenai pembelian gabah Bulog bisa turun ketika suplay tinggi. Bagaimana pun persaingan harga di pasar sangat sulit dicegah. Hingga Januari saja harga gabah di tingkat petani masih rata-rata Rp 2.700/kg GKP,” ungkap Dadang.

Mengenai stok beras, disebutkan dia, di gudang Bulog masih tersedia 40.000 ton beras. Jumlah ini kalau dihitung bisa mencukup sampai September 2010. Agar tidak beresiko tinggi akibat disimpan terlalu lama, kata Dadang, pihaknya berencana mengirim sebagian dari stok tersebut keluar daerah tanggungjawab Sub Divre Karawang-Bekasi. Yakni, ke Bandung dan Cianjur sebagai daerah minim pasokan di Jawa Barat.

“Ketentuan mengenai itu telah diatur. Artinya, daerah-daerah subur seperti Karawang diperintahkan mengisi kekurangan daerah lain di wilayah provinsi yang sama. Yang minim itu adalah Bandung maupun Cianjur. Pengirimannya kami rencanakan Pebruari-Maret. Dengan pasokan sekitar 15.000 ton setara beras. Kalau penarikan stok ini sudah dilakukan, berarti stok yang kita miliki aman untuk memenuhi kebutuhan hingga Mei mendatang,” jelas Dadang.

Untuk kesiapan pasokan beras kebutuhan penanganan bencana alam, seperti banjir, tambah Dadang, pihaknya telah mempersiapkan 100 ton beras. Besaran jumlah pasokan khusus ini, menurutnya pula, sudah menjadi ketentuan pemerintah. Bila selama bencana berlangsung belum memenuhi kebutuhan, kekurangannya akan ditambah setelah diajukan ke gubernur. Sebaliknya, jika selama satu tahun tidak ada bencana, kesiapan pasokan beras bisa langsung masuk sebagai stok beras nasional.

Begitu pun kesiapan penyaluran beras untuk keluarga miskin (raskin) di Kabupaten Karawang, jelas Dadang, pasokannya disiapkan 430 ton per bulan. “Penyaluran raskin dikurangi jumlahnya dibanding tahun 2009. Tahun kemarin kita memasok sampai 520 ton per bulan. Penurunan ini memang secara nasional. Bukan hanya di Karawang atau Bekasi. Kenapa bisa berkurang? Tanya saja pemerintah,” tuturnya lagi. (vins)

Buruh Minta Tuntaskan Pesangon

KARAWANG, RAKA – Puluhan orang mantan buruh PT Prestex Garmen Finishing Indonesia (PGFI) mendatangi Komisi A DPRD. Mereka meminta komisi yang membidangi pemerintahan ini agar turut membantu menyelesaikan persoalan pesangon yang diakuinya belum terselesaikan sejak tahun 2007.

Seperti dituturkan juru bicara buruh yang juga kuasa hukum mereka, Rahmat, SH, bahwa awal PGFI tidak mampu berproduksi lagi karena dinyatakan perusahaan tersebut ditutup. Setelah itu, kalangan buruh melakukan gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial di Bandung hingga berakhir di Mahkamah Agung.

“Keputusan hukum sudah dinyatakan inkrah. Putusan hukum itu mewajibkan pihak perusahaan membayar hak karyawannya. Yaitu pesangon. Kewajiban ini ternyata hingga sekarang belum juga dipenuhi. Alasan pihak perusahaan, katanya tidak punya duit. Ketika buruh minta aset perusahaan dilelang untuk membayar, ternyata sertifikat dari aset tersebut berada di tangan Polres Karawang,” ungkap Rahmat.

Kendati penetapan eksekusi dan lelang atas seluruh aset perusahaan PGFI telah ada, sambung Rahmat, tetap saja belum dapat dilaksanakan hanya karena sertifikat perusahaan belum diserahkan Polres. “Yang kami tahu, keberadaan sertifikat di tangan Polres akibat adanya persoalan lain menyangkut proses hukum pidana antara Indriyati Efendi sebagai Direktur PGFI dengan Rajkumar yang Manager PGFI,” tuturnya.

Persoalan hukum yang dimaksudkannya, adalah ketika kedua orang itu saling gugat secara pidana. Hanya yang membuat kalangan buruh perusahaan ini merasa aneh, jelas Rahmat, perkara yang ditangani sejak April 2007 sampai sekarang masih dilakukan penyidikan. Sedangkan Rajkumar yang sedang berperkara dengan Indriyati, kata Rahmat lagi, sudah kabur entah kemana.

“Kami minta sebaiknya pihak Polres menyerahkan sertifikat itu kepada yang berhak. Yakni, Indriyati. Dengan demikian, nantinya proses lelang atas aset-aset perusahaan PGFI bisa dilakukan. Sehingga pesangon yang menjadi hak buruh dapat dibayarkan segera. Kalau hanya sekedar alasan bahwa sertifikatnya sedang dalam proses hukum sebagai barang bukti dari kasus yang ditanganinya, Polres sebenarnya masih bisa menggunakan Pasal 46 KUHAP,” ungkapnya.

Sambung Rahmat, pasal yang dimaksudkannya itu, ia menyebut, perkara pidana bisa dikesampingkan jika alat bukti diperlukan bagi kepentingan umum. Kalau tidak salah begitu yang termaktub di pasal 46 KUHAP. Ini berarti, sertifikat yang diharapkan kalangan buruh seperti itu. Artinya, kenapa tidak pihak Polres selaku penyidik kasus saling gugat Indriyati dan Rajkumar menyerahkan saja alat bukti sertifikat tersebut ke Indriyati. Dengan pertimbangan, tandas Rahmat, kasihan buruh yang hingga kini pesangonnya belum dibayar.

“Makanya kita datang menghadap ke Komisi A DPRD. Maksudnya agar para wakil rakyat turut membantu menjembatani keinginan buruh ke pihak Polres. Saya kira tidak terlalu penting juga kalau toh pihak penyidik, dalam hal ini Polres, tetap menahan sertifikat bila dibanding nasib buruh yang terus tertahan haknya atas pesangon. Apalagi jumlah pesangon buruh paling kecil sampai Rp 7 juta per orang,” tutur Rahmat.

Menanggapi aspirasi kalangan buruh, salah seorang anggota Komisi A, Ace Sopian Mustari, menjanjikan pihaknya siap melayangkan surat undangan untuk hearing. Paling tidak, dengan rapat dengar pendapat terkait soal itu, komisinya akan lebih jelas menerima keterangan pihak Polres yang dituding kalangan buruh PGFI masih menahan sertifikat yang menjadi sulitnya pihak perusahaan melelang asetnya untuk bayar pesangon buruh. “Insya Allah pekan ini juga surat undangan hearing kita kirimkan,” ujarnya. (vins)

PKB Gelar ToT

KARAWANG, RAKA – Pengurus cabang dan anak cabang Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Karawang, Selasa (5/1), mengikuti Training of Trainer, di aula Wisma Asih. Narasumber yang dihadirkan dari Polres dan Kejaksaan Negeri. Selain pengurus teras di internal PKB sendiri.

Dikatakan Ketua DPC PKB, Akhmad 'Zimmy' Jamakhsari, bahwa pelaksanaan training of trainer atau ToT partainya itu untuk memberikan bekal kepada para pengurus hingga tingkat kecamatan terkait penggunaan bantuan sosial dari Pemkab. Karena dari sekian aspirasi yang diperjuangkan fraksinya di DPRD, kata Zimmy, di antaranya banyak kader-kader PKB mendapatkan bantuan sosial tersebut.

“Bantuan sosial yang dianggarkan APBD biasanya diarahkan ke pembangunan atau rehab sarana ibadah. Dari mulai masjid, majelis taklim, hingga pondok pesantren. Untuk tahun ini kita sudah mengupayakan memperoleh kembali. Nah, khawatir nanti salah dalam memenuhi persyaratan administrasi sebagai bentuk pertanggungjawaban, kita datangkan para aparat penegak hukum untuk memberikan penjelasan mengenai hal ini,” ungkap Zimmy.

Selain itu, tambah dia, materi hukum secara umum juga diulas di acara ToT tersebut. Sehingga, diharapkannya, kedepan para pengurus hingga kader PKB dapat memahami betul bagaimana substansi hukum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pihaknya juga berharap, ToT ini menjad langkah lanjut dari pengkaderan makin cerdas berpikir maupun berpolitik, lebih tumbuh dan berkembang dalam kemandirian. Tandas Zimmy, jangan sampai kader PKB seperti anak kecil yang bisanya hanya sekedar minta sama orang tua.

Ditambahkan oleh Wakil Ketua DPC PKB, Rahmat Tolenk, kegiatan ToT adalah untuk membuktikan kepada masyarakat bahwa sistem kepartaian di lingkungan PKB tetap terus berjalan, tanpa harus terjebak pada moment-moment tertentu, seperti menjelang Pemilu legislatif, Pemilu Presiden/Wakil Presiden, Pilgub, hingga Pilkada. “Ini juga perintah DPP agar pengurus PKB di semua jenjang menyelenggarakan ToT. Masalahnya, PKB kedepan akan dikembangkan sebagai partai ahli sunnah wal jamaah,” ucapnya.

Menghadapi Pilkada 2010 yang tinggal menunggu waktu, jelas Tolenk, bagi PKB baru akan mengambil sikap maupun langkah dukungan setelah mendengar secara resmi pernyataan Dadang S. Muchtar, bisa atau tidaknya yang bersangkutan mencalonkan kembali sebagai calon bupati periode 2010-2015. “PKB berencana menggelar musyawarah daerah dengan para alim ulama. Direncanakan akhir Pebruari atau awal Maret mendatang. Di sana kita siap meminta masukan dari para ustadz di kampung-kampung atau desa. Termasuk pengurus ranting PKB,” ungkapnya. (vins)

Waspadai Bencana Alam

CILAMAYA WETAN, RAKA - Karawang merupakan salah satu daerah yang rawan bencana. Informasi ini disampaikan oleh Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG). Hal ini diungkapkan Camat Cilamaya wetan Andi Muriadi saat rapat Minggon di Aula Kantor Camat Cilamaya Wetan, Selasa (5/1).

Lebih lanjut, Andi memaparkan, hal itu perlu disampaikannya agar para aparatur pemerintahan yang ada di wilayahnya selalu siaga. Apalagi, katanya, letak Cilamaya yang berada dekat dari pantai. Karenanya, jelas Andi, imbauan ini harus disampaikan agar masyarakat Cilamaya wetan selalu waspada dan selalu siaga terhadap kemungkinan bencana yang akan melanda, walaupun Cilamaya merupakan bukan daerah yang dimaksud rawan becana.

"Alangkah baiknya warga Cilamaya, khususnya masyarakat yang dekat pantai melihat kondisi cuaca yang saat ini sedang musim hujan yang terkadang akan menimbulkan bencana. Untuk itu dengan informasi yang telah disampaikan oleh BMG, tidak salahnya kita harus waspada dan hati-hati terhadap peringatan itu, karena itu juga demi kebaikan serta keselamatn bersama tanpa ada unsur menakut-nakuti bagi mereka yang sering beraktifitas yang erat kaitanya dengan baik buruknya cuaca," imbuhnya.

Karena itu, kata Andi, hal ini juga disampaikannya agar jika suatu saat bencana melanda wilayah ini, warganya telah mengantisipasi kedatangan bencana ini. "Sehingga akibat yang ditimbulkan tidak terlalu besar dan tidak berdampak besar bagi yang mengalaminya karena sudah mengantisipasi, seperti halnya saat ini pihak kecamatan yang sedang mengantisipasi datangnya banjir yang belum lama ini salah satu desa di wilayah Cilamaya telah dihinggapi banjir, meskipun banjir ini hanya selewat saja yang tidak berdampak besar bagi yang mengalaminya. Namun kita harus tetap waspada dengan banjir yang kemungkinan akan melanda wilayah ini," imbuh mantan Sekcam Kotabaru ini.

