Kamis, 03 Desember 2009

Pelita Belum Juga Jaya, Fandi: Pemain Terlalu Tegang

KALAH LAGI: Penyerang Pelita Jaya Karawang Fonseca dijaga ketat pemain belakang Arema Malang Waluyo.

KARAWANG, RAKA
- Pelita Jaya Karawang dipaksa menelan pil pahit setelah dikalahkan Arema Malang (0-2) di kandang sendiri dalam lanjutan Liga Super Indonesia (LSI), Rabu (2/12) sore. Meski pasukan besutan Fandi Ahmad menurunkan seluruh pemain kuncinya, termasuk Fonseca, namun tetap tidak mampu melawan kebuasan 'Singo Edan' yang dimotori oleh Ahmad Bustomi.

Kekalahan Pelita Jaya bermula ketika Arema Malang berhasil melesatkan gol cepat pada menit ke-4 babak pertama oleh penyerang Arema Malang Roman Chemelio. Gol cepat tersebut mengakibatkan skema permainan Pelita yang mengandalkan serangan dari kedua sayap menjadi kacau. Akibatnya selama 45 menit babak pertama permainan dikuasai oleh para pemain Arema Malang.

Tertinggal satu gol, Fandi Ahmad merubah strategi. Menit 74, Fandi menarik gelandang Yutha Jak Konjan keluar lapangan dengan memasukkan Jajang Mulyana untuk menambah daya serang di lini depan sekaligus berharap dapat menyamakan kedudukan. Lima menit berselang, pekik pendukung Pelita yang diperkirakan lebih dari 8000 orang itu tertahan ketika tendangan Wirahadi yang mendapat umpan pendek dari Ponseca di kotak pinalti, masih dapat di tips penjaga gawang Kurnia Melga sehingga hasil membuahkan sepak pojok saja.

Pemain Pelita yang sudah dibebani target harus menang itu terus berupaya untuk meningkatkan penyerangan agar dapat menciptakan gol. Terlalu fokus untuk menyerang membuat pertahanan Pelita menjadi rapuh terutama dalam menghadapi counter attack Arema yang justru sudah diwaspadai sebelumnya.Menit ke 83 pendukung Pelita Jaya kembali bungkam setelah penyerang Arema Malang, Rahmat Afandi berhasil memanfaatkan kelengahan pemain belakang Pelita Jaya yang dikomandai Carlos Eduardo.

Akibatnya Kiper Pelita Jaya I Made Kadek dipaksa untuk memungut si kulit bundar di dalam gawang sendiri untuk yang kedua kalinya. Sampai wasit Pribadi asal Jogjakarta itu meniup peluit panjang tanda pertandingan berakhir, Pelita Jaya tetap tidak mampu mengejar ketinggalan dari tim tamu. Dalam pertandingan tersebut, wasit mengeluarkan empat kartu kuning untuk pemain Arema, Landry Poulangoye, Kurnia Melga, M. Fahrudin, dan Roman Chemelio.

Menyikapi pertandingan tersebut, Pelatih Pelita Jaya Fandi Ahmad mengatakan, Pelita Jaya akan melakukan evaluasi baik dari sisi pemain maupun pelatih. "Dalam beberapa kali pertandingan kami belum pernah memenangkan pertandingan. Makanya kami berharap, akan ada evaluasi dari keseluruhan tim. Selain itu, dalam pertandingan melawan Arema, para pemain sangat kelihatan tegang. Hal tersebut memang sangat wajar, karena kami belum pernah menang dalam setiap pertandingan," tuturnya.

Sementara itu Pelatih Arema Malang Robert Alberts mengatakan, meski dalam pertandingan tersebut timnya kehilangan beberapa pemain pilar seperti Njanka, Alamsyah, Zulkifli, dan Markus namun setelah mempelajari skema permainan Pelita, ia berhasil meramu strategi jitu untuk mengalahkan Pelita. "Kami sempat kesulitan melawan Pelita, tapi kami berhasil menjebak mereka untuk tidak bermain di sektor sayap. Setelah dipaksa bermain disektor tengah, kami pres para pemain Pelita, akhirnya dari beberapa peluang berhasil membuahkan dua gol.

Kami juga senang, ternyata para pemain bisa bermain dengan maksimal dalam pertandingan tersebut," tuturnya. Sementara itu pada pertandingan lainnya, Pelita Jaya U-21 kembali menunjukkan kemampuannya dengan menundukkan tamunya Sriwijaya FC U-21 dengan skor 2-0. Kedua gol tersebut masing -masing dicetak Andri Kurniawan menit ke- 9 melalui titik pinalti dan Dedi Kusnandar menit ke-18.

Wasit Joni Parera menghadiahi tim asuhan Djajang Nurdjaman dengan pinalti akibat kesalahan Jeki Arisandi yang melakukan pelanggaran terhadap M Romlih di kotak terlarang. Sedangkan gol Dedi Kusnandar yang juga kapten tim "Laskar Singaperbangsa" itu diperoleh melalui sundulan kepala setelah memanfaatkan umpan sepak pojok Riyandi Ramadana.

Sepanjang pertandingan di babak pertama berlangsung, Pelita Jaya bermain lepas dan mampu menguasai permainan baik lini tengah maupun kedua sayap. Sebaliknya, di babak kedua, justru ahmad Darmawan dkk yang lebih dominan menguasai permainan dan bahkan mampu memaksa penjaga gawang Shahar Ginanjar harus ekstra keras untuk mengantisipasi tembakan lini depan Sriwijaya FC.

Pelatih Sriwijaya FC U-21 Kashartadi mengakui keunggulan lawannya terutama di babak pertama.Menurutnya, lini depan Pelita cukup tajam sehingga mampu merobek pertahanan yang dikawal Sutarno dkk."Babak kedua kami memiliki banyak peluang walaupun belum bisa menghasilkan gol," ujarnya.

Meski tim asuhannya kembali meraih kemenangan Djadjang sepanjang babak kedua tampak tegang karena ritme permainan anak asuhnya mulai melemah."Permainan anak-anak memang di babak kedua agak menurun.Tetapi mereka sudah bermain bagus," ucapnya. Dengan hasil ini, Pelita Jaya FC yang berada di grup I menempati posisi tertinggi dengan mengumpulkan 6 angka. Sebelumnya Pelita Jaya U-21 mengalahkan Persib U-21 dengan skor 2-1.

Pendukung Kecewa
Kekalahan ini, tentu saja membuat para pendukung Pelita yang kembali memenuhi Stadion Singaperbangsa kecewa. Teriakan dari tribun penonton yang berusaha membangkitkan para pemain pelita di lapangan ternyata belum bisa menghindarikan Pelita dari kekalahan.
Kehadiran Pelita Jaya Football Club di Stadion Singaperbangsa dengan menggunakan emblem Karawang di putaran Liga Super Indonesia, ternyata bukan hanya menjadi perhatian pecinta sepakbola di sini, tapi juga kalangan aktivis politik turut memberikan apresiasi.

Seperti dikemukakan Dadan Suhendarsyah dari Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM PAN), bahwa keberadaan Pelita Jaya di kota Pangkal Perjuangan ini mestinya dapat menerangi KONI dalam menumbuhkan prestasi olahraga lokal, khususnya sepakbola. Sehingga potensi anak-anak Karawang tergali dan termotivasi untuk bisa berlaga seperti halnya Pelita Jaya.
“Dua kali melihat penampilan Pelita Jaya pantas membuat masyarakat Karawang tersanjung. Karena stadion kebanggaan kita telah dijadikan pilihan untuk menggelar event besar sekelas Liga Indonesia. Lebih bangga lagi ketika penonton memadati semua sisi stadion. Seakan membuktikan bahwa Karawang memiliki gairah tinggi di bidang olahraga,” ungkap Dadan, Rabu (2/12).

Kata dia, potensi ini kalau dikelola dengan benar bisa menjadi keuntungan bagi Pemkab, baik dari sisi pendapatan asli daerah atau PAD, maupun penciptaan atlit-atlit berprestasi nasional. Namun KONI maupun Pengcab PSSI, dimintanya, harus merenung sejenak. Masalahnya, dari sekian pemain Pelita Jaya, tegas dia, belum ada seorang pun warga Karawang turut merumput. Paling tidak pemain dari hasil gemblengan club-club Karawang.

“Hingar bingar penonton, antusiasme pecandu sepakbola, termasuk kehadiran bupati dan jajaran anggota DPRD di pinggir lapang lebih menunjukan bahwa kita adalah tamu dalam kemeriahan pesta yang digelar di rumah kita sendiri. Selayaknya KONI, Pengcab PSSI, termasuk Pemkab memanfaatkan kehadiran Pelita Jaya untuk memajukan pembinaan,” tandas Dadan.

Olahraga dan mencetak atlit lokal yang bisa dibanggakan, lanjut dia, semua pihak tidak lantas berpuas diri dengan apa yang telah diperoleh sekarang. Tawar menawar, menurutnya, harus lebih menyentuh kearah keterserapan pemain lokal Karawang oleh Pelita Jaya. “Kita berharap industri sepakbola dan pasar bebas dunia olahraga yang hari ini kita nikmati mampu diwarnai dengan keterlibatan atlit-atlit Karawang. Ini tugas kita bersama, terutama KONI dan Pengcab PSSI,” tandasnya menggarisbawahi.

Di tempat terpisah, Ketua KONI, Aris Suparno, mengatakan, bahwa keinginan seperti itu sudah sejak pertama kali Pelita Jaya menyatakan minatnya 'ngandang' di Stadion Singaperbangsa, pihaknya telah membicarakan kearah itu. Bahkan Pelita Jaya sendiri sudah siap membuka pintu bagi pemain Karawang untuk dilibatkan. Yakni, terlebih dulu dididik, disekolahkan, dan digembleng bermain sepakbola kearah prestasi dan profesionalisme.

“KONI tidak tinggal diam. Jauh sebelumnya telah membicarakan hal ini dengan Pelita Jaya. Mereka sangat merespon. Sebagai tahap awal, ada dua pemain kita siap dites ke Sawangan. Nanti bisa diterjunkan terlebih dulu ke Club Pelita Jaya U-21. Bahkan pemain berpotensi Persika sendiri bagi Pelita Jaya siap merekrutnya. Pelatihnya saja telah pula mempersiapkan uji klinik pelatih kita soal persepakbolaan kearah prestasi. Minimal ada transfer ilmu. Kita tinggal menunggu waktu saja. Karena menciptakan pemain tidak mudah begitu saja,” jawab Aris. (ops/psn/vins)

Jelang Pilkada 2010 NU Karawang Siap Unjuk Kekuatan

KARAWANG, RAKA – Menjelang muktamar ke-32 bagi jajaran pengurus Nahdlatul Ulama (NU) se-Indonesia yang dijadwalkan berlangsung di Makasar Sulawesi Selatan, 22-26 Maret 2010, salah seorang yang disebut-sebut bakal ikut bursa calon ketua umum Pengurus Besar NU, KH.Agil Sirod, berencana mengawali safari dukungannya ke Karawang, 13 Desember mendatang.

Kalau pun kunjungan tokoh NU yang kini tercatat sebagai ketua PBNU ini hanya untuk memenuhi undangan Pengurus Cabang NU Kabupaten Karawang. Yakni, mengisi acara menyambut tahun baru 1 Muharram 1431 hijriyah yang ditempatkan di pondok pesantren Attarbiyah Desa Ciwulan Kecamatan Telagasari. Atau tepatnya di rumah ketua PCNU, KH. Hasan Bisri Syafei.

“Sebenarnya acara itu nanti hanya mengisi kegiatan PCNU menyambut tahun baru hijriyah. Soal kait mengkait dengan safari kepentingan beliau (Agil Sirod -red) mencari dukungan untuk muktamar NU, itu persoalan lain. Yang jelas kami undang beiau mengisi tausyiah atau ceramah. Sebenarnya kami juga disana sekaligus menggelar istighosah menyambut perhelatan politik lokal Karawang tahun 2010 sebagai tahun ajang Pilkada,” ujar Hasan Bisri.

Bagi warga NU, tegas dia, apapun pesta demokrasi langsung yang menjadi agenda bangsa ini harus disikapi dengan cara kaum nahdliyin. Paling tidak, kata Hasan Bisri, PCNU ingin mengajak jajarannya sebagai ummat beragama memiliki pandangan yang sama bagaimana agar pelaksanaan Pilkada sebagai momentum suksesi di tingkat lokal Karawang berjalan aman, tertib, dan sukses tanpa ekses.

“Pertarungan politik Pilkada kami ingatkan bukan sebagai ajang saling menebar fitnah. Apalagi jika hanya demi mencapai kemenangan merebut kekuasaan. Tapi bagaimana semua saling berlomba menawarkan kebaikan dari program unggulan masing-masing kandidat pasangan bakal calon untuk membangun Karawang 5 tahun yang akan datang. Sehingga masyarakat pemilik hak pilih sama-sama dicerdaskan dengan pilihan terbaiknya nanti. Bukan sebaliknya, diajari dan diberikan contoh jelek dengan saling menghujat. Karena sikap negatif seperti itu sangat dilarang dalam Islam,” tegas Hasan Bisri.

Diakui dia, selama ini PCNU memposisikan diri menghindar dari berbagai kekuatan dan kepentingan politik manapun. Namun sangat mendukung kebijakan apapun yang dikeluarkan pemerintah, sepanjang kebijakan tersebut dinilai bermanfaat bagi kepentingan ummat atau masyarakat. Seperti halnya di era kepemimpinan Dadang S. Muchtar sebagai bupati di Kabupaten Karawang. Menurutnya, masyarakat di tataran bawah lebih banyak mengakui prestasi yang bersangkutan dalam menjalankan komitmennya membangun daerah ini lebih baik.

