Sabtu, 05 September 2009

Rehab Saluran Cemara di Desa Cemara Jaya Kecamatan Cibuaya, Dinilai Janggal

TANPA ALAT BERAT: Pengerjaan rehab saluran tambak di Desa Cemarajaya Kecamatan Cibuaya dilaksanakan secara padat karya, tanpa menggunakan alat-alat berat. Berbagai pihak meragukan hasil pengerjaan proyek ini akan sesuai sasaran yang diharapkan. Yakni lancarnya pasokan air untuk para petani tambak di kawasan ini. Karena tingkat pendangkalan yang parah, pengerukan dengan alat berat sangat diperlukan.

CIBUAYA, RAKA - Proyek rehabilitasi prasarana jaringan tambak dan normalisasi saluran Cemara di Desa Cemara Jaya, Kecamatan Cibuaya mulai berjalan setelah sebelumnya dikabarkan mandek.

Namun yang terasa janggal dan banyak disayangkan beberapa kalangan, pengerjaan proyek pengerukan saluran malah dikerjakan secara manual. Padahal menurut sebuah sumber, proyek tersebut merupakan proyek yang menggunakan dana hingga millyaran rupiah. Masyarakat setempat terutama para petani tambak menilai pengerjaan rehabilitasi saluran itu terkesan memaksakan dan tidak akan banyak membawa pengaruh besar terhadap pengairan para petambak.

Padahal pengajuan proyek dengan menggunakan dana yang cukup besar itu intinya ditujukan untuk membantu masyarakat khususnya para petambak yang sangat tergantung dengan kondisi saluran. Keluhan itu misalnya seprti diungkapkaan warga Cemara I, Desa Cemara Jaya, Kecamatan Cibuaya, Youn san (45) Kepada RAKA, Jumat (5/8) kemarin. Menurutnya, Departeman Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumber Daya Air telah melakukan banyak kesalahan pada pengerjaan proyek ini. Sebelumnya, pihak penanggungjawab telah mengingkari janji. Karena, seharusnya proyek sudah berjalan pada Juni 2009 lalu.

"Namun, setelah dikabarkan beberapa kali, proyek baru dilaksanakan sekarang ini. Bahkan, sebelumnya ketua LSM HMNK, Supriatna telah mengeluarkan pendapat bahwa telah terjadi penyelewengan pada pembelian material yang telah didatangkan sebelumnya. Akibatnya, kini pengadaan material langsung dikontrol oleh HMNK, sebagai fasilitator antara masyarakat dan penanggungjawab proyek, karena kekeliruan sebelumnya.

Saat ini, menurutnya, pekerjaan yang bersumber dari dana Stimulus Fiskal Tahuun Anggaran 2009 itu, dipertanyakan oleh para petambak pada pengerjaan pengerukan salurannya. Karena dilakukan secara manual dan terkesan tidak serius pengerjaannya. Padahal, seperti diketahui proyek ini merupakan proyek besar. Artinya, bisa menghabiskan dana yang mencapai milyaran rupiah. "Jika pengerjaan dilakukan secara manual. Meski mampu memberdayakan masyarakat setempat.

Namun dipastikan, hasil pengerjaan seperti itu tidak akan maksimal untuk dirasakan oleh para kami dan para petambak lainnya. Sedangkan kami berharap pengerjaan bisa maksimal seperti yang telah dijanjikan sebelumnya," ungkapnya. Petambak Lainnya, Sakim (45) membenarkan jika pengerjaan dilakukan secara manual tentu hasil kerukan tidak akan sesuai dengan yang telah ditetapkan kedalamannya. Ditambahkan, jika pengerukan terkendala dengan berbagai alasan yang dianggap masih mungkin bisa dipecahkan. Lebih baik pengerjaan dilakukan secara maksimal dan memecahkan kendala tersebut bersama sama para petambak.

"Jika hanya tanggul atau lintasan yang jadi alasan penanggung jawab untuk mengadakan peralatan yang bisa menghasilkan pekerjaan pengerukan agar maksimal. Tentunya bisa dipecahkan bersama sama para petambak dan pihak lainnya yang dilibatkan dalam pengerjaan," tegasnya. Sementara itu, Koordinator Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Desa Cemara Jaya, Karda (50) selaku pengawas pengerjaan menyatakan, proyek ini diserahkan pelaksanaannya pada PT Taruna Karya Pribumi dengan surat tembusan nomor PW. 02.03-SNVT.PPSDAC-PI/05 dengan penanggungjawab lapangan Tarmidi.

Pihaknya pun kini sedang mempertanyakan hal itu. Namun, jawaban yang diterima belum bisa dipastikan. "Kami telah berkoordinasi dengan pihak lainnya yang sebelumnya telah siap membantu proses pekerjaan PT Taruna Karya Pribumi agar bisa maksimal. Dengan ketidakjelasan ini kami pun tengah mempertanyakannya," ungkapnya. Penanggungjawab Lapangan PT Taruna Karya Pribumi, Tarmidi ketika dihubungi untuk dikomfirmasi mengenai kejelasan pengerjaan pengerukan yang dianggap tidak maksimal oleh petambak tidak bisa dihubungi dan hingga berita ini diturunkan ponselnya tidak aktif. (get)

MANG RAKA

"Dilihat dari UU No 24/2008 tentang Perkuatan Kehakiman, Pengadilan Tipikor memang harus ada. Kalau memang harus ada, berarti harus ada di kabupeten/kota, ada 400-an. Kalau harus (hanya) di provinsi, kejaksaan akan keberatan".(Jaksa Agung/Hendarman Supandji)


TUNJANGAN
Akhirnya, semua anggota DPRD bersedia menerima tunjangan.

MANG RAKA :
Awalnya, sudah bisa ditebak pasti DPRD mengharapkan tunjangan...

Pemkab Karawang Kurang Dana, Hanya Berangkatkan 4 Keluarga untuk Transmigrasi


KARAWANG,RAKA
– Akibat kurangnya anggaran, Dinas Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang urung memberangkatkan 49 kepala keluarga (KK) untuk bertransmigrasi ke Kutai, Kalimantan Timur, dan hanya memberangkatkan empat KK dari yang direncanakan.

Kepala Bidang Transmigrasi Disnakertrans Kab. Karawang, Parlan, menyatakan, berdasarkan kuota dari Pemprov Jawa Barat, Kabupaten Karawang mendapatkan jatah 49 KK untuk diberangkatkan transmigrasi kebeberapa daerah, seperti, Sulawesi, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Maluku. "Dengan terbatasnya anggaran, kami baru bisa memberangkatkan empat KK, dan sisanya direncanakan diberangkatkan pada Oktober dan November 2009 mendatang.

Selain itu, nanti daerah tujuan juga harus bisa memberikan jaminan kehidupan lebih baik untuk para transmigran," ucap Parlan. Untuk itu, lanjut Parlan, pihaknya saat ini masih melakukan survey dan lobi ke daerah-daerah penerima transmigran. Hal tersebut perlu dilakukan agar para transmigran tidak terlantar. Rata-rata transmigran asal Karawang berasal dari pesisir utara Karawang, seperti Kecamatan Cilamaya Wetan, Kecamatan Cilamaya Kulon, Kec. Cibuaya, Kecamatan Pedes, Kecamatan Pakisjaya, dan Kecamatan Tempuran.

Untuk para calon transmigran yang diberangkatakan harus lolos seleksi sesuai ketetapan yang sudah ditentukan.  Dan paling pokok mereka memiliki keahlian bercocok tanam, selain tergolong masyarakat miskin, memiliki keinginan untuk mengubah hidupnya."Hal tersebt perlu dipenuhi, karena tujuan transmigrasi adalah merubah hidup ke arah lebih baik dalam perekonomian,' jelasnya. Nantinya, para transmigran disediakan lahan garapan seluas dua hektare dan disubsidi kebutuhan pokok selama setahun. Sementara itu, pihak Pemkab Karawang dibebani memberikan bekal kepada transmigran sebesar Rp 600 ribu setiap kepala keluarga. (ops)

Korban kekerasan rumah tangga,Diperiksa di Rs. Cito Karawang

Darsinia Ananda saat dirawat di RS

KARAWANG, RAKA-
Jimmy Wijaya (30) yang disangka membakar istrinya, Darsinia Ananda (27) di dalam mobil di ruas jalan tol Jakarta-Cikampek, Juli 2009 lalu, ternyata menderita gangguan jiwa. Kendati demikian, Kepolisian Resor Karawang tetap akan melimpahkan perkaranya ke Kejaksaan Negeri Karawang dan Pengadilan Negeri Karawang. Pasalnya, hanya di pengadilan baik tingkat biasa, tinggi, dan Mahkamah Agung yang dapat menetapkan Jimmy tidak dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya karena jiwanya terganggu.

Pernyataan tersebut disampaikan Kapolres Karawang AKBP Rudi Antariksawan,S.Ik melalui Kasatreskrimnya AKP M Sandy Hermawan,SH ketika ditemui RAKA di kantornya, Jumat(4/9) kemarin.Menurut Sandy, meski ahli kejiwaan Mabes Polri telah menyatakan tersangka Jimmy mengalami gangguan kejiwaan, pihaknya tetap melimpahkan kasus tersebut ke Kejaksaan Negeri(Kejari) Karawang untuk diteruskan  ke Pengadilan. Sesuai dengan hasil pemeriksaan ahli kejiwaan Mabes Polri di Rumah Sakit POLRI Kramat Jati, Jakarta, yang menyatakan tersangka mengalami gangguan kejiwaan akan dijadikan lampiran dalam berkas perkara.

"Penyidik Polri maupun Kejaksaan berdasarkan undang-undang tak berhak untuk menghentikan perkara ini. Biarlah nanti pengadilan  yang memutuskan apakah Jimmy dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya atau tidak," ungkap Sandy seraya menambahkan, seseorang yang mengalami gangguan kejiwaan tidak dapat diadili. Hal itu berdasarkan Pasal 44 ayat (3) Kitab Undang-undang Hukum Pidana. "Jadi kami tidak bisa menghentikan penyidikan hanya karena hasil dari ahli kejiwaan itu," tambahnya.

Pihak keluarga Jimmy yang menerima hasil pemeriksaan kejiwaan Jimmy meminta kerabatnya itu dirawat di rumah sakit jiwa. Pilihannya di antaranya rumah sakit jiwa (RSJ) di Jakarta, Bogor, atau Bandung. Mereka, kata Sandy, berharap Jimmy dapat segera disembuhkan jika dirawat di rumah sakit khusus kejiwaan itu."Jika pihak keluarga Jimmy memintanya untuk dibantarkan, kita layani," katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Darsinia Ananda (27) alias Nanda, warga  Jalan Raya Taman Cimanggu,Gang Hamid, Kabupaten  Bogor disiram bensin dan dibakar bersama putra semata wayangnya, Sendy Putrawijaya (5) oleh suaminya  Jimmy Wijaya (30) di dalam mobil sedan B 1028 MI di ruas jalan tol Jakarta-Cikampek arah Jakarta KM 52, pada Senin (6/7) dini hari. Hampir 70 persen tubuhnya mengalami luka bakar.

Jimmy tiba-tiba membakar isterinya setelah sebelumnya terjadi percekcokan di sepanjang perjalanan Bandung -Jakarta, terutama setelah keluar dari Jalan tol Pasteur-Bandung. Saat itu, Darsinia sangat berharap suaminya  mau berobat kepada orang pintar di Bandung. Namun, Jimmy justru menolaknya. Jimmy melarikan diri meninggalkan keduanya  menuju ke pemukiman warga. Namun ia berhasil ditangkap petugas Kepolisian Resor Karawang, ketika ia hendak menjenguk anak istrinya yang dirawat di Rumah Sakit Cito Karawang. (ops)

Komite Sekolah Karawang Harus Selamatkan Bantuan Pemerintah


KARAWANG, RAKA
- Bupati Dadang S. Muchtar mengingatkan para komite sekolah agar dana bantuan rehabilitasi gedung sekolah yang diberikan kepada mereka, baik ditingkat SD, SMP, maupun SMA harus digunakan sesuai aturan.Peringatan bupati tersebut disampaikannya saat kegiatan sosialisasi bantuan rehabilitasi gedung sekolah di gedung Singaperbangsa, kemarin.

"Saya minta para komite sekolah tidak menunjuk pelaksana pembangunan seenaknya saja. Harusnya semua dikoordinasikan kepada dinas teknis terkait, seperti Dinas Pendidikan, Bagian Pengendalian Program, Dinas Cipta Karya, serta UPTD, dan kepala sekolah bersangkutan. Hal ini agar mutu dan kualitas gedung yang dibangun dapat tetap terjaga," tegas bupati.
Diuraikan bupati lebih lanjut, pagu anggaran per lokal gedung mencapai Rp 70 juta.

Dengan jumlah tersebut, diingatkannya, ruang kelas yang dibangun harus sesuai dengan standar yang ada. Seperti mesti menggunakan keramik hingga sebatas kusen jendela di dinding bagian luar dan dalam. "Maksudnya agar gedung baru tidak cepat kotor oleh siswa dan dapat mudah dibersihkan," tambahnya. Standar lain dikemukakan bupati, mengenai mebeulair sekolah. Dari dana sebesar itu, diharapkannya pula setiap ruang kelas memiliki 40 set mebeulair lengkap. Terdiri dari 1 unit meja, dan 2 unit bangku para siswa. Ia minta semua yang diingatkannya itu benar-benar diperhatikan oleh semua sekolah. Jangan sampai ada yang kekurangan meubeulair.

"Beberapa kasuistis yang muncul jangan sampai terulang. Baik komite sekolah, kepala sekolah, guru, hingga UPTD Disdik di setiap kecamatan harus sama-sama bertanggungjawab bagaimana mengelola bantuan keuangan dari pemerintah sesuai peruntukannya. Jika ada yang coba-coba menyelewengkannya, itu sudah urusan hukum. Di sisi lain jangan sampai program pembangunan Karawang di bidang pendidikan dicoreng moreng oleh sikap perilaku oknum yang tidak bertanggungjawab," tandas bupati. (vins)

Anggota DPRD Peringatkan Disperindag Karawang

Sidak pasar yang dilakukan Disperindag Karawang.