Namun begitu, dia berharap, bencana tidak akan datang di Kecamatan Cilamaya Wetan. "Biasanya ada beberapa hal yang akan menjadi sasaran kerugian akibat bencana itu diantaranya sawah-sawah yang baru ditanami benih yang masih muda serta rumah yang berada di dataran rendah, tetapi itu semua tidak akan berdampak besar apabila kita selalu mengantisipasi datangnya bencana,' pungkasnya. (cr1)

Korban Masih Butuh Bantuan

TIRTAMULYA, RAKA - Meski sudah hampir dua pekan berlalu, rekontruksi bangunan yang diterjang angin puting beliung belum sepenuhnya tuntas. Di Desa Karangsinom, Kecamatan Tirtamulya, misalnya, masih ada bangunan sarana ibadah dan majelis taklim yang belum diperbaiki.

Keadaan ini, membuat bantuan dari berbagai pihak terus mengalir. Selasa (5/1) kemarin, sejumlah anggota Fraksi Golkar Amanat Reformasi (FGAR) DPRD Kabupaten Karawang memberikan bantuan kepada korban puting beliung di Desa Karang Sinom, Desa Citarik dan Desa Tirtasari, Kecamatan Tirtamulya. FGAR memberikan bantuan berupa uang tunai dan makanan siap saji. Ketua FGAR H Warman mengatakan, bantuan yang diberikan berupa uang tunai dan makanan. Bantuan tersebut, menurutnya merupakan sumbangsih dari seluruh anggota FGAR. Pihaknya baru bisa memberikan bantuan saat ini, karena ada keterbatasan waktu.

Akan tetapi, lanjutnya, dalam pemberian bantuan tidak ada kata lambat. Karena bantuan untuk korban bencana, kapanpun selalu dibutuhkan. "Tidak ada kata terlambat dalam memberikan bantuan dan kami baru bisa memberikan bantuan sekarang. Ini bukan disengaja, karena ada kendala kesibukan masing-masing, sehingga kami tidak bisa memberikannya pada saat kejadian ini sudah direncanakan dari awal. Sekarang pun mereka masih membutuhkannya," paparnya.

Dilanjutkannya, pihaknya akan memotivasi fraksi lain untuk turut membantu korban angin puting beliung lainnya. Karena hingga saat ini masih ada bangunan yang masih dalam keadaan rusak sehingga perlu segera diperbaiki. "Kami ingin memotivasi dari pihak lain, supaya bantuan dari pihak lain terus berdatangan, bahkan mungkin nanti dari DPRD secara kelembagaan akan turun membantu. Sekarang kan hanya baru dari fraksi-fraksi. Sekarang kami yang datang cuma 6 orang, anggota yang lain sedang ada kesibukan," ujarnya.

Ditemui di tempat yang sama, Kepala Desa Karangsinom Dadang Sumardi mengatakan, pihaknya berterima kasih atas bantuan yang telah diberikan oleh FGAR. Bantuan ini, katanya, masih dibutuhkan oleh masyarakat korban puting beliung. "Saya mewakili masyarakat mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas bantuan ini. Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi masyarakat yang terkena puting beliung," terangnya.

Ditambahkannya, jumlah rumah yang diterjang puting beliung mencapai 84, terdiri dari rusak berat, ringan dan sedang. Ditambah lagi, tempat ibadah dan majelis taklim. "Terutama sarana ibadah, mungkin kami akan mengajukan proposal pada dinas terkait dan anggota dewan, untuk membantu meperbaikinya. Mudah-mudahan ke depan, bencana seperti ini tidak terulang kembali," harapnya.

Sementara itu, Camat Tirtamulya H Sujana menambahkan, selain dari FGAR, bantuan juga diberikan oleh BAZ Kabupaten Karawang. "Jumlahnya dari BAZ sebesar Rp 10 juta. Sekarang kebutuhan yang diperlukan pascamusibah angin puting beliung memperbaiki majelis taklim dan masjid yang roboh akibat angin puting beliung. Ini yang sedang kami upayakan," pungkasnya. (asy)

Banjir, Cilamaya Rawan Penyakit, Warga Diminta Waspada

CILAMAYA WETAN, RAKA - Setelah banjir menerjang daerah Cilamaya, saat ini pemerintah serta instansi setempat mulai siaga banjir. Ini dilakukan untuk mengantisipasi banjir susulan yang bisa saja lebih besar, terkait tingginya intensitas hujan saat ini.

Camat Cilamaya Wetan Andi Muriadi ketika ditemui RAKA usai memimpin rapat Minggon mengatakan bahwa pihaknya telah menghimbau kepada seluruh masyarakat Cilamaya Wetan melalui kepala desa yang ada agar bisa siaga mengahdapi musim hujan. Apalagi sebelumnya sudah ada desa yang telah dilanda banjir. Karenanya, kata Andi, menjaga lingkungan serta merawat lingkunan merupakan hal penting yang harus diperhatikan. "Bencana banjir ini bisa kita antisipasi degan cara kita yang peduli terhadap lingkungan, dengan tidak membuang sampah sembarangan dan membersihkan saluran air yang menjadi aliran pembuangan air hingga air ini tidak tersumbat oleh sampah-sampah," ujarnya.


Sementara Kepala UPTD Puskesmas Cilamaya dr Endang ketika dikonfirmasi RAKA mengatakan, beberapa persiapan telah dilakukannya untuk mengantisipasi datangnya banjir di daerah tersebut. "Tim kesehatan telah disiagakan di seluruh desa-desa yang ada di Cilamya," katanya. Dia juga menjelaskan, pihaknya telah mempersipakan beberapa hal di antaranya menyiagakan pustu atau puskesmas pembantu di seluruh desa yang ada di wilayah Cilamaya Wetan ini dilengkapi dengan tenaga medis atau bidan desa yang setiap saat apabila dibutuhkan akan selalu siap melayani masyarakat yang sedang membutuhkan pertolongan.

"Biasanya pada musim banjir ini penyakit-penyakit akan mudah timbul seperti penyakit kulit karena air banjir merupakan air yang kotor dan kemungkinan besar air ini mebawa bibit penyakit yang mudah menghinggapi masarakat terdampak banjir. Selain itu, penyakit thypus juga salah satu penyakit yang pada musim seperti saat ini akan mudah sekali hinggap terhadap manusia karena lingkungan yang kurang bersih serta pola hidup yang tidak baik," tambahnya.

Apabila masyarakat di musim seperti ini kurang bisa menjaga kesehatan, maka akan mudah sekali dihinggapi oleh peyakit-penyakit. Pasalnya, cuaca dingin seperti sekarang ini terkadang masyarakat akan sedikit berubah karkternya menjadi agak pemalas. "Untuk itu dimusim hujan ini masarakat harus bisa-bisa merawat diri serta lingkunganya, supaya pada musim hujan ini tidak berpengaruh terhadapo kesehatan masarakat itu sendiri," tandasnya. (cr1)

Rumah Makan Enong Dewi Jajakan Masakan Sunda

CIKAMPEK, RAKA - Bagi anda yang suka dengan masakan khas Sunda, jangan ragu untuk mengunjungi Rumah Makan Bu Enong Dewi di Jl Jend Ahmad Yani Cikampek No 31 C, samping Sekolah PAMOR Cikampek. Di sini, anda akan mendapat sajian makanan khas Sunda.

Enong Dewi, pemilik sekaligus pengelola Rumah Makan Bu Enong Dewi kepada RAKA, kemarin mengatakan, masakan khas Sunda memiliki cita rasa yang sangat diminati oleh semua kalangan masyarakat. Untuk itu, ia bersama keluarganya mencoba membuka usaha masakan khas Sunda. Alhasil, usaha yang baru digeluti selama satu tahun ini sudah dikenal banyak orang. "Sesuai dengan perkiraan kami bahwa masakan khas Sunda banyak peminatnya, semua kalangan masyarakat terutama mereka yang ada di daerah Cikampek selatan bisa menikmati masakan yang kami sajikan," ujarnya.

Dikatakannya, bahan baku masakan Sunda sederhana dan serba natural tetapi tetap terasa enak di lidah serta baik untuk kesehatan. "Bahan baku masakan khas Sunda sangat sederhana, pengolahannya pun mudah tetapi rasanya tidak kalah lezat dengan masakan yang lain. Bahkan, karena bahan bakunya serba natural makanan Sundanis baik untuk kesehatan karena tanpa efek samping," katanya.

Masih menurut Bu Enong Dewi, saat ini dia memiliki menu-menu asli masakan Sunda seperti ayam goreng dan ayam bakar, bebek goreng dan bebek bakar, macam-macam pepes, karedok, lotek, sayur asem dan lalapan yang segar serta sambal dadakan. Karena Cuaca di daerah Cikampek ini panas, dia pun menyediakan berbagai minuman segar. "Alhamdulillah masyarakat terutama karyawan BRI, BNI, BTN dan bank-bank yang lain di sekitar sini menjadi langganan kami, bahkan karyawan KIC serta masyarakat dari Bekasi, Purwakarta, juga Jakarta sering singgah ke tempat kami," imbuhnya sambil tersenyum manis.

Ade, pengelola RM Bu Enong Dewi menambahkan, untuk menarik peminat dan memanjakan pelanggan, pihaknya memiki menu yang komplit dengan bahan baku yang terbaik. Daging dan bahan-bahan lain memiliki kualitas yang baik dan segar. Selain itu setiap hari Jumat pelanggan akan mendapat rujak segar dan gratis. "Kami berharap pelanggan mendapat kepuasan, untuk itu kami terus berupaya memberikan pelayanan yang prima. Bagi pelanggan setia kami, mereka mendapat rujak segar yang kami berikan secara gratis dengan jenis rujak yang berbeda setiap hari Jumat, sedangkan di bulan puasa kami memberikan mereka manisan dan kolak secara gratis, alhasil tempat kami selalu ramai dari pengunjung," pungkasnya. (sep)

Desa Siaga Belum Merata

CILAMAYA WETAN, RAKA - Hingga saat ini, keberadaan desa siaga masih belum optimal. Bahkan masih ada desa yang belum tersentuh program tersebut. Kepala Desa Sukakerta H Sukanta, ketika ditemui RAKA, Selasa (5/1) siang, usai mengikuti rapat Minggon Kecamatan Cilamaya Wetan mengatakan bahwa di desanya belum terjamah program tersebut.

Lanjut Sukanta, dirinya berharap agar desanya bisa segera ada Desa Siaga, pasalnya Desa Siaga ini cukup bisa membantu masarakat. "Sehingga ketika ada salah satu masarakat saya dengan tiba-tiba dihadapakan dengan masalah kesehatan khususnya, tidak susah untuk mencari solusi pemecahanya karena orang sakit harus secepatnya ditolong dan tidak bisa ditunda-tunda seperti halnya orang yang mau melahirkan ini harus sesegera mungkin mendapat pertolongan agar tidak berdampak buruk bagi ibu yang mau melahirkan dan juga anak yang akan dilahirkan bisa lahir dengan sehat dan sempurna,” katanya.

Dia berharap, di Desa Sukakerta secepatnya diadakan desa siaga. Sukanta juga meminta dinas terkait agar bisa mengupayakan adanya desa siaga di desanya, agar jika sewaktu-waktu warganya ada yang terkena masalah, khususnya masalah kesehatan bisa langsung ditangani dengan maksimal, sehingga desanya bisa menjadi desa yang benar-benar siaga terhadap seluruh bencana serta masalah kesehatan lainnya. Sementara itu, Kepala UPTD Puskesmas Cilamaya Wetan dr Endang mengatakan bahwa pihakya akan mengupayakan supaya seluruh desa yang ada di Kecamatan Cilamaya Wetan ini seluruhnya terdapat desa siaga dan bisa dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat desa dengan sebaik-baiknya.

