Senin, 24 Agustus 2009

Jalur lingkar Tanjungpura-Klari

Jalur lingkar Tanjungpura-Klari, dijadikan tempat ngabuburit oleh warga Karawang. tampak puluhan warga ngbuburit disalah satu jembatan jalur lingkar Tanjungpura-Klari.

PKS: Ancam Citra Pemerintah

REMCANA polisi memantau dakwah selama Ramadhan terus menuai kontroversi. Selain berpotensi melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) upaya ini juga dinilai bisa menjatuhkan citra Presiden SBY yang selalu menjaga image positifnya di mata masyarakat.

Indonesia memang layak berang atas aksi teroris pada 17 Juli lalu telah meledakkan bom di Hotel Ritz Carlton dan JW Marriott. Maka pada 8 Agustus lalu, penyerbuan di tiga tempat sekaligus pun dilakukan yaitu di Temanggung, Solo, dan Jatiasih Bekasi.

Aksi antiteror itupun menuai keberhasilan, salah satunya menewaskan Ibrohim, perencana dan otak pengeboman di kawasan Mega Kuningan. Sayangnya, gembong teroris yang dicari sejak 2000 lalu, Noordin Moh Top belum tertangkap hingga kini.

Meski telah merilis lima Daftar pencari Orang (DPO) yang diduga sebagai inner circle Noordin, namun aparat kepolisian masih terus meningkatkan kewaspadaan atas timbulnya teror. Salah satunya, dengan melakukan pemantauan dakwah selama Ramadhan. Tujuannya memangkas peluang merekrut teroris melalui dakwah provokatif.

Terang saja, rencana Polri menuai kritik dari berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari kalangan politisi, agamawan, hingga penggiat HAM. Upaya polri memantau dakwah Ramadhan mengingatkan cara era orde baru dengan melakukan screening terhadap para penceramah dan materi ceramah.

Situasi ini diamati anggota Komisi I DPR yang juga politisi PKS Al-Muzammil Yusuf dapat mempengaruhi citra politik Presiden SBY. Ia mendesak SBY agar meluruskan persoalan terkait rencana pemantauan dakwah. “Saya kira Pak SBY harus berbicara meluruskan isu yang berkembang ini. Situasi ini akan sangat merugikan citra pemeritahan SBY,” tegasnya Minggu (23/8).

Sikap Presiden SBY cukup tegas dalam penanganan terroisme di Indonesia. Setidaknya pernyatan resmi enam jam paska kejadian peledakan di Mega Kuningan menegaskan komitmen kuat Presiden SBY dalam pemberantasan terorisme. Ia pun meminta aparat keamanan untuk memaksimalkan antiteror. “Saya juga mengintruksikan kepada para penegak hukum untuk mengadili siapa saja yang terlibat, siapapun dia, dan latar belakang politiknya,” tegasnya kala itu.

SBY pun menyayangkan pernyatan beberapa kalangan yang menuduh polri bertindak melanggar HAM. “Hati-hati mengatakan negara melanggar HAM, atau kepolisian melanggar HAM. Saya minta untuk jernih dalam melihat persoalan. Mana kebebasan dan mana keamanan,” ujarnya (20/8).

Pernyataan SBY tersebut menepis tudingan berbagai pihak yang menyayangkan sikap Polri dalam operasi antiteror. Komnas HAM pun menilai, aparat kepolisian telah melanggar HAM dalam operasi antiteror di Temanggung. Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi pun menyayangkan pola penananganan antiteror dengan gaya Amerika, bukan gaya Indonesia. Hasyim juga menyayangkan cara pendekatan pemberantasan terorisme dengan tidak melibatkan kalangan agamawan.

Sepertinya, rangkaian sikap Polri dan aparat keamanan dalam penanganan teror paska peledekaan bom di Mega Kuningan mendapat dukungan penuh SBY. Namun dalam upaya terkini Polri yakni memantau dakwah sepanjang Ramadhan sepertinya akan menimbulkan polemik yang panjang. Kondisi ini berpotensi menganggu popularitas SBY. Apalagi, SBY-Boediono baru saja terpilih dalam Pemilu Presiden 8 Juli lalu dengan mayoritas didukung oleh partai politik relijius-nasionalis.

“Upaya pemantauan dakwah harus diluruskan oleh SBY, apalagi dalam Pemilu 2009 lalu, didukung oleh partai Islam seperti PKS, PAN, PPP, PKB,” harap Al-Muzammil Yusuf.
Cukup wajar reaksi kalangan agamawan atas rencana pemantauan dakwah selama Ramadhan ini. Bagaimanapun, dakwah sama sekali tak terkait dengan terorisme di Indonesia. Jika situasi ini tak segera direda, bisa-bisa menimbulkan polemik berkepanjangan di tengah-tengah masyarakat. (raka)

Teka-teki Para Pencari Tuhan Memasuki Ramadan Tahun Ketiga, Mencari Wanita Cantik untuk Istri Hansip Udin


Satu
dari sedikit acara sahur yang mengandung dakwah adalah sinetron Para Pencari Tuhan (PPT). Pada tahun ketiga tayang di SCTV, karakter tokohnya tak banyak berubah. Hanya, banyak teka-teki pengembangan ceritanya. Bahkan, penulis skenarionya belum bisa memecahkan.

PERLAHAN Baha membentangkan lembaran uang Rp 100 ribu dengan kedua tangannya, melipat, lalu memasukkan ke dalam kotak. "Awak akan bantu kalian biar cepat sampai di Makkah," katanya.

Suasana hening. Baha sendirian di sebuah rumah khas perkampungan di pinggiran Jakarta. Seluruh dindingnya terbuat dari anyaman bambu (gedek) sehingga cahaya matahari dari luar menerobos masuk dari sela-sela gedek yang kusam itu. Sesekali terdengar pekikan kokok ayam yang membuat nuansa makin desa.

Tiba-tiba, "Cut! Uangnya kurang tinggi Tor. Ayo, diulang, ya," teriak Kiky ZKR, sutradara PPT dari luar rumah yang terletak di RT 002 RW 07, Koja, Jatiasih, Bekasi Selatan itu. Di situlah lokasi sebagian besar syuting sinetron PPT sejak tahun pertama.

Yang dipanggil Tor tak lain adalah Tora Sudiro, pemeran karakter Baha (Baharudin), yang meski berusaha tobat setengah mati, masih saja mencuri-curi waktu menenggak alkohol.

"Bedanya, sekarang supaya nggak ketahuan sama Udin dan Asrul, minumannya dipindah ke botol kecap," kata Kiky lantas tertawa, saat ditemui Kamis siang lalu. Udin, si hansip cerewet yang diperankan Udin Nganga, sedangkan Asrul (Asrul Dahlan) sangat miskin, tapi punya prinsip kuat.

Berkali-kali Tora diminta mengulang aktingnya. Masalahnya beragam. Selain posisi uang terlalu rendah atau terlalu tinggi sehingga kurang pas di mata kamera, embusan angin ke arah microphone juga mengganggu. Syuting sinetron PPT memang sangat detail.

Pada adegan lain, dua kamera digital berukuran besar dipasang di dalam rumah. Membidik ekspresi Tora, Asrul, dan Udin. "(Syuting) ini untuk episode ke-18," kata Kiky.

Produser PPT, Deddy Mizwar, menjelaskan, syuting PPT 3 sebenarnya dimulai sejak Februari 2009. Namun, penggarapannya berjalan perlahan karena skenario yang ditulis Wahyu HS tidak kunjung rampung. "Ada masalah dalam penulisan cerita. Bukan plotnya tidak ada, tapi kami harus hati-hati dan penuh pertimbangan karena setiap episode itu syarat makna,'' katanya. Harus bisa dipertanggungjawabkan," lanjut Deddy.

Pernah suatu hari naskah untuk satu episode dinyatakan selesai. Kemudian di-copy, disebarkan kepada pemain, termasuk Deddy yang berperan sebagai Bang Jack. "Begitu mau syuting, ditarik lagi sama penulisnya karena dinilai masih kurang. Saya pikir tidak apa-apa. Itu salah satu bentuk pertanggungjawaban penulis kepada penonton," kata si Naga Bonar itu maklum.

Wahyu mengaku harus benar-benar paham esensi tema yang akan divisualkan sebelum ditulis. "Saya nggak pengen ikut berdosa memberikan gambaran yang salah kepada penonton,'' katanya. ''Kebetulan di PPT kami kerap berdiskusi agama dengan seorang dosen dan seorang ustad dari Bogor. Mereka lebih memahami hadis dan Alquran dari empat mazhab untuk memperkaya kajian cerita PPT. Ada juga guru ngaji saya yang kebetulan memberikan banyak masukan terkait tasawuf," lanjut Wahyu.

Deddy tetap mempertahankan cerita di PPT agar sangat dekat dengan masyarakat. Terjadi dan dialami banyak orang, namun harus bijak dalam cara pandang. "Semua cerita adalah masalah keseharian dan bagaimana problematika penyelesaiannya. Islam sudah mengatur itu semua. Bahwa semua urusan manusia bisa diselesaikan dengan jalan agama," papar Deddy.

Karena dekat dengan keseharian, sejak PPT pertama Deddy sering menerima surat -langsung maupun e-mail- dari masyarakat. Menurut dia, rata-rata kisah PPT sangat menyinggung persoalan masyarakat. "Banyak dari mereka terinspirasi penyelesaiannya," imbuhnya.

Pengembangan cerita PPT 3 difokuskan pada masing-masing pemain. "Tentang bagaimana saat Bang Jack pulang dari Makkah bersama Trio Bajaj, seperti apa ceritanya? Lalu saat tiba-tiba Bang Jack minta balik lagi ke Makkah dan ingin mati di sana, bagaimana solusinya?" tutur Deddy.

Begitu juga bagaimana Azzam dan Baha berusaha membantu masyarakat dengan mendirikan Baitul Mal waa Tamwil. "Atau tentang kelanjutan Azzam dan Aya. Kalau dulu Azzam menunggu Aya, sekarang Aya yang menunggu. Ada apa? Bisa saja ternyata Azzam sama Kalila atau justru Kalila sama Baha yang pemabuk? Masih banyak kemungkinan," paparnya.

Deddy berharap syuting untuk 30 episode -untuk memenuhi kebutuhan Ramadan- bisa selesai pada empat hari menjelang Idul Fitri. Target selesai jauh-jauh hari memang sudah harus dilupakan. "Sekarang yang paling penting adalah bagaimana mengatasi kejenuhan karena syuting dalam waktu lama," kata Deddy. Diakuinya, biaya produksi memang membengkak karena waktu yang panjang.

''Insya Allah, PPT 3 akan menghadirkan bintang baru. Namun, lagi-lagi itu juga masih teka-teki,'' kata Deddy. Siapa bintang yang terpilih juga harus menyesuaikan kebutuhan cerita yang terus dikembangkan itu. "Salah satu tokoh baru itu adalah yang jadi bininya Udin. Mungkin Luna Maya," ucap Deddy, lantas tertawa.

Pokoknya, istri Udin kulitnya harus putih, cantik, dan solehah. Siapa sangka, kata Deddy, seorang Udin yang wajahnya pas-pasan bisa dapat seorang istri yang sungguh luar biasa. "Banyak juga terjadi di masyarakat. Ini sebuah fenomena lain. Itulah kekuasaan Allah dalam mengatur detak jantung kehidupan di bumi ini. Tinggal bagaimana menyikapinya," terang Deddy.

Sinetron yang mulai tayang di SCTV pada saat sahur Sabtu dini hari lalu itu, kata Deddy, menjanjikan sesuatu yang baru tanpa menanggalkan kekhasan yang sudah ada. Sinetron religi tersebut akan diputar ulang saat magrib.

"Hanya PPT yang benar-benar membawa misi, terutama misi Ramadan. Saya yakin jika sampai PPT 10 pun penonton tidak akan bosan. Sebab, ceritanya membawa misi kebaikan. Maaf, saya bicara begitu sebagai salah satu kiat saja mendalami peran saya sebagai Ustad Ferry. Bukan promosi," ujar Akri Patrio lantas tertawa.

Kiky membenarkan ucapan Akri. Dia masih ingat saat awal PPT hendak dikerjakan dua tahun lalu, Deddy memberikan tantangan. "Yaitu, bagaimana memvisualkan jualan iman. Nah, saya terus diminta baca buku, buka Alquran, mencari tahu dulu, apa itu iman?" kenang pria berewok itu.

Secara bisnis PPT juga sangat menguntungkan. Menurut Budi Darmawan, senior manajer Humas SCTV, setiap tayang PPT berhasil meraih share penonton 30 persen sampai 40 persen untuk semua stasiun TV yang tayang di jam yang sama.

Artinya, 30-40 persen penonton TV di Indonesia pada saat PPT tayang, menonton sinetron yang juga dibintangi Trio Bajaj itu. "Pemirsanya adalah laki-laki dan perempuan berusia mulai lima tahun ke atas dengan status sosial ekonomi, A, B, C, D, E, atau semua kalangan," jelas Budi.

Perolehan iklannya juga terbilang penuh. Un­tuk satu jam tayang, PPT meraih 24 spot iklan atau setara dengan sekitar 12 menit. (*/cfu)

Mantan Anggota DPRD Karawang Cemas, Soal Keharusan Pengembalian Dana Pengabdian

KARAWANG, RAKA – Para mantan anggota DPRD periode 2004-2009 selain sedang harap-harap cemas mengenai keharusan mengembalikan dana tunjangan komunikasi intensif dan biaya penunjang operasional, kendati di Karawang diakui tidak diambilnya, mereka juga mengeluhkan uang pengabdian yang dianggapnya terlalu kecil. Bila diukur dengan masa bhakti 5 tahun, jauh dari keseimbangan yang rasional.