“Lawan politik beliu (Dadang Muchtar -red) boleh saja berpendapat lain. Itu mungkin dianggap sah-sah saja di dunia politik. Tapi NU lebih realistis pada kenyataan yang ada. Makanya NU tidak ikut-ikutan arus politik seperti demikian. Oleh karenanya, acara yang kami juluki tabligh akbar itu lebih memilih tema semangat tahun baru hijriyah diarahkan kepada peningkatan kerjasama antara ulama dan umaro. Persoalan kontrol kami kepada pemerintah, lebih efektif dilakukan dengan menegur langsung bersangkutan tanpa perlu diobral melalui pernyataan terbuka kepada umum,” tegas Hasan Bisri lagi.

Rencananya, tambah dia, acara tersebut bakal dihadiri 1.500 ulama, berikut semua pengurus MWC dari 30 kecamatan, maupun 300 ranting NU, plus badan otonom NU lainnya. Diundang pula Bupati Dadang Muchtar untuk turut mengisi acara. “Sudah ada informasi pula ke kami bahwa salah seorang warga nahdliyin yang kini jadi anggota DPR RI, H. Dedi Wahidi, siap hadir. Insya Allah acara ini menjadi bentuk lain dari kebersamaan warga NU dalam memaknai sikap berbangsa dan bernegara dengan tetap berpegang teguh pada keyakinan ahlus sunnah waljamaah yang menjadi kekuatan dasar kaum nahdliyin menjalankan syariat Islam,” tandasnya. (vins)

PMII Minta Dukungan DPRD Soal Pengungkapan Kasus Bank Century

DORONG: Aktifis PMII Karawang temui beberapa fraksi di DPRD Karawang terkait pengawasan Pansus Century di DPR RI.

KARAWANG, RAKA – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Karawang mendesak DPRD di sini untuk turut memberikan dorongan terhadap keseriusan hak angket Bank Century yang telah disepakati di DPR RI. Sehingga nantinya dapat diungkap sampai tuntas. Kalangan aktivis ini tidak berharap tindaklanjut dari hak angket tersebut kemudian melempem seperti yang sudah-sudah.

Belasan mahasiswa yang tergabung dalam PMII ini, Rabu (2/12) pagi telah menemui beberapa fraksi di DPRD. Selanjutnya mereka berhasil meminta tanda tangan para waki rakyat dari ketujuh fraksi sebagai bentuk dukungan yang dimintanya. Termasuk dukungan dari Fraksi Demokrat yang nota bene sebagai fraksi dari partai pendukung pemerintahan SBY-Budiono.

Dalam pertemuan kemarin di ruang Badan Legislasi, aktivis PMII, Nurhadi, menegaskan, pihaknya menginginkan agar DPRD Karawang turut mengawal hak angket itu yang kini telah dibentuk Pansus. Setidaknya, bila dukungan mengalir juga dari daerah, bila di DPR RI mulai melempem, langsung dapat tekanan untuk kembali bergairah.

“Jangan sampai Pansus Bank Century tidak ditindaklanjuti. Makanya kita harus benar-benar mengawal bersama dari bawah. Sebab pengalaman sebelumnya, setiap muncul masalah hingga dibahas di tingkat legislatif pusat, selalu berakhir tanpa jelas endingnya. Ini jangan sampai terulang. Kita harus berani menekan. Oleh karenanya kami datang ke sini untuk minta dukungan itu secara tertulis,” tegas Nurhadi.

Hal yang sama dikemukakan Agus Sofian. Malah ia lebih berani menyebut kekhawatirannya, jangan sampai ada pengurus parpol yang ada di lembaga legislatif pusat turut pernah merasakan uang Bank Century. Bila ini terjadi, menurutnya, pengusutan yang sedang dilakukan di tingkat DPR RI bisa menemui ganjalan. “Kami tidak minta apa-apa. Anggota DPRD di sini hanya kita mintakan ketegasan dukungan. Itu saja,” ujarnya.

Mensikapi aspirasi aktivis PMII tersebut, salah seorang anggota Fraksi Demokrat, Nurjaman, menjawab, bahwa kalau memang kebenaran yang ingin diperjuangkan, kenapa tidak pihaknya pun di Fraksi Demokrat akan turut mendukung. Tegasnya, Demokrat nyatakan wellcome. “Kita akan memberikan support baik tanpa mengedepankan praduga atau prasangka buruk. Mari kita kawal. Kenapa harus takut? Rekan-rekan Demokrat tidak akan terpengaruh pada intervensi pihak manapun,” ucapnya.

Sedangkan anggota Fraksi PDI-P yang diwakili Ace Sopian Mustari, lebih tegas mengatakan, fraksinya di DPR RI sejak munculnya kasus Bank Century menggelinding langsung menyatakan sikap mensponsori penggunaan hak angket. Artinya, sebagai kekuatan oposisi, fraksinya disebut sebagai penggagas hak angket tersebut. Sehingga ia menyakinkan PMII agar tidak ragu atas sikap fraksinya.

“Fraksi PDI-P jelas sebagai pengusung pertama hak angket di DPR RI. Sebab persoalan Bank Century dianggap menyimpan masalah yang harus diusut dan dibuka secara transparan ke publik hingga tuntas. Sebagai kekuatan oposisi, PDI-P tidak akan membiarkan persoalan ini lenyap begitu saja tanpa ada kejelasan. Bila diketahui ada persoalan hukum, nanti kita serahkan ke lembaga hukum itu sendiri untuk mengusutnya sesuai hukum yang berlaku,” tegas Ace.

Sikap serupa dipertegas Akhmad 'Zimmy' Jamakhsari dari Fraksi PKB. Tanpa diminta pun oleh PMII di sini, fraksinya di DPR RI termasuk sebagai kekuatan kedua setelah Fraksi PDI-P yang sepakat digulirkannya hak angket. “Kalau kami di daerah tidak turut mendukung, jelas akan terkena sanksi partai. Makanya tidak perlu ragu, Fraksi PKB DPRD siap menorehkan tanda tangan persetujuan dalam rangka mengawal hak angket hingga tuntas,” ujarnya menyakinkan. (vins)

Toko Terbakar di Jalan Kepuh Wareng, Pemilik Salahkan PLN

KARAWANG,RAKA- PLN akan diperdatakan oleh Toko Material TB Budi Saluyu yang berada di Jalan Kepuh Wareng RT 02 RW 04 Kelurahan Nagasari Kecamatan Karawang Barat. PLN diduga menjadi penyebab terbakarnya toko tersebut pada 21 Nopember 2009 lalu. Pasalnya hingga saat ini belum ada klarifikasi dari PLN perihal musibah tersebut.

Pemilik toko material tersebut, H Adi AM pada RAKA Rabu (2/12) menuturkan, kejadiannya bermula ketika pada Sabtu (21/11) malam lalu, ada salah satu gardu listrik yang berada dibelakang materialnya sedang diperbaiki karena ada kerusakan dan saat itu aliran listrik dalam keadaan mati. "Setelah perbaikan selesai dan listrik menyala, tiba-tiba terdengar ada suara letupan di dalam toko dan menyambar tiner yang ada di dalam sehingga terjadi kebakaran," paparnya.

Dilanjutkannya, kebakaran tersebut terjadi pada pukul 18.30 WIb dan api berhasil dipadamkan sekitar pukul 21.30 WIB. Akibat dari kebakaran tersebut, dia menderita kerugian mencapat Rp 750 juta. Akan tetapi, hingga saat ini belun ada penjelasan dari PLN perihal penyebab kebakaran tersebut, padahal asal muasal letupan tersebut dari perbaikan yang dilakukan oleh PLN.
”Saat kejadian, tidak ada aktifitas di dalam material, sehingga tidak mungkin letupan listrik tersebut dilakukan oleh pegawai saya. Kabel listrik material langsung ke gardu tersebut. Tapi PLN tidak pernah memberikan penjelasan." Ungkapnya.

Karena hal tersebut, Adi akan menyiapkan langkah hukum untuk menggugat PLN secara perdata, karena dinilai lalai. Akibat dari kejadian tersebut, dia mengalami kerugian yang cukup besar. Dan PLN yang diduga sebagai penyebab dari kebakaran tersebut, harus bertanggung jawab atas kejadian ini. Polisi juga memasang garis polisi ditempat kejadian untuk melakukan pemeriksaan,"Saya akan melakukan gugatan secara perdata perihal kejadian ini dan saya meminta pada polisi untuk segera mengeluarkan hasil penyelidikannya sebagai bahan gugatan saya nanti," tegasnya.

Sementara itu, ketika ditemui dikantornya kemarin, Humas PLN Karawang, Rina Hermiati membetulkan adanya perbaikan listrik di sekitar Kepuh, karena ada gardu listrik yang rusak akibat tertabrak mobil. APJ PLN Kota membetulkan gardu tersebut. Setelah itu terdengar ada letupan di dalam toko meterial tersebut,"Akan tetapi letupan tersebut bukan merupakan akibat perbaikan tersebut. Karena toko tersebut memasang saluran listrik yang tidak resmi kedua rumah lainnya, sehingga terjadi ledakan," paparnya pada RAKA.

Menurutnya, jika pemasangan saluran listrik bukan oleh pegawai PLN, bisa menimbulkan kesalahan fatal. Pada saat terjadi kebakaran, petugas PLN langsung memutus saluran listrik, menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Setelah itu, petugas PLN meminta bantuan pada Kodim untuk memadamkan api tersebut. Karena dalam toko material tidak ada penghuninya,"Kami belum menjelaskan mengenai kejadian ini pada korban, karena saat itu tidak ada penghuninya dan setelah kejadian pun korban tidak ada yang komplen." terangnya.

Menanggapi akan digugatnya PLN secara perdata oleh korban, Rini mengatakan hal tersebut merupakan hal yang wajar, dia tidak akan melarangnya karena ini merupakan negara demokrasi. Namun dia juga mengingatkan korban agar mempersiapkan laporan perdatanya secara detil. "Mereka telah melakukan pemasangan saluran listrik tidak resmi, ini bukan masalah perdata lagi tapi pidana. Pidana ini bisa dikenakan ancaman hukuman 5 tahun. Tapi yang jelas, kebaran ini bukan disebabkan oleh PLN," pungkasnya. (asy)

Suasana Antrian Kendaraan di Jalan Raya Jatisari

SELALU ANTRE: Antrean kendaran selalu terjadi di Jalan Raya Jatisari. Hal tersebut terjadi akibat perbaikan jalan yang belum rampung. Kondisi seperti ini selalu terjadi setiap saat di kawasan tersebut. (asy)

Tikus Masih Mewabah di Desa Sukasari

PURWASARI, RAKA - Walaupun belum memasuki masa tanam, akan tetapi tikus masih menjadi musuh para petani. Target sasaran serangan tikus kali ini adalah tanaman palawija yang ditanam oleh petani. Mereka menyerang tanaman misal bayam, terong maupun kacang tanah yang ditanam petani disawah sebelum ditanami oleh padi. Hal tersebut dikatakan oleh salah seorang petani di Desa Sukasari Kecamatan Purwasari, Muchtar (52) ketika ditemui RAKA, Rabu (2/12) siang di sawahnya.

Dilanjutkannya, walaupun tidak ada padi, akan tetapi tikus masih menjadi hama yang utama menyerang tanaman yang ditanam oleh petani. Apalagi jika musim tanam telah tiba, tikus masih menjadi momok yang cukup menakutkan bagi petani. Pasalnya tikus sulit untuk ditaklukan. Berbagaicara pernah dilakukannya untuk menaklukan tikus, akan tetapi tikus tetap saja mengganggu pertanian sehingga banyak petani yang dirugikan. "Dibandingkan dengan hama lainnya, tikus lebih ganas menyerang tanaman dan jarang yang tersisa sehingga petani banyak yang merugi," terangnya.

Menurutnya, untuk mencegah tikus terus beredar, dia pernah memberikan pakan dengan diberi racun. Menggunakan cara seperti itu, pertama-tama berhasil dilakukan, akan tetapi untuk kedua kalinya tikus tidak terjebak dengan menggunakan pakan tersebut. Seolah-olah tikus sudah tahu bahwa pakan tersebut mengandung racunnya. Hal ini membuat petani cukup kelabakan untuk memberantas tikus. "Hama tikus merupakan hama yang sulit untuk ditaklukan, karena mau diobat ataupun dengan menggunakan perangkap, tikus tetap saja banyak menyerang," kesalnya.

Muchtar menambahkan, tanaman bayamnya juga, tidak luput dari serangan tikus. Akan tetapi, jumlahnya tidak terlalu banyak karena dia selalu intens untuk melakukan perawatan. Selain mengeluhkan hama tikus, dia juga mengeluhkan harga bayam yang dinilainya rendah. Padahal, perawatannya cukup menguras tenaga dan harus telaten. Kerena jika tidak demikian hasilnya tidak akan maksimal. "Kalau dilihat dari hasil tanaman, bayam yang dihasilkan cukup bagus. Tapi harganya kurang pas, masih rendah jadi kurang bisa mendapatkan keuntungan yang besar," terangnya.