Ditambahlan lagi, bahwa semua desa yang ada di Cilamaya Wetan telah ia prioritaskan dan ini tidak bisa sekaligus tapi mencari dulu kriteria desa yang benar-benar membutuhkan, artinya desa itu merupakan desa yang rawan terhadap penyakit, dilihat dari masyarakt itu sendiri dan juga dilihat dari IPM di desa setempat. Menciptakan desa yang sehat masayarakat yang sehat, katanya, merupakan visi dan misi UPTD Puskesmas yang akan terus diupayakan supaya masyarakat bisa hidup sehat dan sejahtera tanpa diirigi oleh penyakit. (cr1)

BUMP Harus Bisa Jadi Wadah Kesejahteraan Petani

BUMP: Kantor BUMP Desa Amansari, Kecamatan Rengasdengklok.

RENGASDENGKLOK, RAKA
- Badan-badan usaha milik negara (BUMN) terutama perbankan dan pabrik pupuk mulai membuka akses kesejahteraan bagi petani di wilayah Rengasdengklok. Mereka melakukan hal itu dengan mendirikan Badan Usaha Milik Petani (BUMP) di kecamatan tersebut.

Seperti diketahui, selama ini petani sulit sekali mendapatkan kepercayaan bank guna mengajukan kredit untuk usahanya. Berangkat dari hal itu, bank BUMN bekerja sama dengan beberapa pabrik pupuk untuk membantu kalangan petani sebagai rakyat bawah dengan mendirikan BUMP di Desa Amansari, Kec. Rengasdengklok.

Supervisor BUMP, Dudung Abdullah, Selasa (5/12) di ruangannya, mengataka, BUMP tidak akan mempersulit pendistribusian pupuk maupun modal bagi para petani. Sebab, selama ini hasil berdialog dengan beberapa kelompok tani bahwa kendala menuju petani sejahtera terdiri dari berbagai sisi. Diantaranya, modal dan distribusi pupuk. "Untuk itu, kami hadirkan BUMP Pempro yang fungsinya untuk mengakomodir kendala tersebut, "jelasnya.

Selain itu, Dudung menekankan, sudah saatnya Indonesia terutama di wilayah Rengasdengklok, Karawang kembali menjadikan pertanian sebagai penyangga atau sokoguru pembangunan daerah. "Dengan kekayaan sumber daya alam yang kita miliki, karawang harus mencapai swasembada pangan. Artinya, Kebutuhan pangan di wilayah sendiri tercukupi, bahkan kita bisa menyuplai kebutuhan pangan di berbagai wilayah lainnya. Untuk itu, karawang harus kembali pada ekonomi kerakyatan yang memihak pada rakyat bawah. Tentunya, kehadiran BUMP adalah salah satu wujud nyata dukungan tersebut," kata Dudung.

Ditempat yang sama, berdasarkan keterangan koordonator Petugas Penyuluhan Rengasdengklok Ir Firmansyah, Wilayah Indonesia menempati 11% dari 37% wilayah tropis dunia. "Maka dari itu, kita memiliki keunggulan, bisa merasakan musim tanam sepanjang tahun. Dan itu, perlu dukungan dari pusat hingga ke tingkat bawah. Akan sangat disayangkan jika lahan pertanian di karawang tidak mendapatkan dukungan. Apalagi, hingga sektor pertanian tidak mendapat tempat," ujar Firmansah.

Sementara itu, ketua Kelompok tani Sari Kelor sardi (70) mengatakan lahan pertanian garapannya dengan luas lahan sekitar 420 ha di Desa Amansari sudah menikmati bantuan BUMP. "Kami terdiri dari 2 kelompok tani yang juga sebagai bagian dari SRI (sistem Rise Intensifikation) tidak akan lagi kesulitan dalam permodalan maupun memperoleh distribusi pupuk dan obat obatan hama, "terangnya. (get)

173 Miliar untuk Kecamatan, Camat Harus Bisa Rebut Alokasi Dana yang Dianggarkan Pemkab

TIRTAJAYA, RAKA - Pemerintah kecamatan harus mampu merebut dana APBD yang telah dianggarkan Pemda Karawang sebesar Rp 173 miliar dalam anggaran tahun 2010 ini. Hal itu ditegaskan mantan Camat Tirtajaya yang baru menjabat sebagai Kabag Umum Setda Karawang, Drs. H. Wawan Setiawan, kemarin (5/12) siang usai lepas sambut camat dan sekcam di Kantor Kecamatan Tirtajaya.

Tahun ini, Lanjut wawan, dana APBD Karawang sebesar Rp 540 miliar-an. Dana itu dibagi untuk 21 bidang pembangunan sekabupaten. Sedangkan yang jadi sorotan pemerintah saat ini adalah pembangunan fisik, Rp 173 miliar diantaranya untuk pembangunan infrastruktur daerah. "Maka dari itu, Camat baru tirtajaya harus proaktif untuk mendapatkan dana pembangunan, dia tidak akan mendapat apapun jika hanya diam saja. Dana itu yang selama ini dimainkan tiap kecamatan, seperti berebut kue dari dana APBD Rp 173 miliar untuk pembangunan infrastruktur kecamatan dan desa," jelasnya.

Sementara itu, Camat Tirtajaya yang baru, H. Daerul Amin mengatakan, pelaksanaan sesulit apapun di tiap desa bisa diminimalisir jika dilakukan bersama-sama untuk mengatasi persoalan desa. Diakuinya, tugas apapun yang menjadi tanggung jawab camat sebagai koordinator kecamatan tidak ada artinya jika tidak didukung semua elemen yang ada di tingkat kecamatan dan desa.

Kata dia, Kabag Umum Setda Karawang yang sebelumnya menjabat sebagai Camat Tirtajaya dinyatakan pihaknya telah berhasil merelokasi warga Dusun Sarakan, Desa Tambaksari, Kecamatan Tirtajaya, sebanyak 44 kepala keluarga (KK) juga berkat kerjasama dan solidnya unsur Pemerintah Kecamatan dengan pemdes juga masyarakat tirta jaya.

"Dan ini, akan kami upaya kembali agar lebih maksimal beserta dukungan Pemerintah Kabupaten Karawang. Termasuk, penanganan permasalahan warga Sarakan yang selalu dilanda banjir rob dan memang hampir tiap tahun. Dan itu, masukan awal dari tokoh dan perwakilan masyarakat tirtajaya, bahwa pemukiman di pesisir pantai itu merupakan titik daerah yang paling parah diantar desa lainnya se-Kecamatan Tirtajaya, baik banjir maupun air pasang. Mereka berharap, kedepannya tingkat kehidupan dan keamanan bisa lebih terjamin. Ini yang akan menjadi prioritas pekerjaan kami ke depan,"ujarnya.

Diharapkannya, selepas sertijab ini semua pihak akan turut membantu kelancaran misi tersebut. Terutama pada pihak Perhutani, karena kami dihadapkan posisi dilematis. Artinya, satu pihak harus mengamankan hutan mangrove dalam rangka mengatasi pemanasan global. Disisi lain, pemerintah harus menyelamatkan masyarakat akibat perubahan cuaca tersebut."termasuk mempersiapkan segala sesuatunya, untuk menghadapi musim penghujan tahun ini, "paparnya. (get)

SRI Tawarkan Hemat Tanam 40 Persen

UJI COBA: Pendamping dan ketua kelompok tani beserta PPL Distan melakukan uji coba Sistem of Risa Intensifikacion.

RENGASDENGKLOK, RAKA - Aplikasi dan pola tanam merupakan langkah utama yang seharusnya dirubah untuk mendongkrak keberhasilan dan kesejahteraan para tani. Terutama, untuk cara yang mampu meminimalkan kebutuhan operasional para tani berproduksi.

Hal itu diungkapkan pendamping SRI warga Desa Kertasari, Kec. Rengasdengklok Dudung abdullah kepada RAKA, Selasa (5/1) saat tebar bibit sebagai Uji coba cara tanam metode SRI (sistem of Rise Intensification) pada Satu hektar lahan di Desa Amansari, Kec. Rengasdengklok. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama beserta BMUP dan kelompok tani sari kelor II.

Kata dia, dengan metode SRI terjadi penghematan air sampai dengan 50 persen. Pasalnya, bibit bibit dan benih telah dipersiapkan di lahan sementara, sebelum di masukan dilahan sawah yang telah dipersiapkan. "Persiapannya cukup sederhana. Dan hanya membutuhkan jarak waktu selama 12 hari sebelum dipindahkan ke lahan sawah. Pada tahap persiapan petani tidak membutuhkan air terlalu banyak sehingga biaya operasional bisa berkurang, "terangnya.

Lanjut dia, untuk Kebutuhan input lainnya seperti pupuk dan pestisida kimia juga lebih sedikit dibanding cara konvensional. Terlebih, pemakaian pupuk kandang terbukti mampu memberikan hasil yang lebih baik dibanding pupuk kimia. "Untuk cara tanam dengan metode SRI petani hanya membutuhkan pupuk sekitar 50 kg/ha. Sedangkan, jika dengan cara tanam yang seperti biasanya, petani butuh lebih dari 200kg pupuk/ha. Artinya, kebutuhan operasional produksi petani kembali berkurang, "terangnya.

Ditempat yg sama, hal itu dibenarkan ketua kelompok Tani Sari Kelor Sardi (70) ketika dikomformasi. Tambah dia, SRI juga membantu para tani dalam hal tehnologi. "Untuk biaya operasional per hektar, biasanya kami menghabiskan angaran sekitar Rp 4 juta sampai musim panen, termasuk biaya sewa peralatan. Adanya SRI, kami mampu menghemat sekitar 40 persennya, "jelasnya.

Sementara, petugas penyuluh lapangan kec. Rengasdengklok, Agus Santo mengatakan jika metode SRI sedang gencar di sosialisasikan di berbagai wilayah di kab. Karawang. Hal itu, setelah melihat hasil produksi di beberapa kabupaten lainnya dengan metode tersebut. "Seperti di daerah Indramayu dan Ciamis, tercatat SRI telah meningkatkan hasil dari 5,6 ton/ha menjadi 8-9,5 ton/ha, "terangnya. (get)

Petani Masih Mengeluh

"KAMI memang kerap terkendala dengan kebutuhan air dan kebutuhan lainnya jika menanam dengan pola seperti biasanya. Apalagi, dengan harga kebutuhan tanam yang semakin melambung, maka tingkat kesulitan kamipun semakin bertambah, "kata ketua kelompok tani Sari Kelor II, Sardi (70) kepada RAKA, Selasa (5/1) ditemui dilahan sawah.

Kata dia, untuk kebutuhan sewa traktor petani membutuhkan biaya sekitar Rp 500.000 dalam satu musim. Belum lagi, kebutuhan air dan kebutuhan lainnya. Maka dari itu, harus ada dukungan dari pusat untuk memberikan akses jalan bagi kesejahteraan para petani. "Tahun ini, kami akan semakin terbantu dengan datangnya dukungan tersebut yang sudah mulai berjalan dari awal tahun ini, "jelasnya.
Lanjut dia, permasalahan air memang tidak bisa dipungkiri oleh para petani saat memasuki masa tanam. Biasanya, petani berinisiatif untuk menyewa pompa air dengan tarif Rp.50.000 sekali pakai. Sedangkan, dalam satu bulan petani bisa menyewa sebanyak 4 kali untuk memenuhi kebutuhan air. "Sekarang ini, pengadaan alat alat bantuan tersebut, memang sudah diwacanakan dan rencananya mulai akan direalisasika, "terangnya.

Dari total keseluruhan, jelas Sardi, kebutuhan petani memang masih dibawah penghasilan yang bakal diraih saat musim panen nanti. Namun begitu, penghasilan petani menghabiskan waktu cukup panjang, sekitar 6 bulan lamanya. Dalam satu tahun, petani hanya bisa dua kali mendapatkan hasil. "Itu yang menjadi pertimbangan mengapa biaya produksi cukup berpengaruh pada kesejahteraan petani. Ditambah, biaya lainnya termasuk biaya pemberantasan hama. Padahal, hama tersebut sudah mebuat rugi para tani meski hanya dalam satu kali serangan, "ungkapnya. (get)

Sistem Drainase di Jalan Husni Hamid Sangat Buruk


WAJAH KARAWANG: Sistem drainase di Jalan Husni Hamid sangat buruk. Hujan sebentar banjir sedengkul. Dan itu terjadi setiap kali turun hujan. Ironisnya, disepanjang jalan sekitar seratus meter itu juga sedikitnya 8 kantor pemerintahan ditempatkan. Selain sejumlah gedung penting lainnya yang justru kerap digunakan para pejabat Karawang. (asy)

Martin Marumata Sang Master Atletik, Tak Pernah Bosan Mengkampanyekan Olah Raga

PELARI Karawang, Martin Marumata (tengah) saat mendapatkan medali emas di kejuaraan atletik Brunei Masters Open di Track and Field Complex, Berakas, Brunei Darussalam.