Hal tersebut diungkapkan beberapa orang yang baru saja lengser dari jabatannya selaku wakil rakyat di bumi pangkal perjuangan ini. Ketika dihubungi ke nomor ponselnya, banyak di antara mereka sambil meminta namanya tidak ditulis mengaku kecewa berat atas imbal balik dari negara yang diterimanya. Setelah uang pengabdian masuk sakunya hanya sebesar Rp 8.032.500, mobil plat merah pun yang selama digunakannya diharuskan dikembalikan.

“Kita sebenarnya tidak mau ngomong banyak. Percuma. Malah nanti dikesankan lain oleh orang yang berpikir beda. Coba saja tanya rekan-rekan lainnya. Saya pun mohon jangan sampai ditulis identitas lengkap. Terus teras bagi kami dalam posisi sekarang serba salah dan serba sulit. Ternyata karunya bekas dewan teh. Tapi mudah-mudahan saya berharap semua rekan-rekan lebih sukses ketika turun dari panggung politik legislatif,” ujarnya bernada lirih ketika suaranya terdengar di ponsel.

Sikap prihatin juga disampaikan mantan Ketua Fraksi PDI-P, Deden Darmansah. Kendati dirinya terbilang tidak terlalu bernasib buruk di panggung politik karena berhasil masuk gedung DPRD Jawa Barat hasil Pemilu 2009 lalu, ia juga menganggap keberadaan Peraturan Pemerintah (PP) No.24/2004 tentang kedudukan protokoler anggota dan pimpinan DPRD sangat tidak manusiawi.

“Mestinya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono segera merubah PP tersebut menjadi PP lebih manusiawi. Kenapa PP yang memberikan tunjangan komunikasi intensif dan biaya penunjang operasional bagi anggota maupun Pimpinan DPRD bisa diganti? Sedangkan yang ini (PP 24/2004 -red) tidak? Jelas tidak adil. Malah dengan dicabutnya PP tentang TKI dan BPO tersebut para mantan wakil rakyat di daerah terperangkap pada aturan yang dibuat hingga terkesan ingin memenjarakan,” ungkap Deden.

Dijelaskan dia, uang pengabdian yang diterima ke-45 orang mantan anggota DPRD periode 2004-2009, awal Agustus lalu, hanya dihitung 6 X uang representatif yang nilainya Rp 1.575.000. Jumlah diterima seluruhnya per orang menjadi Rp 9.450.000. Angka ini belum dipotong Pph pasal 21 hingga 15 persen. Dengan demikian, kata Deden, angka bersih uang yang diterima hanya Rp 8.032.500 per orang.

“Jelas kan sangat tidak manusiawi. Sebaiknya Presiden SBY segera mengambil sikap waktu itu. Tapi kenapa malah diam? Pemerintah daerah tidak bisa berbuat apa-apa ketika yang mengatur mengenai hal ini adalah PP. Memang kalau diukur pada gaji, angka yang diperoleh cukup besar hingga Rp 13 juta. Namun tugas kita cukup berat. Sebagai aspirator bagi kepentingan rakyat, juga legislator dan penentu pengesahan anggaran. Idealnya kami diber uang pengabdian paling tidak 5 X gaji,” tandas Deden lagi. (vins)

Kali Cilamaya Tercemar Logam Berat

KARAWANG, RAKA- Sungai Cilamaya ternyata sudah cukup lama tercemar logam berat yang diduga berasal dari berbagai industri di Karawang, Subang dan Purwakarta.Sehingga tak heran, jika petani tambak kerap mengalami gagal panen karena air tambak tercemari air limbah pabrik itu. Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Kelautan, Perikanan, dan Peternakan Cilamaya Wetan, Deden Nurjaman mengatakan, Sungai Cilamaya sudah tercemar sejak tahun 2003.

Tingkat pencemaran semakin memprihatinkan seiring banyaknya pabrik yang membuang limbah ke saluran sungai tanpa melalui instalasi pengolahan air limbah(IPAL) yang benar. “Kami sudah mengambil air sungai dan dibawa ke laoratorium untuk dilakukan tes lab dan hasilnya memang ditemukan kandungan logam,” ucapnya. Akibat pencemaran itu, sekitar 930 hektar tambak milik para petani mengalami gagal panen. Ikan dan udang yang ditanami di dalam tambak mati sebelum dipanen. "Akibatnya, kerugian petani tambak tidak sedikit melainkan mencapai angka Rp 4,65 miliar," ungkapnya.

Meski berdasarkan hasil uji laboratorium sungai tersebut telah tercemari logam berat, entah mengapa, lanjut Deden, Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup(BPLH) Karawang selaku instansi yang diberi wewenang belum mengambil tindakan. "Apakah mereka(Bidang Pengawasan BPLH-red) tidak melihat atau pura-pura tidak tahu soal pencemaran ini," keluhnya.

Sementara itu, Koko (32), petambak sekaligus pengurus Tempat Pelelangan Hasil Tambak (TPHT) Putra Bahari Desa Muara Kecamatan Cilamaya Wetan, Karawang mengungkapkan, udang yang sedang berada dalam tambak, akanmengalami stres lalu mati, apabila sudah tercemar air limbah. Sedangkan dampak limbah terhadap ikan-ikan tambak lainnya adalah perkembangbiakannya lambat.

Sebelum tambak tercemari limbah, omset TPHT per harinya mampu mencapai Rp.4 juta- Rp.5 juta. Kini, setelah tambak tercemar, transaksi menurun tajam yakni Rp.200 ribu hingga Rp 500 ribu. “Kami sudah berkali-kali melakukan aksi dan protes, namun tidak ada penyelesaian. Soalnya, pihak pabrik beranggapan lebih besar membayar pajak daripada petani tambak,” ujar Koko.

Kepala Bidang Pengawasan dan Pengendalian BPLH Karawang Unang Saefudin ketika ditemui RAKA Jumat (21/8) lalu. mengatakan,pihaknya tak bisa berbuat banyak untuk menindak industri yang mencemari sungai tersebut.Hal ini disebabkan karena industri yang mencemari sungai itu berada di wilayah Subang dan Purwakarta. "Hanya ada satu perusahaan asal Karawang yang membuang limbah cair ke sungai itu yakni PT.ABB Cikalong- Karawang.Dan, berdasarkan hasil outlet dan inletnya hasil bagus," ungkapnya.

Berdasarkan cacatan pihaknya, ada 5 perusahaan yang membuang limbah ke sungai tersebut.Empat diantaranya yakni, PT Gede Karang(Pabrik kertas) dan PT Sanfu di Purwakarta , PT BMP (Pabrik Bihun di Daerah Patokbeusi Subang)."Sebenarnya, masing-masing daerah sungai mengetahui pencemaran ini.Bahkan, sudah sempat ada kesepakatan agar mengurusi masing-masing pabrik yang mencemari sungai itu,"tambahnya. (ops)

Awasi Dakwah Ramadan, Polisi Diprotes Keras

KARAWANG, RAKA – Sikap Mabes Polri yang mengawasi kegiatan dakwah selama bulan suci Ramadhan menuai protes keras di kalangan ummat muslim. Bukan hanya di pusat, sikap sama bermunculan di daerah. Termasuk di Karawang sendiri tidak sedikit yang menganggap bila kegiatan pihak kepolisian tersebut benar-benar dilakukan, dinilainya, terlalu berlebihan. Bahkan ada yang berpendapat, bisa memicu pertentangan kearah sara.

Seperti diungkapkan Ketua Front Pembela Islam (FPI) Karawang, Ustadz Cepyan Lukmanul Hakim. Kata dia, jika dakwah Islam diawasi makin memperjelas dugaan bahwa adanya terorisme adalah design pemberangusan terhadap Islam. “Kedepan bukan mustahil Al-Qur`an diangap kitab terlarang yang harus dimusnahkan. Orang shalat diangap tindakan teroris, dan lain-lain. Pemerintah harus hati-hati,” ujar Cepyan mewanti-wanti.

Ia juga mengingatkan pemerintah, jangan asal terima usul dari orang-orang yang hendak menghancurkan persatuan dan kesatuan Republik Indonesia. Sebab apabila hal itu diberlakukan, dirinya yakin, bakal bermunculan 'teroris-teroris wajah baru' dengan memanfaatkan isu sara sebagai sandarannya. “Ini akan jauh lebih berbahaya. Kita sepakat teroris harus diberantas. Tapi tidak lantas telunjuk mengarah ke kalangan Islam. itu sangat keliru,” tegas Cepyan.

Pernyataan lain disampaikan LSM Madani Institute. Melalui wakil direkturnya, Dr. Budhi Akbar, M.Si, turut mempertanyakan sikap Polri yang hendak mengawasi kegiatan dakwah di kalangan muslim selama bulan suci Ramadhan. Idealnya, LSM ini berpendapat, pengawasan terhadap isi dan materi dakwah hanya bisa dilakukan berdasarkan sisi keilmuan. Artinya, orang yang mengawasi harus lebih mumpuni dari yang diawasi. Tidak malah sebaliknya. Apalagi hanya beralasan menguntit teroris.

“Terlalu naif kalau syiar Ramadhan 'dipenjara' oleh kecurigaan dan kekhawatiran. Ini sudah gejala iklim beragama yang tidak sehat. Sangat tidak adil jika teroris diidentifikasi dengan ummat Islam. Ini merupakan kedangkalan pemahaman, sekaligus merugikan ummat Islam. Apa yang kita khawatirkan bisa jadi kenyataan. Bahwa orang-orang yang berkedok muslim dengan klaim jihad tapi melakukan teror, bukan hal mustahil sesungguhnya ingin menghancurkan Islam. Perlu diwaspadai. Jangan-jangan pihak anti Islam berada di belakangnya. Makanya pemerintah perlu hati-hati untuk tidak terjebak,” ungkap Budhi.

Sebelumnya, pengasuh pondok pesantren Raudhlatul Hasanah Subang, Kyai Muhammad Abdul Mu`min Albantani, sempat mengajak kaum muslim Indonesia agar turut mewaspadai gerakan teroris yang menggunakan simbol-simbol Islam. Karena ia mencurigai, ada pihak asing yang terlibat dalam jaringan teroris tersebut, Bukan mustahil mereka (teroris) bertujuan menghancurkan islam. Targetnya, lanjut Kyai Mu`min, mulai dari ketidak beranian kaum muslim menggunakan pakaian kemuslimannya, hingga akhirnya benar-benar meninggalkan identitas sebagai muslim.

“Berawal dari rasa takut dianggap sebagai kelompok teroris, bisa jadi pada akhirnya Islam lambat laun ditinggalkan pemeluknya. Hati-hati dan harus diwaspadai segala kemungkinan itu. Ingat, Islam bukan agama teror. Tapi rahmatan lil alamin. Kita harus segera menghentikan orang-orang yang hendak menghancurkan Islam. Sekali lagi, bukan hal mustahil keberadaan kelompok teroris merupakan grand design atau skenario besar dari kelompok Islamophobia,” ucap Kyai Mu`min. (vins)

DPRD Karawang Tidak Perlu Kembalikan TKI dan BPO?

PARA anggota DPRD Karawang periode 2004-2009 merasa aman dari keharusan mengembalikan tunjangan komunikasi intensif (TKI) dan biaya penunjang operasional (BPO) seperti yang diminta Mendagri Mardiyanto. Sebab kedua dana yang dianggarkan tahun 2006 itu, para mantan wakil rakyat di sini merasa tidak pernah mengambilnya. Kecuali hanya bulan Nopember dan Desember di tahun yang sama.

Dikatakan mantan anggota Fraksi PDI-P saat itu, Deden Darmansah, bahwa apa yang telah ia nikmati bersama rekan-rekannya pada kedua bulan tersebut sudah sesuai berdasarkan kemunculan PP No.21/2007 yang menjadi perubahan ketiga atas PP No.24/2007. Isinya mempertegas, TKI maupun BPO berlaku sejak tanggal diundangkan. Karena acuan pertama adanya dana itu adalah PP No.37/2006 yang diundangkan 14 Nopember 2006,” ungkap Deden.

Walau pun dalam pasal 14 poin (a) sampai (d) dalam PP 37/2006 dinyatakan TKI dan BPO dibayarkan terhitung Januari 2006, semua anggota hingga pimpinan DPRD kala itu, tegas Deden, menolak untuk menerima. Malah kali pertama yang melakukan penolakan, diklaimnya, dari Fraksi PDI-P. Alasan dewan waktu itu, sambung Deden, akibat muncul reaksi dari kalangan masyarakat hingga sempat ada yang turun aksi demo.

“Kalau kemudian di daerah lain banyak yang menerima TKI dan BPO secara utuh selama satu tahun anggaran di 2006, itu kan urusan mereka. Memang kendati diundangkannya PP 37/2006 pada Nopember, tapi bulan sebelumnya terhitung Januari, pencairan dirapelkan. Besarnya dana TKI pimpinan dan anggota DPRD sama. Yakni, 3 X uang representase ketua DPRD. Atau 3 X Rp 2,1 juta = Rp 6,3 juta per bulan. Penerimaan pembayarannya melekat pada gaji” urai Deden.

Berarti selama 2 bulan yang diterima anggota dan Pimpinan DPRD Karawang periode 2004-2009, lanjut Deden, hanya Rp 12,6 juta per orang. Menurutnya, uang ini sah keberadaannya berdasarkan PP No.21/2007. Makanya, ia bilang, tidak ada keharusan dikembalikan. Kecuali bagi yang menerima rapel sejak Januari hingga Oktober 2006. Diakuinya, dalam APBD Perubahan 2006, Karawang termasuk telah mengeposkan anggaran bagi TKI dan BPO secara utuh.

“Apabila uang itu kita terima semua selama satu tahun anggaran, berarti per orang bisa mengantongi uang TKI Rp 72 juta. Sedangkan BPO hanya diperuntukan bagi Pimpinan DPRD. Besarnya 6 X uang representase bagi ketua. Yaitu sekitar Rp 12,6 juta. Berbeda dengan wakil ketua hanya 4 X uang representase atau hanya Rp 6,7 juta. Ini pun di Karawang hanya diambil dua bulan antara Nopermber dan Desember 2006. Rapel bulan-bulan sebelumnya tetap tidak dicairkan,” imbuh Deden.