Tapi walaupun demikian, dia tetap bersyukur bisa menjual bayamnya tersebut. Menurutnya, usaha dijaman sekarang cukup sulit, sementara kebutuhan setiap harinya terus meningkat. Jika tidak ada yang dilakukan, maka akan ketinggalan dan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari. "Segini juga sudah bersyukur saya bisa menjual bayam, jadi ada penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi tetap sambil berharap, semoga kedepan harganya bisa lebih meningkat dan tidak ada hama yang menganggu," harapnya. (asy)

Madrasah Jatisari Luput dari Perhatian

REHAB SENDIRI: Sejumlah pekerja tampak sedang membetulkan bangunan sekolah yang rusak akibat angin puting beliung.

JATISARI, RAKA - Setelah dihantam angin puting beliung beberapa hari yang lalu, masyarakat di Dusun Jebug 1, Jatisari, mulai melakukan rekontruksi bangunan yang rusak akibat terjangan angin tersebut dengan anggaran seadanya.

Termasuk rekonstruksi bangunan Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) dan Raudhotul Athfal (RA) Al Hikmah di Dusun Jebug 1. Kepala MDA dan RA Al Hikmah Acum kepada RAKA, Rabu (2/12) kemarin, mengatakan, bangunan madrasahnya tidak luput dari terjangan angin puting beliung beberapa waktu yang lalu. Akibatnya, genteng bagian belakang sekolah dan emperan depan madrasah yang terbuat dari asbes rusak dan berterbangan tertiup angin. "Saya tidak mengerti asbes depan sekolah terbang ke belakang sekolah semuanya habis dan sebagian genteng belakang juga habis," paparnya.

Dari kejadian tersebut, lanjutnya, diperkirakan dia mengalami kerugian mencapai Rp 10 juta. Saat ini, madrasah tersebut sedikit demi sedikit sudah mulai diperbaikinya. Uang perbaikan tersebut, diambilnya dari kantong dia sendiri, soalnya belum ada bantuan untuk perbaikan bangunan madrasahnya yang sudah rusak. "Mau gimana lagi, yang namanya sekolah swasta tidak ada bantuan. Ini konsekuensi saya harus merogoh uang sendiri untuk perbaikan madrasah," ungkapnya.

Acum menambahkan, jumlah muridnya saat ini berjumlah 150 orang. Masing-masing dari murid MDA sebanyak 120 orang dan 30 orang murid RA. Musibah kemarin, tidak membuatnya patah semangat untuk terus melakukan aktifitas belajar mengajar. Dia hanya meliburkan sekolahnya satu hari dan kemarin aktifitas belajar mengajar sudah normal kembali. "Walaupun sedang direnovasi, sekolah tidak libur. Kasihan murid kalau harus banyak libur. Gedung sekolah ini juga digunakan untuk lokal SDN Mekarsari II, karena bangunan SD tersebut sedang dibangun. Hari ini (kemarin, red) mereka sudah sekolah lagi," terangnya.

Dia berharap, ada bantuan untuk meringankan bebannya merekontruksi bangunan madrasah yang telah rusak. Karena bagaimanapun ruang belajar merupakan penunjang proses belajar mengajar. Jika ruang kelas ataupun sekolahnya rusak, belajar mengajar tidak akan efektif. "Kalau saran pendidikannya rusak, aktifitas belajar mengajar tidak akan efektif. Mudah-mudahan renovasi bisa segera selesai," pungkasnya.

Sementara itu, bantuan bagi warga korban bencana Desa Sukamekar, Kecamatan Jatisari, terus mengalir. Setelah pemerintah daerah memberikan bantuan sehari sebelumnya, kini giliran Tong Hilap Center. Dalam kegiatan bhakti sosial tersebut, THC memberikan 10 dus mie instan, beras 100 kg, gula pasir 20 kg, minyak goreng 20 kg dan kecap 20 kaleng.

Dewan pembina THC H Engkus Kusnaya Budi Santoso SE mengatakan, masyarakat harus tetap waspada agar tidak terkena bencana. "Bencana merupakan rahasia Allah, datangnya tidak bisa diduga. Tapi masyarakat harus tetap waspada akan terhindar dari bencana," paparnya usai memberikan bantuan. Sebetulnya, kata dia, puting beliung terjadi di dua kecamatan, akan tetapi dia memilih Jatisari, karena lebih parah terjadi kerusakannya. "Ini sebagai bentuk kepedulian saya pada masyarakat Karawang. Saya langsung turun untuk membantu korban bencana. Masyarakat yang memiliki kelebihan harta, supaya ikut membantu korban bencana ini," terangnya.

Engkus melanjutkan, perbaikan infrastruktur harus dilakukan terutama akses jalan, karena infrastruktur merupakan urat nadinya perekonomian. Dengan insfrastruktur yang bagus, masyarakat akan mudah untuk melakukan aktifitas sehari-hari. Dengan demikian, maka tarap ekonomi masyarakatpun akan meningkat. "Pembangunan insfrastruktur harus diprioritaskan karena akan sangat membantu masyarakat. Dengan insfrastruktur yang bagus, akan ada efisiensi, baik waktu maupun ekonomi," paparnya.

Dalam acara yang dihadiri oleh Kapolsek dan juga Kepala Desa Sukamekar. Tokoh masyarakat setempat, Ujat Sudrajat mengatakan, bantuan ini sangat membantu untuk meringankan beban korban puting beliung kemarin. Untungnya, dari bencana tersebut tidak ada korban jiwa. Hanya ada korban luka, itupun telah diobati oleh petugas kesehatan. "Saya berharap bantuan tidak hanya ini, karena korban masih membutuhkan bantuan, terutama untuk merenovasi rumah mereka yang hancur," harapnya. (asy)

Jembatan Cicinde Utara Terbengkalai, Pembangunannya Terhenti Lebih Sebulan

TERBENGKALI: Pembangunan jembatan di Cicinde Utara, Banyusari, sudah lama dihentikan.

BANYUSARI, RAKA - Sudah lebih satu bulan pembangunan jembatan di Jalan Raya Cikalong-Cilamaya, tepatnya di Desa Cicinde Utara, Kecamatan Banyusari, terhenti. Tidak ada penjelasan dari para pekerja maupun pemborong jembatan tersebut mengenai penghentian pembangunan tersebut. Akibatnya, lalulintas di jalan tersebut menjadi terganggu dan masyarakat sekitarpun ikut terganggu. Hal ini dikatakan warga setempat, Edi, ketika ditemui RAKA, Rabu (2/12), di rumahnya.

Dilanjutkannya, tidak diketahui penyebab ditundanya pekerjaan tersebut. Saat ini kontraktor dan pekerja tidak diketahui keberadaannya. Karena pembangunan yang tidak jelas tersebut, akhirnya jembatan tersebut menjadi terkatung-katung. "Dulu setelah dilakukan pengecoran, kata mandor akan ditunda sampai 27 hari. Tapi sekarang sudah lebih satu bulan jembatan tersebut belum juga diselesaikan pengerjaannya," paparnya.

Akibat dari belum rampungnya jembatan tersebut, terangnya, kaca rumahnya pecah karena terpental batu yang disebabkan digilas kendaraan bermotor, bahkan kejadian tersebut sering terjadi. Walaupun tidak kena kaca, bilik rumahnya selalu kena batu. "Kalau kecelakaan sih jarang, tapi kaca rumah saya pecah karena terlempar batu dari jalan. Sebetulnya saya ingin perbaikan jalan ini segera selesai, tapi tidak ada kejelasan sampai saat ini," terangnya.

Edi menambahkan, pemborong juga sempat akan memberikan uang sebesar Rp 500 ribu kepada karang taruna, akan tetapi hingga saat ini belum ada realisasi. Bahkan dia juga sempat mengganti hutang para pekerja di warung terdekat dan dijanjikan akan diganti tapi belum juga ada realisasi. "Yang ngontrol proyek juga tidak ada. Saya belum tahu kapan akan dilanjutkan, saya berharap bisa segera diselesaikan," harapnya.

Hal yang sama juga diutarakan oleh salah seorang pengendara motor, Sanusi (36). Dia berharap agar perbaikan jembatan tersebut bisa segera diselesaikan agar lalu lintas dijalan tersebut kembali lancar. Menurutnya, lalulintas jadi sedikit terhambat karena jalan menjadi sempit terutama bagi kendaraan roda empat. "Sudah lama jembatan ini belum rampung. Padahal awal dibangun jembatan ini Agustus lalu, tapi hingga saat ini belum selesai juga, malah tidak jelas kapan selesainya. Soalnya tidak ada papan proyek yang terpasang," ungkapnya. (asy)

Lagi, Sidang Dosen Unpas Karawan Ditunda

KARAWANG, RAKA - Untuk kedua kalinya, persidangan terdakwa Adang SH MH bin Hadi (26) dengan agenda pembacaan tuntutan dari jaksa penuntut umum (JPU) yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Karawang, Rabu (2/12) kemarin, kembali ditunda selama sepekan.

Penundaan sidang tersebut lagi-lagi dikarenakan JPU H Muladi SH belum siap untuk membacakan tuntutannya. Sidang akan kembali digelar dengan agenda yang sama, Rabu (9/12), pekan depan. Usai sidang, JPU Muladi mengaku belum siap untuk membacakan tuntutan tersebut karena belum mendapat arahan dari Kepala Kejaksaan Negeri(Kejari) Karawang Syaiful Anwar yang saat ini sedang menjalani cuti karena tengah menunaikan ibadah haji. "Pembacaan tuntutan belum siap karena belum mendapat arahan dan bahan pertimbangan dari kejari," ujar Muladi.

Seperti diberitakan sebelumnya, terdakwa yang berprofesi sebagai Dosen Fakultas Hukum Universitas Pasundan Bandung dihadapkan ke persidangan karena didakwa dengan dakwaan alternatif sebagai dimaksud dalam pasal 279 KUHPidana dan atau pasal 263 ayat 2 KUHPidana dan atau pasal 266 KUHPidana.

Terdakwa Adang, warga Kampung Sukamulya RT 09/04, Desa Karangtanjung, Kecamatan Lemahabang, bersama ayahnya Hadi (46), sempat mendekam di ruang tahanan Polres Karawang selama lebih dari 15 hari menyusul laporan Lilis Komalasari (23), isterinya, ke Polres Karawang, pada Rabu (3/6) silam. "Kalau tidak salah Adang ditahan 24 hari dan Hadi 21 hari," ujar Majid, mertua Adang kepada RAKA kemarin.

Dalam laporan polisi (LP) bernomor: LP/B/1414/VI/2009/Res Krw itu, Lilis menuding Adang suaminya telah melakukan tindak pidana memberikan keterangan palsu ke dalam Akte Autentik. Pasalnya, pada Senin, 20 April 2009 telah membuat surat keterangan nikah dengan nomor 474.2/33/Des dengan status jejaka. Padahal, terdakwa Adang masih berstatus suami sah Lilis. Sebab, pasangan suami isteri ini menikah pada 12 Januari 2008 dan tercatat di kantor KUA Lemahabang dengan akte Nikah No.21/21/I/2008.

Setelah kasus ini disidik penyidik Polres Karawang, kasus ini pun menyeret Sekretaris Desa Karangtanjung H Jumanta dan Kepala KUA Lemahabang Wadas H Saeful Bachri SAg MM. Bahkan, H Jumanta juga sempat ditahan selama beberapa hari di Polres Karawang. Jumanta dan Saeful terseret dalam kasus ini karena diduga kuat punya andil pada pernikahan Adang dengan isteri mudanya Wulan Puspitasari (21), warga Parung Hilir RT 18/10 Kelurahan Parung, Kecamatan/Kabupaten Subang.

Apalagi, pernikahan Adang dengan Wulan pada Minggu, 31 Mei 2009 itu juga resmi dicatat di KUA Kecamatan Subang sesuai Akta Nikah No.505/116/V/2009. "Pak Sekdes H Jumanta dan Pak KUA sebenarnya mengetahui Adang sudah beristeri apalagi kedua aparat tersebut hadir juga dalam pesta pernikahan itu," terang Majid. (ops)

Ternak Ayam di Desa Sindangsari

EVAKUASI: Hingga kemarin masih banyak pengusaha peternakan ayam di Desa Sindangsari, Kecamatan Kutawaluya, yang melakukan evakuasi hewan ternaknya yang masih hidup. Aksi dilakukan menyusul hempasan angin puting beliung yang menerjang daerah itu pada Senin (30/11) lalu. Sedikitnya puluhan peternakan ayam porak poranda diterjang angin ribut tersebut.

Aliran DAK Diawasi Ketat

MAJALAYA, RAKA - Hasil penelusuran LSM KiPRA (Komite Independen Pemantau Kinerja Aparatur Negara) Karawang, terkait penggunaan bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) disejumlah Sekolah Dasar Negeri kurang sesuai dengan anggaran pengajuan. Dikhawatirkan, bantuan yang digulirkan nantinya akan berkurang manfaatnya.

Hal itu dinyatakan Koordinator LSM KIPRA Anton Suhirman kepada RAKA, Rabu (2/11) disela penelusuran pembangunan gedung berkapasitas tiga ruang kelas di SDN Sarijaya II, Desa Sarijaya, Kecamatan Majalaya. Dikatakannya, jangan dikarenakan lokasi sekolah berada dipelosok kabupaten Karawang maka penggunaan bantuan bisa dipermainkan pihak konsultan.