BARANGKALI, lelaki ini satu-satunya di Karawang yang tak pernah jera mengkampanyekan betapa pentingnya olah raga lari bagi semua orang. Menurut dia, dengan olah raga itu orang bisa awet muda, selalu menilai orang dari sisi positif dan terutama tetap fit meski di usia jompo.
Pian Sopyan

Martin Marumata nama lelaki ini. Dibalik kegigihannya mengkampanyekan pentingnya olah raga siapa sangka kalau dia juga satu-satunya atlet tua yang telah banyak menyabet medali dalam sejumlah kejuaraan atletik. Baik nasional maupun internasional. Bahkan ketika RAKA berkunjung ke rumahnya di Kecamatan Kota Baru, Martin sangat terbuka dan familiar, ia pun tidak segan bercerita dari A sampai Z, terutama dibidang olahraga.

Martin adalah salah satu atlet di Indonesia dan satu-satunya di Karawang yang sampai saat ini tidak melepaskan keatletannya, bahkan diusianya yang tidak muda lagi, Martin masih mampu meraih empat medali emas di Kejuaraan Atletic terbuka di Brunei Darussalam mewakili Karawang. Sungguh prestasi yang luar biasa, ketika ia mengaku sampai saat ini sudah mengantongi lebih dari 700 medali, karena tidak semua mampu seperti itu.

Atlet Master Atletik kelahiran Nusa Tenggara Timur ini mengaku, sejak masih kecil kehidupannya jauh dari rasa kebahagiaan. Ia mengaku sejak kecil sudah sengsara, bahkan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari ia terpaksa menjual rumput dan kayu. Namun disisi perjuangannya mempertahankan hidup, Martin kecil justru tumbuh menjadi orang yang kuat dan cepat dalam berlari. "Saya dulu sering mengejar monyet dan kuda liar ketika memotong rumput dan kayu. Akhirnya ketika ada perlombaan selalu menang, karena sudah sangat terbiasa berlari dengan kecepatan tinggi," ungkapnya, Minggu (3/12) siang.

Berawal dari perlombaan tingkat daerah hingga akhirnya melanglangbuana di dunia Internasional, Martin tidak pernah berharap menjadi juara satu. Ia mengaku, sebelum bertanding yang ia berdoa meminta kesehatan dan kekuatan bukan kemenangan. Namun kekuatan dan kesehatan yang diberikan oleh Tuhan ternyata mampu membuatnya menjadi nomor satu.

"Pertama kali saya mengikuti pertandingan waktu umur sepuluh tahun di Daerah Sumba. Saya ikut lalu menang. Setelah itu ikut Pon mewakili NTT dan ternyata menang lagi, setelah itu kemenangan demi kemenangan selalu saya raih. Sungguh ini sebuah kenikmatan dari Tuhan yang sangat saya syukuri," kenangnya. Martin yang selalu berlari sepanjang hidupnya tidak pernah mengaku bosan. Bahkan ia mengatakan, setiap ia berlari, setiap tetesan keringat yang ia keluarkan itu adalah sumber kekuatan dan kesehatan.

Untuk menjaga tubuh dan jiwanya tetap sehat, Martin mempunyai resep khusus. Bahkan ia tidak ragu memberikan resep tersebut kepada RAKA, ketika RAKA penasaran resep apa yang ia punya sehingga diumurnya yang berkepala tujuh, masih tetap fit dan bugar. "Saya punya resep trio, Mk, Rk,dan K, yaitu tidak Meminum minuman keras, Merokok, dan Kopi. Makanya paru-paru, jantung dan usus saya sehat. Ini adalah anugrah dari Tuhan kepada saya. Makanya setiap merasakan betapa nikmatnya hidup ini, saya selalu mengucap terima kasih Tuhan atas apa yang diberikan," katanya.

Kekayaan yang dimilikinya tidak bisa dibandingkan dengan orang paling kaya diseluruh dunia. Martin yang selalu bersemangat mengatakan, dengan sehat maka kita akan menjadi orang kaya. Kesehatan yang dimilikinya adalah kekayaan yang tidak terhingga buatnya. "Saya adalah orang paling kaya diseluruh dunia, karena saya sehat. walaupun kita banyak uang tapi sakit, maka percuma. Tapi dengan sehat kita bisa melakukan apa saja," tuturnya dengan penuh semangat. (bersambung)

Harga Beras Naik Tajam

KARAWANG, RAKA - Harga beras medium dan jenis premium kualitas istimewa di Pasar Johar dan Pasar Karawang Kota mengalami kenaikan tajam. Hal itu terjadi karena terpicu minimnya pasokan beras ke Kabupaten Karawang.

"Kenaikan harga beras dipicu oleh minimnya pasokan beras. Untuk menutupi kekurangan beras, kami sekarang beli beras di luar Jawa Barat, yaitu di Demak dan Pati," ungkap pemilik grosir beras di Pasar Johar, Aris Gunawan, kemarin (5/1) seraya mengatakan rata-rata kenaikan mencapai angka Rp 1000 per kilogram.

Dijelaskan, kenaikan harga beras premium seperti jenis Cianjur sejak awal tahun hingga sekarang naik dari Rp 5.000 per kilogram menjadi Rp 6.000 per kilogram, sedangkan beras medium seperti IR 64 III naik dari Rp. 4.700 per kilogram menjadi Rp. 5.700 perkilogram.
Selain itu disebutkan, meski kualitas beras dari Demak dan pati cenderung lebih rendah dibandingkan beras dari Karawang, namun Aris mengaku tidak punya pilihan lain, agar persediaan berasnya tidak kurang.

"Kalau mereka, pada saat panen berasnya tidak dijual tapi disimpan. Baru pada saat musim tanam, beras yang mereka miliki dijual. Hal itu mereka lakukan untuk menutupi biaya operasional pada saat menanam padi," tuturnya. Ia melanjutkan, biasanya dalam sehari persediaan beras bisa mencapai 60 ton. Namun saat ini persediaan beras yang ia miliki hanya 30 ton. "Setiap musim tanam memang seperti ini, dan biasanya akan kembali normal ketika memasuki musim panen, yaitu antara Bulan februari akhir dan Maret," tuturnya.

Hal senada juga diungkapkan H. Acan (39) yang ditemui di tempat yang sama. Ia mengatakan, kenaikan harga beras tahun ini lebih tajam dibandingkan dengan tahun lalu. "Setiap tahun ketika memasuki masa tanam, pasokan beras memang selalu kurang, dan akibatnya terhadap harga beras. Biasanya kenaikan ini akan kembali turun ketika sudah memasuki masa panen," katanya. H. Hidayat (51) pedagang beras di Pasar Karawang Kota mengatakan, harga beras mulai naik sekitar dua minggu yang lalu. Menurutnya kenaikan harga beras dipicu oleh minimnya pasokan beras. "Beras medium dan premium naik sekitar Rp. 1.000 per kilogram.

Untuk medium dari Rp. 4.700 perkilogram menjadi Rp. 5. 700 perkilogram, sedangkan beras premiun dari Rp. 5.200 perkilogram menjadi Rp. 6.200," tuturnya. Ia berharap harga beras bisa kembali normal, pasalnya sejak harga beras mulai naik banyak konsumen yang mengeluh. "Meski harga beras naik, pendapatan masyarakat secara umum tidak ikut naik. Makanya minta beli masyarakat menjadi kurangl. Mudah- mudahan dalam jangka waktu dekat, harga beras kembali normal, agar masyarakat tidak banyak yang susah," tuturnya.

Rina (32) salah seorang pembeli beras mengeluhkan harga beras yang naik. Ia berharap Pemkab Karawang melakukan tindakan agar harga beras kembali normal. "Sejak harga beras naik, saya terpaksa menurunkan jumlah pembelian beras. Kalau tidak disesuaikan dengan pendapatan, saya pasti akan repot. Mudah-mudahan dalam jangka waktu dekat, harga beras kembali normal. Satu-satunya harapan adalah pemerintah bisa melakukan tindakan secepat mungkin, masih banyak di Karawang orang yang tidak mampu," katanya. (psn)

Asyik, Pasang PAM 30 Ribu, Open Supriyadi: Biaya Sambungan Pelanggan, Bebas

KARAWANG, RAKA - PDAM Tirta Tarum Karawang menerima bantuan Rp 8 miliar dari Pemerintah Australia untuk memasang saluran bagi 3.000 pelanggan. Dengan demikian, pelanggan hanya dibebani sebesar Rp 30.000 sekali pasang, sedangkan Rp 2 juta biaya pemasangan ditanggung dari bantuan tersebut.

Hal itu diungkapkan Direktur PDAM Tirta Tarum Karawang, Open Supriyadi, Selasa (5/1) siang. "Dengan bantuan tersebut, biaya sambungan kepada pelanggan dibebaskan. Namun agar mereka memiliki saluran, pelanggan diwajibkan membayar sebesar Rp 30.000. Dan, Selain dari Australia, PDAM Tirta Tarum juga akan menerima bantuan dari LSM asal Perancis dan Jepang," ungkapnya. Open menambahkan, dengan tingkat produksi lebih dari 9 juta meter kubik, didukung jaringan sambungan pipa yang lebih baik, PDAM masih bisa melayani sekitar 13.000 pelanggan. Apalagi adanya bantuan modal untuk memperbaiki jaringan di Cilamaya dan Tirtajaya.

Menurutnya masih banyak pipa yang belum terbangun di beberapa wilayah sehingga menyulitkan penyaluran air bersih meskipun sudah ada permintaan dari pelanggan. Selain itu, masih banyak pipa-pipa rusak yang harus diperbaiki. Namun untuk perbaikan sambungan pipa tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit. Open menyebutkan estimasi biaya perbaikan di 14 cabang PDAM mencapai Rp 253 miliar. Besarnya biaya perbaikan karena kerusakan jaringan pipa terbilang parah. "Untuk cabang Karawang Kota saja membutuhkan Rp 143 miliar," ujar Open.

Open mencontohkan kerusakan di jaringan pipa Cilamaya yang memerlukan biaya besar. Namun, bantuan dari pemerintah pusat dan provinsi untuk perbaikan digelontorkan sebesar Rp 3 miliar. Dana sebesar itu hanya mampu untuk membiayai perbaikan pipa sepanjang 7 kilometer.

Dia juga menyebutkan sedikitnya 35,5 persen dari 9,4 juta meter kubik air yang didistribusikan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Tarum Kabupaten Karawang mengalami kebocoran pada 2009. Kebocoran itu meningkat 0,5 persen dari tahun sebelumnya karena perbaikan pada pipa-pipa jaringan belum dilakukan sepenuhnya.

Kebocoran itu sebagian besar terjadi karena adanya sambungan illegal (illegal connector) di pemukiman warga. Warga dengan mudah menyambung pipa ke rumahnya dengan cara memotong-motongnya lalu disambungkan ke tempat tinggalnya. Selain itu, diakui Open, ada kelalaian dari petugas. "Makanya pipa-pipa tersebut akan kami ganti dengan jaringan yang mudah diketahui jika ada kebocoran," ucapnya. Open mengatakan pihaknya tidak bisa memenuhi target kebocoran pada 2009 hingga 31 persen.