KARAWANG, RAKA – Dinas Perindustrian dan Perdagangan Tamben diminta untuk menindaklanjuti hasil temuannya atas sidak yang sejak sepekan ini dilakukannya di pasar-pasar modern maupun pasar tradisional. Apalagi khusus di pasar modern yang harusnya lebih terjamin hak-hak konsumen, malah sempat ditemukan beras dan gula pasir kemasan, beratnya tidak sama dengan angka yang ditulis dalam kemasannya itu.

"Saya baca di koran katanya ada beras Rp 5 kg ternyata setelah ditimbang ulang tidak sampai seberat itu. Begitu pun gula pasir 1 kg. Beratnya tidak sesuai yang tertera di kantong plastiknya. Kalau benar ditemukan seperti demikian, mestinya Disperindag bertindak tegas. Berikan sanksi bagi mereka yang ketahuan melanggar. Ini mah laporan ke dewan saja tidak ada," tegas Ketua Fraksi PKB DPRD, Akhmad 'Zimmy' Jamakhsari.

Diakuinya, ia merasa prihatin ketika kecurangan pedagang terjadi di pasar-pasar modern. Menurut dia, seharusnya keberadaan pasar jenis ini tidak hanya memberikan kenyamanan tempat berbelanja, tapi juga pelayanan dan jaminan kualitas barang benar-benar menjadi pertimbangan utama. Kalau ukuran timbangan barang yang dijualnya saja sudah berani dimainkan, tegas Zimmy lagi, bagaimana tanggungjawab mereka terhadap hak-hak konsumen pada produk lainnya?    
"Ingat, sekarang ada Undang-undang perlindungan konsumen lho. Bagi pelanggar sanksinya berat bisa sampai dipidana.  Saya juga ingatkan Disperindag harus telaten memantau peredaran barang-barang konsumsi produk impor. Jangan sampai tingkat kehalalannya dipertanyakan.

Selain itu juga tanggal kadaluarsa harus dimonitoring betul. Kalau nanti pihak Disperindag tidak serius, saya siap bawa persoalan ini ke unsur Pimpinan DPRD untuk selajutnya diundang hearing guna dimintai pertanggungjawabannya," ucap Zimmy bernada tinggi. Dalam waktu dekat, ia berencana meminta pula Pimpinan DPRD guna mengagendakan waktu sidak ke pasar-pasar modern di Karawang. Ia merasa ingin tahu betul bagaimana kondisi sebenarnya di pasar-pasar tersebut. Bila nanti hasil yang diperolehnya beda dengan tim yang dibentuk Disperindag, pihaknya tidak akan segan-segan memanggil ulang tim tersebut ke meja hearing DPRD.

"Kita tidak ingin ada permainan curang. Siapa pun oknum yang coba-coba bermain mata atas hasil sidak di lapangan tanpa ada tindaklanjutnya, minimal kita siap umumkan ke publik melalui media massa bagaimana cara kerja mereka. Kita juga mempertanyakan selama sidak berlangsung tidak pernah mengajak secara resmi lembaga wakil rakyat? Ada apa ini? Kalau pun di sidak pertama sempat ada anggota DPRD dari PKS, yang saya tahu, itu kebetulan disaat bersamaan rekan-rekan PKS sudah punya rencana dengan kalangan media turun ke sana. Jadi bukan ajakan resmi dari Disperindag," pungkas Zimmy. (vins)

Hindari Penyumbatan,Pintu Air Purwasari Dibersihkan

BERSIHKAN SAMPAH: Sejumlah waker tengah membersihkan sampah di pintu air Purwasari. Hal tersebut dilakukan agar pasokan air bagi ratusan hektar sawah lancar. (asy)

Telagasari Butuh Detektor Gempa


TELAGASARI, RAKA
- Banyaknya korban pada gempa yang terjadi di Tasikmalaya beberapa hari yang lalu, tidak terlepas dari minimnya sosialisasi mengenai tata cara menyelamatkan diri dari gempa oleh pemerintah. Sehingga orang banyak yang tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika terasa adanya getaran gempa.

Jika melihat kejadian gempa yang lalu, gempa terjadi di siang hari. Pada saat itu orang dalam keadaan terjaga, tapi korban yang ditimbulkan cukup banyak. Jika mereka tahu cara menyelamatkan diri, tidak akan jatuh banyak korban. Hal tersebut dikatakan warga Desa Ciwulan, Kecamatan Telagasari, Rudi Sugiri (21), Jumat (4/9) siang.

Lebih lanjut dia menuturkan, Indonesia merupakan salah satu daerah yang rawan gempa. Ini terbukti dengan maraknya gempa yang terjadi di berbagai wilayah. Karena kondisinya yang seperti itu, seharusnya pemerintah harus lebih melakukan tindakan preventif untuk mencegah terjadinya banyak korban jika terjadi gempa. Salah satu caranya yaitu dengan melakukan sosialisasi mengenai tindakan pertama ketika terjadi gempa. "Walaupun terjadi gempa yang besar, kalau tahu apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi, maka tidak akan terjadi banyak korban. Dan pastinya ada cara untuk menyelamatkan diri ketika terjadi gempa," jelasnya.

Mahasiswa STIE Budi Pertiwi jurusan Ekonomi Pembangunan ini menambahkan, gempa bukanlah bencana yang tidak dapat dideteksi, jadi diperlukan alat untuk mendeteksi terjadinya gempa sejak dini. Jika gempa bisa dideteksi sejak dini, masyarakat bisa langsung bergegas untuk menyelamatkan diri. Menurutnya, di Indonesia sangat minim mengenai alat pendeteksi gempa. "Untuk alat pendeteksi tsunami di Aceh misalnya, kondisinya rusak. Sehingga kalau sewaktu-waktu terjadi lagi tsunami masyarkat akan sulit mendeteksinya," pungkasnya

Rudi melanjutkan, selain Indonesia, Jepang merupakan salah satu negera yang rawan gempa. Tapi karena mereka bisa menciptakan alat pendeteksi gempa dan tahu cara akan menyelamatkan diri, jadi sekarang jarang gempa terjadi dan banyak korban yang ditimbulkan karena gempa. Tapi lanjutnya, Indonesia akan kesulitan untuk meniru Jepang dalam penciptaan alat pendeteksi gempa. Soalnya di Indonesia penghargaan terhadap generasi bangsa yang berpotensi masih minim. "Anak negeri banyak yang berprestasi dalam bidang ilmu pengetahuan, tapi mereka dibiarkan liar begitu saja tanpa dirawat oleh negara. Sebetulnya kalau dirawat mereka bisa dimanfaatkan untuk kepentingan bangsa termasuk di bidang teknologi," tuturnya.

Terlepas dari semua itu, lanjutnya, semua pihak harus terus bersama untuk mencegah terjadinya gempa. Setiap bencana alam, umumnya terjadi karena ada kerusakan alam, sehingga tidak adanya keseimbangan ekosistem. Untuk itu, adanya penghijauan merupakan salah satu cara untuk mencegah timbulnya berbagai bencana. Minimal satu orang satu pohon, bisa ditanam oleh masing-masing individu sehingga keseimbangan alam akan terjadi. "Saya juga berharap pemerintah bisa memasang alat pendeteksi gempa di titik-titik rawan gempa. Agar gempa bisa dideteksi sejak dini," harapnya. (asy)

Warung Mudik Bermunculan di Sepanjang Jalur Pantura

MULAI MENJAMUR: Memasuki pertengahan Ramadhan, warung-warung dadakan mulai bermunculan.

KLARI, RAKA - Banyaknya pemudik yang menggunakan sepeda motor beberapa tahun terakhir, dimanfaatkan warga di sepanjang jalur Pantura untuk membuka warung dadakan. Walaupun lebaran masih menyisakan waktu 15 hari lagi, namun warung dadakan di sepanjang jalur Pantura sudah mulai didirikan.

Saat ditemui RAKA, Jum'at (4/5), salah seorang pembuka warung di Jalan Raya Klari, Desa Pancawati, Dasim (60) mengatakan, saat ini hanya tahap pembuatan warung, sementara untuk mulai dibukanya diperkirakan seminggu menjelang lebaran, yakni setelah arus mudik dimulai. Jika tidak dibangun dari sekarang, lanjutnya, dia hawatir tidak kebagian tempat membuka warung. "Sudah dari beberapa hari yang lalu, banyak orang yang sudah memberi tanda di pinggir jalan untuk dibuat warung. Kalau tidak dibangun dari sekarang, hawatir tempatnya keburu ditempati orang lain," paparnya.

Membuat warung, ungkapnya, merupakan kali keduanya, karena pada lebaran tahun lalu dia juga membuka warung saat arus mudik. Jajanan yang dijual hanya sebatas air mineral, mie rebus, kopi dan makanan ringan lainnya untuk membantu pemudik yang hendak istirahat. Keuntungan yang didapat, tidak terlalu besar sama seperti berjualan pada waktu lainnya. Apalagi jika jalur mudik dialihkan ke tempat lain, sehingga pemudik yang melintasi jalur tersebut menjadi berkurang. "Tahun lalu jalur mudik sebagian dialihkan ke jalur Wadas dan keluar di Jatisari melintasi Cilamaya. Sehingga pemudik jadi berkurang yang melewati jalan ini. Untuk tahun sekarang saya belum tahu jalur mudik nanti," terangnya.

Sementara itu, sepanjang pinggiran Jalan Raya Purwasari-Cikampek, tepatnya di dekat pom bensin Purwasari, sudah dikavling-kavling oleh masyarakat yang akan membuat warung. Salah seorang masyarakat, Hadi (42) mengatakan, dia hanya sebatas memberi tanda terlebih dulu. Kemungkinan dia baru akan membangun warungnya satu minggu ke depan. Hal ini, ujar Hadi, dilakukannya agar dia bisa berjualan pada saat arus mudik nanti. Pasalnya, jika tidak diberi tanda dari sekarang, dia bisa tidak kebagian tempat berjualan. "Dari jauh-jauh hari masyarakat sudah mengkavling sendiri tempat ini. Kalau telat sedikit saja saya bisa tidak kebagian tempat," tuturnya.

Dia menambahkan, baginya penghasilan yang didapat dari berjualan saat arus mudik cukup untuk memenuhi kebutuhannya saat lebaran nanti. Pemudik yang menggunakan motor kebanyakan ke arah Jawa. Mereka menjadikan warung-warung yang ada dipinggir jalan untuk beristirahat. Usaha ini, sudah dijalaninya sejak tiga tahun yang lalu, setiap menjelang lebaran. "Pengalaman yang lalu, penghasilannya cukup lumayan untuk memenuhi kebutuhan lebaran keluarga nanti. Mudah-mudahan nanti pemudik bisa lewat sini semua, jadi penghasilan bisa lebih meningkat," paparnya. (asy)

Hama Ulat Serang Tanaman Padi di Tirtamulya

KENA HAMA: Syahidin (40), petani Desa Karangsinom, Kecamatan Tirtamulya, menunjukkan hama ulat yang ada pada batang padi.

TIRTAMULYA, RAKA - Hama ulat menyerang petani di Desa Karangsinom, Kecamatan Tirtamulya. Hama tersebut membuat kantong padi menjadi putih dan kosong. Sehingga hasil panen yang didapat petani menjadi minim.

Hama tersebut menyerang padi mulai dari pangkal batang. Bahkan, hama tersebut juga membuat batang padi menjadi busuk, sehingga mempengaruhi biji padi. Salah seorang petani setempat, Syahidin (40), saat ditemui RAKA, Jum'at (4/9) siangmengaku, dirinya kurang mengetahui jenis hama tersebut, tapi ketika diteliti ternyata terdapat ulat kecil di batang padi.

Dari 6000 meter sawah yang digarapnya, hampir sebagian tanaman padinya diserang hama tersebut. Biji padi menjadi putih tak berisi, sehingga tidak bisa dimanfaatkan. Keadaan tersebut membuat hasil panennya yang kedua menjadi tidak maksimal. Jika dalam keadaan normal, dia bisa menghasilkan padi hingga mencapai 5 ton. "Kalau lihat kondisi sekarang dapat dua ton juga sudah untung. Saya gak tahu apa jenis hama yang menyerang, jadi bingung memberantasnya," paparnya.

Padahal, lanjut Syahid, dia rajin menyemprot tanamannya dengan menggunakan obat. Tapi obat tersebut tidak banyak berpengaruh dan memberantas hama. Menurutnya, hama ini sulit untuk diberantas bila dibandingkan dengan hama lainnya.
Syahid juga menyebutkan, hama tersebut cukup ganas menyerang tanaman padi dan membuat padi tidak berbiji. Tentunya ini sangat merugikan petani, karena hasil yang didapat tidak maksimal. "Untungnya hama ini tidak menyerang seluruh tanaman padi saya, jadi masih ada yang bisa dimanfaatkan. Hampir sawah di lingkungan di sini terkena hama ini," terangnya.

Petani lainnya, Ecim (50) menambahkan, hama ini baru menyerang pada musim tanam kedua, sementara waktu tanam sebelumnya hama seperti ini tidak ada yang menyerang. Hama tersebut membuat tanaman padi tidak bisa dipanen karena tidak berisi. Petani belum menemukan obat yang ampuh untuk memberantas hama tersebut. Selain itu, hama tikus dan kupu-kupu juga sering menyerang tanaman mereka, hal ini membuat petani kelimpungan menghadapi hama. "Jadi petani banyak kendalanya, terutama kendala hama. Kalau tidak pintar-pintar mengelolanya bisa gak dapat hasil," keluhnya.

Syahid juga menambahkan, walaupun hasil panennya tidak maksimal, dia tetap bersyukur. Pasalnya harga gabah saat ini dinilainya tidak terlalu rendah. Jadi petani mengharapkan untung dari penjualan gabah tersebut. Saat ini harga gabah mencapai Rp 2900 per kilogram. Harga tersebut dinilainya merupakan harga yang pantas, sehingga dia tidak akan terlalu mengalami kerugian. "Untungnya harga gabah cukup tinggi jadi tidak akan terlalu rugi walaupun hasil panennya rendah akibat hama. Mudah-mudahan pada tanam berikutnya hama tidak banyak menyerang," harapnya. (asy)

Walaupun Bulan Ramadhan, Warung Makanan di Jalan Raya Purwasari-Cikampek Tetap Buka

TETAP JUALAN: Dengan hanya ditutup kain alakadarnya, pedagang makanan bebas berjualan.