"Melihat beberapa bahan konstruksi pembangunan gedung SDN sarijaya II disinyalir terjadi pengurangan kualitas. Ironisnya, kenapa pengurangan kualitas itu diakui buruh bangunan sesuai instruksi pihak konsultan, "terangnya. Dijelaskan Anton, untuk pengunaan DAK di SDN Sarijaya II perlu dilakukan pengawasan akurat oleh Dinas Cipta Karya Kab. Karawang. Sesuai temuan, lanjut dia, ada beberapa konstruksi bangunan yang perlu dicek ulang khawatir hanya dalam waktu terbilang singkat bangunan rusak kembali.

"Semisal, ukuran besi yang disetujui oleh pihak konsultan tidak sesuai dengan bestek. Untuk diameter besi pondasi ada yang berukuran 12 mm, 10 mm, 8 mili. Sedangkan ukuran sesuai patokan adalah 12 mm. Selain itu, selup pondasi tidak seluruhnya di perbaharui justru masih mengandalkan pondasi gedung sebelumnya. Memang ada baiknya jika itu dianggap memanfaatkan yang masih layak. Tapi, menurut pengamatan kami akibat hal itu manfaat DAK tidak akan bertahan lama, "tegasnya.

Diketahui, rencana rehabilitasi 3 Ruang Kelas Gedung DSN Sarijaya II disokong dari anggaran DAK 2009 sebesar Rp 245 juta, dengan pelaksanaan swakelola. "Kami tekankan agar Dinas Cipta Karya Kab. karawang periksa kembali pembangunan gedung tersebut. Agar menjadi pelajaran di sejumlah SDN lainnya yang mengunakan DAK. Jika ada kesalahan, secepatnya tindak lanjuti, "tandasnya.

Mengenai hal itu, kepala sekolah, konsultan maupun pengawas pembangunan tidak berada dilokasi. Namun demikian, dari keterangan salah satu tukang bangunan, Suparjo (45) saat ditemui, untuk pengadaan besi berikut pondasi telapak konsultan menggunakan ukuran 10 mm. "Kami hanya pekerja dan tidak tahu tentang pengadaan. Ukuran besi yang disediakan pihak konsultan berdiameter 1o mm, "terangnya.(get)

Warga Dua Desa Bentrok Massal, seorang Dilarikan ke Klinik dengan Luka Bacok di Kepala

PEDES, RAKA - Puluhan warga Desa Payungsari dan Desa Karangjaya, Kecamatan Pedes, bentrok massal. Kedua dua desa tersebut saling serang dilokasi hiburan hajatan yang berlangsung di Desa Karang jaya, kemarin (1/12) malam. Kendati fihak terkait setempat belum mengeluarkan pernyataan resmi, namun disinyalir pertikaian dipicu saling ejek antar warga, selain pengaruh minuman keras.

Dalam peristiwa tersebut sempat terjadi aksi lempar batu dan kejar-kejaran dilokasi perhelatan hingga berujung terhadap penganiayaan. Akibatnya, satu orang warga yang tengah menonton menjadi korban hingga menderita luka bacok dibagian kepala. Namun begitu, pelaku pembacokan berhasil diamankan petugas keamanan.

Saat kejadian, diungkapkan saksi mata Budi (32) kepada RAKA, Rabu (1/12) kemarin. Pada saat semua mata terpusat pada aksi penyanyi dangdut di panggung hiburan, ia menyaksikan sekelompok pemuda dengan keadaan seperti dalam pengaruh minuman beralkohol. "Pemuda itu mangacau dan menganggu penonton lainnya yang tengah asyik menyaksikan penyanyi dangdut organ tunggal, "terangnya.

Melihat tingkah sekelompok pemuda itu, lanjut Budi, tiba-tiba datang sekelompok pemuda lainnya. Entah dari mana awalnya, namun secara mendadak kelompok pemuda yang datang langsung menyerang kelompok pemuda yang dianggap mengganggu hajatan. "Akhirnya, bentrokan pun terjadi. namun aksi itu berlangsung hanya beberapa saat saja karena langsung dilerai petugas keamanan yang sebelumnya sudah berjaga, "terangnya.

Kendati demikian, kata budi, ia sangat prihatin dengan kejadian itu ada penonton yang menjadi korban. Diketahui, korban sebagai warga Desa Payungsari, Eman (32), seketika itu langsung dilarikan ke klinik Dr. Budi, Jl Dusun Bedeng, Desa Payungsari, Kecamatan Pedes untuk menjalani perawatan serius akibat luka sayat benda tajam dibagian kepalanya.

Terpisah, Menurut keterangan beberapa sumber dari kedua belah pihak kelompok warga yang bertikai, penyebab kejadian belum diketahui secara pasti. Namun demikian, ada yang menyatakan pertikaian awal telah terjadi dilokasi berbeda pada hiburan itu walau hanya sebatas saling mengejek. ”Kemungkinan itulah awal dari pertikaian tersebut hingga berlanjut kelokasi hiburan organ tunggal,” jelas sumber.(get)

PNPM Kutawaluya Cair

KUTAWALUYA, RAKA - Dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri telah cair disejumlah kecamatan. Totalnya memang baru 40 persen namun masyarakat berharap 60 persennya bisa dikucurkan secepatnya.

"Warga Dusun Krajan, Desa Sampalan, Kecamatan Kutawaluya memanfaatkan Dana PNPM untuk membuat turap saluran air di beberapa titik di wilayah desa. Dengan cairnya dana itu, kami beserta masyarakat langsung bergerak untuk melakukan pembangunan sesuai dengan hasil musyawarah pada beberapa tahap verifikasi sebelum pencairan," ungkap FK PNPM kecamatan Kutawaluya Aef kepada RAKA, Rabu (2/12) kemarin.

Dijelaskan Aef, penurapan beberapa saluran itu dipilih karena proses pengerjaannya yang lebih cepat dan tidak menganggu akses jalan. Selain itu, dengan penurapan banyak masyarakat yang notabene sebagai petani akan lebih merasakannya. "Dengan pencairan ini, meski secara bertahap namun akan terasa lega mengingat beberapa tahapan musyawarah yang harus dilalui sebelumnya cukup panjang, terutama untuk menyusun proposal pengajuan perengkingan (prioritas) sebagai salah satu tahap syarat pencairan dana PNPM, "terangnya.

Pencairan PNPM juga telah dikucurkan di Kecamatan Rawamerta, seperti di katakan Kasi Kesra Rawamerta, Acep. M saat ditemui. Pemerintah Kecamatan Rawamerta menyerahkan pengalokasian dana langsung pada setiap desa. "Kami serahkan alokasi dana PNPM langsung pada masyarakat melalui kelompok masing masing desa. Namun, pemerintah kecamatan terus monitoring penggunannya, "jelasnya.

Lebih lanjut Acep mengatakan, PNPM Mandiri bukan hanya menjadi salah satu upaya pemerintahan untuk mengentaskan kemiskinan. Lebih dari itu, PNPM Mandiri dapat membangkitkan budaya gotong royong yang mulai hilang." karena pembangunan menmgunakan dana PNPM langsung melibatkan seluruh warga,"terangnya. (get)

Jayakerta Gelar Kalagumarang

UNTUK mendidik sekaligus merubah cara petani menggunaan aliran listrik sebagai alat pembasmi hama tikus, delapan pemerintah desa sekecamatan Jayakerta secara serentak melakukan kalagumarang dilahan pesawahan. Kegiatan itu untuk mengantisifasi serangan hama tikus di saluran tanggul pertamina yang dianggap petani sebagai sarang tikus.

Berdasarkan pantauan RAKA, Ribuan tikus berhasil dimusnahkan. Pelaksanaanya, para personel kegiatan kala gumarang menggalian lubang lubang tikus dan pengasapan menggunakan alat emposan. Saat hama tikus berhamburan keluar, para petani beserta aparat desa langsung membunuh hewan pengerat yang merugikan itu. Kegiatan ini dinilai sangat efektif. Pasalnya, hama tikus tidak tahan dengan bau belerang.

"Saat mulai musim tanam petani akan sedikit lega karena hama tikus sudah diminimalisir dalam dengan kegiatan ini, "terang Kades Kemiri, Salwani. Dia menambahkan, kegiatan kala gumarang itu sekaligus menyambut datangnya musim tanam. Dijelaskannya, kegiatan ini akan kembali dilakukan jika para petani menemukan kembali titik-titik yang dianggap sarang tikus lainnya. "Hama tikus harus segera dibasmi, sebab, hama pengerat ini berkembang sangat pesat. Terlebih, jika perkembangannya didukung tempat (sarang) yang kurang bersih," ujarnya.

Seperti dilansir sebelumnya, hama ini tergolong hama yang sulit dibasmi. Namun begitu, untuk meminimalisir kerugian yang ditimbulkan, biasanya beberapa wilayah melakukan penangkapan langsung (kalagumarang). Berbagai cara bisa digunakan, Baik dengan cara menggali lobang tikus maupun dengan emposan. Kurang lebih, dengan cara seperti ini hama tikus bisa diberantas.

Camat Jayakerta, Drs H Hamdani, menambahkan, lebih dari ribuan hektare sawah sering terkendala oleh hama tersebut pada saat mulai tanam. Maka, sering kali para petani berinisiatif untuk menggunakan aliran listrik sebagai alat pembasmi. "Jika masa tanam lancar tanpa gangguan hama di harapkan selain hasil panen mendatang lebih baik juga para petani tidak lagi menggunakan listrik di area pesawahan, "jelasnya. (get)

Kadinsos Karawang: 500 Juta Untuk Korban Bencana Alam

UNTUK membantu korban bencana alam tahun ini, Pemerintah Kabupaten Karawang mengucurkan anggaran dari APBD Kabupaten sebanyak Rp 500 juta. Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Sosial Drs. Banuara Nadeak, M.M, Rabu (2/12) siang. Selain itu ia mengatakan, pihaknya langsung cepat tanggap apabila ada kejadian bencana di seluruh Kabupaten Karawang, karena salah satu tugas Dinas Sosial adalah meringankan masyarakat yang sedang tertimpa musibah.

"Seperti bencana puting beliung yang menimpa Kecamatan Jatisari, Kutawaluya, dan Lemah Abang, pada tanggal (30/11) kemarin, seketika itu kami langsung membantu mereka. Tapi tentunya sebelum memberikan bantuan, kami inventarisir dulu berapa orang yang harus dibantu, agar pada saat pemberian bantuan, semuanya kebagian tanpa terkecuali. Menurut data yang kami peroleh, total jumlah rumah yang rusak dari tiga kecamatan tersebut ada 244 rumah, dan semuanya sudah menerima bantuan," tuturnya.

Agar bantuan tersebut tepat sasaran, Banuara mengaku pihaknya memberikan secara langsung kepada korban bencana. "Ada kekhawatiran dari kami kalau bantuan tersebut melalui beberapa tangan justru akan kacau. Makanya daripada nantinya terjadi kesimpang siuran, yang memberikan bantuan langsung petugas dari Dinas Sosial," katanya. Bantuan yang diberikan oleh Dinas Sosial kepada korban bencana berupa beras, mie instan, air minum, kecap, saos, selimut dan pakaian. Menurut Banuara, jumlah bantuan yang diberikan pihaknya cukup untuk tiga sampai tujuh hari.

"Biasanya setelah tujuh hari, kondisi korban bencana sudah normal kembali. Namun kalau ternyata lebih dari tujuh hari kondisinya masih belum baik, kami pasti terus memberikan bantuan kepada mereka," tandasnya. Melihat kondisi iklim saat ini, Banuara mengaku pihaknya akan kerja all out. Pasalnya menurut Badan Meteorolohi dan Geofisika, kondisi cuaca tahun ini lebih buruk dibandingkan tahun kemarin. "Beberapa bulan kebelakang kami sudah melakukan persiapan terkait kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nanti. Dan sepertinya kami akan kerja ekstra tahun ini dibandingkan tahun kemarin.

Kalau kami tidak kerja all out, bisa dipastikan akan banyak masyarakat yang terlantar, dan masyarakat sekarang ini kan sudah mulai kritis, terlambat saja kami datang ke lokasi bisa marah-marah. Makanya kami menghindari hal semacam itu, lagipula kami ini kan Dinas Sosial, ya tugasnya membantu orang-orang agar bisa hidup lebih baik lagi," katanya. Terkait penanggulangan anak terlantar akibat dari bencana alam. Banuara mengatakan, pihaknya sudah beberapa kali mengurusi anak terlantar akibat dari bencana alam. "Kalau ada bencana, kami sering menemukan ada anak yang akhirnya terpaksa tidak punya keluarga dan rumah, karena rumah dan orangtuanya ikut menjadi korban dari bencana.

Meski anak tersebut punya sanak keluarga, tapi kami pernah menemukan kasus dimana pihak sanak keluarga anak tersebut hilang batas kesabarannya dalam merawat anak itu, dan yang kedua pengaruh lingkungan yang membuat ia harus keluar dari perawatan sanak keluarga. Untuk menanggulangi hal tersebut, kami sering melakukan pemberdayaan terhadap anak terlantar, agar mereka nantinya bisa menjadi orang yang bermanfat bagi masyarakat," katanya. (psn)

Pedagang Baju Sepakbola di Pelataran Parkir Stadion Singaperbangsa

PEDAGANG UNTUNG: Pedagang baju sepakbola di pelataran parkir Stadion Singaperbangsa meraup untung jutaan rupiah setiap kali Pelita Jaya bertanding. Tampak salah seorang pedagang sedang melayani pembeli, kemarin (2/12) malam. (psn)

Pelita Jaya Harusnya Jadi Motivasi Bagi Karawang

KARAWANG, RAKA – Kehadiran Pelita Jaya Football Club di Stadion Singaperbangsa dengan menggunakan emblem Karawang di putaran Liga Super Indonesia, ternyata bukan hanya menjadi perhatian pecinta sepakbola di sini, tapi juga kalangan aktivis politik turut memberikan apresiasi.