Dia menyebutkan untuk menurunkan sampai 31 persen saluruh sambungan pipa perlu diperbaiki segera. Kebocoran yang terjadi kini sebesar 35,5 persen setara dengan Rp 7,1 miliar dengan tarif Rp 2.150 per meter kubik. Selain illegal connector, penyebab kebocoran lainnya kesalahan taksiran dari petugas dan waste out (buangan air kotor). Menurut Open, kesalahan taksiran itu dikarenakan kelalaian petugasnya yang sembarangan menaksir meteran air. "Jadi terkadang kami menerima pengaduan dari pelanggan soal tagihannya yang membengkak," kata dia.

Terkait dengan masih banyaknya pelanggan yang belum terlayani PDAM, Open mengatakan, masih banyak jaringan perpipaan yang belum terbangun sehingga air minum yang tersedia tidak dapat disalurkan. Sementara bantuan pendanaan yang diterima PDAM dari Pemkab Karawang besarnya hanya Rp 500 juta. "Akibat minimnya anggaran yang ada, sebanyak 21.000 pelanggan di Kabupaten Karawang belum terlayani Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Tarum Kabupaten Karawang," tuturnya. (psn)

Jalani 2010, Armada PBV Tunas Panatayudha Pede, Raih Posisi Juara di Pelangi Cup Jakarta dan Alko Bandung

JALANI 2010 ini, armada klub bola voli 'PBV Tunas Panatayudha' Karawang kayaknya makin pede aja, deh. Coz saat meng akhiri 2009 lalu, kelompok olahraga cewek ini bisa tuh cetak prestasi di dua even lumayan gede: Pelangi Cup IV Jakarta en Alko Bandung. Hebat, ya.

Nggak bisa dimungkiri lagi. Biar juga kejuaraannya udah lebih sepekan lewat, tapi raut suka masih tampak nyata dirasa para armadanya. Hingga saat menjalani latihan rutin di lapang outdoor GSG Panatayudha, Jl. A. Yani Bypass, Karawang Barat, Selasa (5/1), cerita pun masih mengalir sebelum sampai ke Ketua KONI Karawang, Pak Aries Suparno, SH yang tampak datang ke lokasi latihannya. "Syukurlah kalau begitu," kata Pak Aries.

Konon, kayak disampaikan Pelatih PBV Tunas Panatayudha, Pak Hambali yang bareng asistennya Pak Rasta, prestasi yang dicetak para armadanya itu yakni di Pelangi Cup IV Jakarta masuk empat besar alias juara IV, dan di Alko Bandung menjadi Juara III. Di kedua kompetisi bola voli cewek itu, masing-masingnya pake kelompok umur (KU) antara kelahiran 1992, 1994, 1995, dan 1996. Dan 'PBV Tunas Panatayudha' sendiri di Pelangi Cup kirim tim KU 1994 dan 1995, dan di Alko cuma tim KU 1994.

Di Pelangi Cup, anak-anak cewek PBV Tunas Panatayudha harus bersaing ketat dengan 13 tim lainnya yakni Pelangi, Dewa Kembar, Meteor, Porgar dan PPLP Jakarta yang semuanya dari Jakarta; Kencana Jaya, M2, Portal, POR Pratama dan Bekasi Muda yang seluruhnya dari Bekasi; Gi Boult Q dari Tanggerang, Silvas dari Bandung, serta Bikara dari Karawang.

Pelaksanaan kompetisi digelar di Hall Bulungan Blok M, Jakarta Selatan, 17-20 Desember 2009.
Di even yang terbuka untuk klub bola voli se-Indonesia ini, diakui Pak Hambali tim-nya yang bisa duduk di empat besar itu yakni di KU 1995. Posisinya berada di bawah Porgar Jakarta (Juara I), Pelangi Jakarta (Juara II), dan Silvas Bandung (Juara III). Meski begitu, disebutkannya itu udah prestasi, sebab di tahun sebelumnya bahkan nggak punya daya.

Kelar di Pelangi Cup IV, posisi yang lebih baik diraih skuadnya saat ikutan kompetisi Alko di Bandung, yang digelar sampe 27 Desember 2009. Di kompetisi yang pake nama resmi 'Alko Four Days Championship', yang mempertandingkan KU 1975, 1987, 1992 dan 1994, cowok dan cewek, satu-satunya duta PBV Tunas Panatayudha di KU 1994 beroleh posisi Juara III di bawah Bahana Bandung (Juara I) dan Alko (Juara II).

Dari prestasi yang bisa dicetak di dua even yang lumayan gede itu, armada PBV Tunas Panatayudha pun lalu dapet uang pembinaan Rp 2 juta, pesawat televisi 14', trofi, piagam penghargaan, sampe hadiah lain yang berupa bola voli. Keseluruhan hadiah itu kini tersimpan rapi di sekretariatnya, di gedung GSG Panatayudha. "Kecuali yang berupa dana pembinaan, ya kita gunakan memang untuk pembinaan," aku Pak Hambali.

Mengenai itu, Ketua KONI Pak Aries Suparno pun menyatakan salut sekaligus bangga. Dari raihan prestasi di KU yang dianggapnya potensial banget itu, mantan Ketua PWI Karawang itu berharap ke depan tentu bisa jadi aset daerah buat berbicara lebih baik di tingkat provinsi (Jabar) bahkan nasional. "Kalau latihannya intens, saya kira itu bukan tidak mungkin," katanya. (dea wahyudi)

Prestasi Lantaran Kebersamaan

RAIHAN prestasi jelang akhir 2009 yang bikin tambah pede anak-anak cewek PBV Tunas Panatayudha di 2010, sebenarnaya jadi bagian dari sejumlah prestasi lain yang pernah dicetak. Semua, diakui Vini Nurvika dan Saskia Putri alias Bule, dua di antaranya, lantaran tekad dan kebersamaan.

Di keberadaannya, kiprah kita-kita yang rata-ratanya masih duduk di bangku SLTA, SLTP sampe di SD ini juga banyak tuh didukung para ortu yang juga kompak. Nyaris saban latihan rutin yang digelar seminggu lima kali: Jumat, Sabtu, Minggu, Senin dan Rabu, sore sampe kadang malam hari, mayoritas ortu pasti siap tuh di pinggir lapang.

Nggak cuma itu, lho. Saat klub juga bikin tanding di dalam atawa ke luar, sang ortu juga nggak lepas tuh tanggung jawabnya buat terus kasih dukungan. Trus kita-kita sang armada sendiri, juga bisa sejalan lantaran selalu berusaha bisa saling ngerti dan ngisi, deh. "Saling tau gitu," aku dua gadis cantik yang siswi SMAN 5 Karawang dan SMPN 2 Karawang Barat, yang turut antar timnya raih prestasi di Pelangi Cup dan Alko Bandung.

Hal senada juga dilontar Gia Putri Asmara dan Ratu Gita Dewi. Kata duaannya yang masih di SMPN 1 Karawang Barat, rasa kebersamaan yang bikin saling ngerti dan ngisi itu di antaranya lantaran armada yang junior mo belajar, trus yang senior juga rela ngebimbing. "Senasib sepenanggungan, deh," papar Gia dan Ratu yang diamini teman-teman lain di antaranya Opy, Dwi, Yola, Silvia, Berlin, Tyas, Helvi, Riri, Indah, Mimin, Bela, Eka, Reka, Rianti, Lita, Farah, Dira, Kiki, Rizky, Riskya, Amel, Sesi, Anggi, Suzan, Rani, Nisa, Fani, Della, Desi, Gisha. Okelah kalo begitu. (dea)

Jalan Pasar Pabuaran dengan Sarengseng Perlu Perbaikan

TERLANTAR: Jalan yang menghubungkan Pasar Pabuaran dengan Sarengseng, Patokbeusi, sudah lama terlantar dan tak diperbaiki. Padahal, arus lalulintas di jalur tersebut cukup padat. (pir)

Menuju Wajib Belajar 12 Tahun, PGRI Diminta Lebih Profesional

PELANTIKAN pengurus PGRI Kabupaten Subang, kemarin.

KEBERADAAN Persatuan Guru republik Indonesia (PGRI) diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas pendididikan di Kabupaten Subang yang saat ini dalam posisi akselerasi menuju terwujudnya wajib belajar pendidikan dasar 12 tahun.

oleh: AGUS EKO MS, Subang

Hal tersebut disampaikan oleh Bupati Subang Eep Hidayat saat melantik Pengurus PGRI Subang periode 2009–2014 di Aula Pemkab Subang, Selasa (5/1). “Sebagai organisasi profesi bidang pendidikan, PGRI sangat berbeda dengan organisasi-organisasi profesi lainnya, salah satu pembedanya adalah tanggungjawab PGRI terhadap bobot dan kualitas pendidikan dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa,” ungkap Eep.

Peranan PGRI pada pembangunan, tambah Eep, sangat penting, sehubungan dengan upaya Indonesia memajukan kualitas SDM dalam bersaing di dunia internasional. Banyak aspek di bidang pendidikan yang tertinggal, dampak terhadap kesejahteraan rakyat, pertumbuhan ekonomi nasional menyebabkan munculnya kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan. “Sehingga kondisi ini diharapkan menjadi motivasi PGRI untuk bangkit mengejar kesetaraan. dengan tujuan supaya bisa bergerak dari posisi negara yang sedang berkembang menjadi negara maju,” tegas Eep.

Usai melantik kepengurusan, Ketua Umum PGRI Propinsi Jawa Barat Edi Tarmadi menyampaikan bahwa PGRI di usianya yang ke-64 diharapkan kepada para anggotanya untuk bekerja lebih profesional dan bijaksana dalam kiprahnya di dunia pendidikan. "PGRI punya kewajiban untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Guna membangun kesejahteraan para anggotanya, PGRI mengelola usaha mealui koperasi yang dibentuk," ujarnya.

Sementara di Jakarta, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, selaku Bendahara Umum Negara (BUN), mengatakan bahwa penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun Anggaran (TA) 2010, terbanyak diterima oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Berikutnya baru disusul oleh Departemen Pertahanan, Depdagri, serta Depkes.

"Penyerahan DIPA TA 2010 kepada para menteri/ketua lembaga dan para gubernur, serta kepada Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara, merupakan penyerahan DIPA di istana yang ketiga kalinya. Untuk di daerah, setelah menerima DIPA dari Presiden hari ini, para gubernur akan menyerahkan kepada satuan kerja-satuan kerja. Nanti secara simbolis diserahkan pada 7 Januari 2010," beber Sri Mulyani di hadapan Presiden SBY, Wapres Boediono, para menteri dan gubernur di Istana Negara, Jakarta, Selasa (5/1).

Sri berjanji bahwa Depkeu akan membantu seluruh kementerian dan lembaga dalam merealisasikan DIPA 2010 secara tepat waktu dan tepat kualitas, disiplin dan akuntabel, agar target-target dapat tercapai. "Rincian DIPA, yaitu DIPA Sektoral untuk instansi pusat dan daerah sebanyak 13.710 DIPA, dengan nilai nominal Rp 295,06 triliun. Lalu, DIPA Dekonsentrasi untuk SKPD provinsi sebanyak 2.066 DIPA dengan nilai Rp 26,86 triliun," beber Sri.

Dilaporkan Menkeu pula, kementerian negara yang memiliki dana dekonsentrasi yang terbesar yaitu DIPA Depdiknas dengan nilai Rp 24 triliun. Sementara Dephan memiliki nilai nominal Rp 970 miliar, disusul Depdagri dengan nilai Rp 950 miliar, serta Depkes dengan nilai Rp 701,22 miliar. Sedangkan DIPA untuk kabupaten/kota adalah sebesar Rp 6,81 triliun. (eko/gus)

Jalan Pabuaran-Patokbeusi Terlantar

SUBANG, RAKA – Jalan Raya Pabuaran, hingga saat ini kondisinya masih rusak parah. Padahal jalur tersebut lalulintasnya cukup padat.