CIKAMPEK, RAKA - Walaupun bulan Ramadhan, tapi aktifitas warung terutama pedagan kaki lima (PKL) tidak mengalami perubahan. Warung-warung di pinggir jalan tetap beroperasi di siang hari seperti biasa. Hanya saja, warung dipasangi kain penutup setengah untuk menutupi konsumen yang jajan. Pada umumnya, warung tersebut menjual minuman dan makanan ringan. Dengan beroperasinya warung makanan di siang hari, seakan tidak ada penghargaan terhadap bulan Ramadhan dan orang yang berpuasa.

Salah seorang warga Cikampek, Iman (45), kepada RAKA, Jum'at (4/9) siang, menuturkan, bulan puasa bukannya tidak diperbolehkan berdagang. Tapi setidaknya tidak dilakukan secara terbuka, seakan-akan orang yang berpuasa tidak dihargai sama sekali. Seharusnya, mereka tidak beroperasi di siang hari, atau kalaupun buka di siang hari waktunya dimulai menjelang sore. Tapi kenyataan di lapangan warung-warung tersebut tetap beroperasi mulai dari pagi hari.

"Saya sangat menyesalkan dengan banyaknya warung-warung yang buka di siang hari. Padahal ini bulan Ramadhan. Sehingga kekhusuan dalam menjalankan ibadah puasa jadi terganggu," tuturnya. Pendapat serupa juga disampaikan oleh warga Purwasari, Cecep (28), menurutnya saat ini orang sudah tidak malu lagi untuk makan di siang hari pada bulan Ramadhan, begitu pula dengan pemilik warung. Mereka tetap beroperasi di siang hari.

Disesalkannya pula, sekarang ini keadaan menjadi terbalik, orang yang berpuasa justru harus menghargai orang yang tidak berpuasa. Kewajiban-kewajiban sebagi orang Islam, menurutnya, sudah banyak dilalaikan oleh pengikutnya. "Saya sangat miris sekali melihat aktifitas yang dilakukan masyarakat yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan. Mereka tidak ada penghargaan terhadap orang yang berpuasa," keluhnya.

Dia melanjutkan, puasa ataupun tidak berpuasa memang merupakan hak dari setiap orang. Tapi paling tidak, kalau tidak berpuasa, tidak makan, minum ataupun yang lainnya tidak dilakukan di tempat terbuka. Pasalnya banyak di sekeliling mereka orang-orang yang berpuasa yang menahan lapar dan haus sejak pagi hari hingg sore. Ditambahkan pula, pemerintah harus bisa memberikan peringatan pada warung yang tetap beroperasi di siang hari pada saat Ramadhan.

"Saya berharap ada tindakan tegas ataupun sebatas peringatan dari pemerintah mengenai warung yang beroperasi di siang hari. Agar kekhusuan dalam menjalankan ibadah puasa tetap terjaga," harapnya. Sementara itu, salah seorang pedagang di Jalan Raya Purwasari-Cikampek yang enggan disebutkan namanya mengatakan, dia menyadari bahwa sekarang ini bulan Ramadhan dan banyak orang yang berpuasa. Tapi dia terpaksa tetap membukan warung seperti biasa karena faktor kebutuhan ekonomi.

Dikatakan pula, pembeli juga dinilainya tetap banyak, dengan begitu banyak juga orang yang tidak berpuasa. Kalau tidak berdagang dia tidak memiliki penghasilan dan persiapan menghadapi lebaran. "Bukannya saya tidak menghargai orang yang berpuasa, tapi ini saya lakukan karena kebutuhan ekonomi. Saya juga ingin merayakan lebaran dengan meriah bersama keluarga. Kalau tidak dari berjualan saya tidak memiliki penghasilan," pungkasnya. (asy)

Siswa SMP Nekad Duduk di Atap Angkot Trayek Rengasdengklok-Jayakerta

NEKAD: Sejumlah siswa SMP nekad duduk di atap angkot trayek Rengasdengklok-Jayakerta, Senin (31/8) siang. Hal itu terjadi karena jumlah pelajar dengan kapasitas angkot yang mengangkut pelajar tidak sebanding di daerah itu. (spn)


Wisata Kuliner Ramadhan (1), Sate Maranggi Sapi Abah Ajun di Karawang


BAGI
pecinta sate maranggi nama Abah Ajun bukan hal baru lagi di Karawang. Anda yang di Rengasdengklok bisa jadi menjadi sebuah tantangan untuk membedakan khasnya sate maranggi yang ini. Terlebih kini pengolahannya langsung ditangani oleh putra Mumu putra Abah Ajun sendiri.

Mumu namanya putra Abah Ajun juga tak kalah mahirnya dalam hal mengola sate maranggi. Sejarah mencatat Abah Ajun yang mangkal di Cianting, Plered, Purwakarta sudah memperkenalkan sate maranggi khas buatannya sejak tahun 1997. Di Karawang sendiri sebetulnya nama Abah Ajun belum ada tandingnya.

"Bumbu khas sate maranggi abah dikirim langsung dari Cianting. Dijamin rasa asli sate ini tetap terjaga. Ditambah daging sapi kualitas terbaik sangat empuk. Makanya bagi mereka yang sering nyate di tempat Abah Ajuk di Cianting tidak akan asing. Pelanggan setia warga di sini mulai sekarang tidak perlu jauh-jauh harus kesana. Di sini sekarang telah dibuka," ungkap H. Ramon, pengelola resmi yang ditunjuk Abah Ajuk di Karawang.

Boleh jadi sate maranggi sapi Abah Ajuk dikenal lezat dan beraroma khas. Bagi yang belum merasakan kehebatan sate maranggi ini boleh dicoba. Apalagi harga yang ditawarkan relatif lebih murah dibanding sate-sate lainnya. Per tusuk sate hanya dikenai tarif Rp 1.400. Bila sambil ingin makan di tempat ini, tersedia nasi timbel beraroma pula.Harganya hanya Rp 3.000. Menu lain yang disiapkan adalah sop sapi. Per mangkok Rp 15 ribu.

Soal rasa? Ramon hanya bilang, "jangan dulu berkomentar sebelum mencoba menikmati gurih dan lezatnya sate maranggi sapi Abah Ajun. Yang kami sediakan di sini asli cabang dari sana. Kami buka selama bulan suci Ramadhan mulai pukul 16.30 hingga 22.00. Setelah lebaran nanti, kami siap buka dari pukul 09.00 sampai 22.00. Cari alamatnya mudah kho. Pokoknya depan samping Dinas Cipta Karya atau di Jalan Arief Rahman Hakim alias jalan niaga Blok C-70 Karawang," papar Ramon. (bersambung/Alvino)

Pasca Gempa, Nelayan Pantura Mulai Melaut


CIBUAYA, RAKA
- Kecemasan masyarakat dipesisir pantai Utara Karawang mulai mereda pasca gempa melanda. Setelah sebelumnya warga sempat menghentikan aktifitas keseharian karena khawatir ancaman tsunami kini nelayan semula takutpun mulai kembali melaut.
 
Sebagian nelayan memang sempat menghentikan kegiatannya untuk mencari ikan ke lautan pasca gempa yang juga terasa diperairan Laut Cemara Jaya. Namun kini, seluruh nelayan telah menganggap kejadian beberapa hari lalu sudah normal dan tidak bakal berakibat pada aktifitasnya untuk melaut. Seperti diungkapkan salah seorang Warga Desa Cemara 1 Desa Cemara Jaya Kecamatan Cibuaya, Dulman (44) Kepada RAKA, Jum'at (5/8) ditemui di pinggir pantai. Menurutnya, Kini para nelayan sudah bisa melakukan aktifitasnya untuk mencari ikan ditengah lautan. Bahkan, hasil tangkapan yang didapatkan para nelayan sekarang ini mulai meningkat pasca gempa.

"Sebenarnya kami dan nelayan lainnya tidak begitu khawatir dengan kabar bakal terjadinya tsunami dilautan akibat goncangan beberapa hari lalu. Karena, sebenarnya dilaut utara karawang tidak memiliki riwayat pernah terjadi tsunami yang dikhawatirkan warga lainnya, "ungkapnya. Namun, memang aktifitas kami dan sebagian besar nelayan lainnya sempat berhenti untuk sementara setelah terjadinya gempa beberapa hari lalu. Akan tetapi, hal itu hanya berlangsung sesaat setelah guncangan terjadi. Artinya, hanya bersiaga terhadap kemungkinan yang bisa saja terjadi, meski diprediksi tidak bakal terjadi.

"Kami rasa hal itu memang perlu untuk dilakukan dan wajar saja. Namun, kegiatan kami dan nelayan lainnya harus terus berjalan. karena ada ataupun tidak ada goncangan itu. Pekerjaan kami memang beresiko. Dan Lagi, jika terus mengikuti kekhawatiran, lalu kami mau dapat apa, "terangnya. Diketahui, aktifitas masyarakat diwilayah pesisir pantai utara di tiga kecamatan, cibuaya, pedes dan Cilebar telah berangsur normal dan aktifitas masyarakat telah berjalan seperti biasanya sebelum terjadinya goncangan. Bahkan, diakui para nelayan pendapatan ikan hasil melaut semakin meningkat dari hari sebelum terjadinya goncangan. (get)

Angkut Tuntas Lumpur Pedes, Kepadatan Lalu Lintas Mulai Terjadi Dua Pekan Menjelang Lebaran




KUTAWALUYA, RAKA - Tanah hasil pengerukan saluran sungai irigasi di sepanjang jalan Desa Kertaraharja, Kecamatan Pedes hingga ke Desa Kutagandok Kecamatan Kutawaluya, sebagian kecil telah diangkat. Sebaliknya, para pengguna jalan mengharapkan agar pengangkatan tanah bisa segera dilakukan seluruhnya. Mengingat, meningkatnya laju kendaraan mulai sepekan kedepan memasuki liburan menjelang hari Raya Lebaran.
 
Pengangkatan tanah hasil kerukan dari bahu jalan baru terlaksana sebatas 40 persen saja berdasarkan hasil pantauan. Bahkan, sebagian tanah yang telah diangkat masih menyisakan tanah kering disekitar jalan yang cukup membuat badan jalan terlihat menyempit akibatnya. Dan itu, masih dikeluhkan para pengguna jalan, seperti diutarakan salah seorang pengguna jalan warga Desa Payung sari Kecamatan Pedes Anang Ma'ruf (30) kepada RAKA, Jum'at (5/8) ditemui ditengah perjalanannya.

Menurutnya, pengangkatan tanah hasil pengerukan sedimen saluran irigasi sebaiknya segera dilakukan seluruhnya. Mengingat akan terjadinya peningkatan aktifitas pengguna jalan yang bakal lalu lalang dihari libur sepekan ke depan. Sebab, dengan adanya tanah itu cukup membuat jalan yang sebelumnya memang sempit semakin menyempit. "Kami dan pengendara lainnya sudah cukup kesal dengan sempitnya jalan sebelum adanya tanah disepanjang bahu jalan. Karena,benyaknya kecelakaan juga diakibatkan karena sempitnya jalan. padahal, kendaraan roda dua atau empat semakin meningkat keberadaannya,"terangnya.

Dijelaskannya, tanah yang dibiarkan di pinggiran jalan itu dianggapnya sudah terlalu lama. Artinya, selama tanah itu ada maka selama itu juga para pengendara terganggu ketika berkendara. Terlebih dengan adanya tanah itu. Jalan raya yang sering kali dilintasinya semakin kotor dan berdebu.  "Meski bau tanahnya telah menghilang karena tanah telah kering. Namun, debu dan kotoran semakin mengganggu para pengendara semenjak tanah itu kering. Kami hanya heran kenapa proyek pekerjaan yang begitu besar biayanya tapi pekerjaannya tidak sebanding, "ungkapnya.

Lebih dalam Anang menjelaskan, seharusnya pekerjaan yang menelan biaya cukup besar dan dikerjakan oleh pekerja yang ditunjuk oleh pemerintah. Bisa dilakukan tanpa ada gangguan pada lingkungan disekitarnya.  Pengendara lainnya, Mahmud (23) menyatakan hal senada. Ditambahkannya, sebagian kecil tanah yang telah diangkut ternyata masih menyisakan gundukan tanah kecil sisa pengangkatan. Dan itu, yang lebih membuat para pengendara lebih mengeluhkannya. Sebab, sisa pengangkatan itu yang justru lebih membuat jalanan lebih berdebu dan kotor.

"Terlebih, jika gundukan tanah sisa pengangkatan itu dilintasi kendaraan terutama kendaraan besar. Maka debu yang terangkat cupuk membuatpengelihatan para pengendara terganggu. Akibatnya, jalanan tersebut sangat berpotensi mengakibatkan kecelakaan. Kami, harap penanggungjawab atau lembaga dan forum manapun yang bertugas menangani kepentingan umum tidak hanya diam dan menutup mata dengan hal itu, "harapnya.(get)

Bidan Cilebar Abaikan Gakin


CILEBAR, RAKA
- Tidak ada bidan yang mengabaikan ibu hamil yang akan bersalin, kalau bidan desa sedang sibuk, persalinan bisa dilakukan bidan dari luar kecamatan, itu sah-sah saja, yang penting ibu dan anak yang baru melahirkan selamat dan sehat. Demikian kata Bidan Tati kepada RAKA, Kamis (3/9) siang di Puskesmas Kertamukti, Kecamatan Cilebar.

Itu diungkapkannya sebagai sanggahan yang menyatakan bidan Cilebar mengabaikan gakin (keluarga miskin). Diakuinya, gakin atau non gakin, warganya yang sedang masa persalinan tetap dilayani dengan baik, tidak membeda-bedakan. Pada persalinan seorang warga Desa Pusakajaya Selatan Sabtu kemarin, memang dia dan bidan yang dipanggil sedang sibuk. "Saat itu Bidan Wiwin sedang menengok ibunya yang sakit, sedangkan di rumah saya sedang melakukan persalinan juga," ucap Tati.