Seperti dikemukakan Dadan Suhendarsyah dari Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM PAN), bahwa keberadaan Pelita Jaya di kota Pangkal Perjuangan ini mestinya dapat menerangi KONI dalam menumbuhkan prestasi olahraga lokal, khususnya sepakbola.

Sehingga potensi anak-anak Karawang tergali dan termotivasi untuk bisa berlaga seperti halnya Pelita Jaya. “Dua kali melihat penampilan Pelita Jaya pantas membuat masyarakat Karawang tersanjung. Karena stadion kebanggaan kita telah dijadikan pilihan untuk menggelar event besar sekelas Liga Indonesia. Lebih bangga lagi ketika penonton memadati semua sisi stadion. Seakan membuktikan bahwa Karawang memiliki gairah tinggi di bidang olahraga,” ungkap Dadan, Rabu (2/12).

Kata dia, potensi ini kalau dikelola dengan benar bisa menjadi keuntungan bagi Pemkab, baik dari sisi pendapatan asli daerah atau PAD, maupun penciptaan atlit-atlit berprestasi nasional. Namun KONI maupun Pengcab PSSI, dimintanya, harus merenung sejenak. Masalahnya, dari sekian pemain Pelita Jaya, tegas dia, belum ada seorang pun warga Karawang turut merumput. Paling tidak pemain dari hasil gemblengan club-club Karawang.

“Hingar bingar penonton, antusiasme pecandu sepakbola, termasuk kehadiran bupati dan jajaran anggota DPRD di pinggir lapang lebih menunjukan bahwa kita adalah tamu dalam kemeriahan pesta yang digelar di rumah kita sendiri. Selayaknya KONI, Pengcab PSSI, termasuk Pemkab memanfaatkan kehadiran Pelita Jaya untuk memajukan pembinaan,” tandas Dadan.

Olahraga dan mencetak atlit lokal yang bisa dibanggakan, lanjut dia, semua pihak tidak lantas berpuas diri dengan apa yang telah diperoleh sekarang. Tawar menawar, menurutnya, harus lebih menyentuh kearah keterserapan pemain lokal Karawang oleh Pelita Jaya. “Kita berharap industri sepakbola dan pasar bebas dunia olahraga yang hari ini kita nikmati mampu diwarnai dengan keterlibatan atlit-atlit Karawang. Ini tugas kita bersama, terutama KONI dan Pengcab PSSI,” tandasnya menggarisbawahi.

Di tempat terpisah, Ketua KONI, Aris Suparno, mengatakan, bahwa keinginan seperti itu sudah sejak pertama kali Pelita Jaya menyatakan minatnya 'ngandang' di Stadion Singaperbangsa, pihaknya telah membicarakan kearah itu. Bahkan Pelita Jaya sendiri sudah siap membuka pintu bagi pemain Karawang untuk dilibatkan. Yakni, terlebih dulu dididik, disekolahkan, dan digembleng bermain sepakbola kearah prestasi dan profesionalisme.

“KONI tidak tinggal diam. Jauh sebelumnya telah membicarakan hal ini dengan Pelita Jaya. Mereka sangat merespon. Sebagai tahap awal, ada dua pemain kita siap dites ke Sawangan. Nanti bisa diterjunkan terlebih dulu ke Club Pelita Jaya U-21. Bahkan pemain berpotensi Persika sendiri bagi Pelita Jaya siap merekrutnya. Pelatihnya saja telah pula mempersiapkan uji klinik pelatih kita soal persepakbolaan kearah prestasi. Minimal ada transfer ilmu. Kita tinggal menunggu waktu saja. Karena menciptakan pemain tidak mudah begitu saja,” jawab Aris. (vins)

Gudang Limbah Cair Ludes Dilalap Api

KARAWANG, RAKA - Diduga akibat percikan api rokok yang dihisap anak-anak sambil bermain gaple di depan gudang tempat penyimpanan oli, cat dan jenis limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) lainnya, di Jalan Raya citarum Keluarahan Adiarsa Barat Kecamatan Karawang Barat, gudang tersebut ludes dilalap api, kemarin (2/12) sore. Pasalnya percikan api tersebut merembet ke drum tiner yang berada didalam gudang. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, namun diperkirakan kerugian materi mencapai belasan juta rupiah.

Sebanyak delapan kendaraan pemadam kebakaran (damkar) dari Pemkab karawang dan industri yang berada disekitar kejadian diturunkan untuk memadamkan api. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Bagian Penyuluhan Pemadam Kebakaran Gunawan disela pemadaman. "Meski menurunkan delapan damkar, kami cukup kesulitan dalam memadamkan api. Pasalnya didalam gudang tersebut banyak terdapat tiner dan oli, akibatnya semburan air tidak cukup kuat untuk memadamkan api.

Namun sampai saat ini kami terus mencoba memadamkan api. Terkait penyebab kebakaran tersebut, kami belum melakukan identifikasi, namun diduga kuat karena percikan api rokok," tuturnya. Tintin (35) warga sekitar mengaku, mengatahui kebakaran ketika mendengar teriakan orang-orang yang sudah berada didepan gudang untuk melihat kebakaran. "Saya tahunya ketika api sudah membumbung tinggi. Dan ketika keluar rumah, warga sudah ramai didepan gudang. Meski demikian, tidak ada rumah yang ikut terbakar bersama gudang tersebut.

Tidak berapa lama, beberapa warga masyarakat berinisiatif melaporkan kejadian kebakaran kepada petugas kebakaran Pemkab Karawang dan tak lama kemudian sejumlah kendaraan datang. Petugas kemudian berusaha keras memadamkan api yang mulai membesar. Beberapa kendaraan pemadam kebakaran juga sempat bolak-balik, karena kehabisan air," tuturnya. Menurut Humas gudang penyimpanan limbah yang terbakar, Agung, kejadian tersebut diduga karena percikan api rokok.

"Sebelum kejadian ada anak-anak penjaga gudang sedang main gapleh sambil merokok, sepertinya percikan api rokok mengenai tiner yang ada didalam gudang. Karena tiner sangat mudah terbakar, akhirnya api cepat membesar dan membakar semua isi gudang, termasuk forklip yang ada didalam gudang," ucapnya. Ia mengaku belum bisa menaksir berapa kerugian materi yang diakibatkan oleh si jago merah tersebut. "Pemiliknya sedang berada di Jawa Tengah, dia yang tahu persis berapa jumlah materi yang ada didalam gudang. Mungkin belasan juta rupiah, karena barang yang paling mahal disini hanya forklip dan beberapa drum air tiner, kulen dan ban, " tandasnya.

Sementara itu, Kapolsek Karawang Kota, AKP Dwi Susanto mengatakan, belum mengetahui penyebab terjadinya kebakaran. "Belum pasti apa penyebabnya, tapi diduga berasal dari percikan api yang mengenai barang didalam gudang. Karena barang tersebut ternyata mudah terbakar, akibatnya api mudah sekali membesar. Tapi dari kejadian ini tidak sampai menimbulkan korban jiwa, hanya materi saja. Sesuai dengan laporan yang kami terima, kejadian ini terjadi pada pukul 18.00 WIB, dan sampai pukul 20.30 belum selesai dipadamkan semua. Mengenai keadaan sekitar masih kondusif, meskipun dari kejadian ini masyarakat sekitar tumpah ingin menyaksikan pemadaman api," tuturnya. (psn)

Pansus Tuntaskan Raperda Penyertaan Modal

KARAWANG, RAKA – Paniitia Khusus (Pansus) DPRD yang ditugaskan membahas Raperda tentang penyertaan modal, akhirnya resmi dibubarkan. Pansus ini dianggap telah menuntaskan semua hasil kerjanya seiring disahkannya Raperda ini dalam rapat paripurna, Selasa (1/12) sore.

Sebelumnya, Sekretaris Pansus Tono Bahtiar sempat mengemukakan, bahwa penyertaan modal Pemkab terhadap Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) telah jelas diatur Perda ini yang tinggal menunggu dimasukan dalam lembar daerah. Di sini, awalnya Pemkab mengajukan angka penyertaan modal permanen sebesar Rp 2,660 miliar.

Dari angka total itu, kata Tono, rinciannya adalah Rp 120 juta untuk Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat BKPD Cilamaya, dan Perusahaan Daerah Perkreditan Kecamatan atau PD PK se-Kabupaten Karawang Rp 540 juta. Masing-masing setiap PD PK diberikan jatah penambahan investasi Rp 60 juta. Khusus bagi Bank Jabar Banten Cabang Karawang, menurutnya, diberikan suntikan dana sebesar Rp 2 miliar.

“Pansus pernah mengundang Direktur Bank Jabar Banten cabang Karawang, 10 Nopermber lalu, dalam rapat kerja bersama. Karena kami ingin mensinkronkan pelaksanaan di lapangan nanti terkait penyertaan modal ke bank milik Pemerintah Daerah ini mengenai ketegasan Pemkab yang berorientasi kepada pemberian permodalan bagi ekonomi kerakyatan, peningkatan pendidikan, dan infrastruktur,” ungkap Tono. Dari hasil rapat bersama itu, lanjut Tono, kemudian Pansus berketetapan untuk mempertahankan usulan penyertaan modal yang telah direncanakan sebelumnya oleh eksekutif senilai itu (Rp 2 miliar).

Disampaikan pula oleh Tono, hasil studi banding pihaknya atas nama Pansus ke Kabupaten Bandung dan Kota Bogor memperoleh gambaran di kedua daerah itu, bahwa penyertaan modal mereka hampir sama dengan apa yang dilakukan di Karawang. “Termasuk studi banding ke Kabupaten Pendeglang Banten, kami memperoleh penjelasan dari sana yang intinya sama. Angka akumulatif mereka yang memberikan penyertaan modal hingga Rp 32,5 miliar, devidennya mencapai Rp 6,9 miliar. Jika dirata-ratakan sebesar Rp 6,7 miliar per tahun,” urai Tono.

Lebih lanjut dikatakan dia, Pansus telah pula melakukan rapat kerja lanjutan dengan OPD terkait. Sampai akhirnya disepakati bersama bahwa dari total keseluruhan penyertaan modal Pemkab yang sebelumnya Rp 2,660 miliar ada penambahan lagi sebesar Rp 1,5 miliar. Sehingga menjadi Rp 4,160 miliar. Atas dasar kebijakan bupati, Tono menyebut, penambahan ini dipandang perlu untuk peningkatan ekonomi kerakyatan dengan alokasi yang proporsional dari masing-masing penerima.

“PD BPR BKPD Cilamaya yang tadinya Rp 120 juta menjadi Rp 200 juta. Kalau PD PK tetap diberikan masing-masing Rp 60 juta untuk 9 PD PK yang ada. Bank Jabar Banten cabang Karawang tetap Rp 2 miliar. Ditambah bagi PDAM Rp 500 juta. PDAM diberikan segini karena perusahaan ini mendapatkan tambahan bantuan penyertaan modal dari Pemerintah Pusat hingga Rp 5 miliar.Sehingga total yang bakal diterima PDAM menjadi Rp 5,5 miliar,” pungkas Tono. (vins)

Egi 'Rosten' Petinju Karawang Sabet Medali Emas

KARAWANG, RAKA - Petinju Karawang dari Sasana Brigez Boxing Camp, Egi 'ROsten' berhasil menyabet medali emas di Kerjurnas Boxing Marinir Cup Kelas Bantam melawan petinju JK Jakarta Romi Silahatua, di Bumi Marinir Komplek Marinir Cilandak Jakarta, Senin (30/11) sore. Dalam pertarungan tersebut, Egi berhasil menang RSC, setelah Romi dijatuhkan sebanyak tiga kali dalam tiga ronde.

"Saya sangat senang bisa menyabet medali emas di Kejurnas. Apalagi dalam pertandingan tersebut, saya bisa menang RSC melawan Romi yang dikenal sebagai petinju Boxer. Di ronde pertama, saya terus mencoba membaca teknik bertarung yang ia pakai melawan saya, setelah mempelajari dan mengetahui kelemahannya, saya langsung fight tanpa ampun. Akhirnya setelah dibabak kedua dia saya jatuhkan dua kali, di ronde ketiga melalui pukulan uppercut Romi kembali jatuh. Sesuai dengan aturan tinju amatir, kalau jatuh sebanyak tiga kali, maka pertandingan harus dihentikan," tuturnya, Rabu (2/12) siang.Sementara itu, Manajer sekaligus Pelatih Sasana Brigez Boxing Camp, Torang Panjaitan mengatakan, kesigapan Egi dalam bertarung di Kejurnas adalah salah satu kunci kemenangannya. "Lawan dia kan tinggi dan jangkauan tangganya panjang.

Nah dengan kesigapan dan kecerdikan ditambah keakuratan pukulannya, ia berhasil membuat lawannya sempoyongan dan akhirnya jatuh tiga kali. Ini merupakan prestasi yang patut untuk dibanggakan, karena selain ia orang Karawang asli, ia salah satu petinju yang selalu mendapatkan medali dalam setiap kejuaraan. Sampai saat ini ia berhasil mengumpulkan 5 emas, 3 perak, dan 6 perunggu," katanya.