Kemunculan anggaran TKI, urai Deden, adalah tunjangan yang diberikan kepada pimpinan dan anggota DPRD dalam upaya meningkatkan kinerja untuk menampung dan menyalurkan aspirasi konstituen di daerah pemilihannya. Sedangkan anggaran BPO, lanjutnya, merupakan uang yang diberikan kepada Pimpinan DPRD setiap bulan guna menunjang kegiatan operasional yang berkaitan dengan representasi, pelayanan, kemudahan, dan kebutuhan lain.guna melancarkan pelaksanaan tugas dan fungsi pimpinan DPRD.

“BPO sifatnya bukan tunjangan. Tapi belanja penunjang operasional. Makanya kalau mau dicairkan harus disertai SPJ. Kenapa sekarang jadi ribut? Memang di daerah-daerah lain banyak yang mencairkan selama satu tahun penuh. Akhirnya jadi temuan BPK. Walau kabar yang saya terima menyebutkan, tidak sedikit pula para mantan anggota dewan di daerah lain itu tidak mau mengembalikannya. Apalagi setelah turunnya surat edaran Mendagri yang mentolerir secara hukum sambil menunggu terbitnya PP baru lebih lanjut,” ucap Deden lagi. (vins)

Jalanan di Cikampek Kota Masih Belum Normal

LENGANG: Meski sudah memasuki hari kedua Ramadhan, jalanan di Cikampek Kota masih belum normal. Bahkan keadaannya jauh lebih lengang dibanding hari-hari biasa. Tidak tampak tupukan kendaraan, apalagi kemacetan lalulintas seperti yang biasanya terjadi. Seperti yang tampak di Jl Jend Ahmad Yani. (asy)

Ekonomi Masyarakat Kecil di Klari Masih Sulit

KLARI, RAKA - Masyarakat kecil masih kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mereka masih kesulitan untuk mendapatkan rupiah. Hal tersebut diantaranya dialami oleh penjual kardus bekas, Nurdi (50). Dalam sehari, ia hanya mendapatkan penghasilan sebesar Rp 10 ribu, hasil dari penjualan kardusnya. Uang tersebut menurutnya hanya cukup untuk makannya satu kali dalam sehari.

Lebih lanjut Nurdi menuturkan, dalam sehari dia paling banyak dia bisa mendapatkan kardus sebanyak 50 kilogram. Dari kardus tersebut bisa didapatkan uang sebesar Rp 40 ribu, sementara modal yang dikeluarkannya sebanyak Rp 30 ribu. Di Karawang, ia hidup bersama dengan anaknya yang bekerja sebagai buruh. Penghasilan anaknya pun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, soalnya hanya digaji Rp 12 ribu per hari. "Saat ini mah, orang kecil lagi menangis, karena kesulitan ekonomi yang tak kunjung hilang. Pagi makan sore tidak, karena penghasilannya yang tidak mencukupi," paparnya.

Menurutnya, keadaan ekonomi saat ini dinilainya lebih sulit daripada 5 tahun yang lalu. Dulu, lanjutnya, walaupun ekonomi sulit, tapi lapangan pekerjaan masih bisa didapatkan. Berbeda dengan sekarang, lahan pekerjaan sangat sulit untuk didapatnya. Akibat dari keadaan ekonomi yang sulit ini, kehidupan keluarganya pun terancam berantakan, karena kebutuhannya jarang terpenuhi. "Dulu saya berdagang, tapi sejak satu tahun lalu saya sudah tidak berdagang lagi dan berganti menjadi berjualan kardus bekas. Tapi penghasilannya hanya bisa untuk makan sehari saja," keluhnya.

Nurdi menambahkan, tapi keadaan ekonomi yang sulit seperti ini, tidak terlalu diratapinya. Jika terus diratapinya khawatir stres. Usahanya yang sekarang, walaupun kecil-kecilan tetap dijalaninya. Soalnya, dia masih memiliki tanggungan keluarga yang harus dinafkahinya. "Saya berharap perekonomian bisa kembali seperti dulu, yang berpihak pada rakyat kecil. Saya juga berharap, negara ini bisa aman dan tidak banyak musibah. Sapaya perhatian terhadap masyarakat kecil bisa ditingkatkan dan tidak memikirkan musibah yang menimpa negara. Agar kesejahteraan bisa segera dirasakan masyarakat kecil," harapnya. (asy)

Jalanan Cikampek Kota Lengang

CIKAMPEK, RAKA - Kendati sudah memasuki hari kedua, Jalan Jend Ahmad Yani Cikampek yang biasanya padat, terlihat lengang. Tidak nampak kepadatan di sepanjang jalan tersebut, seperti yang biasa terlihat pada hari-hari sebelumnya.

Menurut salah seorang penjaga parkir di daerah tersebut, Ade (30), sejak pagi hingga siang hari tidak terjadi kepadatan kendaraan di sekitar jalan tersebut. Padahal sebelum Ramdhan, kepadatan selalu terjadi dan sering berakhir dengan kemacetan.

Pada awal Ramdhan ini, lanjutnya, kemungkinan masyarakat lebih banyak berdiam diri di kediamannya masing-masing. Ditambah lagi, awal Ramadhan tahun ini bertepatan dengan hari libur. Cuaca yang cukup terik di luar, membuat masyrakat lebih nyaman untuk berdiam diri dan melakukan ibadah Ramdhan didalam rumah.

Kelengangan kendaraan tersebut membuat lalu lintas di Jalan Jend A Yani tersebut menjadi lancar. "Biasanya jalan disini cukup padat dengan kendaraan yang melintas, kemacetan pun sering terjadi. Tapi sekarang mah semua berbanding terbalik, jalan lengang dan terlihat lancar. Tapi beberapa hari kedepan juga lalulintas akan seperti semula," paparnya, Minggu (23/8) siang.

Lebih lanjut dia menuturkan, setiap awal puasa, keadaan jalan lengang seperti ini selalu terjadi. Masyarakat lebih banyak beradaptasi dengan awal puasa di rumahnya masing-masing. Kepadatan kendaraan akan terjadi lagi ketika memasuki pertengahan hingga akhir puasa. Pada saat itu, aktifitas masyarakat menjelang lebaran meningkat, termasuk arus mudik. "Pekerjaan kami menjadi sedikit ringan, soalnya kendaraan tidak banyak yang melintas. Tapi kalau arus mudik tiba, jalan kembali rame. Belokan ini pun biasanya ditutup," terangnya.

Sama halnya dengan Ade, pengunjung Pasar Cikampek, Anih (34) mengatakan, setiap kali berkunjung ke Cikampek, yang pertama kali terbanyang mengenai lalulintasnya yang semrawut dan tidak teratur, sehingga kenyamanan masyarakat menjadi terganggu. Tapi berbeda dari biasanya, kemarin jalanan Cikampek terlihat lengang dan tidak nampak tumpukan kendaraan di sepanjang Jalan Jend A Yani. Di bawah jembatan layang pun terlihat lengang. "Suasana jalan hari ini (kemarin, red), tidak seperti biasanya. Melintasnya pun terasa nyaman, tidak terjadi kemacetan," terangnya.

Dia berharap, keadaan seperti bisa terjadi pada hari-hari biasa. Agar lalulintas di Cikampek bisa berjalan dengan lancar dan masyarakat bisa mendapatkan pelayanan dengan baik. Supaya setiap hari masyarakat tidak selalu mendaptkan kemacetan. "Pelayanan masyarakat harus ditingkatkan, terutama masalah lalulintas. Cikampek lalulintasnya masih acak-acakan, belum tertata dengan baik. Saya berharap, ke depan lalulintas Cikampek bisa teratur dan tertib seperti sekarang," harapnya. (asy)

Warga Desa Cikampek Barat, Kecamatan Cikampek Keluhkan Fasilitas Sosial

CIKAMPEK, RAKA - Warga Perumahan Melati, Desa Cikampek Barat, Kecamatan Cikampek, kembali mempertanyakan penyelesaian fasilitas sosial (fasos) dan fasilitas umum (fasum) di perumahan tersebut. Pasalnya, sejak perumahan itu dibangun pada tahun 1996, hingga saat ini penyelesaian persoalan tersebut belum ada kejelasan. Hal tersebut dikatakan Ketua RW 16 Perumahan Melati, Teguh Siswantoyo kepada RAKA, Minggu (23/8).

Menurutnya, pada 04 Februari 2009 lalu, pihaknya mengajukan permohonan penyelasain masalah ini kepada pemerintah daerah, dengan nomor surat 06/PRW/PPM/II/2009. Sebagai tindak lanjut dari pengajuan tersebut, pihaknya mengadakan pertemuan yang diprakarsai oleh Bappeda. Pada pertemuan yang dipimpin oleh Yusuf Abdulgani tersebut, hadir pula Kepala Bidang Aset Kepala BPN, Camat Cikampek, Kepala Desa Cikampek Barat, Pengembang dan perwakilan dari warga Perumaham Pondok Melati beserta kuasa hukumnya. "Pada tanggal 18 Maret 2009, pengembang secara tertulis menyerahkan sarana fasos fasum dengan nomor surat 04/PBB/III/2009," jelasnya.

Dia melanjutkan, setelah sarana fasos-fasum diserahkan oleh pengembang, pada 14 April 2009, Perumahan Pondok Melati dilakukan verifikasi dengan melibatkan pemerintah daerah, pengembang, Sekretaris Camat Cikampek, Kepala Desa Cikampek Barat dan warga perumahan yang diwakili oleh Ketua RW, RT dan tokoh masyarakat. "Permasalahan ini terlalu lama berlarut-larut, kami tidak memiliki kejelasan mengenai status fasos fasum di perumahan ini.

Jangan sampai didirikan bangunan di atas sarana fasos fasum, karena masalah ini tak kunjung selesai. Karena sarana tersebut merupakan hak kami selaku konsumen," paparnya.
Sejak dilakukannya verifikasi oleh pemerintah daerah, lanjut Teguh, akan ada tindak lanjut penyelesaian masalah ini. Tapi nyatanya, hingga saat ini belum ada kejelasan penyelesaiannya.

Pihaknya telah empat kali datang ke pemda untuk mempertanyakan kejelasan penyelesaian masalah ini. Tapi tidak ada jawaban yang jelas dari pemda. "Kami mohon pada pemda untuk bisa menyelesaikan permasalahan yang kami alami saat ini. Jangan sampai permasalahan ini terus-terusan terjadi tanpa ada kejelasan penyelesaiannya," harapnya.

Dia juga berharap, fasos dan fasum yang ada di perumahan tersebut bisa diserahkan kepada pemda dan dikelola oleh masyarakat. Saat ini, untuk sarana keagamaan di perumahan tersebut, mesjid misalnya, masih dikelola oleh pengembang. Hanya untuk sekedar memperbaiki kerusakan kecil di mesjid tersebut, harus ada izin dari pihak pengembang tanpa ada izin kerusakan tersebut tidak boleh diperbaiki.

"Sementara fasos dan fasum tersebut disediakan untuk konsumen perumahan. Untuk itu, masalah ini harus segera selesai. Fasos dan fasum bisa diserahkan pada pemdah dan dikelola oleh masyarakat," pungkasnya. Sementara itu, ketika RAKA, mengunjungi lokasi perumahan tersebut, belum dapat menemui pengelola perumahan tersebut. (asy)

Berburu Buah Lontar Yang Didatangkan Dari Tuban, Jawa Timur

PURWASARI, RAKA - Memasuki awal Ramadhan, berbagai macam penganan bermunculan seperti penganan yang satu ini, yaitu buah lontar. Penganan yang didatangkan dari Tuban, Jawa Timur, ini berhasil menyedot perhatian masyarakat yang melihatnya. Pasalnya, di Karawang buah tersebut tidak dapat ditemukan pohonnya. Hal tersebut dikatakan oleh pedagang buah lontar, Muin (32), saat ditemui RAKA, Minggu (23/8), di tempat jualannya di Jalan Raya Purwasari.

Lebih lanjut dia menuturkan, selain menjual dagingnya, dia juga menjual air yang disadap dari pohon lontar. Baik buah maupun airnya, terasa manis lebih manis dari air kelapa. Buah lontar yang dijualnya, didatangkan langsung dari Tuban, pasalnya dia tidak mendapatkan pasokan barang yang didapat langsung di Karawang. "Saya bawa buah ini langsung dari kampung, soalnya di sini tidak ada buah seperti ini. Kalau biasanya, jualan buah ini cukup laris, di sini cuacanya cukup panas, jadi cocok untuk jualan buah yang seger seperti ini," paparnya.

Menurutnya, dia tidak berjualan buah lontar setiap waktu, melainkan saat memasuki musim kemarau dan masuk bulan Ramadhan. Selain untuk memeriahkan bulan Ramadhan, buah tersebut juga banyak ketika memasuki musim kemarau. Dari satu buah pohon lontar, bisa disadap airnya minimal 10 liter. Air lontar tersebut dimasukkan ke dalam botol ukuran 1,5 liter dan dijual dengan harga Rp 5.000 per botol. "Saya baru berjualan lontar hari ini (kemarin, red), tidak tahu akan laku atau tidak. Tapi kalau melihat penjualan tiap tahunnya, cukup banyak pembeli," jelasnya.

Muin menambahkan, satu butir lontar yang telah dikupas, dijualnya dengan harga Rp 5.000. Namun untuk lontar yang belum dikupas, dijualnya seharga Rp 3.000 per butir. Di kampungnya, buah lontar selalu dijual setiap hari, namun karena ketersediaannya yang minim, buah tersebut tidak dipasarkan ke luar daerah dan baru saat ini buah tersebut dipasarkan ke luar daerah. Menurutnya, berjualan buah lontar cukup menguntungkan. "Setiap tahun saya selalu berjualan lontar apalagi pada bulan puasa seperti sekarang, lumayan lah hasilnya buat memenuhi kebutuhan keluarga. Kalau stok sekarang habis saya akan ambil lagi di kampung," tutupnya.