Karenanya, warga di daerah tersebut merasa dianaktirikan lantaran hingga kini jalan di wilayahnya diterterlantarkan Pemkab Subang. Sejumlah warga yang enggan disebutkan namanya menilai, terlantarnya infrastruktur jalan yang ada di daerahnya lantaran pada pilkada lalu di daerah tersebut suara pimpinan daerah yang saat ini memimpin kabupaten ini tidak terlalu signifikan.

Warga pun menyesalkan jika terlantarnya infrastruktur di kawasan itu dikait-kaitkan dengan hasil pilkada maupun hasil pemilu. Meski begitu, warga mengakui jika di sejumlah titik saat ini sudah mulai dibangun lagi. Hanya saja pembangunan jalan tersebut diperuntukkan pada jalan-jalan di jalur pedesaan, sementara jalur utama dari mulai Pasar Pabuaran hingga Pertigaan Sarengseng terkesan dibiarkan rusak, padahal jalur itu selain menjadi jalur utama sektor ekonomi juga menjadi jalur alternatif yang seringkali dilalui mobil dari arah Purwakarata menuju Sarengseng atau sebaliknya.

“Ya, akibat jalur itu tidak dilakukan perbaikan secara permanen, saat ini badan jalan yang ada sulit untuk dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat, bahkan jalur itu seringkali menelan korban jatuh dan terperosoknya mobil ke lubang dalam,” ucap warga yang enggan disebutkan namanya itu. Sementara itu, anggota Komisi C DPRD Subang Bangbang Irmayana menampik apabila kerusakan jalan yang hingga saat ini belum diperbaiki secara permanen lantaran ada hubungannya dengan kemenangan pilkada maupun pemilu.

Menurutnya, belum diperbaikinya jalan Pabuaran menuju Sarengseng, Patokbeusi, bukan karena kepentingan politik, hanya saja anggaran yang ada saat itu atau pada 2008-2009 untuk pembangunan sangat terbatas sehingga untuk ploting pembangunan jalan tersebut belum dianggarkan. Artinya, tandas Bangbang, anggaran yang ada terganggu dengan momen pilkada sehingga anggaran yang diploting ke infrastruktur minim. “Tidak benarlah apabila jalan pemda di Kecamatan Pabuaran yang kebetulan kecamatan tempat kediaman saya itu tidak diperbaiki ada muata politis, engga benar itu,” ucap politisi Golkar itu.

Bahkan untuk anggaran tahun 2010, menurutnya, jalan tersebut benar-benar diperhatikan oleh pemda dan akan dilakukan perbaikan secara permanen. Namun, tandas bangbang lagi, yang mesti menjadi acuan rusaknya jalan, selain telah lama tidak diperbaiki juga karena adanya penggunaan jalur jalan tersebut sudah melebihi tonasi kekuatan jalan. Seperti yang terjadi baru-baru ini, adanya kendaraan berat yang melalui jalur tersebut yang disebabkan jalur Pantura sedang diperbaiki dan hampir seluruh kendaraan berat melalui jalan itu.

“Akibat kendaraan berat melalui jalur jalan Pabuaran jalan yang rusak semakin rusak, untuk itu dan semestinya masyarakat ikut sumbangsih partisipasi untuk memperhatikan jalur jalan itu apabila ada kendaraan yang muatannya di atas tonase hendaknya masyarakat respon dan ikut membantu Pemkab Subang dalam perawatan jalan. Minimal masyarakat memberikan teguran agar keutuhan jalan tetap terjaga,” pintanya. (pir)

Tunjangan Sewa Rumah Dewan Tidak Rasional

SUBANG, RAKA - Setiap anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Subang, tahun 2010 ini mendapatkan tunjangan sewa rumah yang nilainya sebesar Rp 3,5 juta per bulan.

Menurut Ketua Subang Government Watch Edi Sableng, anggaran tersebut tidak rasional. Angka tersebut, tambah Edi, terkesan mengada-ada sebab, menurutnya dengan angka sebesar itu, untuk ukuran di Kabupaten Subang terlalu mahal. Bahkan, tambah Edi, harga sewa rumah yang paling mahal saja untuk ukuran Subang sekitar Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta.

“Saya kira sewa rumah Rp 3,5 juta perbulan terlalu mahal bagi ukuran masyarakat Subang. Angka sebesar itu sangat tidak realistis bahkan terkesan mengada-ada, harga sewa rumah di Subang Kota saja, paling mahal sekitar Rp 1,5 juta per bulan,” ungkap Edi. Artinya, tambah Edi, dengan jumlah anggaran yang mencapai Rp 2,1 miliar pertahun untuk tunjangan yang diberikan pemkab bagi para wakil rakyat terlalu mahal dan bisa dikategorikan sebagai tindakan penghamburan anggaran atau bahkan tindakan korupsi.

“Sebab, dana yang diberikan setiap bulan itu jauh di atas standar harga sewa rumah yang sebenarnya. Dengan kata lain, mereka telah menggelembungkan (mark up, red) anggaran yang berpotensi menimbulkan kerugian negara,” tambah Edi. Dan sayangnya, tambah Edi, hal tersebut nyaris luput dari perhatian para penegak hukum, sehingga para wakil rakyat bisa dengan nyaman menggunakan dana yang berasal dari rakyat, bahkan disinyalir para anggota dewan tersebut tidak menggunakan dana itu sesuai peruntukannya yakni untuk menyewa rumah.

“Hampir dipastikan semua anggota dewan tidak menyewa rumah. Mereka tetap tinggal di rumah mereka masing-masing, walaupun letak rumah mereka sangat jauh dari gedung DPRD, tempat mereka bekerja. Hingga akibatnya, jika terdapat agenda kerja pagi hari, para anggota dewan kerap terlambat datang ke kantor atau bahkan tidak datang sama sekali,” tambah Edi.
Sementara Koordinator Pusat Kajian Otonomi Daerah dan Kebijakan Publik (Puskodak) Yaya Sudarya menegaskan, para pihak yang terkait dengan kebijakan tersebut untuk segera melakukan penghapusan terhadap anggaran yang ada.

“Jika memang diperlukan sebuah hunian agar para wakil rakyat bisa tepat waktu dalam bekerja, baik eksekutif maupun legislatif memikirkan sebuah hunian bersama bagi para anggota dewan, dengan kata lain, Pemerintah Kabupaten subang harus menyediakan satu komplek yang khusus dihuni oleh para anggota dewan dan keluarganya,” tegas Yaya.

Lain dari itu, tambah Yaya, jika pemerintah Kabupaten Subang langsung menyediakan rumah dinas, maka para anggota dewan tidak akan terjerat dengan pasal korupsi, serta mereka akan hadir di gedung dewan untuk bekerja sebagaimana mestinya. “Saat ini, berdasarkan hasil pantauan Kami, jumlah kehadiran para anggota dewan itu paling hanya berkisar antara 35 sampai 65 persen saja, sementara yang lainnya, dengan berbagai alasan, tidak datang ke gedung DPRD, ini akan menghambat pelayanan mereka kepada rakyat,” tegas Yaya.

Namun, tambah Yaya, dirinya pesimis untuk sampai membuat rumah dinas bagi para anggota dewan hingga kemudian dihuni oleh mereka, sebab untuk rumah dinas Ketua DPRD Kabupaten Subang saja, sampai saat ini masih terbengkalai dan belum juga dihuni oleh Ketua DPRD Kabupaten Subang.

“Permasalahan ini sudah Kami kritisi pada periode yang lalu, namun saat ini kembali ada penganggaran sewa rumah bagi para anggota dewan, baiknya mereka mengkaji ulang nomenkelaturnya untuk kemudian dialihkan kepada hal yang sangat berguna bagi masyarakat, mumpung produk APBD belum disahkan oleh Gubernur Jawa Barat, kan masih bisa direvisi,” tambah Yaya. Menyikapi hal ini, Ketua Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPRD Lutfi Isror Alfarobi mengatakan, pihaknya sebenarnya tidak mematok nilai dana tunjangan sewa rumah sebesar Rp 3,5 juta per anggota dewan per bulan.

“Angka tersebut diperoleh dari APBD tahun sebelumnya yang juga memberi tunjangan sewa rumah untuk para wakil rakyat periode 2004-2009 sebesar itu. Kalau dibandingkan dengan daerah lain, nilai tunjangan yang kami terima relatif lebih kecil, seperti di Kabupaten Purwakarta dan Indramayu yang nilainya jauh lebih besar dibandingkan dengan kami,” ungkap Lutfi.
Jika diakumulasikan, tambah Lutfi anggaran untuk kegiatan para wakil rakyat, termasuk gaji dan operasional Setwan hanya sebesar Rp 12 miliar per tahun. Angka tersebut dinilainya sangat wajar dibading dengan nilai APBD Subang yang menembus angka Rp 1 triliun lebih.

“Kami sebenarnya sudah mengusulkan agar para wakil rakyat diberi rumah dinas, bukan diberi uang sewa rumah. Tapi usualan ini belum direspon,” tambah Lutfi. Ketika ditanya soal nominal tunjangan yang dinilai terlalu besar, Lutfi mengaku tidak tahu menahu. Menurut dia, angka itu muncul atas usulan panitia anggaran (Panggar) eksekutif yang mengacu kepada alokasi anggaran tahun sebelumnya.

Namun, pernyataan itu dibantah keras oleh Pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Daerah Komir Bastaman. Kepada wartawan, Komir mengatakan, setiap digit anggaran yang muncul dalam APBD merupakan usulan masing-masing satuan kerja perangkat daerah (SKPD) termasuk pihak Setwan. “Artinya, kisaran dana tunjangan sewa rumah untuk wakil rakyatpun yang mengusulkannya adalah pihak Setwan,” tegas Komir. (eko)

Dewan Tinjau Pondok Bali

SUBANG, RAKA – Seluruh anggota Komisi B DPRD Kabupaten Subang mendatangi lokasi pantai wisata Pondok Bali, tanggul Sungai Cipunagara dan kantor BPR Pusakanagara, Selasa (5/1).
Kedatangan pada dewan dari Komisi B ketiga lokasi tersebut dalam rangka melakukan kunjungan kerja (kuker), berkaitan dengan adanya layangan surat dari pengelola Pantai Pondok Bali di mana pengelola minta keringanan anggarak kontrak pengelolaan pantai wisata Pondok Bali. Selain itu, Komisi B pun menykapi keberadaan lokasi pantai wisata Pondok Bali yang semakin kritis karena tergerus abrasi dan terendam air rob.

Selanjutnya komisi B melanjutkan kunjungannya ke lokasi tanggul Sungai Cipunagara, Blok Suryadi, Desa Pangarengan, Kecamatan Legonkulon yang kondisinya mulai kritis karena tanggul sepanjang sekitar 60 meter itu hampir 50 persennya amblas yang kesekian kalinya setelah dilakukan perbaikan lebih dari empat kali perbaikan. Komisi B pun melanjutkan kunjungannya ke BPR Kecamatan Pusakanagara, di mana kondisi bank tersebut mulai kritis dalam permodalan dan juga kritis di bagian bangunan kantornya lantaran nyaris roboh.

Menurut anggota Komisi B DPRD Subang Mimin Hermawan, kunjungan kerja ke lokasi Pondok Bali dilakukan pihaknya lantaran pengelola pantai tersebut meminta keringanan anggaran nominal kontrak pengelolaan Pantai Pondok Bali. Sesuai permintaan pengelola melalui anggota komisi B mengharapkan agar Pemkab Subang dapat memberikan keringanan pengurangan nilai kontrak kurang dari Rp 73 juta per tahunnya.

Selain itu, pengelola dan masyarakat Pondok Bali, Mayangan, meminta komisi B agar merealisasikan aspirasinya mengenai adanya abrasi yang semakin lama semakin menggerus lokasi Pantai Pondok Bali yang kemungkinan akan merambah ke pemukiman warga dan putusnya usaha pertambakan warga di sana yang perempangannya terendam air laut dan banjir kiriman sehingga mereka tidak dapat memproduksi ikan dan udang. “Aspirasi pengelola Pondok Bali maupun aspirasi warga Mayangan yang mengingankan agar perempangan mereka tidak terendam air tentunya dengan penanggulangan abrasi secara optimal,” terang Mimin.