Diceritakannya, dia memang tidak mendatangi ibu hamil yang akan bersalin pada Sabtu malam kemarin itu, karena di rumahnya ada ibu hamil yang akan melahirkan juga. Dia sempat meminta Paraji untuk membawa ibu hamil itu ke rumahnya, tapi setelah ditunggu lama, Paraji belum juga datang membawa pasiennya. Namun, Tati merasa lega setelah mendengar ada bidan lain yang telah menangani ibu hamil yang akan bersalin itu. Menurut Tati, semua bidan sama, yang penting bayi lahir dengan sehat dan ibunya selamat.

Ditanya soal denda Paraji yang melakukan persalinan sendiri tanpa bidan, Tati menyatakan, peraturan itu memang ada tapi hingga kini tidak berlaku, sejak dibuat peraturan itu, hingga kini tidak pernah ada Paraji yang didenda karena melanggar peraturan melakukan persalinan. Lagi pula, selama ini Paraji tidak pernah bekerja sendiri, selalu bersama dengan bidan membantu persalinan. "Cuma Sabtu malam itu saja yang jadi soal, kita memang lagi sibuk, tapi kita sebenarnya tidak mengabaikan, malah kita menunggu Paraji membawa pasiennya ke rumah saya.
]
Waktu kita tidak selamanya luang, kadang ada waktu sibuk melayani pasien sejak pagi hingga malam, bahkan hingga kembali terbit matahari," jelasnya.  Pernyataan bidan Tati ini terkait, bidan di Kecamatan Cilebar yang dianggap melanggar kesepakatan kerjasama dengan Paraji setempat. Dengan dalih sibuk, bidan tidak melayani warga gakin, akhirnya hanya seorang Paraji saja yang bekerja sendiri melakukan persalinan, karena sesuai ketentuan Dinas Kesehatan, persalinan bagi ibu hamil dilakukan oleh bidan, sedangkan Paraji hanya membantu bidan.

Pada persalinan seorang warga Pusakajaya Selatan, bidan tidak hadir bersama Paraji saat persalinan, bidan itu berdalih sibuk, tidak ada di rumah, bahkan sulit dihubungi via handphone. Kasak-kusuk diketahui, ternyata bidan enggan melayani warga gakin. Seperti telah dijelaskan seorang Paraji warga Dusun Sumberjati, Desa Pusakajaya Selatan, Kecamatan Cilebar, Uni (50) menjelaskan, bidan sulit dimintai bantuannya untuk persalinan ibu hamil. (spn)

Warga Kutawaluya 9 Tahun Menderita Kelenjar Gondok


KUTAWALUYA, RAKA - Titin Binti Ruki (39), warga Dusun Krajan 2B, RT 13/03, Desa Sampalan, Kecamatan Kutawaluya sudah 9 tahun menderita kelenjar gondok. Sulit berobat, warga miskin ini meminta bantuan para dermawan untuk biaya di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.

Menurutnya, penderitaannya ini harus diakhiri dengan operasi. Penyakit gondok ini mengganjal leher kanannya sejak dia mengandung putri ke dua, gondoknya itu kian membesar hingga menyesakan nafasnya. Akibat tidak punya biaya untuk berobat, sakitnya itu semakin menjadi dan membesar. Penderitaan Titin semakin lengkap ketika suaminya mencerainya. Kini dia tinggal dalam rumah gubuk dengan orang tua dan kedua anaknya tanpa seorang pun yang menafkahinya.

Melihat hal itu, tetangganya sempat mengulurkan tangan untuk meringankan derita Titin, yaitu dengan memberinya uang yang berhasil terkumpul sebesar Rp 1,7 juta. Titin sempat dibantu Tim Medis Desa, Awih (37) dan dibawa ke RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) Karawang. Hasil pemeriksaan, ia dirujuk untuk memeriksa darah ke Bio Medilab Laboratorium Karawang. Melalui pemeriksaan Endokkrinologi dengan biaya Rp 415 ribu, didapat keterangan Titin mengindap penyakit kelenjar gondok.
Setelah mendapatkan keterangan tersebut oleh Tim Medis RSUD, Titin dianjurkan dioperasi ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, karena RSUD Karawang tidak memiliki alat untuk operasi kelenjar gondok.

Karena biaya yang ada telah habis, akhirnya Kepala Desa Sampalan, Jamaludin dan Ketua BPD Kaidi Prawira NS, menyarankan membentuk relawan bakti sosial untuk biaya operasi Titin. Hasil musyawarah BPD, LPM, Ketua DKM (Dewan Keluarga Masjid) dan tokoh masyarakat setempat, hasilnya ditunjuklah salah satu warga bernama Nasep untuk menggalang dana bagi Titin. Dengan terbentuknya tim relawan tersebut, diharap banyak donatur yang mau membiayai pengobatan Titin, yaitu untuk biaya ke Bandung termasuk biaya keseharian beberapa tetangganya yang mendampingi Titin selama dirawat nanti.

Menurut Nasep, persyaratan administrasi seperti Jamkesmas, surat rujukan dari RSUD Karawang termasuk KK (Kartu Keluarga), KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan surat pendukung lainnya telah siap, tinggal menunggu bantuan dari para dermawan untuk biaya operasi. Seharusnya, pada tanggal 26 Agustus 2009 kemarin, Titin sudah dioperasi di Bandung, tapi karena tidak mengantongi biaya, terpaksa ia menunggu para relawan yang sedang mencari bantuan dana. Namun begiru, ibu dua anak itu pun tak kalah diam, untuk menghidupi dua anaknya, dia bekerja sebagai tukang cuci di rumah kepala desa setempat. (spn)

Satpol PP Kabupaten Karawang Ancam Musnahkan Miras


KARAWANG, RAKA
– Menjelang lebaran, atau tepatnya di hari ulang tahun Kabupaten Karawang, 14 September mendatang, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) berencana akan memusnahkan barang bukti ribuan botol minuman keras hasil razia yang dilakukan selama bulan suci Ramadhan.
   
Menurut Kepala Satpol PP, H.D Alamsyah, selama ini masih ada beberapa barang bukti lain yang masih menunggu putusan Pengadilan Negeri Karawang terhadap tersangka tindak pidana ringan (tipiring) yang rata-rata pemilik toko atau penjual minuman keras tersebut selama operasi digelar.

"Di gudang ribuan botol minuman keras sudah penuh. Kita tinggal menunggu waktu tepat untuk pemusnahan. Direncanakan berbarengan dengan Hari Ulang Tahun Kabupaten Karawang, 14 September. Sebenarnya kita berharap pada peringatan Nuzulul Qur`an, Senin (7/9) depan. Namun tidak mungkin terkejar waktunya. Masalahnya masih ada 3 tersangka lagi yang belum di sidang tipiring di Pengadilan Negeri," ungkap Alamsyah. Dikatakannya, selama Ramadhan atau disaat ummat muslim menjalankan ibadah puasa, pihaknya telah melakukan kegiatan razia ke berbagai tempat yang dicurigai sebagai tempat peredaran minuman keras.

Seperti Tempuran, Cikampek, Karawang Kota, hingga perbatasan Telukjambe Barat dan Timur.  Selain itu, jelas Alamsyah, pihaknya juga telah berhasil merampas petasan yang diperjualbelikan di wilayah Kecamatan Cikampek dan Karawang Barat. "Kalau dibilang razia kami kemarin hanya mendapatkan beras kencur, itu tidak terlalu tepat. Sebenarnya kami mendatangi toko di sana itu untuk membuktikan kembali, apakah mereka jera atau tidak yang telah berkali-kali diseret ke meja sidang atas bukti mengedarkan minuman keras sebelumnya.

Setelah dicek lagi ke tempat yang sama, kemarin, ternyata ada sedikit kemajuan. Mereka sudah merubah barang dagangannya ke beras kencur. Mudah-mudahan kedepannya sama sekali tidak. Karena di produk beras kencur tersebut masih tersisa yang mengandung alkohol," urai Alamsyah. Sasaran lain dari razia yang dilakukan Satpol PP, lanjut Alamsyah, selama pekan ini pihaknya mengklaim telah berhasil menjaring penjaja seks komersial (PSK) yang kedapatan tetap mangkal selama Ramadhan di Cinangoh dan Klari. Saat ditangkap petugas Pol PP yang dibantu aparat Kepolisian dan CPM, para PSK tersebut sedang berada di warung remang-remang yang telah jadi target operasi pihaknya.

"Antara jam 23.00 hingga 02.00 dinihari kita tangkap mereka. Warung yang digunakan sebagai tempat tongkorngannya kebetulan telah jadi target operasi kami. Karena beberapa kali telah kedapatan menjadi ajang transaksi para pelaku maksiat antara PSK dengan para pria hidung belang. Hasil razia itu kami menjaring 13 orang. Namun karena Dinas Sosial belum punya program pembinaan para PSK, termasuk tempatnya, terpaksa setelah diberikan pengarahan, mereka kami pulangkan ke tempat tinggalnya masing-masing sambil diperingatkan agar tidak mengulangi lagi perbuatannya," ucap Alamsyah.

Setelah lebaran nanti, lanjut Alamsyah, pihaknya kembali akan melanjutkan pembongkaran tempat-tempat maksiat. Ada tiga tempat yang jadi sasaran utama. Pertama ada 2 tempat di wilayah Kecamatan Tempuran, 3 tempat di Kecamatan Klari, dan 1 tempat di Kecamatan Cilamaya Kulon. "Kami siap bongkar habis tempat-tempat maksiat itu. Mudah-mudahan dengan cara ini tidak ada lagi tempat bagi mereka untuk kembali menjadi penyebar kemaksiatan," tandasnya. (vins)

Masa Maghfirah


DI BULAN
pengampunan, ramadhan yang "Syahrul Maghfirah" ini adalah saat yang tepat untuk kita bertaubat. Bagi yang sudah bertaubat mari memperbarui taubatnya dan yang belum taubat mari bergegas kepada ampunan Allah. Hal itu diungkapkan oleh Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid At-Taubah di Rest area Km 57 Ust. Ahmad Radi, Jum'at (4/9) siang.

Menurutnya, sepuluh hari kedua bulan Ramadhan merupakan masa maghfirah (ampunan). "Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis riwayat Abu Haurairah, Ramadhan, awalnya Rahmah, pertengahannya Maghfirah dan akhirnya dibebaskan dari api neraka. Di Bulan Ramadhan ini, mari kita segera untuk bertaubat, karena tidak ada yang menjamin tahun depan kita akan bertemu kembali dengan Bulan Ramadhan," tuturnya, Jum'at (4/9) siang. Menurutnya, taubat adalah kembali kepada Allah setelah melakukan maksiat. Taubat marupakan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya agar mereka dapat kembali kepada-Nya.

"Agama Islam tidak memandang manusia bagaikan malaikat tanpa kesalahan dan dosa sebagaimana Islam tidak membiarkan manusia berputus asa dari ampunan Allah, betapa pun dosa yang telah diperbuat manusia. Janganlah berputus asa, sebesar apapun kita merasa telah berbuat dosa, karena Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang," katanya. "Diantara kita pernah berbuat kesalahan terhadap diri sendiri sebagaimana terhadap keluarga dan kerabat bahkan terhadap Allah. Dengan segala rahmatnya, Allah memberikan jalan kembali kepada ketaatan, ampunan dan rahmat-Nya dengan sifat-sifat-Nya yang Maha Penyayang dan Maha Penerima Taubat. Seperti diterangkan dalam surat Al Baqarah ayat 160, Dan Akulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Taubat dari segala kesalahan tidaklah membuat seorang terhina di hadapan Tuhannya. Hal itu justru akan menambah kecintaan dan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya karena sesungguhnya Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri," lanjutnya. Merugilah orang-orang yang berputus asa dari rahmat Allah dan membiarkan dirinya terus-menerus melampai batas. karena menurut Ust. Ahmad Radi, pintu taubat selalu terbuka dan sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Karena sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang. "Bersegeralah bertaubat, agar kita tidak termasuk orang-orang yang rugi di akherat kelak," tandasnya. (psn)

Jalur Lingkar Tanjungpura-Klari Rawan Kecelakaan


KARAWANG, RAKA
- Pengoperasian Jalur lingkar Tanjungpura-Klari sepanjang 11,58 Km yang rencananya akan diresmikan tanggal 14 September dan bertepatan dengan hari ulang tahun Karawang, terkesan dipaksakan. Selain minim fasilitas pendukung keamanan, penerangan dan drainase yang kurang memadai, jalur ini juga belum dilengkapi rambu-rambu lalu lintas yang memadai. Akibatnya apabila malam hari, jalur tersebut rawan kecelakaan lalu-lintas.

Jalur lingkar yang minim fasilitas dan rambu lalu-lintas, ternyata dirasakan oleh Asep (40) salah satu sopir bus Warga Baru. Menurutnya apabila melintasi jalur lingkar pada malam hari, sangat rawan terjadi kecelakaan. "Dari arah Tanjungpura, ketika kita masuk jalur lingkar, pasti melewati tikungan jembatan yang cukup tajam yang tidak disertai dengan rambu pembatas. Akibatnya apabila kita tidak hati-hati, pasti akan menabrak pembatas tersebut. Meskipun setiap hari saya melewati jalur ini, namun tetap saja selalu was-was, apalagi pengendara yang baru melewati jalur lingkar pada malam hari," ungkapnya, Jum'at (4/9) siang.

Menurutnya, banyak kecelakaan lalu-lintas terjadi, akibat tidak lengkapnya rambu lalu-lintas dan minimnya penerangan jalan. "Saya kira lima puluh persen kecelakaan terjadi akibat fasilitas penunjang jalan tidak lengkap, selebihnya karena kecerobohan dan kelalaian pengemudi," tandasnya. Sidik (19) salah seorang pengemudi motor merasa tidak nyaman ketika melewati jalur lingkar, khususnya malam hari. Hal itu dikarenakan minimnya lampu jalan disepanjang jalur lingkar. "Jalur lingkar yang sangat panjang dan sepi penduduk, sangat rawan tindak kejahatan. Seharusnya pemerintah memikirkan efek dari belum lengkapnya rambu jalan, jangan sampai setelah ada kejadian tindak kejahatan baru ribut mengenai kelengkapan," tuturnya.