Sementara itu, salah seorang pembeli lontar, Muhadi mengatakan, rasa dari buah lontar cukup manis, rasanya seperti kelapa, tapi lebih manis. Airnya juga sama manisnya, tidak perlu ditambahkan gula lagi. Buah lontar sangat cocok untuk dijadikan menu buka puasa, selain rasanya yang manis, buahnya juga bisa menyegarkan tubuh. "Saya pernah sekali beli buah lontar ketika di Jakarta, sekarang saya lihat di sini menjual buah lontar, jadi ketagihan ingin merasakannya lagi. Soalnya buah ini manis dan cocok untuk buka puasa," katanya. (asy)

Jalan Desa Laban Jaya, Kecamatan Pedes Rusak

JALAN RUSAK: Jalan Desa Laban Jaya, Kecamatan Pedes, hingga kini masih dalam kondisi rusak. Imbasnya, para pengendara dihinggapi ketakutan akan terjadinya kecelakaan jika menggunakan jalan itu. Pengguna jalan memilih memakai bahu jalan yang dirasakan masih bisa dilintasi. Ironisnya, lebar bahu jalan yang dirassa masih bisa dilintasi walau harus berebut dengan kendaraan yang berlawanan. (get)

Tidak Mau Terganggu Pertamina di Kecamatan Kutawaluya Tutup Jalan

KUTAWALUYA, RAKA - Pengguna jalan di Kecamatan Kutawaluya agaknya dituntut untuk legowo bila perjalanannya sewaktu-waktu dihentikan petugas seismik, menyusul sosialisasi yang digelar pertamina. Aksi stop kenderaan itu dilakukan agar prosesi perekaman sumber minyak tidak terganggu oleh laju kendaraan warga.

Biasanya penghentian itu pun turut bekerja sama bersama anggota polisi. Namun begitu, penghentian tersebut, bukan dalam rangka razia SIM, STNK atau pencabutan sepeda motor yang selama ini selalu ditakutkan masyarakat. Pemberhentian hanya merupakan bentuk kerjasama. Artinya, pelayanan kepolisian kepada pihak Pertamina dalam mengerjakan pekerjaannya supaya bisa maksimal. Meski demikian, polisi dan para petugas Seismik yang bertugas menjaga agar kendaraan tidak melintas di sekitar area perekaman tidak menutup kemungkinan mengundang kecemasan pengendara selain kerugian waktu.

Kekhawatiran itu dianggap wajar salah seorang warga Kecamatan Kutawaluya, Ade Permana (35). Menurutnya, kecemasan itu terletak pada kepentingannya yang bakal sedikit terhambat. Seperti yang dirasakannya ketika melintas diwilayah yang tengah melaksanakan proyek itu, petugas polisi dan petugas seismik melakukan pengamanan para pengendara untuk melayani Pekerja yang melakukan 'recording' atau perekaman kandungan perut bumi. "Pertama di Kecamatan Tirtajaya dan belum lama ini, di Kecamatan Rengasdengklok yang diakui 2 desa telah selesai," terangnya.

Diketahui, petugas pertamina bertugas menghentikan kendaraan yang melintasi kabel-kabel pendeteksi getaran, karena jika sedang merekam getaran bila lalu ada kendaraan melintas, maka perekaman akan terganggu oleh getaran mesin motor maupun mobil. Namun begitu, yang dipertanyakan adalah bagaimana jika yang melintas itu kendaraan kendaraan pelayanan masyarakat seperti ambulans yang dalam situasi situasi harus segera mengantarkan pasien untuk menjalani perawatan.

Atau Mobil pemadam kebakaran yang harus segera memadamkan kebakaran bila terjadi kebakaran. "Mungkin lain hal jika kendaraan itu yang melintas, nanti akan kami sampaikan dalam sosialisasi. Lagi pula waktu perekaman hanya berselang 2 menit," kata Humas Pertamina, Winarno kepada RAKA, ditemui usai sosilisasi di Desa Sampalan Kecamatan Kutawaluya, belum lama ini.

Meski Begitu menurut pengakuan beberapa pengendara yang sering melintas di wilayah kutawaluya, hal itu bakal cukup membuat jenuh para pengendara, apalagi bagi mereka yang sibuk dan terburu-buru. Diketahui, awalnya perekaman kandungan gas dan minyak di perut bumi oleh Pertamina ini pernah dipertanyakan warga, karena tidak semua warga ikut dalam tahapan sosialisasi.

Jadi dengan penjelasan itu warga bakal mengetahui alasan mereka dihentikan. Mengingat juga, tidak ada seorang petugas pun ketika menghentikan sekaligus menjelaskan alasan kendaraan dihentikan. Dan diharap, para pegawai Pertamina yang turun ke daerah tidak sulit di wawancarai wartawan meski karena kesibukannya.(get)

IPHI Kutawaluya Kembalikan Dana Haji

KUTAWALUYA, RAKA - IPHI akhirnya merealisasikan pengambilan sekaligus pengembalian Dana Shodakoh Haji yang terkumpul di BRI Kutagandok Kecamatan Kutawaluya. Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) mengeluarkan uang shodakoh sebesar 51 juta lebih dari Bank BRI pada tanggal 18 agustus 2009. Dan uang shodakoh itu langsung dipecah dan dibagikan kepada penerima yang bertugas membagikan, sesuai data pada bendaharawan IPHI.

Bendaharawan IPHI, H. Endan, menerangkan kepada RAKA, Sabtu (22/8),dana telah dikembalikan pada masyarakat Kutawaluya. Itu pun, setelah persyaratan untuk pengambilan dana dilengkapi peserta lalu diserahkan pada IPHI. Dijelaskannya, Kontingen IPHI yang bertugas menerima dan membagikan merupakan pihak yang harus melengkapi persyaratan pengambilan Dana pengembalian. Hal itu, harus dilakukan agar semua pihak baik Lembaga IPHI, Pemerintahan dan Bank BRI, terhindar dari masalah yang sangat tidak diinginkan terjadi.

"Pihak desa yang ditugaskan mengembalikan sebelumnya telah melakukan sosialisasi dan musyawarah bersama sama peserta terkait dana yang sudah dishodakohkan untuk bisa melaksanakan penarikan dana pengembalian. Maka saat itu juga, Uang bisa diterimanya dan dikembalikan. Untuk penggunaannya sesuai hasil musyawarah sebelumnya, akan dibagikan atau di shodakohkan kembali, "terangnya.

Selain untuk mengantisipasi terjadinya permasalahan akibat pengembalian. Dalam persyaratan tersebut, harus juga tertera tentang kelanjutan penggunaan dana yang dikembalikan. Seperti, di Desa Sindang Mulya kecamatan Kutawaluya. Dana pengembalian Shodakoh yang diterimanya, dikembalikan kembali ke masing masing peserta yang juga warganya. "Karena sebelumnya di Desa Sindang Mulya tidak memotong langsung dari BLT. Jadi dana yang diterima tidak terlalu besar dan tidak sulit membagikannya pada warga selaku peserta, "jelasnya.

Ketua IPHI, H.Iyung membenarkan, bahwa pengembalian dana IPHI telah dilaksanakan begitu dana berhasil dikeluarkan Dari Bank BRI. Ditambahkannya, dana itu langsung dititipkan pada pihak kecamatan Kutawaluya. "Dana itu langsung kami serahkan pada pihak kecamatan. karena, pihak kecamatan yang telah ditugaskan mengembalikan. Sesuai dengan hasil musyawarah sebelunnmnya, "tambahnya.

Camat Kutawaluya, Karawang Drs Maman Suryaman. Menyatakan, bahwa dana IPHI telah diterima dan dibagikan oleh H. Abdul Rozak, selaku sekertaris IPHI juga pegawai di kecamatan Kutawaluya. Meski begitu, pihak kecamatan hanya menjembatani pengembalian dana shodakoh itu. "Kecamatan hanya membantu proses pengembalian. Salah satunya, dengan meneliti persyaratan pengambilan dan pengembalian dana. Untuk kelanjutan program IPHI, pihak kecamatan menyerahkan keputusannya pada kontingen IPHI sendiri, "Ungkapnya. (get)

Warga Dengklok Minta Hidran Air

RENGASDENGKLOK, RAKA - Masyarakat Rengasdengklok meminta kepada Pemda Karawang supaya membuat hidran air di tengah pemukiman padat penduduk, terutama di dalam pasar. Hal itu dianggap penting untuk mencegah jika terjadi kebakaran. Selama ini, kendala yang selalu dihadapi PMK (Pemadam kebakaran) adalah air yang sulit dijangkau.

Padatnya pemukiman pun menjadi penyebab kebakaran meluas, karena kebakaran tidak bisa dipadamkan oleh puluhan ember air yang diambil warga dari sumur-sumur setempat dan sumur pun terhitung jarang. Keinginan masyarakat ini melihat dari beberapa kejadian kebakaran, sulitnya PMK masuk pemukiman menjadi alasan kuat warga meminta dibuatkan hidran air.

Seperti diungkapkan, Kepala Desa Rengasdengklok Selatan Wawan Hernawan kepada RAKA kemarin, di desanya ada beberapa dusun yang harusnya sudah memiliki hidran air untuk PMK, supaya bisa mengantisipasi kebakaran, karena pemukiman di beberapa dusun ada yang sangat padat dan tentunya akan menyulitkan PMK masuk. "Kalau di dalam pemukiman cuma ada jalan setapak, sulit dilalui roda empat," ujarnya.

Dia menceritakan, kebakan yang merenggut pasangan suami-istri di Desa Rengasdengklok Utara akibat PMK kekurangan air, bahkan armada PMK sulit masuk. Sehingga dua rumah hangus termasuk dua penghuni di salah satu rumah tersebut. "Hindran ini sangat kita perlukan yang dipasang di tengah pemukiman padat penduduk, sehingga apabila ada kebakaran bisa segera diantisipai warga setempat sebelum PMK tiba ke lokasi," jelasnya.

Diketahui, kepadatan rumah penduduk selalu jadi hambatan bagi PMK, armada pemadam ini kadang tampak kesulitan menjangkau kobaran api. Meski Rengasdengklok dekat dengan saluran air irigasi, tetap saja akan membuang waktu ketika sedang melakukan isi ulang air, apalagi lokasi yang strategis mengisi air bagi armada PMK ini di Jalan Kemiri yang lokasi cukup jauh dari pasar Rengasdengklok. (spn)

Ruas Jalan Penghubung Kecamatan Kutawaluya dan Rawamerta Rawan Kecelakaan

KUTAWALUYA, RAKA - Meski dalam tahap perbaikan namun beberapa ruas jalan penghubung Kecamatan Kutawaluya dan Rawamerta masih banyak yang dalam keadaan rusak parah. Kondisi sedemikian dinilai rawan kecelakaan. Seperti yang menimpah wanita lanjut usia yang membuat geger warga setempat, belum lama ini. Beruntung dalam kejadian itu korban tidak mengalami luka parah.

Kecelakaan terjadi tepatnya di jalan Desa Sindang Mulya Kecamatan Kutawaluya. Menurut pengakuan pengendara yang enggan disebutkan namanya. Lelaki yang sedang membonceng istri dan anak kecilnya yang sedang menuju Rumah sakit di Kecamatan Rawamerta, untuk mengantarkan anaknya yang sedang sakit, berusaha menghindar dari jalan yang berlubang.

Namun, warga Desa Bayur Kecamatan Pedes ini malah terperosok dan menabrak wanita lansia yang sedang berjalan di pinggir jalan. Meski demikian, kecelakaan itu tidak menimbulkan korban jiwa. Akhirnya, korban berikut keluarrga pengendara yang sama sama mengalami luka luka segera ditolong oleh warga setempat menuju tempat pelayanan kesehatan terdekat. (get)

Gizi Buruk di Kecamatan Kutawaluya

KUTAWALUYA, RAKA - Puskesmas Kertamukti Kecamatan Kutawaluya gelar lokakarya mini mengenai kasus gizi buruk. Pasalnya, masyarakat di minta memerangi penyakit gizi buruk secara bersama dalam acara itu. Dengan begitu, diharapkan kasus gizi buruk bisa hilang dari wilayah Kutawaluya. Seminar bertempat di Ruang Pertemuan Kantor Desa Kuta Gandok Kecamatan Kutawaluya, baru-baru ini dihadiri seluruh perwakilan tiap desa se kecamatan Kutawaluya.

Seminar ini mengangkat 2 tema sekaligus, yakni gizi Buruk dan virus H1n1. Namun begitu, lebih ditekankan mengenai Gizi buruk. Diketahui, dari awal tahun hingga sekarang ini, penderita gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Kertamukti, kutawaluya, hanya ada 2 penderita. Hal itu berdasarkan data yang diungkapkan Kepala Puskesmas Kertamukti, Kutawaluya Dr Aef Saepudin, Kepada RAKA, belum lama ini, ditemui usai seminar yang dipimpinnya.

Menurutnya, dari awal tahun hingga bulan agustus 2009 jumlah penderita kasus gizi buruk sudah berhasil ditekan dan mudah mudahan bisa segera hilang dari wilayah Kutawaluya. "Dari data yang ada hanya 2 penderita gizi buruk yang berda di Desa Kutaraja dan Kutaraja, selama ini sudah berhasil ditangani. artinya ada peningkatan berat badan dan gizi pada penderitanya, "katanya.

Dijelaskannya, maksud dari pertemuan loka karya mini yang dilakukan pihak puskesmas kertamukti, untuk menyatukan kesepahaman antara masyarakat dan pihak pelayanan kesehatan masyarakat dalam hal penanganan kurang gizi atau gizi buruk. "Gizi buruk bukan hanya permasalahan sebuah lembaga kesehatan. Namun, permasalahan bagi kita semua karena penyembuhan pada kasus gizi buruk dibutuhkan dukungan dari lingkungan,"terangnya.