Setelah memenangkan Kejurnas, Egi berharap, Pemkab Karawang mau melirik potensi petinju lokal. Menurutnya karawang salah satu daerah yang memiliki potensi tinju yang sangat besar. Hal itu terbukti dimana ia sebagai orang asli Karawang berhasil menjuarai Kejurnas. "Saya adalah orang asli Karawang, dan berharap kedepannya akan ada petinju-petinju lokal yang bisa mengangkat nama Karawang diberbagi kejuaraan. Kalau saja, pemerintah mau serius menangani olahraga tinju, saya yakin karawang akan menjadi salah satu daerah yang menjadi kiblat dunia tinju di Indonesia," katanya.

Hal senada diungkapkan oleh Torang Panjaitan, apabila tinju dikembangkan di Karawang, maka sudah dipastikan Karawang akan menjadi daerah yang ditakuti dalam dunia tinju amatir maupun profesional. "Saya melihat bibit muda di Karawang sangat berpotensi untuk menjadi atlet tinju yang berkualitas. Hal itu terbukti dengan lahirnya Egi 'Rosten' sebagai juara Kejurnas di Cilandak. Apabila Pemkab karawang mau mengembangkan dunia tinju, maka saya yakin pasti akan lahir Egi yang lain," tandasnya.

Dalam jangka waktu dekat ini, Torang mengaku akan membidik anak sekolah untuk dijadikan sebagai atlet tinju. Menurutnya, regenarasi adalah sesuatu yang sangat penting untuk keberlangsungan sebuah dunia olahraga. "Kenapa anak sekolah, karena sebetulnya bibit-bibit unggul itu adalah remaja yang terus dipoles untuk dijadikan sebagai atlet yang berkualitas. Namun hal tersebut tetap perlu ada perhatian dari Pemkab Karawang, sebab tanpa adanya
kerjasama dari semua pihak, maka rencana-rencana untuk mengambangkan dunia tinju di Karawang pasti akan sedikit terhambat. Makanya kami menginginkan agar Pemkab Karawang maupun Pertina mau ikut serta dalam peregenerasian atlet tinju di Karawang," katanya. (psn)

LSM Lodaya Karawang: Cukup Sampai Kecamatan

BANYAK kalangan menilai pembuatan KTP hingga ke Badan Kependudukan dan Catatan Sipil (Badukcatpil) dinilai bertele-tele.

Sayangnya, peraturan sudah keburu mengharuskan seperti itu. Padahal, sebelumnya, ketika birokrasi mengurus KTP hanya sampai kecamatan (juga rawan pungli tapi tak membengkak jika harus sampai ke Badukcatpil, red) paling tidak bisa memangkas lamanya waktu mengurus identitas kependudukan itu. Hal itu juga yang diungkapkan Ketua LSM Lodaya Karawang Nace Permana, ketika dimintai komentarnya sebagai lembaga independen, terkait derasnya keluhan masyarakat Karawang terhadap sistem mengurus KTP seperti sekarang.

Pembuatan KTP dan KK yang begitu panjang prosesnya membuat masyarakat semakin sulit. "Dengan kemajuan teknologi sekarang ini, di Karawang bukan tambah simpel tapi tambah rumit. Coba kita bayangkan kalau yang membuat KTP dan KK itu Disdukcatpil, sementara yang memohon pembuatan KTP adalah orang Pakis Jaya. Berapa waktu yang dibutuhkan dan berapa biaya yang dikeluarkan oleh orang tersebut. Birokrasi seakan-akan dibuat ribet. Jadi sementara daerah lain berlomba-lomba memangkas birokrasi, tapi Karawang malah mempersulit dan memperpanjang birokrasi," tuturnya.

Ia melanjutkan, kenapa pembuatan KTP harus ditandatangani di Disdukcatpil, sementara prosesnya harus melalui desa dan kecamatan. "Kami berpendapat, sudah saja dikembalikan seperti dulu. KTP bisa diselesaikan di Kecamatan, bila perlu hal itu sudah menjadi kewenangan desa. Artinya kenapa harus selesai di desa, karena yang tahu persis kependudukan adalah desa. Kalau dalihnya misalkan Disdukcatpik adalah dinas yang membawahi catatan sipil, padahal sementara ini peranan Disdukcatpil dalam menangani DPT tidak pernah selesai.

Mengingat teknologi yang semakin maju, kenapa tidak dengan sistem single ID. Artinya masyarakat cukup punya satu identitas, tapi identitas tersebut bisa berlaku untuk semua kepentingan, seperti kartu jamkesmas atau Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Kalau karawang malah mempersulit dan memperpanjang proses pembutan KTP, maka hal ini seperti di jaman purba," katanya. (psn)

Yuk.. Ikutan Kursus dan Bentuk KBU, Bisa Bikin Hidup Jadi Lebih Bermanfaat, Lho


IKUT kursus lalu bikin kelompok belajar usaha (KBU) itu bisa jadi alternatif lain buat hidup, lho. Apalagi juga saat lowongan kerja mungkin terbatas. "Soalnya dengan ikut kursus, seseorang tidak bakal sulit memperoleh kerja. Apalagi kalau kursus itu sendiri juga sampai di tingkat mahir. Paling tidak kan bisa wiraswasta," kata Didik Hudiana, ST, pengelola Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) 'Cepat Tepat' Karawang.

Kata Didik ditemani staf Didin Komarudin, staf Arifin, ST dan Amar saat ditemui Gen-X di sekretariatnya, Jalan Dewi Sartika, Karawang Kota, Rabu (2/11), lewat dunia kursus seseorang bakal punya keterampilan khusus. 'Apalagi kalau kemudian juga bikin KBU. Insya Allah malah lebih menjanjikan," katanya. Ya. Testi Didik soal kursus plus KBU itu mungkin nggak salah. Sebab buat seseorang yang punya keterampilan khusus misal seorang montir sepeda motor. Biar cuma modal kunci-kunci, obeng dan tang, dijamin udah pasti bisa menjual jasa perbaikan kendaraan yang rusak. Demikian juga soal KBU.

Khusus KBU ini malah juga nggak sebatas modal keterampilan, tuh. Sesuai program pemerintah yang di antaranya jadi penanganan pihak Disdikpora Bidang PNFI (Pendidikan Non Formal Informal), buat kelompok ini juga ada bantuan modal, deh. Malah kayak yang diakui Didik, juga dari USAID. "Buat bantuan USAID ini alhamdulillah. Kelompok anak-anak kursus kita (PKBM Cepat Tepat-red) malah sampai sekarang di antaranya jadi lebih berkembang," kata Didik.

Soal KBU yang dimaksud Didik emang dibenerin para armadanya. Kayak diakui Asep Sumarna dari 'KBU Mekarjaya Motor' di Pangkalan, doi malah bisa ngoordinir teman-temannya. Biar di daerahnya masih belum ada penerangan listrik, tapi perbengkelan yang dikelolanya bisa tetap eksis. "Soalnya kan ada mesin jenset dari bantuan itu," kata Asep kayak disampein Didik.

Hal senada juga diakui M. Kosim, Ketua KBU 'Budi Utomo' di Desa Cibadak Rawamerta, Fajar Setiawan 'KBU TS Motor' di Karawang Barat, Jaja A. Suryana 'KBU Brother Motor' Club di Lemahsubur Tempuran, A. Taufik 'KBU Mandiri Motor' di Krasak Cilamaya, Eming Umar dari 'KBU Remnas Motor' di Cibuaya, Ade Sasmita 'KBU Dhenk's Motor' di Telagasari, M. Ishak KBU di Rawamerta.

Di KBU yang khusus menangani bidang otomotif ini, dari keseluruhannya yang cuma enam kelompok ini bisa merekrut 20 orang anggota. Dan kecuali jadi lebih bisa hidup, pun nggak sedikit di antaranya yang bisa dicetak jadi tenaga perbengkelan yang bisa lolos di seleksi buat kerja di luar negeri. "Memang adsa yang bisa begitu, seperti di KBU-nya Asep Sumarna di Pangkalan itu," Didin Komarudin turut kasih penjelasan.

Konon dari dana bantuan USAID yang lewat PKBM Cepat Tepat ini, para pengurus KBU ini sebelumnya dikasih pelatihan otomotif. Hal ini jadi langkah nyata di program yang dianggap baik plus relevan buat menghadapi krisis global sekarang ini. Ini juga jadi solusi buat memberdayakan masyarakat kurang mampu dan putus sekolah melalui life skill otomotif. "Di KBU memang umumnya buat yang, katakanlah di soal kerja mngkin kurang beruntung. Tapi seperti yang terjadi kan insya Allah jadi lebih beruntung," tambah Didin lagi. (dea wahyudi)

Konpercab PDIP Subang, Eep-Ojang Tarung ?

SUBANG, RAKA - Dalam perebutan tapuk pimpinan di Dewan Pengurus Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Subang, Bupati subang yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Subang Eep Hidayat, kemungkinan akan bertarung dengan Wakil Bupati Subang Ojang Sohandi.
Sinyalemen tersebut tampak dari merebaknya berbagai kabar di kalangan para kader partai, dimana sebelumnya, pada Minggu (29/11) Ketua DPC PDI Perjuangan Eep Hidayat telah mengumpulkan para pengurus partai di tingkat kecamatan (Pengurus Anak Cabang).

“Saat itu yang dibahas adalah tentang kemungkinan Eep Hidayat untuk maju kembali sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Subang. Di dalam rapat tersebut, berdasarkan informasi yang saya dapat juga, terkait dengan tata cara pengusungan, yang mana nantinya akan dikondisikan untuk memunculkan satu nama di tiap PAC,” ungkap Dede Warman, pengurus PAC PDIP Subang.

Selain itu, saat ini juga beredar kabar jika para pengurus anak cabang partai berlambang banteng moncong putih tersebut akan memunculkan calon yang berasal dari ketua PAC, dan nama-nama yang muncul saat ini, diantaranya Aip Saepurrohman dan Ating Rusnatim.
Sementara dukungan terhadap Ojang Sohandi muncul dari organisasi sayap partai, Repdem (Relawan Perjuangan Demokrasi). Sekretaris DPC Repdem Kabupaten Subang Eko W Lesmana, menyatakan, organisasi tersebut mendukung munculnya Ojang Sohandi sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Subang.

“Dukungan ini bukan asal cuap saja, sebab kami sudah intruksikan kepada anggota Repdem yang menjadi pengurus di PAC-PAC partai untuk mengusulkan nama tersebut dalam rapat kerja di PAC-PAC, sehingga akan muncul nama Ojang Sohandi dalam rapat Konfercab di DPC PDI Perjuangan Kabupaten Subang,” tegas Eko. Memunculkan nama Ojang juga, tambah Eko, bukan tanpa alasan. Menurut Eko, birokrat yang saat ini menjadi Wakil Bupati Subang tersebut merupakan salah satu orang yang bisa besar dari PDI Perjuangan dan merupakan kewajiban dirinya untuk membesarkan partai di Kabupaten Subang.

“Sudah saatnya Ojang membesarkan partai, walaupun dia berasal dari birokrat, namun tidak menutup kemungkinan bagi dirinya untuk masuk ke partai politik. Bisa dikatakan sudah kadung terjun, tinggal berenangnya, dan ini merupakan kesempatan bagi Ojang untuk mengabdi kepada partai politik yang sudah membesarkan dirinya,” imbuhnya.

Selain nama-nama tersebut, nama Atin Supriatin yang saat ini masih menjabat sebagai Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Subang juga muncul kepermukaan untuk menjadi ketua DPC, sementara nama Nining W Suherman, yang saat ini menjadi salah seorang pengurus di DPC PDI Perjuangan muncul menjadi calon Sekretaris DPC PDI Perjuangan.

“Siapapun yang nantinya menjadi ketua DPC PDI perjuangan Kabupaten Subang, kami akan mengusung Nining W SUherman untuk menjadi Sekretaris DPC PDI Perjuangan. Karena selain merupakan salah seorang tokoh politik yang turut berjuang sejak lama, ia memiliki kualifikasi untuk menempati jabatan tersebut,” ungkap Dede Warman yang saat ini menjadi pengurus di PAC Subang.

Hiruk pikuk pemilihan ketua DPC PDI Perjuangan di Kabupaten Subang tersebut akan menemui kepastian pada bulan Januari 2010, karena rencananya Konferensi Cabang akan dilaksanakan pada bulan tersebut. “Namun segala sesuatunya terkait dengan kegiatan pemilihan ketua DPC PDIP Kabupaten Subang, akan dibahas pada rapat DPC yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 5 Desember yang akan datang,” ungkap Ketua PAC PDI Perjuangan Kecamatan Purwadadi saat dihubungi melalui telepon genggamnya. (eko)

Dua Tewas, Empat Luka Berat, Truk Grup Sisingaan Ditubruk Mobil Boks

DIEVAKUASI: Truk pengangkut grup sisingaan asal Indramayu tengah dievakuasi warga Dusun Kubang Jaran, Desa Karanganyar, Kecamatan Pusakajaya, Rabu (2/12) pagi. Kendaraan tersebut menabrak rumah setelah diseruduk dari bagian belakang oleh mobil boks.

SUBANG, RAKA – Dua orang tewas di tempat, 4 orang luka berat dan 13 lainnya luka ringan, saat truk pengangkut rombongan sisingaan dihantam oleh mobil boks di Dusun Kubang Jaran, Desa Karanganyar, Kecamatan Pusakajaya, Rabu (2/12), sekitar pukul 06.30 Wib.

Berdasarkan keterangan yang didapat RAKA di lokasi kejadian, mobil truk diesel bermesin Hyundai bernopol E 8644 AQ, yang mengangkut rombongan personil Group Kesenian Sisingaan berhenti tepat di depan rumah makan Uun, atau di sebelah kiri jalan.