Kepala Unit Kecelakaan Lalulintas (Kanit Lakalantas) Iptu Sumaryana ketika ditemui di kantornya, mengatakan, jumlah rambu dan lampu penerangan yang sudah terpasang masih terbatas. "Rambu-rambu dan lampu penerangan itu  kurang. Hendaknya, Pemkab Karawang mampu menambah rambu dan lampu tersebut untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan," ujarnya.  Selain rambu dan lampu yang masih terbatas, ruas jalan menuju pintu keluar Lamaran, baik kendaraan yang datang dari arah Kantor Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Tanjungpura atau Warungbambu, kondisinya terlalu menyiku.

Akibatnya, ruang gerak kendaraan pada saat berbelok sangat sempit."Di lokasi tersebut sudah sering terjadi kecelakaan. Namun karena kerugiannya bersifat materi, mereka enggan kasusnya diproses secara hukum," tambahnya. Menurut Ketua Rekayasa Lalu-Lintas Dishubkominfo Dede Sudrajat beberapa waktu yang lalu mengatakan, kelengkapan rambu lalu-lintas di jalur lingkar baru akan terealisasi tahun 2010. "Anggaran yang digunakan untuk pembangunan jalur lingkar berasal dari dana APBN. Sedangkan untuk kelengkapan rambu dikeluarkan dari dana APBD Kabupaten, yang rencananya akan dimasukan di APBD 2010," tandasnya.

Terkait persiapan arus mudik, Kepala Seksi Manajemen Rekayasa Lalu-lintas Dishubkominfo Wawan Setiawan mengaku pihaknya sudah memetakan jalur bagi kendaraan roda empat dan dua. "Untuk roda dua rencananya masuk melewati kodim lalu ke johar setelah itu keluar melalui wadas/parakan, sedangkan untuk roda empat dari Bypass masuk ke jalur lingkar lalu diteruskan ke Klari. Untuk mengantisipasi kemacetan, didepan terminal Klari, angkutan umum jurusan Cikampek-Klari yang selama ini mengetem diluar terminal akan kami dipindahkan ke lahan pengairan yang ada didepan terminal," katanya. (psn)

Petani Palawija di Desa Tanjungmekar, Kecamatan Karawang Barat Gagal Panen


KARAWANG, RAKA
- Memasuki musim kemarau, hektaran lahan palawija di Desa Tanjungmekar, Kecamatan Karawang Barat, mengalami gagal panen. Kegagalan tersebut disebabkan oleh minimnya pasokan air dan suhu yang terlalu kering, akibatnya tanaman mentimun tidak tumbuh dan kering.

"Mentimun yang saya tanam dilahan seluas enam hektar, hanya bertahan lima belas hari. Padahal saya sudah berupaya, untuk mempertahankan kelembaban suhu dengan terus menyirami mentimun setiap siang. Namun kualitas air yang kurang bagus ditambah suhu yang sangat panas, membuat pertumbuhan mentimun tidak maksimal," ungkap Yaya (36) petani mentimun setempat, Jum'at (4/9) sore.

Ia mengaku, baru pertama kali mengalami gagal panen. Menurutnya, dari tahun ke tahun, meskipun musim panas, mentimun yang ia tanam tidak pernah mengalami kekeringan. "Saya bingung dengan keadaan cuaca tahun ini. Padahal, kalau melihat dari minimnya pasokan air, tahun lalu saya juga mengalami hal itu, tapi tidak pernah membuat tanaman saya mati. Terkait dengan kerugian yang dialami, saya tidak bisa mengatakan berapa jumlahnya, soalnya saya hanya petani penggarap bukan pemilik perkebunan," tandasnya.

Untuk mengantisipasi kegagalan tersebut, ia akhirnya mengganti mentimun dengan paria dan oyong. Menurutnya, tanaman tersebut lebih tahan panas dibandingkan mentimun. "Menurut petani oyong dan paria yang telah panen, kekuatan paria dan oyong lebih bagus daripada mentimun. Makanya, saya langsung mengganti mentimun dengan oyong dan paria, dengan harapan agar tiga puluh hari kedepan, apa yang saya tanam bisa dipetik hasilnya. Tapi kalau melihat hasil panen dari tahun ketahun, saya akui jumlahnya terus merosot, karena berbagai macam penyakit dan keadaan iklim yang sudah tercemar," ucapnya.

Hal yang sama dikatakan Waska (30) petani mentimun. Menurutnya, perubahan cuaca yang drastis membuat pertumbuhan mentimun tidak maksimal. "Kurangnya curah hujan, membuat jumlah kutu yang menyerang mentimun semakin banyak. Alhasil panen yang diperoleh semakin berkurang, karena banyak mentimun yang tidak layak dijual disebabkan oleh berubahnya warna mentimun menjadi merah dan busuk. Kebun seluas empat hektar yang saya kelola, sekali panen hanya menghasilkan sepuluh ton. Itupun akan semakin berkurang seiring dengan waktu," katanya.

Namun minimnya hasil panen yang diperoleh tidak membuat harga mentimun naik. Karena menurut Waska, naik turunnya harga mentimun tergantung dari permintaan. "Sekarang ini harga mentimun hijau hanya dua ribu rupiah per kilo, sedangkan untuk mentimun putih enam ratus perak per kilo. Itu berarti dari tahun kemarin tidak ada perubahan harga sama sekali, akibatnya para petani mentimun terus mengalami kerugian," ungkapnya. (psn) 

Bubur Sumsum Makanan Khas Jawa Timur


KARAWANG, RAKA
- Bubur sum sum, makanan khas Jawa Timur, ternyata banyak digemari oleh masyarakat Karawang. Selain kental dan manis, bubur sum sum mampu menawarkan sensasi yang berbeda apabila sudah berada di tenggorokan, hal inilah yang membuat bubur sumsum berbeda dengan makanan lain.

Komposisi bubur yang padat namun lunak, diolah dengan saus manis, ditambah dengan sedikit aroma pandan, memang sangat menggugah selera, apalagi disantap dengan segelas teh hangat pada saat berbuka puasa. Hal inilah yang membuat masyarakat Karawang menyukai bubur sumsum. Menurut Yosi (29) penjual bubur sumsum di kawasan KW 5, penjualannya meningkat seratus persen pada saat bulan Ramadhan.

"Di bulan biasa saya hanya bisa menghasilkan Rp. 150.000,00 perhari, namun pada saat menginjak bula Ramadhan bisa mencapai Rp. 300.000,00. Meskipun saya hanya berjualan dari pukul 16.00 sampai pukul 21.00 WIB, namun omset saya bisa bertambah jauh dari hari biasa, dimana saya berjualan dari pagi hingga sore hari," ungkapnya, Kamis (3/9) sore.

Dilihat dari cara pembuatannya, menurut Yosi, bubut sumsum termasuk makanan yang tidak terlalu sulit dibuat. Lima liter bubur sumsum, bisa ia buat hanya dengan tiga jam. "Cara membuat bubur sumsum sangat sederhana. Tepung beras dicampur dengan sebagian santan dan garam, lalu aduk rata. Masak sisa santan dan pandan hingga mendidih, lalu tuangkan dengan larutan tepung beras, aduk hingga kental dan mendidih, lalu angkat. Untuk sausnya, hanya gula, santan dan garam dicampur dan masak hingga larut mendidih, setelah itu angkat lalu saring. Setelah saus siap, lalu tuangkan diatas bubur, setelah itu bubur sumsum siap untuk disantap," katanya.

Menurutnya, bagi yang tidak sempat untuk membuat santapan pembuka buka puasa, bubur sumsum bisa dijadikan menu utama. Pasalnya, bubur sumsum mengandung gula merah yang bisa menambah stamina. "Menurut ulama, buka puasa harus diawali dengan yang manis-manis, dan bubur sumsum adalah jawabannya. Namun, kelezatan bubur sumsum tidak bisa hanya diungkapkan dengan kata-kata, harus dirasakan sendiri. saya jamin apabila sudah merasakan sekali sensasi bubur sumsum, pasti akan ketagihan," tuturnya. (psn)

Buka Bareng Rame-rame Aktivis Pelajar, Dilakoni Anak Paskib 'n PMR di Karawang, Kemarin


JALIN
kebersamaan di suasana bulan suci Ramadhan, anak-anak Paskibraka Karawang plus PMR SMKN 2 Karawang rame-rame tuh bikin acara buka puasa bareng, Jumat (4/9). Acara berbuka puasa bareng dua aktivis ekskul di sekolahan itu emang nggak di tempat yang sama. Tapi, hal itu udah cukup bikin suka pihak terkait yang membawahinya.

"Soalnya yang kami tahu semua untuk rasa kebersamaan. Apalagi di suasana Ramadhan yang agung dan suci ini, tentu hasil akhir yang baik bisa lahir dari keberadaannya," syukur Pak H. Ade Mahmud, MPd, Kabid Pemuda dan Olahraga Disdikpora Karawang. Menurut Pak H. Ade yang dihubungi RAKA seusai acara, rasa kebersamaan di antara para aktivis tentu bakal jadi penguat organisasi. Dan saat kebersamaan itu terjadi, prestasi yang maksimal pun insya Allah karenanya bakal lebih mudah digaet. "Moga-moga saja," harap Pak H. Ade.

Di Aula Disdikpora dan SMKN 2 Karawang
Aktivis Paskiraka bikin acara buka puasanya di Aula Kantor Disdikpora Karawang, Jl. Surotokunto, Karawang Timur. Acaranya sekaligus dirangkai pembubaran Paskibraka 2009 yang udah sukses jadi pengantar acara peringatan HUT RI ke-64.
Acara diawali sambutan Penanggung Jawab Harian Paskibraka Karawang, Kang Risman Maulana yang antara lain bersyukur pelaksanaan Paskibraka, baik yang di Karawang maupun yang jadi utusan di Jabar, udah berjalan mulus. Begitu pun pelaksanaan ibadah puasa yang meski baru menginjak hari terakhir pekan kedua.

Tausiyah disampein unsur seniornya, Kang Deden Gunawan dari PPI yang dilanjut Kang M. Faris Fatwa dari SMAN 5 Karawang, yang antara lain menyebut di bulan Ramadhan ini Allah SWT menjanjikan akan melipatgandakan amal ibadah umat yang berpuasa. Untuk itu, diharap semua bisa menjalaninya dengan baik sesuai aturannya. Hadir di acara itu selain armada paskibraka, juga para awak paskibra sekolahan, unsur pelatih di antaranya Pak Serma Asmarudin, juga para unsur PPI di antaranya Kang Deden Gunawan, kang Ari Rahmat Wijaya, AMd, juga Teh Meigie.

Kesan Pribadi Muslim
Seirama anak paskibraka, suasana di pelaksanaan acara buka puasanya anak PMR SMKN 2 Karawang juga relatif sama. Acara yang digelar di aula gedung sekolahannya, Jl. Banten Karangpawitan, Karawang Barat, itu kayak yang diakui keplaknya, Romlah yang bareng penanggung jawab, Syifa, intinya buat kebersamaan. Sementara mengomentari acara, sejumlah anggota paskibra maupun PMR yang ditemui ngakunya merasa suka.

Cuap Faizal Akbar, St. Halimah, Vonny, Utami, Fajar, Khoeruddin, dan Ryan Terdiana yang anak paskibraka plus apaskibra sekolahan, soalnya selama ini mereka jarang bersama di suasana bulan suci Ramadhan yang penuh berkah. Kecuali melepas kangen, "Di acara ini juga sedikitnya kita-kita bisa berbagi ilmu agama," sebut St. Halimah. Hal senada juga disampein St. Julaeha, St. Karmilah, juga Melinda yang anak PMR SMKN 2 Karawang. Lewat momentum buka puasa bareng itu, "Kita-kita malah juga jadi lebih punya kesan, deh. Bersama sesuai pribadi muslim, gitu," papar St. Julaeha yang diamini teman-temannya. (dea wahyudi)

Vista Mimpi jadi Atlet Bola Voli Nasional yang Profesional


WAJAH
ceria tetap mewarnai raut Vista Dwi Rahmatika, Jumat (4/9) sore. Berpuasa yang dijalaninya, seolah nggak ngaruh buat latihan bola voli yang saat itu dijalani.

"Nggak ngaruh banget, tuh. Soalnya aku emang suka, kok," cuap Vista saat ditemui di sela latihan bola volinya di lapang outdoor GSG Panatayudha, Jl. A. Yani By pass, Karawang Barat. Kata gadis kelahiran 13 Agustus 1995 ini, soal puasa itu kan udah jadi kewajiban sebagai seorang muslimah. Itu nggak bisa ditawar-tawar lagi, coz emang ada aturannya. Biar begitu buat latihan bola voli, juga sama pentingnya. "Soalnya aku emang suka. Nggak bisa ditawar-tawar juga," akunya.

Vista adalah satu dari puluhan atlet PBV Tunas Panatayudha yang di bulan puasa ini tetep aktif menjalani latihannya. Soalnya di bola voli, gadis hitam manis yang juga siswi kelas IX.H SMPN 2 Karawang Barat ini sedikitnya udah bisa tuh merengguk hasilnya. Terakhir, Mei lalu, Vista menjadi bagian dari tiga atlet bola voli cewek Karawang yang bisa masuk Olimpiade Nasional 2009 di Jakarta. Dua teman Vista waktu itu Gaga dan Lala, yang duaannya siswi SMPN 1 Tirtamulya. Selain itu saat di Porkab Karawang, 2008, Vista juga masuk tim inti peraih perak bola voli buat kontingennya.

Belum lagi kalo klubnya harus bertanding. Kayak yang diakui pelatihnya, Pak Hambali yang ditemui terpisah, "Vista pasti masuk tim inti. Sebab permainannya memang oke." Lalu merasa emang punya talenta di boala voli, anak kedua dari tiga bersaudara keluarga Pak Yusuf dan Ibu Lidya Hesta Sonita, warga Perum Bintang Alam, Telukjambe Timur, ini pun sempat punya mimpi kalo di kelak kemudian hari doi bisa jadi atlet nasional yang profesional. "Ya. Itulah emang alasannya kenapa biar puasa, soal lemesnya aku bikin nggak ngaruh," aku Vista sembari minta doa biar maunya bisa diraih. "Bantu doa, ya..," pungkasnya. (dea wahyudi)

11 Titik Rawan Kebakaran di Purwakarta, Hutan Mulai Diwaspadai


PURWAKARTA, RAKA
- Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwakarta mewaspadai 11 titik rawan kebakaran hutan. Hal itu dilakukan berdasarkan hasil pemetaan tahun sebelumnya. Bahkan, meskipun saat ini mulai memasuki musim penghujan, tetapi waspada akan kebakaran tetap dilakukan.