Maka dengan adanya acara seperti ini penekanan untuk kesembuhan terhadap penderitanya minimal bisa terorganisir dan secepatnya tertanggulangi. Dengan pengetahuan yang didapatkan dari seminar seperti. Dijelaskan, seminar akan di lakukan rutin dengan jangka waktu setiap tiga bulan sekali dan untuk penyululuhannya akan dilaksanakan dalam jangka waktu setiap satu minggu sekali.

"Kami minta seluruh elemen masyarakat ikut perduli terhadap penderita gizi buruk. Karena selama ini, semua fasilitas untuk penanganan sudah sesuai. Bahkan, Dinas kesehatan selama ini telah akomodatif terhadap kebutuhan fasilitas penanganan gizi buruk, "harapnya.(get)

Suasana Kawasan alun-alun Karawang

MACET: Kawasan alun-alun Karawang yang disulap secara mendadak menjadi area perdagangan. Akibatkan lokasi dadakan itu sering terjadi kemacetan yang sangat parah, terutama pada sore hari. (psn)

Jalur Lingkar Tanjungpura-Klari (2/habis), Ancaman Aksi Massa yang Berkepanjangan

PULUHAN sopir elf jurusan Pangkalan-Karawang mendatangi gedung DPRD, beberapa waktu yang lalu. Unjuk rasa itu digelar karena pembangunan ruas jalus lingkar Tanjungpura-Klari merugikan mereka.

DIBUKANYA
jalur lingkar Tanjungpura-Klari tak pelak menuai ketidakpuasan dimana-mana. Diantaranya yang dilakukan para sopir angkot jurusan Cikampek-Karawang dan para sopir elf. Bahkan sebuah organisasi buruh mengancam akan menurunkan ribuan massa apabila pemkab tetap melarang bus karyawan masuk ke kawasan kota.

Ironisnya, dampak ekonomi yang terjadi malah menyentuh pula para pengusaha kost-kostan di gura II, Kelurahan Karawang Wetan Kecamatan Karawang Timur banyak yang terancam gulung tikar. Salah seorang pengusaha kost-kostan di gura II yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, setelah jalur lingkar tanjungpura-Klari diuji coba, satu persatu penghuni kost mulai pindah. "Kalau seperti ini terus saya bisa bangkrut," tandasnya.

Tak disangkal, jalur lingkar tanjungpura-klari memang berhasil menurunkan volume kendaraan yang masuk ke Karawang Kota. Dan kelancaran lalu-lintas mulai nampak disepanjang jalan dari jalan surotokunto sampai jalan Bypass. Menurut Plt. Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Miftah Zaini, Sebelum jalur lingkar Tanjungpura-Klari dibuka, volume kendaraan yang masuk ke Karawang Kota mencapai 11. 137 kendaraan setiap harinya, sekarang mengalami penurunan yang sangat drastis, yaitu 8000 kendaraan.

"Turunnya volume kendaraan membuktikan jalur lingkar Tanjungpura-Klari sesuai dengan target, yaitu membuat Karawang menjadi kota yang nyaman, aman dan tertib. Warga Karawang saat ini sudah tidak perlu khawatir lagi akan terkena macet, diperempatan jalan Johar, maupun disepanjang jalan protokol. Seperti yang sudah kita lihat, hari ini arus kendaraan dijalan tersebut sangat lancar. Dan kami harapkan pembangunan ini akan terus lancar dan sukses," ungkapnya di sela pemantauan jalur lingkar Tanjungpura-Klari," katanya.

Dua sisi keping uang yang selalu menjadi warna dalam pembangunan harus bisa diformulasikan oleh pemerintah agar bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat. Pembangunan jalur lingkar Tanjungpura-Klari memang sangat berdampak positif bagi kelancaran berlalu-lintas, namun yang harus digaris bawahi adalah jangan sampai efek dari pembangunan tersebut membuat warga Karawang ada yang dimiskinkan karenanya. (psn)

Kolak dan Asinan Makanan Favorit Puasa di kawasan alun-alun Karawang

KARAWANG, RAKA - Bulan Ramadhan memang bulan penuh berkah bagi pedagang, salah satunya pedagang kolak di kawasan alun-alun. Hari pertama puasa, kolak yang ditawarkan pedagang rata-rata terjual habis, keuntungan yang didapatpun mencapai ratusan ribu rupiah. Satu bungkus kolak dijual dengan harga kisaran Rp 2500 sampai Rp 3000.

Erat (45) salah satu penjual kolak dikawasan alun-alun mengaku, hari pertama puasa, keuntungan yang didapatnya mencapai Rp. 500.000. "Kemarin, sebelum pukul lima sore, empat ratus bungkus kolak dan asinan saya habis terjual, itupun masih banyak orang yang ingin membeli kolak. Satu bungkus kolak dan asinan, saya jual Rp. 2.500 perbungkusnya, Alhamdulillah keuntungan yang saya dapat cukup lumayan,"ungkapnya yang mengaku sebelumnya berprofesi sebagai penjual nasi uduk.

Ia mengaku, berbagai macam kolak yang dijual merupakan buah karyanya selama imsak sampai pukul tiga sore. "Sebelum sahur saya mulai belanja bahan-bahan, lalu setelah imsak mulai mengolah kolak dan asinan. Kemarin kolak yang saya buat mencapai empat ratus bungkus,terdiri dari kolak pisang, candil, sekoteng dan asinan, namun hari ini hanya tiga ratus bungkus. Pasalnya saya takut hari ini penjualan kolak akan menurun. Menurut pengalaman tahun kemarin, setiap harinya pembeli akan terus menurun, mungkin mereka bosan dengan kolak. Tapi kalau dibandingkan dengan penjualan nasi uduk, usaha kolak lebih menguntungkan dan cepat lakunya," katanya.

Imas (32) penjual kolak di jalan A.Yani mengaku, hari pertama puasa, tiga ratus bungkus kolak dagangannya terjual habis. "Dilihat dari isi dan kualitasnya, saya rasa kolak saya paling baik, makanya saya jual dengan harga Rp. 3000,00 perbungkus. Alhamdulillah terjual habis. Namun hari ini jumlah kolak yang saya buat hanya dua ratus lima puluh bungkus, karena biasanya penjualan akan semakin menurun," ujarnya yang mengaku berjualan kolak hanya sampingan.

Menurut Nanang (28) salah satu pembeli kolak, adanya penjual kolak sangat membantunya dan keluarga yang tidak sempat mempersiapkan makanan untuk berbuka puasa. "Semua orang dirumah kerja, jadi tidak ada yang masak atau buat kolak. Daripada pusing-pusing, mendingan beli kolak saja, selain praktis, harga kolak juga murah, hanya dua ribu lima ratus perak," katanya.

Berbeda dengan Nanang, Yuli (18), warga Wadas mengaku, membeli kolak bukan karena kebutuhan, melainkan tergiur oleh kolak yang ditawarkan pedagang. "Saya kebetulan saja lewat alun-alun, sekalian ngabuburit nunggu bedug Maghrib. Eh, lihat bungkusan kolak yang berjejer rapi, jadi pingin, akhirnya beli deh. Sebetulnya dirumah mamah juga buat kolak, tapi tidak apa-apa lah, anggap saja oleh-oleh ngbuburit," ujarnya. (psn)

Ngabuburit di Jalur Lingkar Tanjungpura-Klari

KARAWANG, RAKA - Ngabuburit sudah menjadi tradisi tiap kali memasuki bulan ramadhan. Seperti tahun ini, titik ngabuburitpun bertambah satu yakni ruas lingkar Tanjungpura-Klari. Diruas itu, Minggu (23/8) sore, warga memanfaat waktu ngabuburit sembari menunggu waktu untuk berbuka.

Berdasarkan pantauan RAKA, ratusan warga Karawang memadati Jalur sepanjang 11,58 km, sambil menunggu waktu buka puasa. Seperti yang dilakukan Ade (18), warga Tanjungpura, dia mengaku semenjak jalur lingkar Tanjungpura-Klari dibangun, hampir setiap hari ia selalu menghabiskan sore dengan teman-temannya di jalur lingkar.

"Sebelum bulan Ramadhan kami selalu disini, namun sekarang lebih ada tujuan, yaitu menunggu buka puasa. Selain itu, sekalian cuci mata, pasalnya semakin sore, orang-orang yang mau ngabuburit semakin banyak. Bahkan ada yang jalan kaki menyusuri jalur lingkar," ungkapnya.

Jalur lingkar yang membentang dari Tanjungpura sampai Klari, menurut Ade sangat indah apabila sore hari. Bentangan pematang sawah berpadu dengan matahari sore yang kemerah-merahan, menjadi panorama sore yang sangat sulit dilupakan. "Kalau bukan bulan ramadhan, biasanya saya menikmati jalur lingkar, sambil minum kopi dan menghisap rokok," tuturnya.

Irma (20), mengatakan sejak hari pertama puasa, ia dan temannya menyusuri jalur lingkar sambil menggunakan sepeda motor dari Klari dan berhenti dijembatan dekat kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU). "Hitung-hitung menunggu waktu buka. Lagipula, pemandangan disini cukup indah, selain cuci mata melihat orang-orang yang ngabuburit disini. Siapa tahu dapat jodoh," katanya sambil tertawa.

Ia menuturkan, sangat disayangkan, keadaan jalur lingkar masih jauh dari memadai. Pasalnya masih banyak fasilitas jalan yang belum ada. "Seharusnya dijalan sepanjang ini, sudah dibangun shelter atau lampu jalan. Pasalnya apabila melintasi jalur ini dimalam hari, sangat rawan kriminalitas atau kecelakaan. Mudah-mudahan pada saat peresmian nanti, fasilitas jalan sudah lengkap," tuturnya.

Berbeda dengan Irma, Yahya (30) karyawan PT. Polysindo mengatakan, dibukanya jalur lingkar, menjadi beban bagi dirinya. Pasalnya ia harus mengeluarkan uang untuk biaya transportasi. "Mulai tanggal 17 Agustus kemarin pengeluaran saya membengkak. Bayangkan saja, penghasilan yang pas-pasan, harus dibebani lagi dengan ongkos," ungkapnya. (psn)

12 Panti di Karawang Dapat Bantuan Ramadhan

KARAWANG, RAKA - Pemerintah Kabupaten Karawang melalui Dinas Sosial, menyalurkan bantuan kepada 12 Panti dan Rumah Perlindungan Anan (RPA). Hal itu dilakukan sebagai agenda kegiatan dinsos selama menyambut bulan suci ramadhan.

Dijelaskan, keseluruhan bantuan sosial tersebut berupa 10 Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA), 1 Panti Sosial Tresna Werda (PSTW) dan 1 Rumah Perlindungan Anak (RPA) berupa 2,5 ton beras, 120 Dus Mie Instan, 36 Dus Air Mineral dan 24 Pak Biskuit.

Secara simbolis bantuan itu diserahkan oleh Wakil Bupati Karawang, Hj Eli Amalia Priatna kepada Ketua Koordinator PSAA H. Soleh, Drs. Sirojudin dari PSTW Telukjambe, dan Idris dari RPA Cikampek, bertempat di lapang Karangpawitan, Jum’at (21/8).

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Karawang Drs. Banuara Nadeak, MM menjelaskan bahwa penyaluran bantuan ini dilaksanakan satu hari menjelang bulan Suci Ramadhan. Dan, dengan harapan akan dapat meringankan beban para pengelola Panti dalam membina para santri, anak asuh, lansia dan dalam upaya meningkatkan bimbingan dan pembinaan bagi anak jalanan.

Setiap panti dan RPA masing masing memperoleh bantuan 200 kg beras, 10 dus Mie Instan, 3 dus air mineral dan 2 pak biscuit. Adapun Panti yang memperoleh bantuan tersebut adalah PSAA Matla’ul Anwar Tunggakjati Kecamatan Karawang Barat, PSAA Misbahul Huda Cikuntul Kecamatan Tempuran, PSSA Nurul Aitam Karyasari Kecmatan Rengasdengklok, PSAA Nurul Muslimin Telukbango Batujaya, PSAA Nurul Huda Batujaya, PSAA Lampu Iman Kelurahan Adiarsa, PSAA Darussalam Kedungjeruk Cibuaya, PSAA Isma Zahari.

Adapun Panti yang memperoleh bantuan tersebut adalah: PSAA Matla’ul Anwar Tunggakjati, PSAA Misbahul Huda Cikuntul Kecamatan Tempuran, PSSA Nurul Aitam Karyasari Kecmatan rengasdengklok, PSAA Nurul Muslimin Telukbango Batujaya, PSAA Nurul Huda Batujaya, PSAA Lampu Iman Kelurahan Adiarsa, PSAA Darussalam Kedungjeruk Cibuaya, PSAA Isma Zaharittamulya Kecamatan Pedes, PSAA Ummul Quro Tegalsawah, PSAA Al Kholishos Perumnas Telukjambe Timur, PSTW Telukjambe Timur dan RPA Lentera Harapan Cikampek. (raka)

Umat Islam Tanpa Diiringi Dengan Kualitas Keagamaan Seperti Buih Disamudera

KUANTITAS umat Islam di dunia yang tidak diiringi dengan kualitas keagamaan yang kuat, sangat berdampak negatif bagi kehidupan umat. Akibatnya sampai sekarang umat Islam masih menjadi golongan yang terpinggirkan, bahkan tertindas. Menurut Imam Masjid Agung Ust Ujang Mashudi, Saat ini umat Islam seperti buih disamudera yang luas, terus terombang-ambing oleh arus yang tidak tahu arah.