Namun, tiba-tiba dari arah belakang muncul mobil boks Toyota Dyna bernopol H 1396 AQ yang dikemudikan Diman (47), warga Desa Manyaran, Kecamatan Semarang Barat, Semarang, Jawa Tengah, yang saat itu hendak menyalip dari arah kiri, karena di depanya ada truk gandengan. Kecelakaan maut itu pun akhirnya tidak dapat dihindari, dan truk itu oleng lalu menabrak pagar rumah milik warga. Sementara sebagian besar penumpang truk yang merupakan seniman Sisingaan tersebut langsung jatuh terpental.

Namun naas bagi Wasmad bin Tarmidi (32) dan Dalil (17), warga Dusun Jenaka, RT 03 RW 01, Desa Sumuradem Timur, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu, yang saat itu berada di belakang truk yang mengambil posisi duduk di atas peralatan sound system sisingaan. Keduanya tergencet diantara peralatan dengan kabin depan mobil boks, hingga keduanya tewas seketika di lokasi kejadian.

Sementara korban lainnya, mengalami luka berat dan ringan. Oleh petugas yang dibantu warga, semuanya langsung dievakuasi ke Puskesmas Pusakanagara. Dari luka berat, tercatat ada empat orang, yakni Rasa (35), Sobirin (19), Abdullah (30) dan Udi (30). Setelah dilakukan pemeriksaan medis, karena keempatnya mengalami luka serius, langsung di rujuk ke dua rumah sakit berbeda, yakni RSUD Ciereng Subang, dan RSUD MA Sentot Patrol.

Sementara korban luka ringan, yang semuanya berjumlah 13 orang, langsung dibawa pulang oleh keluarganya, setelah mendapatkan penanganan medis. Baik korban tewas maupun luka-luka, semuanya berasal dari Dusun Jenaka, RT 03 RW 01, Desa Sumuradem Timur, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu. Kepada RAKA, pengemudi mobil boks, Damin, saat ditemui di Mapolsek Pusakanagara mengatakan, dirinya mengaku tidak tahu, kalau ada truk yang mengangkut rombongan group gotong singa tengah berhenti dijalan sebelah kiri.

“Saya kaget, saat hendak menyalip dari arah kiri, tiba-tiba ada mobil yang berhenti di ruas jalan yang akan saya lewati. Karena posisinya sudah sangat berdekatan, saya tidak sempat menginjak rem, truk itu berhenti dengan mengambil badan jalan,” ujar Diman sambil memegang kepalanya yang luka, akibat dikeroyok oleh sejumlah personil group sisingaan yang selamat.

Kecelakaan maut itu bermula ketika rombongan seni gotong singa “Karya Muda” yang bertempat di Desa Sumuradem mendapat order untuk mengarak anak yang akan dikhitan di daerah Kalijati Kabupaten Subang, Rabu (2/12). Rencananya, acara tersebut akan dilaksanakan pada pukul 10.00 Wib. Guna memenuhi undangan tersebut, sejumlah personel diberangkatkan dengan menggunakan truk E 8644 AQ yang dikemudiakan Tinggal (41), warga Kelurahan Karanganyar, Subang. Seperti biasanya, personel seni gotong singa itu harus menaiki kendaraan disatukan dengan peralatan seni yang terdiri dari alat musik, sound system dan seperangkat sisingaan.

Akibat hal itu, mereka harus duduk berhimpitan di pinggiran truk, dan bahkan sebagaian lagi berdiri dengan posisi yang kaki yang tidak seimbang.Rombongan mereka berangkat dari kampung halaman mereka sekitar pukul 06.00 WIB. Namun sesampainya di Jalan Raya Pantura di Desa Karanganyar Pusakajaya, sopir truk menghentikan kendaraannya secara mendadak untuk menepi. Pada saat bersamaan, dari arah belakang melaju mobil boks H 1396 SY yang dikemudikan Diman.

“Awalnya mobil boks itu melaju di lajur kanan. Karena didepannya ada truk yang berjalan sangat lamban, mobil itu kemudian pindah ke lajur kiri dan langsung menghantam truk yang kami tunggangi,” ujar Sobirin, salah seorang korban luka-luka, ketika ditemui di Puskemas Pusakajaya. Menurut Sobirin, ketika itu terjadi benturan sangat keras, karena kerasnya, truk yang sudah berhenti langsung terlonjak sehingga menghantam pagar rumah milik warga setempat. Bahkan, tambah Sobirin, sejumlah rekannya yang duduk di bagian belakang truk langsung terjatuh ke badan jalan dan terlindas mobil boks.

“Saya juga ikut terjatuh, tapi tidak sampai terlidas mobil lain, tadi saya sempat tak sadarkan diri beberapa menit. Ketika sadar, saya sudah dirawat di Puskmas Pusakajaya,” jelas Sobirin yang menderita patah tulang bahu tersebut. Sementara itu, salah seorang petugas medis Puskesmas mangatakan, pada umumnya korban menderita luka di kepala dan mengalami patah tulang. Diduga kuat, dua korban yang tewas tegencet badan kendaraan karena sejumlah tulang-tulangnya diketahui dalam kondisi remuk.

“Karena keterbatasan fasilatas medis di sini, korban luka berat kami rujuk ke RSUD Ciereng dan RS MH, Sentot. Sementara korban yang mengalai luka ringan sudah pada pulang,” ujarnya.
Kini, kasus kecelakaan lalulintas yang merenggut dua nyawa di lokasi kejadian itu, ditangani oleh unit lakalantas Polres Subang. Sementara, kedua kendaraan beserta sopirnya kini diamankan guna menjalani pemeriksaan dan penyelidikan lebih lanjut. (eko)

Pasar Panjang Yang Akan Direlokasi

AKAN DIPINDAHKAN: Salah satu pojok Pasar Panjang atau Ka mpung Usaha Gotong Royong, di Jalan Sutaatmaja, Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Subang, yang akan direlokasi. Namun para pedagang di pasar tersebut menyatakan enggan direlokasi ke Pasar Baru dengan alasan jarang dikunjungi pembeli. (pir)

Kadin Bina Marga Kabupaten Subang Ancam Pemborong Nakal

SUBANG, RAKA – Kepala Bidang Bina Marga Dinas Bina Marga Kabupaten Subang Dedeh mengatakan, pekerjaan jalan rigid yang ada di Dusun Keboncau, Desa Ciasem Baru, Kecamatan Ciasem yang tidak dilakukan penggilingan dalam pekerjaan lavelingnya tidak menjadi masalah.

“Pekerjaan rigid tidak dilakukan penggilingan dalam laveling enggak apa-apa karena nanti juga akan tertutup adonan coran akan semakin kuat,” kata Dedeh didamping Kasi Perencanaan Bina Marga Subang Wakijo kepada RAKA, Rabu (2/12), di ruang Rapat Dinas Bina Marga Kabupaten Subang.

Sayangnya, pada saat Dedeh ditanya mengenai teknis pekerjaan laveling yang bersangkutan tidak memberikan komentar dan bahkan dia bersikukuh bahwa pekerjaan rigid tanpa dilakukan pemadatan tidak menjadi masalah, karena hal itu pihak kontraktor akan merugi dengan mengeluarkan lebih banyak volume adonan coran.

Disayangkan pula, Dedeh tidak dapat melanjutkan komentarnya dan dia meminta ijin untuk kembali ke ruangannya karena banyak pekerjaan dan ada sejumlah tamu yang menunggunya. Namun begitu, menurut Kasi Perencanaan Wakijo, pekerjaan jalan rigid dalam lavelingnya tidak dilakukan pemadatan tidak menjadi soal bahwa akan menguatkan landasan bawah jalan karena akan terisi oleh adonan coran. “Kontraktor tidak melakukan pemadatan laveling tidak apa-apa, setidaknya kontraktor akan kecolongan dengan volume adonan coran, karena adonan coran tersebut akan masuk ke sela-sela laveling yang kemudian menguatkan laveling itu,” ujar Wakijo.

Sementara menurut Kepala Dinas Bina Marga Kabupaten Subang H Umar mengancam tidak akan memberikan sisa dana proyek yang 5 persen apabila sejumlah kontraktor termasuk kontraktor yang mengerjakan jalan rigid di Dusun Keboncau, Desa Ciasembaru, Kecamatan Ciasem, yang tidak mau memenuhi atau melakukan perbaikan/perawatan dalam pekerjaannya. “Apabila kontraktor tidak melakukan perbaikan/perawatan pada pekerjaannya selain dana yang 5 persen tidak akan diberikan juga pekerjaannya akan dikerjakan oleh petugas Bina Marga,” ancam Umar. (pir)

Para Pedagang Subang Tolak Direlokasi, Rencana Pemindahan Pedagang Pasar Panjang Ditolak

SUBANG, RAKA – Rencana Pemkab Subang untuk merelokasi pedagang Pasar Panjang, sepertinya akan mendapatkan perlawanan. Pasalanya, mereka menolak untuk pindah ke lokasi Pasar Baru karena di Pasar Baru mereka akan menemui kerugian yang cukup besar.

Seperti halnya dikatakan sejumlah warga Pasar Panjang atau sesuai dengan yang tercantum dalam papan nama yang terpasang di lokasi pasar bahwa pasar tersebut bernama Kampung Usaha Gotong Royong, Jalan Sutaatmaja Subang Kelurahan Karanganyar Kecamatan Subang.

Warga pasar tersebut mengaku meskipun gratis mereka tidak mau untuk direlokasi ke pasar baru, alasannya di pasar baru dagangannya tidak akan laku sehingga selalu menelan kerugian. Akibat berjualan di pasar baru yang selalu menelan kerugian karena tidak adanya pengunjung yang berbelanja mereka rela untuk melepas TV, motor dan bahkan menjual rumah untuk tambahan modal. Untuk itu, apabila Pemkab Subang menginginkan mereka pindah ke pasar baru dan apabila terjadi yang kedua kalinya mereka menelan kerugian.

Karenanya, para pedagang meminta agar Pemkab Subang mesti mengganti modal yang telah mereka keluarkan. Menurut sejumlah pedagang yang enggan disebutkan namanya, di lokasi pasar panjang mereka selalu mengantongi hasil yang cukup lumayan apabila dibandingkan dengan berjualan di pasar baru, tiba-tiba harus pindah kepasar baru yang membuatnya sial. “Meskipun kami disuruh pindah ke pasar baru tanpa dipungut biaya kios tetap saja kami tidak akan mau pindah, kecuali atas seijin Ketua Koperasi Pasar ini,” ujar sejumlah warga Pasar Panjang yang berhasil dikonfirmasi RAKA, Rabu (2/12), di lokasi dagangnya.

Sementara menurut seorang pedaganga bernama Iyuh, dirinya pindah ke pasar panjang sekitar dua bukan yang lalu bukan karena dagangannya tidak laku, namun dirinya pindah ke pasar panjang karena di lokasi pasar baru dirinya selalu dirundung malang dengan menderita penyakit di kepala dan kedua tangannya busuk. Namun anehnya, aku Iyuh, penyakit di kepala dan kedua tangannya bisa sembuh setelah pindah ke pasar panjang. “Saya pindah ke pasar panjang ini bukan karena rugi atau tidak laku, namun modal saya yang jumlahnya puluhan juta habis untuk berobat, makanya dari pada sial terus saya pindah ke sini. Alhamdulilah setelah di sini penyakit sembuh dagangan saya laku lagi,” akunya.

Ketua Koperasi Kampung Usaha Gotong Royong Rusli Effendi didampingi wakilnya, Awang Ramlan, bersikukuh tidak akan merelokasi pedagang pasar tersebut, sebab kehidupan mereka berada di lokasi pasar ini dan yang perlu dicatat oleh Pemkab Subang bahwa lokasi pasar ini tanahnya milik koperasi, untuk itu pemkab Subang tidak berhak untuk mengusir warga pasar tersebut.

Jika Pemkab Subang bersikukuh akan merelokasi warga pasar tersebut,menurutnya, yang bersangkutan tidak akan tinggal diam, secara husus kepada Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pasar (Indagsar) Subang, mestinya konfirmasi dulu kepadanya sebelum melakukan rencana atau akan memaksa merelokasi warga pasar. “Apa haknya Pemkab Subang akan merelokasi warga pasar di sini dan kenapa Indagsar akan merelokasi warga pasar di sini. Ini tanah kami, apapun kegiatan kami di sini tidak melanggar hukum dan bahkan kegiatan kami di sini sifatnya untuk peningkatan ekonomi rakyat, mohon dicatat saja, ini tanah kami,” tandasnya. (pir)

250 Pecatur Sejabar Uji Kemampuan di Purwakarta

PURWAKARTA, RAKA - Sebanyak 250 pecatur dari seluruh kota/kabupaten di Jabar dipastikan akan membanjiri Purwakarta. Mereka akan mengikuti lomba pada babak prakualifikasi Porda/XI, cabang olahraga yang akan di gelar di Sadang Terminal Square (STS), Purwakarta tanggal 17 - 24 Desember mendatang.

Ketua Umum Pengda Percasi Jabar, H. Syafik Umar yang ditemui RAKA saat kunjungannya melakukan kesiapan lokasi yang akan dijadikan tempat pertandingan babak prakualifikasi Rabu (2/12) kemarin, mengatakan babak prakualifikasi Porda/XI cabang olah raga catur rencananya akan diikuti oleh 250 peserta sejabar.