Komandan regu Tim penanggulangan KPH Perhutani Purwakarta Suharto mengatakan dari 11 titik itu meliputi 3 wilayah kabupaten yakni Karawang, Subang Dan Purwakarta. Bahkan titik kerawanan paling di khawatirkan berada di kecamatan Subang. "Saat ini memang sudah memasuki musim penghujan. tapi kita akan terus mewaspadainya, "ujarnya kepada RAKA, kemarin.

Diantara 11 titik itu, khusus di Kabupaten Karawang jelas Suharto salah satunya meliputi KPH Tegal waru yang meliputi kec pangkalan serta kawasan hutan di  Kutapohasi kec Ciampel. Sementara titik kerawanan di kab Purwakarta, berada RPH Sadang yang meliputi kecamatan Cibungur, Cibatu, Campaka, dan Pondok salam.

Alasan lebih menitikberatkan dilokasi-lokasi lokasi tersebut, kata Suharto, selain lokasinya berada di wilayah yang kerap menjadi akses jalan bagi kendaraan, areal hutan tersebut tidak begitu jauh dari permukiman warga. Bahkan penyebab kejadian selain akibat kejadian alam seperti petir, ada pula akibat kesalahan manusia yakni membuang putung rokok semabarangan.

"Secara pasti penyebab kebakaran, kami tidak menjelaskan secara pasti. Tapi kejadian kebakaran sifatnya dadakan. Meskipun demikian, penyebabnya selain petir ada juga akibat kelalaian masnusia,"tandasnya. Sehingga kata dia, untuk mengantispasi peluang terjadi kebakaran hutan khsususnya dititik tersebut. Kata Suharto, pihaknya telah melakukan pemetaan terhadap lokasi rawan kebakaran. Apalagi, pemetaan itu pun berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya. "Kita juga sudah membentuk tim-tim yang masing-masing berada di titik rawan kebakaran. Sehingga jika ada sesuatu tim langsung bisa berbuat,"katanya.

Sementara itu saat disinggung, mulai memasuki musim hujan seperti sekarang ini. Jelas Suharto, tak dipungkiri hal ini bisa mencegah adanya kebakaran hutan. Tetapi diakuinya, pengawasan akan tetap dilakukan. "Jelas pengawasan akan kita lakukan,"ucapnya. Bahkan pengawasan itu tidak hanya melibatkan Polisi Mobil (Polmob) dan Polisi Teritorial (Polter). Namun masyarakat di sekitar hutan yang tergabung dalam Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) diharapkan juga ikut serta mencegah terjadinya kebakaran. (ton)

Bank Tabungan Negara Purwakarta (2), Gandeng 45 Developer Kejar Target


SAAT
ini Bank BTN sudah menggandeng 45 developer yang tersebar di wilayah Purwakarta, Subang, Karawang dan Cikarang,  8 Depelover diantaranya merupakan developer  yang baru baru bergabung. Developer memiliki perbedaan yakni ada Developer yang mendapat dukungan konstruksi dan developer yang hanya mendapat dukungan KPR.

Untuk developer yang mendapatkan bantuan kredit konstruksi bank BTN membantu permodalan hingga pembangunan. Sedangkan untuk developer yang hanya mendapat dukungan KPR saja bisa menggunakan modalnya dengan modal sendiri atau dengan modal yang berasal dari Bank lain. Bahkan hingga saat ini kerjasama antara Bank BTN dengan semua developer dapat berjalan dengan lancar.

Untuk tahun 2009 Bank BTN di targetkan menyalurkan anggaran melalui kredit sebesar RP. 132 M, sedangkan hingga saat ini BTN sudah menyalurkan RP. 70 M sedangkan sisanya harus kami capai hingga akhir tahun 2009, untuk mencapai nominal yang di targetkan Bank BTN harus pro aktif melakukan marketing. "BTN cabang Purwakarta optimis menyalurkan bantuan kredit sebesar RP.132 M, hasil sementara sudah mencapai hingga kurang lebih 70 M, sedangkan sisa dari target yakni sebesar Rp. 62 M, nilai ini optimis kami raih," ujar Kepala seksi kredit Bank BTN cabang Purwakarta Abdul Aziz.

untuk mencapai target Abdul Aziz mengaku sudah pro aktif melakukan marketing, selain bekerjasama dengan Dinas Perdagangan Perindustrian dan UKM Kab. Purwakarta, BTN juga melakukan marketing ke Perusahaan Pemerintah dan swasta. "Untuk menyalurkan modal koperasi usaha rakyat (KUR) kami kerjasama dengan Dinas perdagangan dan UKM Purwakarta. Dan, agar nominal yang di targetkan bisa tercapai kami juga sudah menggandeng perusahaan swasta seperti  PT. Indo Bharat Rayon (IBR) dengan anggunan SK pengangkatan dan Kartu Jamsostek, selian itu BTN juga telah melakukan MoU dengan RS bersalin Griya Asri, dan rencananya tahun ini juga Bank BTN sedang mencoba melakukan kerjasama dengan PJT II Jatiluhur dan kantor Pos Purwakarta," ucap Aziz.

Bahkan menurut Aziz saat ini semua bank melayani masyarakat di bidang KPR. Karenanya menurut Aziz untuk mencapai target tersebut pihaknya harus pro aktif melakukan marketing. "Sebelumnya kami sudah bekerjsama dengan disperindag dan UKM Purwakarta dan Perusahaan PT. Indorama dan RS. bersalin Griya Asri, dan kami juga sudah mengajukan kerjasama dengan PJT II Jatiluhur Purwakarta dan PT.Pos persero Kab. Purwakarta," imbuhnya. (habis/Asep Ahmad)

Disnakan kab Purwakarta Awasi Ketat Daging, Siagakan Petugas Antisipasi Daging Gelonggong

AMAN: Pasar hewan Ciwareng tampak ramai hewan sapi potong. Dengan kondisi sekarang pemerintah Purwakarta optimis kebutuhan masyarakat akan daging sapi bakal aman hingga menjelang lebaran.

PURWAKARTA, RAKA
- Dinas Peternakan dan Perikanan (DPP) kab Purwakarta makin memperketat pengawasan penjualan sapi di sejumlah pasar di Purwakarta. Bahkan pengawasan ini langsung dilakukan dengan menempatkan sejumlah petugas terutama di pasar hewan. Hal itu guna mengantisipasi adanya penjualan daging sapi gelonggong selama Ramadan dan Idul Fitri.

Kasi kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan perikanan Kab Purwakarta Roinudin mengatakan pengawasan terhadap penjualan daging hingga kini terus dilakukan pihaknya. Menurutnya, para petugas lapangan dinas peternakan dan perikanan Kab Purwakarta juga sudah jauh sebelumnya telah ditempatkan disejumlah  pasar hewan di 3 kecamatan yang ada di purwakarta.

Selain itu pengawasan terhadap penjualan daging tersebut sebenarnya  merupakan kegiatan rutin yang terus dilakukan. "Penjualan terhadap penjualan daging sejumlah pasar adalah hal yang biasa. Sebab kegiatan ini merupakan kegiatan yang terus kami lakukan,"katanya kepada RAKA, kemarin. Kendati demikian, kata dia komposisi pengawasan itu semenjak bulan ramadhan ini dan hingga hari raya idul fitri nanti. Intensitas pengawasannya cukup rutin dibanding harinya biasanya. Mengingat pada bulan ramadhan biasanya permintaan daging akan meningkat dibanding pada hari-hari biasanya.

Menurutnya, para  petugas yang diterjunkan itu pun nantinya akan melakukan pengecekan kesehatan daging, termasuk mengawasi keluar masuknya sapi-sapi  dari beberapa wilayah yang datang ke Purwakarta. "kebetulan kab Purwakarta merupakan wilayah yang memiliki pasar hewan terbesar di banding wilayah lain. Sehingga petugas itupun akan senantiasa melakukan pengecekan. Bahkan dalam satu minggu ini petugas melakukan pengecekan 3 kali dalam seminggu,"ucapnya.
Sementara itu, menghadapi Idul Fitri tahun ini, lanjut dia, harga daging diprediksi bakal mengalami kenaikan tertinggi yang mencapai 75.000/kgnya.

Menurutnya, prediksi ini sesuai dengan kenaikan harga daging jelang memasuki bulan ramdan kemarin, meski saat ini harganya sudah kembali normal.  "Kalau sekarang ini harga daging sapi kisaran Rp 50.000 -Rp 51.000 per kg, naik Rp 5.000 per kg dibandingkan harga sebelum Ramadan," jelasnya. Rodzi Agus Harianto, 50, seorang pemasok sapi asal jawa timur menyatakan, sejak awal Ramadan dirinya sehari mampu menjual empat ekor sapi. Mulai kemarin, permintaan sapi meningkat hingga tujuh ekor. Dia memperkirakan permintaan sapi terus meningkat hingga Idul Fitri nanti yang ditemui di pasar hewan ciwareng. (ton)

Distamben Tutup Galian C di Kampung Sepanjati


PURWAKARTA,RAKA
- Galian C di Kampung Sepanjati, Desa Cipancur, Kecamatan Cibatu, untuk sementara ditutup Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Kabupaten Purwakarta. Itu dilakukan sesuai dengan tuntutan warga Kampung  yang meminta agar lokasi galian C (pasir kerikil) di Kampung Sepanjati ditutup, setelah perusahaan yang mengeksploitasi tanah tersebut, yaitu PT SP dinilai melanggar kesepakatan.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi, Wawan Tarsamana, Jumat (4/9) kemarin. Menurutnya, sejak warga yang bermukim di sekitar lokasi bereaksi mengajukan penolakan terhadap lokasi penggalian pasir (galian c) karena mereka menganggap perusahaan telah mengingkari janjinya untuk tidak menggunakan jalan desa. Bahkan, kata Wawan sebagai buntut dari penolakan terhadap lokasi galian c tersebut, warga memasang portal di depan kantor Desa Cipancur yang merupakan satu-satunya akses jalan menuju lokasi galian c tersebut.

Hal senada diungkapkan Kepala Desa Cipancur, Jejen Setiawan. Kata Kades, perusahaan yang dianggap tidak menyepakati perjanjian awal yaitu tidak menggunakan jalan desa malahan menggunakan jalan desa untuk kepentingan suplai produksi, sehingga memperparah kerusakan jalan tersebut. Diakuinya, pada Minggu (30/8) malam kemarin, sejumlah tokoh masyarakat dan pemuda di Kampung Sepanjati, Desa Cipancur mengadakan pertemuan di Balai Desa Cipancur dan sepakat untuk menolak penggalian pasir di Kampung Sepanjati. Untuk menindaklanjuti penolakan galian pasir tersebut, kata Jejen, jalan menuju lokasi penggalian persis di depan Balai Desa Cipancur dipasang portal dengan harapan kendaraan truk angkutan pasir tidak dapat melintas.

Sesep Hasyim, tokoh pemuda setempat, menuturkan,  masyarakat di sekitar sudah lama mempersoalkan keberadaan penggalian pasir disana. Pasalnya, jalan desa yang sudah rusak diperparah dengan sering dilintasi oleh truk angkutan pasir. "Awalnya, perusahaan yang menggarap galian C di Kampung Sepanjati itu akan menggunakan jalan milik PTPN VIII sehingga warga tak keberataan dengan adanya galian pasir di daerahnya. Tetapi, belakangan ini warga menyadari bahwa truk-truk angkutan pasir itu ternyata tidak menggunakan jalan PTPN VIII Cikumpay," kata Sesep Hasyim. Sementara, pihak perusahaan yang hendak dikonfirmasi hingga kemarin tak dapat dijumpai. (rif)

Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Kabupaten Purwakarta, Belum Tanggap Harga Kepokmas Naik


"Seharusnya
Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Kabupaten Purwakarta bisa cepat tanggap. Harga Kepokmas naik, banyak temuan barang tak sesuai prosedur, belum lagi indikasi kejahatan pedagang yang nakal,"kata Edi Mulyadi (40) warga Maracang, Kecamatan Babakan Cikao Purwakarta, kepada RAKA, kemarin.

Edi, mengutarakan hal itu bukan tanpa alasan. Kata dia, kurang tanggapnya Disperidag pada fenomena pasar yang terjadi terlebih menjelang Lebaran ini ditanggapinya sebagai wujud kinerja pelayan masyarakat yang mundur. "Harusnya mereka bisa tanggap dong! bukannya anggaran untuk hal-hal pengawasan dan penindakan mengenai pasar sudah dialokasikan, ini masalah perlindungan konsumen yang berarti juga perlindungan masyarakat,"tegasnya.

Meskidemikian, Edi tak memungkiri selama ini kinerja Disperindag sudah cukup keras. Namun, tambahnya, kerja keras itu perlu ditingkatkan kembali mengingat fenomena pasar yang terjadi saat ini lebih condong merugikan masyarakat. "Bukan sekali saja media mengabarkan bila di Purwakarta masih ditemukan fenomena yang merugikan masyrakat terlebih dalam urusan perlindugnan konsumen,"ujarnya.(rif)

Harga Gula dan Bawang Putih Masih Tinggi di Pasar Tradisional Purwakarta

NAIK: Sejumlah harga Kepokmas terutama gula pasir dan bawang putih masih tinggi di purwakarta dan cenderung naik. Seorang pelayan grosir di Pasar Rebo menunjukan sejumlah kebutuhan pokok masyarakat yang juga mulai merangkak naik.

PURWAKARTA, RAKA
- Hingga pekan ke dua bulan Ramadhan, harga kebutuhan pokok masyarakat (Kepokmas) di tingkat grosir pasar tradisional Kabupaten Purwakarta masih tinggi. Lonjakan harga Kepokmas yang terus naik itu antara lain gula pasir dan bawang putih.