"Umat Islam sangat banyak tapi tidak berkualitas, bahkan hampir sebagian besar yang mengaku Islam tidak tahu apa itu Islam. Andaikan mereka mengerti dan terus meningkatkan kualitas keIslamannya, saya yakin keadaan umat tidak akan seperti sekarang. Melihat keadaan umat yang seperti ini, kita jangan bersedih, justru harus dijadikan motivasi, khususnya bagi para ulama untuk terus mensosialisasikan ajaran Islam yang sebenar-benarnya," tuturnya, Minggu (23/8) siang setelah memberikan tausyiah di Masjid agung alun-alun.

Umat Islam yang terbawa oleh arus abad modern yang mengacu kepada kebendaan atau materi, salah satu sebab hancurnya umat. Sebab umat Islam sudah mulai melupakan esensi dari ajaran Islam. "Hampir sebagian besar umat Islam didunia mengalami nasib yang sama, yaitu masih terbelenggu oleh kebodohan, kemiskinan, keresahan dan ketertindasan. Sebab mereka sendiri tidak mengenal apa itu Islam yang sebenarnya. Banyak orang tua yang lebih suka menyekolahkan anaknya ke sekolah umum daripada ke sekolah keagamaan.

Akhirnya tercipta generasi-generasi yang tidak mengenal agamanya. Disini akan tercipta ketimpangan, dan tidak jarang terjadi permusuhan dikalangan umat Islam sendiri, akibatnya, sampai saat ini umat Islam masih sangat ketinggalan, baik dibidang teknologi maupun ekonomi. Ini yang seharusnya kita tanggulangi bersama-sama, agar umat Islam bisa kembali mendapatkan kembali kemenangannya," katanya. Bulan Ramadhan merupakan momentum yang tepat untuk mendorong umat agar terus meningkatkan kualitas keimanan dan menciptakan generasi yang mengenal agamanya.

"Kita harus memanfaatkan kesempatan ini. Para ulama harus terus mengarahkan umat agar mengerti arti dan ajaran ISlam. Jangan sampai keadaan kita dimanfaatkan oleh orang-orang yang ingin menghancurkan Islam. Janganlah saling menyalahkan satu sama lain, namun kita harus intropeksi diri dan mulai membangun umat. Teruslah berjuang agar umat ini terus maju, sebab tanpa usaha dan kerja keras, perbaikan umat tidak akan terjadi," paparnya.

Dalam Tausyiahnya, Ust Jajat mengatakan ada empat orang golongan yang dirindukan surga, yaitu orang yang suka membaca Al'Qur'an, menjaga mulutnya, memberi makan orang yang lapar, dan menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadhan. "Beruntunglah orang-orang yang termasuk kedalam golongan yang dirindukan surga. Mulai saat ini, marilah kita terus berusaha agar menjadi orang yang termasuk kedalam golongan yang dirindukan surga," katanya. (psn)

Puasa Ramadhan itu untuk Mendidik Jiwa, Lho

Ramadhan atawa bulan puasa, buat kawula muda Muslim tentu mengandung arti penting dan positif tuh untuk berbuat baik. Coz bulan ini dikenal penuh dengan rahmat dan barokah, dan di bulan inilah obral pahala digelar.

Berpuasa itu salah satu cara buat bikin meningkat ketakwaan kepada Allah. Allah yang memberi ganjaran pahala puasa kepada individu Muslim yang melaksanakannya. Puasa yang berarti menahan diri dari makan dan minum dan hal lain yang membuat batal, dari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari, yang disertai dengan niat.

Melalui puasa ini kita juga dapat membentuk jiwa agar tidak mudah tunduk kepada tuntutan nafsu. Dengan memiliki nafsu yang terdidik, maka kawula muda khususnya bakal lebih bersikap dewasa, nggak mudah kena ngaruh gejala negatif.

Bagi kawula muda yang biasa dilimpahi nikmat kesenangan hidup, kewajiban berpuasa tentu bikin kita turut merasakan derita kelaparan. Tetapi justru pengalaman yang demikian, insya Allah mampu menjadikan kawula muda insaf serta membuang sikap sombong dan takabur dalam diri.

Jalani Ramadhan ini, para kawula muda Muslim tentu sudah mempersiapkan diri. Persiapan yang utamanya juga tentu soal perlunya pencarian ilmu, biar amal ibadah dapat dilaksanakan dengan sempurna dan penuh penghayatan.

Kita memang patut menanamkan niat serta tekad memanfaatkan bulan Ramadhan dengan amalan sebaik mungkin. Dalam bulan ini kita harus berazam untuk merebut peluang melaksanakan pelbagai amalan soleh, serta memohon ampunan Allah SWT.

Juga kita perlu menyadari akan perubahan gaya hidup pada bulan puasa ini. Karena itu, adalah bermanfaat bagi kita untuk mengkaji ulang tentang pemaknaan serta gaya hidup yang sesuai dalam melaksanakan ibadah puasa.

Dalam hal ini, para remaja di Karawang yang terutama berada dalam ikatan kebersamaan seperti di sekolah, tentu boleh bersyukur. Pihak kompeten kayak Disdikpora setempat, umpamanya, telah memberi peluang bagi pengisian waktu di bulan suci ini dengan kegiatan positif keagamaan, yang di realisasinya tentu bisa berupa pesantren kilat atawa sejenisnya.

Kenyataan itu, di antaranya tertuang dalam pengumuman Disdikpora Karawang No.420/1620/Disdikpora, 15 Agustus 2009 perihal Kegiatan Bulan Ramadhan yang ditandatangani Kadisdikpora Drs. H. Yan Zuwarsyah. Sesuai surat itu, di bulan Ramadhan ini pembelajaran di sekolah digelar sekitar tiga minggu, termasuk kegiatan keagamaan. Rinciannya selama lebih dua minggu pembelajaran biasa, dan tiga hari terakhir khusus bidang agama.

Dari Kandepag Karawang diperoleh keterangan, tentang pengaturan kegiatan dan libur Ramadhan 1430 H/2009 M, idealnya berbagai kegiatan diarahkan buat peningkatan ahlaq mulia, pemahaman dan amalan keagamaan, termasuk berbagai kegiatan ekskul yang bernuansa agama.

Sebagai contoh selain tentang pendalaman materi pelajaran pun soal baca, tulis dan pedalaman Alqur'an, diskusi debat musyawarah atau latihan dakwah keagamaan. Juga bhakti sosial di panti asuhan atawa pesantren, termasuk kegiatan keagamaan lainnya yang relevan. "Untk di kami, begitu di antaranya," aku kasubbag TU Kandeag Karawang, H. Edy Yusuf HS, SAg, MM.

Nah...di bulan yang membawa seribu satu rahmat dan keberkahan ini, marilah selagi masih kawula muda kita gunakan untuk melaksanakan amal ibadah khas bulan Ramadhan ini dengan lebih baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Semoga Ramadhan menjadikan kita menambah kebaikan serta mendapat ampunan Allah sWT. Amiin. (dea)

Hari Awal Puasa, Pedagang Musiman Penuhi Masjid Agung dan Alun-Alun Karawang

ALUN-alun kota Karawang, di bulan Ramadhan 1430 H ini kemabali menjadi sasaran melepas lelah masyarakat. Terutama seusai berbuka puasa dan dilaksanakanya shalat Tarawih. Karena itu, para pedagang 'musiman' pun bermunculan memanfaatkan situasi.

Dari banyaknya pedagang 'dadakan', itu antara lain mereka yang sengaja menjual alat keperluan ibadah seperti baju Muslim, peci, tasbih, sorban dan sejenisnya. Lokasi mangkal mereka di trotoar persis depan Masjid Agung Karawang yang berada di lingkungan alun-alun.

Asep Hamzah dan Euis Winda, dua pedagang yang ditemui RAKA di temat jualannya, semalam (23/8), mengakui para penjual alat keperluan ibadah di depan masjid itu memang umumnya pedagang musiman. Di antara mereka ada yang sebelumnya biasa berdagang di pasar, tetapi lainnya bukan. Bahkan ada yang masih bersekolah.

Bukan sekadar statusnya yang bisa disebut dadakan. Dari belasan keluarga yang berjualan di sana, umumnya bertempat tinggal di lingkungan sekitar di antaranya Zaenal Hakim, Ny. Yati, Euis Winda. Sedangkan lainnya dari daerah luar seperti Mansyur dan Rosiman yang mengaku asal Banten. Sebelumnya, mereka biasa berjualan keliling. "Baru di bulan puasa ini kami mangkal," sebut Mansyur yang di tempat jualannya diterangi lampu petromaks.

Senada pengakuan Asep dan Euis, para pedagang itu umumnya mulai menggelar dagangannya sekitar pukul 16.00 hingga 23.00 WIB. Tidak ada pungutan sebagai uang sewa tempat dari pihak masjid, kecuali menjaga kebersihannya. Meski begitu setiap malam Idul Fitri, mereka pun memberikan infak.

Barang-barang jualan para pedagang ini diperoleh dari Jakarta, Cianjur, Garut, sampai daerah Jateng. Mereka mengaku senang bisa berjualan di tempat itu, sebab bisa memanfaatkan waktu seusai buka puasa sambil meraup untung.

"Alhamdulllah," syukur Asep sembari mengakui hasil jualannya di hari-hari awal puasa ini sekitar Rp 750.000 per hari. Jumlah penghasilan itu sangat jauh lebih tinggi dibanding selama dua minggu sebelumnya, juga di tempat yang sama, yang hanya memperoleh Rp 150.000 saja. "Saya sudah mangkal berjualan di tempat ini sejak setengah bulan sebelum puasa," Euis menambahkan.

Sementara selain yang berjualan di trotoar depan Masjid Agung, pedagang musiman juga beroperasi di areal alun-alun dan lingkungan sekitarnya. Di antara mereka adalah Putri dan Dewi yang menjual berbagai aksesoris yang biasa dipakai para remaja, keluarga Pak Bahar yang berjualan pakaian, juga Dhita dan lainnya yang menjual makanan untuk berbuka.

Para pedagang itu umumnya mengaku memang hanya pedagang musiman yang memanfaatkan keadaan. Ada yang untuk mengisi waktu luang libur sekolah, sebagai pengembangan usaha, juga mencoba-coba dan iseng sambil belajar usaha. "Pokoknya saban bulan puasa, semua biasa gitu. Sudah tradisi," kata Romi Rina, warga setempat. (dea wahyudi)

Ruas Jalan Protokol Purwakarta

LENGANG: Sejumlah ruas jalan protokol Purwakarta tampak lengang pada hari pertama puasa. Seperti tampak dalam gambar sepanjang Jalan Sudirman dan Singadilaga tampak seperti kota mati. (rif)

Puasa Hari ke Dua di Purwakarta, Situ Buleud Kawasan Favorit Ngabuburit

NGABUBURIT memang bisa dilakukan dengan berbagai cara. Di Purwakarta, kawasan Wisata Situ Buleud dijadikan sebagai primadona untuk ngabuburit. Berbagai kalangan dari berbagai penjuru Purwakarta, datang ke Situ Buleud, sekadar untuk menunggu waktu berbuka puasa.

Sejumlah aksi yang dilakukan oleh peserta ngabuburit diantaranya pamer motor modifikasi. Para anak muda dengan motor yang telah dimodifikasi, berkelok - kelok diruas jalan lokasi wisata dengan perlahan. Mereka tampak menikmati deru halus mesin kendaraannya selain kelokan-kelokan motor yang mereka lakukan.

Anak muda lainnya malah lebih suka memarkir motornya dan memilih duduk secara berkelompok sambil menikmati pemandangan, atau berjalan beriringan sambil membahas soal - soal yang lagi up to date. Para penjual makanan dan minuman, tak ketinggalan. Mereka menjajakan makanan dan minuman, untuk memanjakan lidah pengunjung yang hendak berbuka puasa di jalan.

Berbagai kegiatan memang yang terjadi saat itu, namun intinya tetap satu yakni ngabuburit. Selain itu, sekelompok orang, asyik memancing ikan. Mereka tak peduli dengan cekikikan para ABG yang berada di sekitarnya. Yang ada di benak mereka, adalah bagaimana caranya agar kail yang mereka cemplungkan ke Situ Buleud bisa menjerat ikan.

"Ya begini, setiap bulan puasa kawasan Situ Buleud akan ramai dikunjungi sebagai tempat untuk ngabuburit. Tua, muda, maupun anak-anak," ujar Gita Rahmanda (21) warga Sindangkasih, Purwakarta yang tengah ikut ngabuburit di kawasan Situ Buleud, kemarin.

Menurut Gita, kawasan Situ Buleud juga kerap dimanfaatkan warga Purwakarta untuk meluangkan waktu selepas sahur. Namun, biasanya, kegiatan di Situ Buleud selepas sahur cuma dominan dimanfaatkan oleh para kawula muda. "Selepas sahur juga biasanya ramai didatangi anak anak muda, kebanyakan mereka cuma duduk-duduk atau jalan santai sambil menikmati aksi pemuda yang pamer keterampilan,"ucapnya. (rif)

PT. Jamsostek (Persero) Cabang Purwakarta Efektif 2010

PT. Jamsostek (Persero) Cabang Purwakarta mengaku akan melindungi pekerja sosial di lingkungan Pemkab Purwakarta dengan program Jamsostek. Dipastikan program ini akan mulai efektif tahun 2010. Pimpinan Jamsostek cabang Purwakarta Drs H Dadang Koesnadi MBA kepada RAKA kemarin di ruang kerjanya mengatakan, pekerja sosial yang berada di lingkungan pemerintahan Kabupaten Purwakarta seperti RT, RW, linmas, guru ngaji, imam masjid, guru TK, Honor daerah serta perangkat desa akan mendapatkan perlindungan dari program Jamsostek.

"Pekerja sosial yang berada di lingkungan pemkab Purwakarta akan mendapatkan perlindungan dari Jamsostek, ketika mereka mendapat musibah seperti sakit, kecelakaan atau bahkan meninggal dunia mereka akan mendapatkan bantuan dari Jamsostek, bantuan yang akan mereka terima itu sebesar 60 persen x 80 penghasilan di tambah 2 juta santunan kematian," ujarnya.