Sementara kunjungannya ke lokasi tanggul Blok Suryadi, pihaknya ingin menyaksikan langsung kritisnya tanggul Sungai Cipunagara yang belum lama diperbaiki dan kini 50 persennya amblas kembali. Di sana, katanya, ia mendapatkan permintaan dari warga maupun pemerintah setempat agar Komisi B dapat mengangkat aspirasinya guna perbaikan tanggul Blok Suryadi secara permanen.

Kunjungan terahir, pihaknya kelokasi BPR Kecamatan Pusakanagara dimana di lokasi tersebut ditemukan adanya bangunan kumuh yang hampir roboh yang masih digunakan untuk perbankan, selain dari itu pula komisi B mendapatkan usulan agar komisi B untuk meneruskan permintaan pihak BPR agar ada kucuran permodalan, karena selama bank tersebut berdiri belum mendapatkan suntikan dana dari Pemkab Subang. “Dari tiga lokasi kunker, kami sepakat untuk membahas hasil kunker, terutama sekali yang paling urgen amblasnya tanggul Blok Suryadi yang kritis jebol yang akan menjadi PR utamanya dan Pemkab Subang,” lanjutnya. (pir)

Jangan Lupakan Rakyat

SUBANG, RAKA - Tidak bisa dipungkiri, seseorang berniat menjadi anggota dewan dipastikan mempunyai kepentingan pribadi, namun di balik kepentingan pribadi tersebut mesti dibarengi loyalitas yang tinggi agar tidak melupakan rakyat yang telah memilihnya.

Hal tersebut dikatakan anggota DPRD Kabupaten Subang dari Partai Amanat Nasional (PAN), Drs H Tatang Kusnandar. Menurutnya, hal itu tidak dapat dipungkiri, termasuk dirinya. “Diakui atau tidak, namun saya sendiri mengakui, saat kita ingin menjadi anggota DPRD di balik niatan besar partisan untuk membangun kabupaten ini juga tersirat niat kepentingan pribadi yang berbeda-beda,” ucap Tatang.

Akan tetapi, Tatang membeberkan, meskipun pribadi masing-masing anggota dewan mempunyai tujuan kepentinmgan sendiri, hendaknya tidak melupakan tekad awal untuk menjadi wakil rakyat, di mana sebagai wakil rakyat mesti sudah siap segalanya, jangan pernah menanggalkan loyalitas kepada rakyat yang telah memilih.

Sebab tanpa rakyat dan sebesar apapun nama kendaraan partai apabila rakyat tidak menghendaki, dipastikan tidak akan menjadi wakil rakyat dan duduk dikursi gedung DPRD Subang. Karenanya, setelah seseorang duduk di gedung rakyat tidak semestinya melupakan rakyat yang telah menjadikannya anggota dewan sekaligus mempercayainya menjadi wakil rakyat. “Loyalitas dibangun bukan saja pada saat kita menginginkan dipilih menjadi anggota dewan, akan tetapi setelah kita jadi pun loyalitas mesti dijaga dan behkan mesti ditingkatkan lagi,” bebernya.

Saat Tatang ditanya sejauh mana loyalitas dirinya kepada rakyat dan kepada partai, dirinya mengaku hal itu dibangunnya jauh-jauh hari sebelum dirinya menjadi anggota dewan. “Bukan karena ujub, namun saya sebagai muslim dan perlu dibangun hubungan hablum minannas dengan masayrakat menjadi kewajiban saya, maka di sanalah loyalitas saya tumbuh dan hal itu dilakukan semata-mata karena hablum minannas,” ucapnya.

Adapun apa yang telah diberikan partai kepadanya, belum ada, kecuali kendaraan partai lah yang mengusungnya, karena sebesar loyalitasnya dan kepeduliannya kepada masyarakat tanpa berkendaraan partai dirinya belum tentu dapat duduk di gedung dewan seperti saat ini. “Terus
terang saja saya menjadi wakil rakyat karena kendaraan partai, dan PAN besar di Subang karena saya, terutama di Subang selatan Dapil II, yang mana saat pileg saya calon tunggal dan mampu meraih sebanyak 7900 pemilih,” katanya. (pir)

Jalan Raya Purwadadi Banjir

LANGGANAN BANJIR: Akibat guyuran hujan, Jalan Raya Purwadadi banjir. Hal tersebut terjadi lantaran drainase yang ada di sepanjang jalan tidak berfungsi, sehingga jika hujan turun air meluap dan membanjiri jalan. (pir)

Pejabat Saling Lempar Tanggung Jawab

SUBANG, RAKA – Pejabat di lingkungan Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Subang terkesan saling lempar pada saat akan dikonfirmasi mengenai semrawutnya tatanan jalan dan lingkungan di sepanjang jalan kawasan perusahaan garmen Purwadadi.

Seperti yang terjadi pada saat wartawan ini akan mengkonfirmasikan hal kepada Kepala Seksi perencanaan Bina Marga Subang Wakijo melalui popnselnya, yang bersangkutan siap diwawancara di kantornya. Namun pada saat wartawan mendatanginya, yang bersangkutan terkesan menghindar dan meminta agar menemui Kepala Bidang (Kabid) Bina Marga Kabupaten Subang H Dedeh Roswati.

Lagi-lagi Kabid Bina Marga pada saat akan dikonfirmasi, yang bersangkutan untuk sementara tidak akan memberikan komentar dan meminta agar menemui Kasi Perencanaan. Padahal selang beberapa menit Kasi Perencanaan berpamitan dan akan keluar kantor entah menuju kemana dan sebelumnya Wakijo meminta untuk menemui Kabid Bina Marga. ”Jalur jalan tersebut pada tahun anggaran 2010 telah dianggarkan, namun sebaiknya anda temui saja Kasi perencanaan,” katanya. Entah apa sebabnya, keduanya saling lempar tanggjawab pada saat akan dikonfirmasi mengenai jalur jalan kawasan industri Purwadadi yang kondisinya amburadul.

Seperti diketahui, infrastruktur di sepanjang Jalan Raya Purwadadi tampak semrawut. Terlebih di depan kawasan pabrik garmen. Di kawasan itu badan jalan selalu tergenang air dan konsisi tersebut sudah berlangsung lama, sayangnya hingga kini belum ada penanganan dari pihak terkait.Salah seorang warga Purwadadi, Ujang Sonjaya, bahwa kondisi jalan yang selalu berair akibat drainase yang ada disebelah kanan dan kiri jalan tidak berfungsi, selain itu pula disebabkan badan jalan lebih rendah apabila dibandingkan dengan lahan perusahaan garmen atau lahan warga.

“Lihat sendiri, disebelah kanan dan kiri jalan ini selalu basah tergenang air, hal itu terjadi kemungkinan karena selokan yang ada tidak muat untuk menampung air yang dialirkan keselokan itu,” terangnya. Dilanjutkan Ujang, apabila terjadi hujan lebat jalan ini tertutup oleh air hujan dan bahkan terjadi banjir hingga menutupi setengah roda sepeda motor, namun kondisi tersebut terkesan dibiarkan dan tidak ada perhatian dari pemerintah setempat maupun Pemkab Subang.

Sementara itu Kepala Dinas Tata Ruang, Pemukiman dan Kebersihan (Tarkimsih) Kabupaten Subang Rahmat FS saat dikonfirmasi mengenai penempatan lokasi garmen yang terkesan tidak dibarengi dengan tata ruang lingkungannya, Rahmat menjawab bahwa hal tersebut bukanlah kewenangannya, adapun penempatan lokasi pabrik benar atas ijinnya, namun untuk infrastruktur lingkungan, terutama keberadaan jalan dan drainase yang menjadi masalah merupakan kewenangan Dinas Bina Marga Subang. “Penempatan lokasi pabrik telah sesuai dengan peruntukannya, namun apabila terjadi kesalahan atau terjadi tatanan lingkungan mengenai infrastruktur jalan dan leaning kewenangannya Dinas PU,” ucap Rahmat. (pir)

Pemkab Pernah Suntik BPR

SUBANG, RAKA - Pemerintah Kabupaten Subang pernah memberikan bantuan permodalan terhadap Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat (PD BPR) Subang. Hal tersebut dilakukan di awal konsolidasi atau penggabungan atas 12 PD BPR Subang menjadi satu PD BPR.
Menurut pengamat Perbankan Kabupaten Subang Ridwan Abdullah, kebutuhan akan bantuan permodalan tersebut sudah dilakukan bahkan sesungguhnya perhatian Pemkab Subang akan hal tersebut tertuang dalam Perda Kabupaten Subang.

“Yang kurang lebih berisi bahwa, pemerintah daerah akan memberikan bantuan permodalan Rp 10 miliar per tahun dalam kerangka implementasi Peraturan Bank Indonesia (PBI) yang mengharuskan modal disetor untuk PD BPR 100 milyar dalam jangka waktu 10 tahun ke depan, jadi permasalahan modal dari pemilik sesungguhnya bukan hal yang bisa dijadikan alasan terhadap perkembangan PD BPR tersebut, Ilustrasinya kurang lebih lebih adalah, 'Bank is shop for sell of credit' jadi bank itu tidak ubahnya sebagai sebuah toko yang menjual kreditnya,” ungkap Ridwan. Karenanya, tambah Ridwan, pihak BPR harus mencari 'barang yang bisa dijual di toko tersebut', dalam hal mekanisme perbankan, tambah Ridwan sudah jelas, barang yang dijual adalah kredit dan itu berasal dari modal sendiri dan Dana Pihak Ketiga (DPK) yaitu penabung dan deposan.

“Itu yang dimaksimalkan tidak hanya tergantung dari bantuan pemilik yang dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Subang, jadi masyarakat harus jeli melihat apakah peningkatan asset sebuah Bank itu dari hasil usaha atau dari hibah pemilik bank,” tambah Ridwan. Karena, tambah Ridwan, hal tersebut berkaitan dengan kinerja manajemen perusahaan, idealnya bahwa bank itu merupakan sebuah lembaga intermediasi antara yang mempunyai kapital dan yang memerlukan modal.

“Dan bank itu adalah sebuah perusahan yang bertanggung jawab terhadap perkembangan perekonomian suatu daerah itu kan filosofi dasarnya, cari dong sumber dana murah dan itu belum maksimal seperti kita tahu bersama bahwa di Kab ini sumber akan dana tersebut sangat luar biasa, kan ini tinggal pendekatan yang intesif, apa bila tidak berhasil, itu yang jadi pertanyaan. Anda wartawan kan bisa membayangkan, bagaimana bisa menjadi agen penggerak perubahan perekonomian rakyat, apabila bunga yang dikenakan seperti lintah darat yang dilegalisir, bayangkan bunga pinjaman mencapai rata-rata 2% perbln, ini harus menjadi pemikiran,” tambah Ridwan.

Sebelumnya, Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Subang Sarmita mengungkapkan jika Pemerintah Kabupaten Subang belum pernah memberikan penyertaan modal ke Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat (PD BPR) Kabupaten Subang. Hal ini dilakukan sejak perusahaan daerah tersebut di merger pada tahun 2006.

Padahal, menurut Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Subang Sarmita, perusahaan tersebut merupakan salah satu asset pemerintah daerah. Yang salah satu fungsinya adalah membangun perekonomian pada skala kecil. “Jika pemerintah daerah memberikan penyertaan modal, ini akan sangat membantu UKM (usaha Kecil dan menengah) sebab dengan begitu, bunga yang diterapkan oleh BPR akan kecil, dan sangat membantu pengusaha kecil dan menengah,” ujar Sarmita.

Sebelumnya, tambah Sarmita, dalam pembahasan anggaran, legislatif mengusulkan agar PD BPR mendapatkan suntikan dana dari pemerintah daerah sebesar Rp 1 miliar, namun usulan yang diajukan oleh komisi B dalam pelaksanaan finishing pembahasan anggaran, pihak eksekutif tidak mau mengeluarkan penyertaan modal untuk PD BPR.