Ema (21), penjual grosiran kebutuhan pokok masyarakat, kepada RAKA, Jumat (4/8), mengatakan, selama sepekan terakhir ini harga Kepokmas yang cenderung terus naik antara lain gula pasir dan bawang putih. Hingga kemarin, harga yang ditawarkan untuk gula pasir dengan ukuran per 50 kilogram dijual dengan harga Rp 462.000 dari harga sebelumnya (sepekan sebelumnya) Rp 445.000 per 50 kilogram.

Sedangkan untuk harga bawang putih, lanjut Ema, naik Rp 14.000 per kilogram dari harga sepekan sebelumnya yang cuma Rp.12.000 per kilogramnya. "Seminggu sebelumnya padahal harga gula dan bawang masih belum naik, tapi seminggu terakhir ini harganya malahan naik. Khusus untuk bawang putih, harganya belum menunjukan penurunan dari pertama kali naik,"kata Ema di CV Dimas Pasar Rebo Kabupaten Purwakarta. Ditambahkan Ema, harga Kepokmas lainnya yang cenderung mengalami kenaikan antara lain gula merah dari Rp 78.000 per 10 kilogram menjadi Rp 86.000 per 10 kilogram.

Sedangkan harga Kepokmas yang mengalami penurunan, meliputi harga minyak goreng curah dari Rp 8000 per kilogram menjadi Rp 7.700 per kilogram, dan haraga telur ayam dari Rp 200.000 pr 15 kilogram menjadi Rp 200.000 per 15 kilogram. Sementara, disebukan harga yang masih stabil atau tidak berubah selama sepekan ini, yakni harga terigu. "Unuk harga terigu murah masih di harga Rp 127.000 per 25 kilogram dan harga terigu segitigabiru Rp.168.000 per 25 kilogram,"tambah Ema.

Dilain pihak, harga sejumlah Kepokmas di tempat bukan grosir (didalam pasar) dilaporkan harganya bervariasi.  Rata-rata harga yang ditawarkan lebih besar ketimbang harga yang dibandrol grosiran dengan asumsi penawaran lebih besar sekira 10 sampai 15 persen. "Misalnya kalau digrosir harga gula yang ditawarkan sebesar Rp.78.000 per 10 kilogaram, maka di pasar harganya bisa dijual dengan harga Rp.78.500 sampai Rp.8000 per kiloghramnya. Demikian juga pada harga kepokmas lainnya," ujar Ema.

Sementara, Kepala Disperindag Koperasi dan UKM Kabupaten Purwakarta, Endang Koswara, ketika hendak dikonfirmasi RAKA di kantornya kemarin pagi di Jalan Ahmadyani Purwakarta sedang tidak ada ditempat. Para pegawainya pun ketika ditanya tak mengetahui keberadaannya. "Tadi ada kok di aula," kata Satu Pegawai Disperindag Koperasi dan UKM Purwakarta Ahmad Korib. (rif)

Purwakarta Siapkan Jalur Mudik, 20 Posko Lebaran Disiagakan Selain 150 Labu Darah


PURWAKARTA, RAKA - Jelang lebaran tahun ini, pemerintah di Kabupaten Purwakarta mulai mengintensifkan kinerja dengan melakukan pengawasan maupun penataan sejumlah sarana publik yang bakal digunakan masyarakat untuk berlebaran. Kegiatan itu, dilakukan untuk memastikan kenyamanan, ketertiban dan keamanan selama masa Ramadhan hingga Lebaran.

Berdasarkan laporan yang dihimpun RAKA, instansi yang mulai melakukan penataan dan pengawasan tersebut seperti pihak Kepolisian meliputi Polwil dan Polres Purwakarta, Dinas Perhubungan Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (Dishubparpostel), Dinas Kesehatan, dan UTD Palang Merah Indonesia. Selain itu, sejumlah pihak dari luar lembaga pemerintah juga dilaporkan mulai turut dan akan melakukan persiapan untuk membantu kesiapan Lebaran.

Pemkab Purwakarta melalui Dishubparpostel, Dinkes, dan UTD PMI misalnya, bekenaan dengan masa Lebaran ini terutama saat arus mudik dan balik mereka sudah memetakan sejumlah tugas yang akan dilakukan selama masa awal hingga akhir Lebaran. Dari Dishubparpostel dipetakan beberapa tugas, antaralain persiapan terminal, halte, rambu lalu lintas, persoalan ketetapan tarif angkutan, hingga kelaikan kendaraan angkutan lebaran.

"Pada prinsipnya kita siap lakukan antisipasi Lebaran, pemetaan yang dilakukan meliputi pemantauan angkutan lebaran terpadu pada H -7 sampai H +7 lebaran dari pengawasan kendaraan angkutan lebaran, tarif angkutan umum, larangan lewat kendaraan barang, dan persiapan rambu-rambu, selain memastikan kesiapan titik keberangkatan angkutan lebaran,"kata Kepala Dishubparpostel kabupaten Purwakarta, Iyus Permana, Kepada RAKA, beberapa waktu lalu.

Sedangkan dari pihak Kepolisian, pemetaaan tugas diantaranya dilakukan dengan mempersiapkan layanan jalur arus mudik sampai penamanan di titik-titik kriminalitas dan rawan kemacetan. Disebutkan, ribuan personil Polisi, khusus untuk masa Lebaran ini bakal diterjunkan untuk menciptakan konsisi aman dan tertib di wilayah Purwakarta. "Ya, kita diantaranya sudah melakukan pemetaan terhadap hal-hal yang berkenaan dengan masa Lebaran. Kita ingin pastikan wilayah Purwakarta selama masa Lebaran tak terkendala,"kata kapolwil Purwakarta, Kombes Pol. Jodie Rooseto.

Sementara dari Dinas Kesehatan, dipastilan posko-posko Lebaran terutama bagi para pemudik akan didirikan dalam memberikan pelayanan kesehatan. Rencanaya, pihak Dinkes akan mendirikan posko tersebut sebanyak 20 pos di 20 titik berbeda. "Lebaran sekarang, dalam memberikan pelayanan kesehatan rencananya akan didirikan 20 posko di 20 titik berbeda, "terang Kasi P2PL dinas Kesehatan Purwakarta, Agung Darwis.

UTD PMI Purwakarta juga memastikan kesiapan stok darah di Purwakarta aman hingga usai Lebaran nanti. Saat ini sebanyak 303 labu darah berbagai golongan tersedia untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Humas unit Transfusi darah (UTD) PMI Kabupaten Purwakarta, Sudaryono, ketika ditemui diruang kerjanya, mengatakan, kebutuan darah di Purwakarta per minggu tercatat sebanyak lebih kurang 100 sampai 150 labu. Sehingga jumlah tersebut mencukupi untuk tiga minggu kedepan. Jumlah tersebut, masih akan ditambah dengan hasil kegiatan UTD di sejumlah gereja di wilayah Kabupaten Purwakarta pada H- 7 menjelang lebaran.

"Sampai tiga pekan ke depan, stok darah di Purwakarta masih mencukupi dan jumlah itu pun dipastikan akan ditambah lagi dari kegiatan donor darah di beberapa gereja sebelum lebaran nanti,"ucap Sudaryono. Begitupun yang dilakukan pihak Stasiun Kereta Api Purwakarta. masa Lebaran ini,  Dilain pihak, Stasiun Purwakarta. Pada Lebaran tahun ini pun melakukan persiapan  antara lain dengan mendirikan posko PAM Ketupat Lebaran, mengintensifkan pengawasan jalur rel KA, dan menempatkan petugas keamanan di lokasi stasiun. "Ya koordinasinya akan dilakukan seperti biasanya, antara lain dengan pihak Polres, Pramuka, dan Orari. Kita pun mengintensifkan kinerja juru pemeriksa jalan,"ucap Kepala Stasiun Purwakarta Dede Cahya Koswara. (rif)

OPR di Desa Warung Jeruk, Kecamatan Tegalwaru Digelar Sepekan Menjelang Lebaran


PURWAKARTA, RAKA
- Pemkab Purwakarta berencana bakal menggelar Operasi Pasar Ramadhan (OPR) di Desa Warung Jeruk, Kecamatan Tegalwaru dalam waktu dekat ini. Pasar Peduli Ramadhan ini merupakan upaya pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat yang meningkat selama bulan puasa ini.

"Kalau tidak ada halangan kita akan menggelarnya pada 16 dan 17 September mendatang dilapangan Desa Warung Jeruk,"kata Kepala Bagian Ekonomi Pemkab Purwakarta, Abad Hasyim, kepada RAKA, saat dihubungi, kemarin.
Menurut Abad, nantinya dalam gelar operasi pasar Ramadhan tersebut masyarakat di perbolehkan untuk ikut serta menjajakan produk dagangan kebutuhan masyarakat.

"Sehingga acara ini, diharapkan bisa memenuhi kebutuhan pokok masyarakat (kepokmas) yang cenderung meningkat selama Ramadhan hingga Lebaran," katanya. Ditambahkannya, dalam acara yang nanti diselenggarakan itu, akan dijual berbagai produk-produk hasil tani selain sembako atau kebutuhan pokok masyarakat, seperti beras, aneka sayuran serta buah-buahan, susu, telur, ikan, bumbu dapur, produk olahan serta berbagai produk warga yang turut berjualan,"katanya seraya mengatakan OPR diprediksi akan diikuti sekitar puluhan stan dari berbagai daerah.

Disinggung rencana kegiatan operasi pasar kepokmas di pasar-pasar Purwakarta,  Abad menyatakan, sampai kemarin pihak Pemkab belum akan melakukan OP kepokmas, mengingat harga-harga Sembako selama 2 minggu bulan puasa di pasaran tidak mengalami kenaikan secara signifikan. "Sementara OP belum akan dilakukan, namun pengawasan dan pemantauan terus kami intensifkan bersama instansi terkait terutama pada penjualan jenis kebutuhan gula yang melonjak tajam,"ucap Abad. Sekedara diketahui, gelar OPR yang bakal dilangsungkan tersebut akan diikuti empat wilayah diantaranya, Subang, Karawang, Bekasi dan Purwakarta. (rif)

Sejumlah Petugas Dari Polsek Ciasem Tengah Melakukan Penyitaan

SITA PETASAN: Sejumlah petugas dari Polsek Ciasem tengah melakukan penyitaan terhadap berbagai jenis petasan yang diperjualbelikan di Pasar Ciasem dan Pasar Sukamandi pada razia pekat yang digelar, Jumat (4/9) siang. (pir)

Rehabilitasi SS Beres di Patokbeusi Tertutup ?

Lokasi rehabilitasi SS Beres di Patokbeusi.

SUBANG, RAKA
– Sejumlah pejabat terkait, tampak tengah melakukan inspeksi di lokasi perbaikan pintu SS Beres, Desa Ciberes, Kecamatan Patokbeusi, Jumat (4/9). Mereka adalah, Kepala Pelaksana Teknis PT Taruna Karya Pribumi Lucky Hermawan dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) PJT II yang berkantor di Karawang, Eno Supriyatna, serta didampingi petugas operasi dan pemerliharaan PJT II Divisi III Sukamandi, Manan.

Menurut pengakuan Eno, perbincangan dirinya di lokasi tersebut tidak memiliki keterkaitan dengan pelaksanaan proyek kedua SS tersebut, namun dirinya mengaku sedang melakukan kontrol pintu SS Beres yang rusak. Demikian pula dikatakan petugas OP PJT II Divisi III Sukamandi, Manan, kedatangannya ke lokasi tersebut merupakan kegiatan rutin dalam setiap bulannya. "Saya ke sini sedang melakukan pemeriksaan atau survey atas kondisi pintu air ini, yang kemudian akan dilaporkan kepada atasan mengenai adanya kerusakan pada empat pintu air yang ada di SS Beres ini," akunya.

Sementara itu pelaksana teknis PT Taruna Karya Pribadi Lucky Hermawan mengaku, dirinya tidak dapat memberikan data secara lengkap atas pelaksanaan proyek di lokasi tersebut, bahkan pada saat ditanya tidak adanya direksi kit dan papan proyek, dijawabnya, tidak dipasangnya direksi kit dan papan proyek dan pengukuran hal itu tidak ada karena sudah dari atasnya. Karena memang, setiap kali dilaksanakan proyek hal itu tidak lagi diperlukan dan apabila ketiga jenis tersebut tidak ada dapat mengurangi pagu anggaran pengeluaran. "Kemungkinan saja, tiga hal tersebut ditiadakan karena hanya menghasilkan biaya anggaran yang tidak ada manfaatnya," ucap Eno diiyakan Lucky.

Sementara itu, pada saat Lucky ditanya gambar proyek dirinya menjawab gambar proyek ada, akan tetapi bukan gambar proyek yang telah baku, akan tetapi gambar proyek yang ada saat ini gambar proyek perencanaan yang sekaligus menjadi dasar pelaksanaan pembangunan proyek rehabilitasi Saluran SS Beres dan pembuatan leaning SS Rawagebang.
Demikian pula pada saat diminta memperlihatkan gambar, tidak dapat menunjukan karena gembar tersebut tidak ada di tangannya, melainkan disimpan di Kantor direksi. "Meskipun dengan berat hati segala sesuatunya mengenai material yang digunakan untuk pembangunan proyek ini dapat dipakai semestinya," ucap Lucky. (pir)

Motor Nasabah Adira Finance Cabang Subang Hilang, Siti Masih Ditagih


SUBANG, RAKA
– Salah seorang nasabah Adira Finance Cabang Subang, Siti Kuraesin (37), warga Dusun Patokbeusi, RT 26/13 Desa Rancamulya, Kecamatan Patokbeusi, Jum'at (4/9), mengeluhkan tindakan yang dilakukan pihak Adira. Pasalnya, ia masih ditagih petugas perusahaan jasa keuangan tersebut, padahal yang bersangkutan telah melaporkan kehilangan motornya.

Menurut pengakuan Siti Kuraesin, selama motornya hilang pada bulan Mei lalu, pihak Adira telah mengirimkan lima kali tim penagihnya. Jum'at (4/9) lalu, pihak Adira memerintahkan tim eksekutornya, Subarno menagih tunggakan nasabahnya mulai bulan Mei hingga Agustus 2009 sebesar Rp 2.260.000. Sementara menurut Subarno pada saat dirinya menagih tunggakan terhadap nasabahnya mengatakan bahwa dirinya hanya melaksanakan tugas dari atasannya untuk menagih tunggakan angsuran yang belum dibayar oleh nasabah bernama Siti Kuraesin selama 4 bulan yang nominalnya sekitar Rp.2.260.000 tersebut.