Menurutnya, karena Pemkab Purwakarta memberikan respon yang baik terhadap program ini maka pada tahun 2009 pekerja sosial ini sudah mulai di daftarkan dan pada tahun 2010 sudah mulai efektif."Program ini mendapatkan respon yang sangat baik dari Pemkab Purwakarta, Bupati H dedi Mulyadi menyambut baik program ini, di pastikan mulai tahun 2010 pekerja non PNS akan mendapatkan perlindungan dari Jamsostek," paparnya. Dadang berharap, masyarakat yang mempunyai pekerjaan yang jelas sebagai pekerja sosial akan membantu dan meringankan beban sehingga perlindungan program Jamsostek yang di respon pemkab Purwakarta ini dapat membantu kesejahteraan masyarakat.

"Kami mengambil data pekerja sosial ini dari pemkab Purwakarta, kurang lebih 15 ribu orang akan menjadi peserta Jamsostek, program ini sesuai dengan permendagri no 24 tahun 2006, dengan program ini pekerja sosial akan mendapatkan bantuan yang disesuaikan dengan paket yang diminta oleh pemkab Purwakarta, sesuai dengan kemampuan anggaran pemda paket yang diambil adalah program jaminan kesehatan, kecelakaan dan kematian, walaupuan tidak semua paket di ambil tetapi dengan bantuan ini masyarakat pekerja sosial akan terbantu menyambung hidup dan mengurangi beban yang di alaminya ," ujarnya. (sep)

Pertama Puasa Purwakarta Sepi

PURWAKARTA, RAKA - Kota Purwakarta, hari pertama Ramadhan (22/8) tampak lengang. Sebagian rumah makan tutup, karena untuk menghormati warga menjalankan ibadah puasa dan jalan-jalan protokol pun sepi.

"Pada puasa hari pertama ini cukup terasa, kendaraan yang biasanya padat agak berkurang, "kata salah seorang warga, Rama (27) di Sindangkasih, akhir pekan kemarin. Menurut dia, selain itu sejumlah rumah makan juga memilih tutup pada puasa pertama hari ini, karena untuk menghormati umat Muslim menjalankan ibadah di bulan Ramadhan.

"Kalaupun ada rumah makan yang buka, terlihat dibagian depannya ditutupi dengan tirai atau kain untuk menghormati orang yang sedang melaksanakan ibadah puasa,"katanya. Pantauan, memang sebagian rumah makan di kota "santri" itu terlihat tutup pada hari pertama puasa.

Sejak pagi hingga siang hari, jalanan juga tampak sepi kendaraan dan pada sore hari ini baru mulai terlihat ramai.Selain itu, kawasan Jalan Sudirman yang terdapat sejumlah perguruan tinggi dan sekolah juga tampak sepi, karena memang para mahasiswa dan pelajar diliburkan dalam menghadapi awal puasa.

Universitas Wastu Kencana (STT) dan SMKN 1 serta SMPN 3 Purwakarta yang berada di kawasan Sudirman, berdasarkan informasi dari pihak Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga menghadapi puasa libur mulai 21-24 Agustus 2009. Para mahasiswa dan anak-anak pelajar itu masuk kuliah kembali pada 25 Agustus 2009.

Sehubungan dengan libur menghadapi puasa tersebut, para mahasiswa yang kos lebih memilih pulang kampung untuk berpuasa bersama keluarga mereka. Dengan begitu, sebagian kawasan Purwakarta yang biasanya ramai, lebih tampak sepi pada hari pertama puasa.(rif)

Jangan Tenderkan Fasilitas Olah Raga di Purwakarta

PURWAKARTA, RAKA - Kebijakan pemerintah Purwakarta melakukan lelang tender terhadap proyek pengadaan fasilitas olahraga yang lebih dari 50 juta mulai memunculkan keluhkan para pengurus cabang olah raga. Mereka meminta seharusnya terkait hal itu tidak perlu ada tender.

"Kita bukan meragukan rekanan yang nantinya bakal mendapatkan tender. Tapi, pengadaan fasilitas itu seyogyanya untuk olahraga sebagai prestasi, "kata Ketua Harian pengurus Cabang PODSI Kab Purwakarta Ajat Sudrajat Kepada RAKA, kemarin.

Dikatakannya, dari aturan seperti itu kini sebagian pengurus cabang olahraga mulai merasa gundah. Alasan lainnya, karena bisa saja barang yang di proyekkan itu tidak sesuai dengan spesifikasi barang yang dibutuhkan. Apalagi, tidak dilibatkannya pengurus dalam pengadaan proyek tersebut. "Artinya jika nantinya barang yang kita butuhkan tidak sesuai dengan kebutuhan, jelas ini jadi masalah. Hanya saja, kita meminta pemerintah bisa melakukan peninjauan terhadap hal tersebut,"kata Ajat.

Menurutnya, lelang tender proyek terhadap pengadaan fasilitas olahraga baru dilakukan pada tahun ini. Sebab sebelumnya, pengadaan itu diserahkan sepenuhnya kepada pengurus cabor tertentu yang membutuhkan. Meski sambung Ajat, hal ini pun terkait adanya aturan Permendagri yang mengharuskan hal itu. "Tapi saya melihat jangan sampai prestasi olahraga disamakan seperti membangun sebuah infrastrukur. Sebab bagaimana pun pengadaan proyek, ujung-ujungnya tetap mencari suatu keuntungan,"tandasnya.

Untuk itu, kata Ajat ia berharap pemerintah bisa melakukan peninjauan ulang terhadap adanya regulasi tersebut, terutama terhadap lelang proyek khususnya pengadaan fasilitas olahraga. Selain di ajang PORDA nanti, para atlit pun diharapkan bisa menunjukan prestasinya secara maksimal yang ditunjang dengan adanya prasana yang sesuai spesifikasi. "Ya, kita harap pemerintah mau duduk bersama-sama. Selama ini, kita sendiri tidak dilibatkan dalam pengadaan hal itu,"katanya.

Sebelumnya, Wakil Bupati Purwakarta Dudung B Supardi menyatakan optimitis jika Kabupaten Purwakarta bisa mempertahankan peringkat tujuh besar dalam PORDA mendatang. Dudung, yang juga merupakan ketua harian KONI Purwakarta, menambahkan penyeleksian para atlit cabor sudah dilakukan sejak Januari 2009 lalu. penyeleksian itu, sekaligus untuk memilih atlit-atlit berprestasi sesuai cabang olah raga-nya. Namun untuk pemusatan latihan baru akan dilakukan pada Januari 2010 mendatang setelah atlit lolos dari berbagai seleksi. (ton)

Angkutan Elf Terbalik di jalan raya Bandung-Purwakarta 7 Penumpang Terluka

PURWAKARTA, RAKA - Angkutan umum minibus Elf terbalik di jalan raya Bandung-Purwakarta tepatnya di jalan umum Gunung Hejo, Kecamatan Darangdan, Purwakarta, Minggu (23/8). Beruntung kejadian yang sempat memacetkan jalan itu tidak sampai menyebabkan korban jiwa. Namun tujuh penumpangnya dikabarkan mengalami luka-luka.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Radar Karawang kejadian terbaliknya minibus naas itu berawal saat angkutan umum ini melaju dari arah Jakarta menuju Purwakarta. Angkutan ini pun saat itu mengangkut penumpang lebih dari 10 orang. Namun saat melintas dijalan raya Purwakarta - Bandung persisnya Persis di jalan umum Gunung Hejo di sekitar perkebunan karet, tiba-tiba ban mobil Elf di bagian depan kiri pecah.

Tak pelak, sang supir yang saat itu diduga membawa kendaraannya dengan kecepatan tinggi tak bisa mengengendalikannya. Akibatnya laju kendaraan pun menjadi oleng hingga akhirnya mobil menyeruduk bahu jalan sebelah kiri. Beruntung peristiwa itu tidak sampai menyebabkan korban jiwa. Namun tujuh penumpang yang mengalami luka ringan langsung dibawa ke RSUD Bayu Asih Purwakarta.

Diantara ketujuh penumpang itu yakni Mohamad Abdul Halim Tantowi (20) Selvi (21) Sofi, (20) Kurniawan (19), Yuni, (20), Yana (20) dan Sugeng Waluyo, (20). Rata-rata alamat penumpang tercatat tinggal di Jalan Kapten Halim, Simpang Purwakarta.

Salah seorang petugas Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah Bayu Asih Purwakarta mengatakan setelah kejadian itu terjadi, para korban langsung dibawa ke Rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Hanya saja, umumnya mereka hanya mengalami luka ringan sehingga dari ketujuh orang penumpang yang sempat mendapatkan perawatan itu kemudian dipersilahkan untuk pulang. Sementara itu, diantara para keluarga korban pun sudah ada beberapa yang menjemput. "Setelah mendapat pertolongan korban sudah pulang lagi. Tak ada korban yang luka parah,"ujar seorang petugas. (ton)

Kolak Khas Purwakarta

BERBAGAI jenis kolak khas berbuka puasa selain disediakan kalangan ibu rumah tangga, juga banyak dijual para pedagang pada setiap pusat keramaian di Purwakarta. "Kolak biasa dijajakan di sepanjang ruas jalan protokol hingga pada setiap lokasi pemukiman penduduk, sedangkan harga serta jenis dan aromanya juga beragam, "kata pedagang kolak, Entin (24) di Pasar Jumat, Purwakarta.

Entin, menyiapkan kolak dengan aroma nangka, meski bahan baku utamanya pisang dengan harga jual Rp5.000 untuk setiap porsi. Jenis minuman berupa teh tanpa gula bisa dibawa pulang kerumah dengan kemasan plastik."Tersedia juga kolak sampeu (ubi jalar) serta kolak berbahan baku umbi-umbian lainnya," kata Dede (34) penjual kolak lainnya.

Sementara, menjelang berbuka puasa di Purwakarta selain disemarakan beragam jenis kolak, juga mudah diperoleh minuman khas berupa es kelapa, disertai berbagai jenis minuman lain yang diracik dengan berbagai cara. Jajanan kuliner pembuka puasa lainnya, berupa timun suri, blewah selain tentunya kini semakin marak dijajakan buah kurma.

Ditengah semarak menjelang berbuka puasa, suasana seketika menjadi sunyi senyap bersamaan dengan berkumandangnya azan maghrib, kemudian di setiap perkampungan dan pemukiman penduduk kembali diramaikan anak-anak menjelang saat pelaksanaan shalat tarawih.

Namun ditengah semarak suasana puasa Ramadhan yang penuh berkah itu, masih kerap terdengar keluhan kalangan ibu rumah tangga atas terjadinya peningkatan harga kebutuhan pokok masyarakat (kepokmas). (rif)

Tingkatkan Kualitas Pendidikan di Kecamatan Babakan Cikao

PURWAKARTA, RAKA - Guna meningkatan kualitas pendidikan di Kecamatan Babakan Cikao, UPTD Pembinaan TK/SD Kecamatan Babakan Cikao melangsungkan upaya pembinaan secara periodik melalui rapat dinas yang dilakukan satu bulan se kali.

Dalam rapat dinas itu, selain memberikan informasi kedinasan dari Disdikpora, UPTD juga melakukan pembinaan lain yang meliputi pembinaan KBM, Sarana Prasarana, Faktor personal dan keuangan. Demikian diutarakan Kepala Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Pembinaan TK/SD Kecamatan Babakan Cikao, Oban Sobandi, baru baru ini.

Menurutnya, melalui empat faktor tersebut pihaknya terus melakukan pembinaan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di wilayah tugasnya. Ia juga menyampaikan upaya pembinaan lain dilakukan pada para personal guru, kata Oban, ada lima kompetensi dasar yang harus dimiliki guru, antara lain menguasai kurikulum, menguasai materi, menguasai metode, menguasai evaluasi, dan Komitmen terhadap tugas. "Untuk pembinaan personal guru dilakukan melalui wadah Pusat Kegiatan Guru (PKG) yang didalamnya ada Kelompok Kerja Guru (KKG),"imbuh Oban Sobandi. (rif)

Disperindag Jamin Stok Sembako 2 Bulan ke Depan

PURWAKARTA, RAKA - Dinas Perindustrian, Perdagangan dan UKM Kabupaten Purwakarta menjamin ketersedian stok 12 jenis kebutuhan pokok hingga dua bulan kedepan pada bulan suci Ramadhan ini akan aman.

Pihaknya juga mengaku akan terus melakukan pemantauan terutama tehadap stok-stok barang tersebut Kepala Disperindag Kabupaten Purwakarta, Wahyu Subrata mengatakan dari 12 kebutuhan pokok tersebut di antaranya beras, minyak goreng, gula pasir, daging, terigu dan telur.

Menurutnya, ke-12 komoditi tersebut menjelang hari besar keagamaan dipastikan mengalami peningkatan permintaan, antara 10 sampai 20 persen. "Memasuki ramadhan seperti ini ke 12 bahan pokok memang terbilang paling meningkat dibanding komoditi lain. Tapi kami jamin stok kebutuhan itu akan selalu ada, "kata Wahyu.

Dikatakannya, dalam memenuhi kebutuhan tersebut pihaknya juga jauh hari sebelumnya telah melakukan koordinasi dengan sejumlah instansi. Dimana dari data kesiapan 12 kebutuhan pokok yang diperolehnya itu menyatakan stok barang-barang tersebut akan aman.

Untuk itu pihaknya, kata Wahyu, mampu menyediakan ke-12 kebutuhan pokok tersebut untuk dua bulan ke depan, baik untuk kalangan masyarakat maupun industri. "Dari data yang kami peroleh, dari studi primer, data para pelaku usaha, Dolog, dan Dinas Pertanian juga menyatakan kesanggupan, minimal untuk dua bulan kedepan,"tandasnya. (ton)

Toko Pakaian di Purwakarta Jadi Mulai Diserbu

PURWAKARTA, RAKA - Meski bulan puasa baru beberapa hari dilaksanakan, tetapi geliat masyarakat mulai memburu pakaian jadi untuk hari raya lebaran nanti sudah mulai terasa. Sejumlah toko pakaian maupun pusat perbelanjaan besar di Purwakarta saat ini pun mulai diserbu para pembelinya.