“Alasan yang dikemukakan oleh pihak eksekutif melalui kepala Bappeda Subang, anggaran sudah tidak ada, dan tidak memungkinkan untuk memberikan penyertaan modal bagi PD. BPR, padahal, untuk memberikan penyertaan modal ke PD BPR sangat terbuka, salah satunya diambil dari anggaran untuk pemberian bea siswa keluar negeri,” jelas Sarmita.
PD BPR Subang, tambah sarmita, untuk tahun 2008 kemarin saja sudah bisa membayar utang-utang mereka sebelum dilakukan merger, dan hingga tahun 2009 ini sisa utang yang mereka tanggung tinggal sebesar Rp 400 juta.

“Jika penyertaan modal bisa diberikan, maka dalam dua tahun kedepan, selain akan bisa memberikan kemudahan serta bunga yang murah bagi para pengusaha kecil dan menengah, perusahaan daerah tersebut akan bisa segera sehat,” tambah Sarmita. Namun, tambah Sarmita, harapan untuk memberikan penyertaan modal bagi perusahaan tersebut masih terbuka, sebab, menurut Sarmita, pada anggaran perubahan nanti, pihak eksekutif akan memberikan penertaan modal. “Sekitar 6 bulan kedepan lah, pada APBD ABT,” jelas Sarmita. (eko)

PEmandangan Malam Kota Purwakarta

MEMPERCANTIK KOTA: Kota Purwakarta terlihat cantik di malam hari. Selain gemerlap lampu ternyata keberadaan baliho disejumlah titik di kota itu juga harus ikut mempercantik kota itu. Seperti baliho milik sebuah perusahaan rokok yang nampak di Jalan Sudirman ini, terlihat serasi dengan pemandangan sepanjang jalan tersebut. (sep)

Kasus Pembunuhan di Indorama Kembali Dipertanyakan

PURWAKARTA, RAKA - Mungkin pembaca masih ingat dengan permintaan warga Sampih, Desa Cibinong, Kecamatan Jatiluhur yang terus meminta keadilan terhadap PT. Indorama. Baru-baru ini mereka kembali mempertanyakan kasus pembunuhan yang menimpa salah seorang karyawati PT. Indorama yang terbunuh di lokasi pabrik.

Hasan (48) salah seorang Warga sampih menyampaikan itu kepada RAKA di kediamannya beberapa waktu lalu, menurutnya warga akan terus memperjuangkan kompensasi yang diminta kepada perusahaan, selain itu mereka juga akan terus meminta PT. Indorama untuk mewujudkan permohonan relokasi 24 KK yang sering terkena keracunan oleh gas PT. Indorama dan sering terganggu akibat suara keras dari Powerplan milik perusahaan yang sama.

"Selama perusahaan belum mewujudkan permintaan warga yang terus berharap kompensasi yang sesuai dan permohonan relokasi oleh perusahaan maka kami akan terus menagih janji PT. Indorama, hal ini kami lakukan demi keadilan," katanya. Masih menurut Hasan, pihak keluarga korban pembunuhan yang terjadi 2 tahun lalu terus mempertanyakan kasus yang sampai saat ini belum ada titik terang, pembunuh Dewi masih berkeliaran di perusahaan.

"Saya masih kerabat Dewi, karyawati yang terbunuh di lokasi perusahaan 2 tahun silam, sampai saat ini kasusnya belum terungkap, padahal dulu Polisi pernah mengaku akan menangkap pembunuh itu dengan menggunakan sistem operasi bus. "Kesedihan kami atas terbunuhnya Dewi di lokasi Indorama masih melekat, sampai saat ini Polisi belum mengungkap tabir pembunuhan keji itu, pembunuh berdarah dingin itu kini masih berkeliaran di Indorama," ucapnya.

Ia melanjutkan, polisi juga pernah mengatakan jika pengungkapan kasus pembunuhan itu bisa di lakukan dengan sistem bus. "Jika di dalam bus itu ada 20 orang dan kemudian ada satu orang yang meninggal maka Polisi hanya tinggal memeriksa 19 orang yang ada di dalam Bus tersebut. Begitupun dengan kejadian pembunuhan di Indorama, polisi akan memeriksa orang-orang yang bekerja dengan Dewi waktu itu, tetapi faktanya mereka masih belum menangkap pembunuhnya, "ujar Hasan. (sep)

PDAM Optimis 2,5 Miliar Akan Perbaiki Kinerja

PURWAKARTA, RAKA - Bergulirnya bantuan pembayaran hutang PDAM Purwakarta sebesar Rp 2,5 miliar pada IBRD dari APBD Purwakarta tahun 2010, dipastikan bakal mendongkrak sistem pelayanan dan pengembangan kinerja PDAM Purwakarta pada tahun ini. Demikian disampaikan Kasi Kepegawaian PDAM Purwakarta, Yadi Priyadi, kepada RAKA Selasa (5/1) kemarin.

Menurutnya, dengan bergulirnya bantuan tersebut selanjutnya pihak PDAM bisa memfokuskan diri pada sistem pelayanan dan pengembangan kinerja PDAM lantaran tidak lagi terbebani oleh hutang dunia. "Tentunya, bantuan ini akan sangat membantu PDAM. Sebab, kami tidak lagi dibebani olahh sisa hutang itu. Artinya, beban kami sebelumnya pun kemudian bisa kami alokasikan pada hal-hal yang memiliki potensi untuk pengembangan kinerja dan pelayanan," sebut Yadi Priyadi.

Yadi mengatakan, bantuan pembayaran ini pun sekaligus menutup semua urusan utang piutang PDAM pada IBRD sejak didirikannya PDAM Purwakarta pada 1979. "Awal pinjaman PDAM pada IBRD ialah sebanyak Rp3,4 miliar dan sampai tahun ini menyisakan nilai hutang sebesar Rp 2,5 miliar. Dengan digulirkannya bantuan tersebut maka secara otomatis sisa utang berikut bunga PDAM tuntas semuanya.

Dan selanjutnya, ialah tugas kami untuk memfokuskan kinerja dan pelayanan pada pelanggan," katanya sambil mengatakan bila keseluruhan nilai bantuan APBD itu sepenuhnya akan digulirkan hanya untuk pebayaran sisa nilai hutang PDAM.
Meski demikian, pihak PDAM mengaku belum mengetahui waktu realisasi bantuan tersebut digulirkan. Hanya saja, dipastikan bantuan tetap akan bergulir pada tahun 2010 ini. "Yang pasti untuk hal ini sudah disetujui oleh kalangan legislatif. Namun untuk realisasi kami belum mengetahui secara pasti," kata Yadi. (rif)

Penambang Pasir Sukatani Kebanjiran Rejeki

PURWAKARTA,RAKA - Sejumlah penambang pasir di Kecamatan Sukatani Purwakarta mengaku kebanjiran rejeki dengan naiknya volume air sungai Cilalawi dalam musim penghujan tahun ini. Mereka mengatakan, naiknya volume air telah menyaring lumpur hingga memunculkan butiran pasir dalam jumlah besar dari hulu sungai.

"Material pasir dari hulu sungai saat ini banyak yang ikut larut bersama air sungai yang banjir di musim penghujan sekarang. Hal ini menguntungkan sebab pasir jadi tidak sulit didapat, "ujar Gagah (34), penambang pasir warga Kampung Cilayung, Desa Cilalawi, Kecamatan Sukatani, Selasa (5/12) kemarin.

Dikatakan Gagah, material yang larut itu ditambang dengan menggunakan perahu. Di tempatnya, sedikitnya ada sekitar 5 perahu yang musim ini dioperasikan untuk mencari pasir. Setiap satu perahu diisi antara dua hingga tiga penambang. Berbekal perahu itulah, disusurinya kawasan sungai yang dirasakan penuh dengan pasir. Setelah ditemukan, pasir kemudian diambil dengan cara menyelam bersama-sama.

"Air sungai yang sekarang banyak pasang bisa mengumpulkan pasir lumayan banyak. Dalam sehari bisa sekitar lima-enam kubik. Setiap kubik pasir harganya mencapai Rp 60 ribu, "tutur Jamis (30) penambang lain. Pasir rata-rata disetorkan pada pembeli yang datang dari Karawang, Cikarang bahkan Subang. Dengan pasir yang sekarang mudah didapati para penambang memperoleh penghasilan antara Rp 35-45 ribu setiap harinya. Berbeda dengan saat kemarau.

Setiap hari penambang hanya mampu mengantongi uang sekira Rp 20 ribu/hari. "Kalau kemarau datang pasir yang dikumpulkan setiap kelompok terkadang tidak mencapai satu atau dua kubik sehari. Beda dengan musim hujan sekarang yang bisa mencapai 4-6 kubik sehari, "ujar Jamis. Wardi (40), penambang pasir lainnya, menuturkan, musim penghujan merupakan musim yang sangat menguntungkan bagi penambang. Pasalnya, dari kondisi itu mereka (penambang, red) punya banyak kesempatan untuk mencari pasir. (rif)

Masakan Sunda Khas RM Enong Dewi

CIKAMPEK, RAKA - Bagi anda yang suka dengan masakan khas Sunda kunjungi saja rumah makan Bu Enong Dewi di Jl. Ahmad Yani No.31 Samping Sekolah PAMOR Cikampek Selatan Kabupaten Karawang. Disini anda akan mendapat sajian makanan khas masakan Sunda.

Enong Dewi pendiri pemilik sekaligus pengelola Rumah Makan Bu Enong Dewi Kepada RAKA kemarin mengatakan, masakan khas sunda memiliki citarasa yang sangat di minati oleh semua kalangan masyarakat. Untuk itu dia bersama keluarganya mencoba membuka usaha masakan khas Sunda, alhasil, usaha yang baru di geluti selama satu tahun ini sudah di kenal banyak orang. "Sesuai dengan perkiraan kami bahwa masakan khas Sunda banyak peminatnya, semua kalangan masyarakat terutama mereka yang ada di daerah Cikampek selatan bisa menikmati masakan yang kami sajikan, "ujarnya.

Dikatakannya, bahan baku masakan Sunda sederhana dan serba natural tetapi tetap terasa enak di lidah serta baik untuk kesehatan. "Bahan baku masakan khas Sunda sangat sederhana, pengolahannyapun mudah tetapi rasanya tidak kalah lezat dengan masakan yang lain. Bahkan, karena bahan bakunya serba natural makanan Sundanis baik untuk kesehatan karena tanpa efek samping, "katanya.

Masih menurut Bu Enong Dewi, saat ini dia memiliki menu-menu asli masakan Sunda seperti ayam goreng dan ayam bakar, bebek goreng dan bebek bakar, macam-macam pepes, karedok, lotek, sayur asem dan lalaban yang segar serta sambal dadakan. Karena Cuaca di daerah Cikampek ini panas diapun menyediakan berbagai minuman segar.

"Alhamdulillah masyarakat terutama karyawan Bank BRI, BNI, BTN dan bank-bank yang lain di sekitar sini menjadi langganan kami, bahkan karyawan KIC serta masyarakat dari Bekasi, Purwakarta, Jakarta sering singgah ke tempat kami," imbuhnya sambil tersenyum manis. Ny. Ade pengelola RM Bu Enong Dewi menambahkan, untuk menarik peminat dan memanjakan pelanggan, pihaknya memiki menu yang komplit dengan bahan baku yang terbaik. Daging dan bahan-bahan lain memiliki kualitas yang baik dan segar.

Selain itu setiap hari Jumat pelanggan akan mendapat rujak segar dan gratis. "Kami berharap pelanggan mendapat kepuasan, untuk itu kami terus berupaya memberikan pelayanan yang prima. Bagi pelanggan setia kami, mereka mendapat rujak segar yang kami berikan secara gratis dengan jenis rujak yang berbeda setiap hari Jumat, sedangkan di bulan puasa Ramadhan kami memberikan mereka manisan dan kolak secara gratis, alhasil tempat kami selalu ramai dari pengunjung," pungkasnya. (sep)

NumberOfComments

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 
 
 
 
Copyright © Subang Raya
Design by Eko Subang