Bahkan Subarno menanyakan unit motornya di mana, serta Subarno pun menanyakan alasan atas tunggakan selama 4 bulan tidak juga dibayar oleh nasabah yang bersangkutan. Selain itu, Subarno pun mempertanyakan kronologis hilangnya kendaraan sehingga yang bersangkutan tidak mau membayar tunggakan angsurannya. "Saya hanya perintah atasan saya dan ini surat perintahnya, untuk itu saya minta jawaban anda kapan akan membayar tunggakan dan di mana unit motornya," tanya Subarno. Siti Kuraesin pun menjawab langsung pertanyaan Subarno, bahwa dirinya tidak akan membayar tunggakan angsuran kredit motornya, bahkan Siti menyarankan kepada Subarno agar pesannya disampaikan kepada pimpinannya bahwa dirinya siap dituntut karena tidak membayar angsuran selama 4 bulan.

Bukan saja itu, Siti pun mengakui bahwa dirinya mempunyai keterkaitan atau piutang kepada Adira atas kredit motornya yang selama 4 bulan ini tidak diangsur, adapun alasan tidak mengangsur cicilan setoran motornya karena dirinya menyesalkan tindakan Adira yang hingga saat ini masih terus mengirimkan tim penagihnya, padahal pihaknya telah melaporkan kejadian hilanya kendaraan tersebut, baik kepada pihak kepolisian maupun kepada pihak Adira. Siti menilai, manajemen Adira ternyata belum sebaik apa yang dibayangkannya, sebab kejadian yang menimpanya beberapa bulan lalu telah dilaporkannya. Dia juga mengira, pihak Adira merasa tidak puas atas sisa uang penggantian dari asuransi kehilangan yang pernah ditolaknya.

Siti berharap agar Adira dapat bertindak profesional dalam menangani kasus dirinya yang selama ini hanya mengirimkan timnya untuk menagih piutangnya dan pihak Adira terkesan tidak ada itikad baik atau klarifikasi dengan dirinya mengenai penolakan sisa asuransi. "Bukan berarti saya terlalu banyak uang, akan tetapi saya harus menerima sisa asuransi sebesar itu saya tidak mau, saya menilai Adira hanya ingin untung saja tanpa memikirkan kerugian orang lain," ujarnya Siti. Kepala Eksekutor PT Adira Finance Cabang Subang Uun, saat akan dikonfirmasi melalui ponselnya, pesawat HP yang bersangkutan tidak dapat dihubungi, padahal nomor ponsel yang bersangkutan berasal dari bawahannya. (pir)

Polisi Sweeping Pedagang Petasan di Pasar Ciasem dan Pasar Sukamandi, Operasi Diduga Bocor


SUBANG, RAKA
– Ratusan petasan berhasil diamankan dari Pasar Ciasem dan Pasar Sukamandi, Jumat (4/9). Petasan-petasan tersebut merupakan hasil sitaan dari puluhan pedagang yang terdapat di dua pasar yang ada di Kecamatan Ciasem tersebut. Razia petasan digelar Polsek Ciasem dengan melibatkan sejumlah anggota polisi yang dipimpin Kanit Patroli Polsek Ciasem Iptu Sujana dan Kanit Reskrim Polsek Ciasem Iptu Aan Sukana. Pantauan RAKA, razia dimulai pukul 10.00 Wib.

Pada operasi tersebut, pihak kepolisian mengamankan petasan dan sejenisnya yang dapat membahayakan pengguna, serta mengganggu ketertiban lingkungan. Adapun pasar yang pertama kali menjadi target operasi tersebut adalah Pasar Ciasem. Sayangnya, sejumlah pedagang petasan yang jumlahnya belasan tersebut, tidak ada yang terjaring karena di lokasi tersebut secara mendadak mereka menghilang sebelum tim operasi datang.

Kegiatan tersebut sempat menjadi tontonan pengunjung pasar dan menurut sejumlah pedagang pasar Ciasem dari sejumlah pedagang kembang api di pasar tersebut ada sejumlah pedagang petasan, akan tetapi pada saat operasi pekat berlangsung pedagang petasan atau pedagang lain yang nyambi jualan petasan mendadak tidak ada. Sementara itu pada saat tim operasi mendatangi Pasar Sukamandi, dari sejumlah pedagang kembang api yang juga terkadang nyambi jualan petasan, terdapat barang bukti petasan yang dijualnya dan berhasil diamankan oleh tim operasi.

Sementara barang yang didapat petugas berasal dari seorang penjual bernama Sulaeman. Sedangkan satu dus petasan yang ditinggalkan pemiliknya turut diamankan oleh petugas. Sementara itu, seorang penjual petasan yang barang dagangannya disita petugas, Sulaeman, warga Sukamandi mengaku, dirinya tidak tahu apabila barang dagangannya itu dilarang untuk dijual, karena sebelumnya yang bersangkutan belum pernah mendapat teguran dari pihak berwajib atau pihak manapun mengenai larangan berjualan petasan.

Sulaeman pun mengaku, barang dagangannya yang diamankan petugas hasil belanja dari agen petasan di Pasar Cikampek bernama Rahmat. Dijelaskan pula, pada saat barang dagangannya diamankan tim operasi pekat, penjualannya tengah sepi. "Saya sih menyesalkan dengan kejadian ini, artinya saya menyesal jualan petasan jika barang yang saya jual dilarang untuk diperdagangkan. Kalau tahu jualan petasan dilarang saya tidak akan menggeluti usaha ini," akunya.

Kapolres Subang AKBP Sugiyono melalui Kapolsek Ciasem AKP Kasidi membenarkan adanya operasi pekat tersebut, selain atas perintah atasan juga sebagi antisipasi ketertiban lingkungan atas bahayanya petasan. Untuk pertama kalinya operasi pekat jenis petasan di dua pasar tradisional yang ada diwilayah hukumnya dapat mengamankan sekitar 240 butir petasan dari berbagai jenis.

Operasi tersebut akan terus dilakukan apabila ada laporan masyarakat yang resah karena mengganggu ketentraman lingkungan. "Kami dapat bergerak melakukan operasi selain atas perintah atasan juga adanya laporan masyarakat. Untuk itu diharapkan masyarakat dapat melaporkan kejadian apabila mereka merasa terganggu dengan adanya suara petasan di lingkungannya," tegasnya. Dijelaskan pula, petasan hasil operasai tersebut, setelah dilaporkan akan dimusnahkan dengan cara direndam di dalam air. (pir)

Polres Subang Terima 22 Unit Mobil Dinas

ARMADA BARU: Polres Subang, kini menerima tambahan 22 unit mobil dinas. 20 kendaraan berjenis Ford Ranger akan dibagikan ke setiap polsek, termasuk tiga polsek persiapan untuk kegiatan patroli. Sementara dua unit lainnya berjenis sedan akan dipergunakan untuk SPK Polres Subang. Mobil patroli tersebut dilengkapi dengan sistem GPS (General Position System) dan perangkat laptop. (eko)

Cara Seniman Obrog-obrog di Kampung Pasirceuri Ingatkan Sahur, Beramal Sambil Mengais Rezeki

BANGUNKAN WARGA: Dengan modal seperangkat gamelan, seniman obrog-obrog membangunkan warga untuk sahur.

Sekitar pukul 01. 00 Wib, di mana sebagian orang masih terlelap dari tidurnya, sekelompok seniman musik keliling atau yang biasa dipanggil Obrog-obrog mulai bergerak dari gang yang satu ke gang yang lainnya.

Para seniman tersebut, beramal sambil mengais rezeki, yakni membangunkan warga sekitarnya untuk bangun sahur, dan dari kegiatan terebut, mereka mendapatkan imbalan dari warga yang terbangunkan oleh kegiatan mereka. Kegiatan membangunkan warga untuk sahur, menurut pimpinan obrog-obrog yang berada di Kampung Pasirceuri, Kecamatan/Kabupaten Subang, Maryani, merupakan tradisi yang sudah turun temurun ini dan kian menjadi tontonan menarik ketika menjelang sahur.

"Namun, kini tradisi itu kian waktu semakin ditinggalkan zaman, karena orang lebih banyak menggunakan teknologi jam alarm untuk membangunkan sahur, ketimbang harus menggunakan jasa musik keliling atau Obrog-obrog," ujar Maryani. Dari kegiatan tersebut, tambah Maryani, tidak jarang dalam setiap pertunjukannya, obrog-obrog yang dimainkan oleh para seniman kampung tersebut mendapatkan hasil yang berlimpah hasil sumbangan warga yang kebetulan dilalui oleh Obrog-obrog. "Hanya yang kadang menjadi kendala adalah pengeras suaranya. Kalo lagi lancar, alat pengeras suaranya tidak ngadat, biasanya banyak yang nanggap (request lagu) dan warga bayar. Kalau gitu, kita bisa sampai jam 04.00 Wib," tambahnya.

Namun, tidak selamanya performa dari seniman kampung itu lancar tiap malamnya. Tidak jarang, aksi mereka harus terhenti di tengah jalan. "Kalau lagi apes, kaya kemarin toanya (pengeras suara) ngadat, padahal baru jalan satu jam. Ya, terpaksa bubar," jelas Maryani lagi. Menurutnya, pertunjukan sendiri, biasanya akan dimulai sejak pukul 01.00 Wib dengan cara berkeliling kampung. "Yah, ini mah sudah jadi tradisi setiap bulan Ramadhan. Setiap malamnya, tujuh sampe sepuluh keliling gang untuk membangunkan warga," tambahnya.

Dalam satu grup obrog-obrog, beberapa perlengkapan musik, seperti gong, dua buah kendang jaipong dua buah bonang, satu buah kecrek, pengeras suara dan tentunya satu-dua orang artis harus ada, yang akan bernyanyi. Ternyata kegiatan ini pun dijadikan ajang bagi warga untuk mencari nafkah. selain memiliki pimpinan, ada manajemen yang mengatur keuangan hasil pendapatan dari pemberian warga. Sebab, hasil yang diperoleh akan dibagi rata ke setiap pemain musik. "Setelah rata dibagi-bagi, kalau ada sisa itu untuk makan sama-sama," tambah Maryani tersenyum. (eko)

78 PJU Tenaga Surya di Sepanjang Jalur Pantura Subang Tak Berfungsi


SUBANG, RAKA -
Sebanyak 78 dari 100 titik penerangan jalan umum (PJU) tenaga surya yang dipasang di sepanjang jalur Pantura Subang saat ini dalam kondisi tidak berfungsi. Demikian dikatakan Kapolres Subang AKBP Sugiyono. Padahal, tambah Kapolres, keberadaan PJU tersebut sangat penting artinya bagi keselamatan pengguna jalan, terutama pada musim mudik mendatang. Hal ini diungkapkannya saat diubungi wartawan melalui telepon selulernya, Jumat (4/9).

Menurut Kapolres, dari 100 titik PJU yang ada di Pantura tersebut, hanya dua titik yang menyala yakni di depan Balai Besar Penelitian Padi Sukamandi. Selebihnya tidak bisa digunakan. "Keseratus titik PJU itu terpasang mulai dari perbatasan Karawang hingga ke perbatasan Indramayu. Sayangnya, saat fasilitas tersebut dicek, ternyata komponen penyerap tenaga mataharinya tidak berfungsi, sehingga lampu tidak bisa dinyalakan," ungkapnya.

Menurut Sugiyono, kondisi tersebut sebenarnya telah ditanyakan ke pihak-pihak terkait, seperti Dinas Pekarjaan Umum dan pihak Dinas Bina Marga. Akan tetapi jawaban mereka tidak memuaskan, bahkan terkesan saling lempar tanggung jawab. "Padahal, perbaikan PJU tersebut perlu dilakukan segera, mengingat musim mudik sudah sangat dekat. Pada siang hari, PJU itu memang tidak diperlukan. Namun pada malam hari fasilitas tersebut sangat berguna bagi pemudik, khususnya bagi pengendara sepeda motor," tambah Kapolres.

Biasanya, para pemudik bermotor lebih senang melintas pada malam hari untuk menghindari cuaca panas. Namun, dengan tidak berfungsinya puluhan PJU tersebut perjalanan mereka menjadi sangat rawan. Sebab dalam kondisi gelap, jalur Pantura sangat rawan karena banyak penyebarang jalan yang tidak terlihat. Saat ditanya tentang kondisi umum jalur pantura saat ini, Kapolres mengatakan, semua persiapan perjalanan mudik sudah dilakukan di jalur itu. Di antaranya adalah mempercepat proses perbaikan jalan yang hingga kini masih menyisakan 1,5 km perbaikan di Kecamatan Patokbesi. "Namun demikian kami optimistis perbaikan bisa rampung pada H-10 mendatang.

Sebab, kami telah mendapat jaminan dari pelaksana proyek bahwa perbaikan bisa selesai 10 hari sebelum lebaran," tambahnya. Sementara untuk menambah keamanan para pemudik, pihaknya telah memasang ribuan barier (pemisah lajur sementara) mulai dari Dusun Warungnangka, Desa Ciasem Tengah hingga ke Dusun Karanganyar, Desa Sukamandijaya, Kecamatan Ciasem. "Sedangkan pada jalur Pantura lainnya, seperti di Petokbesi dan Pamanukan sudah dipasang pemisah jalur permanen (median jalan) oleh pihak pelaksana proyek perbaikan," jelas Kapolres.

Menurut dia, pemasangan barier tersebut bertujuan untuk mengantisipasi kemacetan arus lalulintas. Sebab, dengan adanya pemisah jalur tersebut, para pengendara kendaraan bermotor tidak akan bisa menggunakan jalur berlawanan saat terjadi kepadatan arus lalulintas. "Dengan pemasangan barier itu diharapkan pula tabrakan antar kendaraan bisa diminimalisir. Selain memasang barier, kami juga akan memasang ribuan rambu-rambu baru. Yang jadi ganjalan ya itu tadi PJU yang tidak berfungsi," tambah Kapolres. (eko)

NumberOfComments

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 
 
 
 
Copyright © Subang Raya
Design by Eko Subang