Menurutnya, babak prakualifikasi ini juga merupakan yang pertama kali dilaksanakan. Sehingga ia berharap olahraga catur menjadi salah satu cabor yang diperhitungkan dalam Porda mendatang. "Sesuai rencana ada 250 atlit catur yang nantinya akan bertanding. Kami harap nantinya olah raga ini pun dapat diperhitungkan, "kata Syafik. Syafik, yang juga merupakan Dirut harian umum Pikiran Rakyat ini menyatakan bahwa perlombaan catur yang diselenggarakan di kota berjuluk kota santri ini secara otomatis akan memiliki nilai tambah bagi Kab Purwakarta.

Mengingat, kontingen atlit yang berasal dari 26 kabupaten/kota sejabar itu akan bermukim di Purwakarta selama pertandingan. Hanya saja, sambung dia, kunjungannya yang didampingi Ketua Harian Pengda Percasi Jabar, H.M. Ridlo Eisy, Sekretaris Pengda, H. Herman Saputra dan Kepala Sekretariat Pengda Percasi, Solihin Samad, mengaku kecewa. Pasalnya, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi SH yang rencananya akan menerima kunjungan itu tidak bisa hadir lantaran ada keperluan mendadak.

"Saya sangat menyesalkan bupati yang seakan tidak mau menerima kedatangan kami. Padahal ajang ini sebenarnya memiliki nilai tambah bagi Purwakarta. Karena para atlit catur bisa mengenal kab Purwakarta,"sesalnya. Dengan demikian, menurutnya sangat disesalkan ketidakhadiran Bupati dalam menerima rombongan pengurus Percasi Jabar. Meski akhirnya rombongan pengurus Percasi Jabar itu di terima oleh Sekda Kabupaten Purwakarta, H. Hamim Mulyana.

Sementara itu, Ketua Harian Pengda Percasi Jabar, H.M. Ridlo Eisy, menurutnya, babak prakualifikasi cabang olahraga catur Porda /XI di Kabupaten Purwakarta ini merupakan pertama kalinya cabor ini melaksanakan babak prakualifikasi menjelang Porda sehingga perlu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Diakuinya, sekarang ini catur merupakan salah satu di antara enam cabor lainnya yang masuk kedalam kategori olahraga super prioritas karena dengan berbagai prestasi yang telah diraih olahraga yang mengandalkan kemampuan berpikir ini.

"Jawa Barat sekarang ini boleh dikatakannya sebagai gudangnya atlet catur. Karena dari daerah ini telah lahir sejumlah pecatur handal seperti Susanto Megaranto, Irene Sukendar dan lainnya," tandas Ridlo seraya mengakui dengan komposisi jumlah penduduk di Jabar jumlah sekolah catur yang memiliki kualitas sangat terbatas. Dalam kesempatan tersebut, Ridlo Eisy mengatakan dalam babak prakulifikasi ini pengurus cabang dapat mengirimkan lebih dari 5 orang peserta putera dan 4 puteri untuk kelompok perorangan dan lima orang untuk beregu. (ton)

Satpol PP Bidik Usaha Rumah Kos Dikawasan Kecamatan Bungursari

PURWAKARTA, RAKA - Setelah menertibkan sejumlah warung remang-remang dikawasan kecamatan Bungursari, agaknya penertiban yang dilakukan satpol PP tidak berhenti sampai disitu. Satuan polisi pamong praja itu kini mulai membidik usaha kos-kosan yang saat ini menjamur luas di Purwakarta.

Berdasarkan sumber RAKA aksi bidik usaha kos-kosan tersebut terpicu adanya informasi bahwa rumah kos-kosan di Purwakarta sudah mulai beralih fungsi menjadi ajang prostitusi. Terlebih selama ini tempat tersebut jarang disentuh operasi penyakit masyarakat (pekat).

Hal itu diungkapkan Kepala Bagian Operasi (Kabagops) Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemkab Purwakarta Adang B Subekti saat menanggapi dibongkarnya puluhan warung remang-remang (warem) di sejumlah tempat seperti kawasan Rawasalem, Cilodong dan Cibitung Kecamatan Bungursari. "Kemungkinan saja, mereka yang tidak memiliki tempat mangkal melakukan pekerjaan secara terselubung seperti di kos-kosan. Sehingga penertiban berikutnya akan kita lakukan kesejumlah tempat kos,"kata Adang.

Dalam rajia itu, lanjut Adang rencananya akan disatukan dengan razia yustisi bekerja sama dengan sama dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Purwakarta dan melibatkan penyidik dari Polres Purwakarta sebagai Koordinator Pengawas (Korwas) pekat.
Adang menjelaskan, dilibatkannya penyidik dalam operasi itu untuk menindak tegas para PSK yang telah masuk dalam pendataan hasil kegiatan operasi sebelumnya. Para PSK yang berulang kali terjaring operasi akan berhadapan dengan proses hukum.

“Mereka sebelumnya menandatangani surat perjanjian akan kembali ke kampung halamannya masing-masing dan tidak kembali menggeluti dunia prostitusi,” ujarnya. Sekedar mengulas, selama ini, Satpol PP Pemkab Purwakarta tengah gencar melakukan berbagai macam kegiatan pemberantasan pekat guna menegakkan Peraturan Daerah (Perda) No 13 Tahun 2008 tentang Anti Maksiat. Bahkan belum lama ini, selain melakukan rajia sejumlah PSK yang mangkal disejumlah tempat. pembongkaran belasan warung remang-remang juga telah dilakukan. (rif)

Kualitas Sapi dan Domba Purwakarta Diakui

PURWAKARTA, RAKA - Festival patok yang diikuti Disnakan beberapa waktu lalu, akhirnya membuktikan jika hasil peternakan sapi dan domba di Purwakarta memiliki kualitas yang baik. Sapi dan domba milik kelompok Peternakan Jaya Laksana ini didaulat menjadi Juara nasional pada kejuaraan Sapi dan Domba festival patok.

Kepala Dinas Petrnakan dan Perikanan Kab. Purwakarta mengatakan salah satu kelompok peternakan asal Purwakarta diaulat menjadi juara I nasional pada kejuaraan sapi dan jura 2 nasional kejuaraan domba. "Festipal patok yang diselenggarakan pemerintah di Kota Depok menyelenggarakan berbagai kegiatan. Seperti kejuaraan sapi dan domba, memamerkan hasil-hasil peternakan dan produk hasil olahan peternakan seperti dendeng, abon ikan nila serta kejuaraan hewan seperti sapi dan domba.

Berdasarkan kriteria penilaian yang di lihat dari segi keberesihan, tekhnologi, kesehatan, perawatan dan lingkungan Sapi milik kelompok Jaya Laksana di daulat menjadi juara 1 tingkat nasional, begitupun dengan domba milik kelompok yang sama berhasil menjadi juara II tingkat nasional," ujarnya. Menurut Herry Herawan, selama ini pihaknya selalu melakukan pencegahan dan antisipasi terjadinya penyakit pada hewan seperti sapi dan ternak lainnya melalui Pusat kesehatan hewan (Puskeswan).

"Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada semua hewan yang ada di Purwakarta, kami memiliki program kegiatan di bidang pencegahan penyakit hewan, dan salah satu sarana yang kami optimalkan adalah Puskeswan. Ditempat ini kami melakukan berbagai kegiatan pencegahan seperti memberikan pelayanan pemeriksaan kesehatan, pelayanan kesehatan kebuntingan hewan beranak seperti domba, kambing dan sapi, melakukan inseminasi buatan (IB) atau melakukan perkawinan suntik," ujarnya.

Dikatakannya, pencegahan penyakit hewan melalui Puskeswan di nilai sangat baik, banyak permasalahan yang berkaitan dengan kesehatan hewan dapat di antisipasi dengan cepat, sehingga Kabupaten Purwakarta terbebas dari berbagai penyakit hewan yang membahayakan. "Pelayanan kesehatan di Puskeswan di nilai sangat efektik, dengan berbagai kegiatan di Puskeswan alhamdulillah sampi saat ini Kabupten Purwkarta terbebas dari berbagai penyakit yang membahayakan.

Di antara penyakit yang saat ini di takuti yakni penyakit Flu Burung dan Flu Babi, karena dampak dari penyakit ini bisa langsung menghilangkan nyawa orang,'' terangnya. Herry berharap, kesehatan dapat di ciptakan dengan menjaga pola hidup bersih, jika semua orang memahami pola hidup sehat dengan menjaga keberesihan dilingkungannya maka penyakit seperti untuk flu Babi dapat terantisipasi. Sedangkan mayoritas masyarakat Purwakarta sendiri tidak mengkonsumsi daging babi, bahkan masyarakat Purwakarta tidak memiliki peternakan babi.

"Sebenarnya pencegahan penyakit yang berasal dari hewan dapat di jaga dengan baik oleh siapapun. Dengan selalu menjaga pola hidup bersih dan senantiasa menjaga lingkungan tetap sehat insyallah akan terhindar dari berbagai penyakit. Namun sebagai institusi pemerintah kami akan selalu melakukan upaya pencegahan penyakit hewan dengan program yang sudah ada, selain untuk pencegahan penyakit, Puskeswan juga mendukung Program program percepatan Swasembada daging sapi (P2SDS) karena Purwakarta menjadi salah satu daerah pengembang daging sapi," imbuhnya. (sep)

Ustad Al Hasby Tausyiah di SMA PGRI 3 Purwakarta

SMA PGRI 3 Purwakarta bakal kedatangan ustad Ahmad Al-Habsy pada Sabtu (4/12) mendatang. Kedatangan Al Hasby, terkait tausyiah bersama siswa dan guru di sekolah tersebut. Selain memberikan pengarahan moral untuk peningkatan ahlak siswa.

Kepala Sekolah SMA PGRI 3 Purwakarta, Drs Oma Karsoma, mengatakan kegiatan itu akan diikuti tak kurang dari 500 siswa terdiri kelas I, II, dan III. Sesuai rencana, acara yang dimotori Telkomsel itu akan difokuskan dengan tema peningkatan ahlak siswa dalam menyongsong masa depan. "Tausiah diharapkan mampu menjernihkan perilaku para siswa siswi SMA PGRI 3. Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan memupuk siswa PGRI 3 agar terus eksis dan menghasilkan lulusan yang berguna bagi nusa dan bangsa," kata Oma Karsoma, kepada RAKA baru-baru ini.

Dilanjutkan dia, Tausiah yang sedianya menata hati menuju insan Rabbani tersebut juga dilangsungkan dalam rangka memberikan pengetahuan Islam dalam mengisi momen Idul Adha 1430 H. Rencananya, kegiatan akan dilangsungkan mulai pukul 08.00 hingga menjelang salat zuhur (12.30) WIB, diisi dengan berbagai siraman rohani. "Pada intinya ini pun sebagai upaya untuk lebih memperkenalkan ajaran Islam di kalangan peserta didik yang juga sebagai calon generasi penerus bangsa, sehingga meningkat pemahaman, penghayatan, dan pengamatan nilai-nilai keislamannya secara benar dan kaffah menuju generasi muda unggul dan berkualitas," ujar Oma.

Dra Erliana A, staf pengajar SMA PGR 3 Purwakarta, menambahkan, kegiatan ini sebagai ajang memperbaiki diri. " Banyak pengetahuan ke-Islaman yang belum begitu dipahami secara mendalam. Karenanya, kesempatan ini akan sangat baik untuk diikuti siswa sebagai media untuk meningkatkan pengetahuan agama," tuturnya. (rif)

Sate maranggi Plered

SATE maranggi khas Plered dibuat dengan menggunakan bahan daging sapi atau kambing. Tidak beda dengan sate lainnya, olahan masakan sate Plered juga masih menggunakan tusuk kayu dan arang sebagai pembakar.

Namun, yang membuatnya berbeda dengan sate lain adalah bumbunya. Yakni berupa campuran garam dan gula merah. Setelah dicampur bumbu, sate baru dibakar. Biasanya, sate disantap dengan kacang atau kecap yang dicampur irisan bawang dan cabe. Meski kesannya sederhana, rasanya dijamin tidak terlupakan.

Seporsi sate maranggi yang terdiri dari 10 tusuk dijual seharga Rp 8.000, sedangkan teman makan sate seperti sebungkus nasi timbel dijual seharga Rp.2000, lalu ketan bakar seharga Rp.1500 kemudian semangkuk sayur sop kambing yang ditawarkan seharga Rp.6000. "Rasanya beda dengan sate lain, sate ini lebih gurih dan empuk,"ujar Gita Rahmanda (21) ketika menikmati Sate Plered dikedai sate Mang Ujang disekitar lingkungan Stasiun Plered.

Saat ini, makanan Sate Plered banyak bisa didapat disekitar jalur Purwakarta-Bandung. Di jalur itu kedai para penjual sate tampak berdiri berjejer menawarkan dagangannya. Biasanya, kedai pedagang akan buka sekitar pagi hari dan tutup menjelang tengah malam. Dan saat akhir pekan kedai sate akan banyak disambangi pencinta sate.

"Pembeli biasanya akan ramai pada akhir pekan atau hari libur, bila sedang ramai kita bisa tutup lebih awal,"kata Ujang. Jadi, bagi anda yang ingin merasakan tantangan baru soal makanan, menu khas sate maranggi plered bisa jadi pilihan. Selain harganya terjangkau makanan ini pun tak sulit didapat. Selamat mencoba. (rif)

NumberOfComments

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 
 
 
 
Copyright © Subang Raya
Design by Eko Subang