Seperti pengamatan RAKA, di sejumlah toko di daerah Pasar Jumat, Purwakarta. Mulai pukul 10.00 WIB salah satu toko dikawasan itu mulai disesaki konsumen. Tak hanya itu, toko busana jadi lainnya pun sudah mulai dipadati pembeli. Alasan para pembeli, karena karena dinilai harga pakaian masih belum naik dibanding berbelanja ketika mendekati hari lebaran.

"Mumpung belum lebaran makanya saya mencari pakaian. Apalagi, biasanya jelang akan lebaran, harga pakaian sudah mulai tinggi, "kata Samsul (36) kepada RAKA saat kebetulan sedang mencari pakaian disalah satu toko dikawasan itu.

Kebanyakan yang berbelanja adalah kaum ibu-ibu dan remaja putri, sementara kaum laki-laki terlihat hanya menemani istri atau anaknya. Rina, misalnya, siswi SMU di Purwakarta mengatakan sudah biasa mempercepat belanja pakaian untuk hari lebaran.

Rina beralasan, dipercepatnya membeli pakaian untuk hari kemenangan atau lebaran dikarenakan ia pun bosan di rumah akibat sekolahnya libur selama bulan puasa."Dari pada suntuk di rumah, mending jalan-jalan sekalian "nagbuburit". Ya sekalian, kalau ada yang cocok, ya di ambil, kalau nggak juga nggak apa-apa,"tukasnya sambil memilah-milah pakaian remaja.

Sementara itu, pemandangan warga mulai serbu pakaian jadi juga terjadi disalah satu pusat perbelanjaan di Purwakarta. Mereka terlihat tampak asik memilih, apalagi banyaknya pakaian yang dipajang serta suasana AC yang dipasang dipusat perbelajaan itu, makin membuat konsumennya betah.

Seperti saat RAKA, menemui salah seorang pembeli yang mengaku bernama Sri (21) menuturkan alasan lain mencari pakaian sebelum lebaran. Karena selain harganya belum tinggi, ia memang telah mengincar salah satu pakaian dipusat perbelanjaan itu. "ya sebenarnya memang lagi cari pakaian yang sebelumnya sudah ingin dibeli,"katanya.

Malahan menurut dia, walaupun kebiasaan membeli pakaian baru sudah menjadi tradisi, tapi bagi dia hal itu bukan menjadi prioritas. Sebab kapan pun, ia bisa membeli pakaian yang disukai. "Sebenarnya skalian ngabuburit juga,"tambahnya. (ton)

Purwakarta Perketat Keamanan

PURWAKARTA, RAKA - Sepanjang Ramadhan tahun ini pengamanan di wilayah Kabupaten Purwakarta akan di intensifkan guna memberikan kenyamanan dan kekhusyukan warga Purwakarta menjalankan ibadah Puasa.

Kapolres Purwakarta, AKBP Hendro Pandowo, mengatakan, sebanyak dua pertiga kekuatan Kepolisian Resor Purwakarta akan dikerahkan untuk pengamanan sepanjang Ramadhan. Para personil polisi tersebut akan ditempatkan di pusat keramaian dan perbelanjaan.

Menurutnya, untuk meminimalisir penyakit masyarakat (pekat), sehingga kekhusyukan dalam menjalankan ibadah selama bulan Ramadhan dapat terjaga, pihaknya pun akan mengintensifkan razia. Kata Hendro, dua pertiga kekuatan polres yang dikerahkan tersebut berjumlah sekira 500 personil.

"Mereka akan ditempatkan di pusat perbelanjaan, pusat keramaian dan konsentrasi massa lainnya, serta menggelar razia terhadap minuman keras, judi dan kegiatan maksiat,"ucap Kapolres.

Sementara, Kasatpol PP Pemkab Purwakarta, Budi Bunyamin, mengatakan, pihak Pemkab juga akan melakukan pegawasan dan pengamanan selama Ramadhan. Itu, dilakukan untuk meminimalisir pekat agar Ramadhan berlangsung khusyu dan aman. "Ya, kita juga akan efektifkan pengawasan keamanan sepanjang Ramadhan," ucap Budi, kepada RAKA, dalam suatu kesempatan.

Kata Budi, pengawasan itu akan dilakukan sesuai dengan isi surat edaran bupati. Sasarannya, antara lain tempat rumah makan dan tempat hiburan malam, selain pejual kepingan VCD.
"Sesuai surat edaran itu, untuk menghormati umat muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa tempat hiburan malam serta PSK jadi sasarannya selain akan menertibkan pemilik warung makan yang buka siang hari selama bulan puasa,"ucapnya.(rif)

Citra Denitya Chaerindra Jaga Penampilan

WANITA akan terlihat cantik jika bisa menjaga penampilannya untuk selalu terlihat rapi. Akan tetapi, seorang wanita akan memiliki aura yang baik apabila memiliki budi pekerti yang baik pula, sopan dan ramah. "Sebagai Perempuan tentunya harus pandai merawat kecantikannya. Salah satunya adalah berprilaku pola hidup disiplin, sehingga kesehatan badannya bisa terjaga, begitupun dengan penampilan, akan terlihat baik jika pakaian yang di gunakan itu rapi dan cocok dengan postur badan kita," tutur cewek pemilik wajah bunder ini.

Citra Denitya Chaerindra, ngaran cewek berambut sepunggung dengan warna kulit putih bersih ini. Cewek yang akrab disapa Citra oleh teman-temannya ini mengaku setiap perempuan pasti mendambakan kecantikan. "Itu pasti, seorang perempuan akan selalu ingin tampak cantik. Dan kecantikan itu akan terpancar jika pandai merawat badab dan menjaga kesehatan serta menggunakan pakaian yang cocok dengan tubuh," imbuh penggemar baju csual yang tercatat sebagai warga Griya Asri Purwakarta ini.

"Sebagai manusia pada umumnya aku ingin aku harus bertahan hidup dengan baik, keyakinanku jika seseorang memiliki penampilan dan budi pekerti yang baik, maka, insyallah akan mendapatkn seorang pendamping yang baik dan memiliki keluarga yang sakinah mawaddah," ujarnya optimis. Staf Organda Purwakarta yang memiliki paras rupawan ini berharap semua hal yang omonginnya menjadi doa dan petunjuk untuk dia melangkah.

"Apa yang saya sampaikan, sedikitnya akan menjadi kekuatan untuk aku agar bisa menjalankan semua hal yang aku inginkan. Omonganku adalah doa dan kekuatan agar aku selalu bersikap baik. Bukan hanya baik dalam menjaga penampilan saja, akan tetapi aku harus bisa menjaga prilaku sehingga aku akan mendapatkan pria yang baik di kemudian hari," papar cewek yang mendambahkan bisa memiliki keluarga yang sakinah. (sep)

Tidak Kourum, KPU Batal Pleno, Untuk Penetapan Kursi DPR RI

JAKARTA,RAKA-Komisi Pemilihan Umum (KPU) terpaksa menunda rapat pleno penetapan hasil kursi DPR. Penyebabnya, jumlah komisioner KPU yang hadir tidak mencapai kuorum. Dari batas minimal lima komisioner yang hadir, hanya ada empat orang di pleno."Tidak kuorum, kami hanya berempat," kata Abdul Hafiz Anshary, ketua KPU, kepada wartawan di sela-sela pleno penetapan hasil kursi DPR, Jakarta, kemarin (21/8). Sebenarnya, ada enam anggota KPU yang hadir dalam pleno. Seorang anggota, yakni Endang Sulastri, berhalangan hadir karena sakit.

" Namun, pada sorenya, dua anggota KPU lain, I Gusti Putu Artha dan Sri Nuryanti, meninggalkan pleno. Menurut Hafiz, Putu minta izin karena harus menghadiri pernikahan saudaranya di Buleleng, Bali. Sementara itu, Sri Nuryanti pergi karena harus menghadiri pertemuan pada pukul 17.00. Tidak dijelaskan pertemuan apa sampai harus meninggalkan pleno yang ditunggu-tunggu caleg itu. "Pak Putu memang izin, setahu dia pleno sampai jam tiga sore. Ini memang molor," ujar Hafiz.

" Dia mengatakan, pada prinsipnya, sudah ada kesepakatan dalam pleno bahwa penghitungan kursi tahap III sesuai dengan putusan MK. Yakni, seluruh sisa suara parpol di seluruh daerah pemilihan (dapil) diperhitungkan di tahap III atau provinsi. Itu mengubah cara KPU bahwa hanya sisa suara parpol pada dapil yang ada sisa kursinya yang diperhitungkan. "Alokasi kursinya merujuk pada Peraturan KPU Nomor 15 Tahun 2009," jawabnya.

KPU berencana menetapkan hasil pleno penetapan kursi itu pada Senin (24/8). "Kemungkinan Senin. Pada hari itu para anggota sudah komplet," janjinya." Berbeda dengan Hafiz, anggota KPU Andi Nurpati membantah bahwa pleno disebut tak kuorum. Menurut Andi, pada awal pleno sudah ada enam komisioner yang hadir. Meski pada pertengahan ada anggota KPU yang meninggalkan pleno, hal itu tidak berpengaruh. "Sejak awal, yang datang adalah enam komisioner plus satu izin," kata Andi.

" Dia menyatakan, hasil pleno telah menyelesaikan penghitungan. Namun, KPU baru menetapkannya pada Senin mendatang. KPU perlu memvalidasi hasil penghitungan kepada MK. Sebab, masih ada pemilu ulang yang perlu ditetapkan dalam putusan tetap oleh MK. "Ada hasil penghitungan dari sengketa yang harus ditetapkan MK. Sebab, dulu adalah putusan sela," tuturnya.

" Pleno KPU terkait kursi tahap III mengalami pembahasan panjang. Kabar yang beredar, sejatinya pleno KPU telah menyepakati bahwa cara mengalokasikan kursi tahap III berdasar Peraturan KPU Nomor 15/2009. Namun, salah seorang anggota KPU memiliki tafsir berbeda.

" Menurut Andi, KPU telah bersepakat bahwa alokasi kursi setelah penghitungan tahap III berdasar pasal 25 peraturan KPU. Yakni, pada dapil yang tersisa kursi, alokasi dilakukan dengan mempertimbangkan sisa suara terbanyak partai di dapil tersebut serta sisa suara partai yang sama di antardapil. Sisa suara terbanyak adalah yang mendapatkan kursi.

engatur cara menghitung kursi tahap III di tingkat provinsi. yakni, sisa suara seluruh dapil diperhitungkan di tingkat provinsi. "Jadi, hal yang tidak diatur putusan MK ditetapkan dengan peraturan KPU yang sudah ada. Terlebih, MK juga menyatakan peraturan KPU sudah benar," jelasnya." Perbedaan pendapat yang dimaksud adalah usul anggota KPU I Gusti Putu Artha.

Putu menilai, putusan MK mengatur bahwa alokasi kursi tidak perlu diberikan pada sisa suara partai. Kursi yang didapat dalam penghitungan tahap III harus dialokasikan kepada caleg partai yang suaranya terbanyak. Namun, usul itu akhirnya tidak diterima dalam pleno.

" Berdasar hitung-hitungan Centre for Electoral Reform (Cetro), terdapat 14 caleg yang mengalami perubahan. Jumlah itu berdasar cara penghitungan MK yang disinkronkan dengan Peraturan KPU 15/2009. Penghitungan Cetro juga sudah termasuk hasil pemilu ulang di Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara.

" Di tempat terpisah, Ketua MA Harifin A. Tumpa mengatakan, tidak tertutup kemungkinan penetapan KPU soal kursi diajukan ke Pengadilan Tata Usaha Negara. "Nanti dilihat lah, itu kan hak orang untuk menggugat. Keputusan KPU yang bisa dibawa ke PTUN kan bersifat individual, final, dan konkret," katanya. (jpnn)

H-4 Sampai H+4 Lebaran, Truk Tronton dan Gandeng Dilarang

JAKARTA,RAKA-Mullai H-4 hingga H+1 hari raya :Lebaran, kendaraan berat dilarang beroperasi di jalan raya terutama jalur utama yang biasa dilalui para pemudik.

Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengah Kris Nugroho menyatakan, larangan pengoperasian angkutan barang itu tepatnya dimulai pada 17 September (H-4) pukul 00.00 WIB hingga 21 September (H1) pukul 24.00 WIB. "Agar arus mudik bisa lancar, tidak ada truk barang yang menghambat," kata Kris Nugroho, Minggu (23/8).

Kris menyatakan, kendaraan pengangkut yang dilarang tersebut adalah pengangkut bahan bangunan, kendaraan bersumbu lebih dari dua, truk tempelan, truk gandengan dan kontainer. Kendaraan jenis ini dilarang karena laju perjalannya sangat pelan. "Ini yang berpotensi memicu terjadinya kemacetan," kata Kris.

Meski begitu, Dinas Perhubungan masih mengizinkan beroperasi untuk kendaraan angkutan BBM/BBG, ternak, kendaraan yang mengangkut bahan pokok, dan barang antaran pos.
Sedangkan untuk angkutan barang-barang ekspor maupun impor dengan kontainer yang menuju ke pelabuhan Tanjung Emas Semarang serta sebaliknya juga tidak diperbolehkan beroperasi. "Khusus angkutan ekspor dan impor jika ingin beroperasi harus mendapat persetujuan atau izin dari Dinas Perhubungan," kata Kris.

Dinas Perhubungan Jawa Tengah juga akan menutup jembatan timbang mulai 14 Sept (H-7) pukul 00.00 hingga 29 Sept (H+7) pukul 24.00 WIB. Kris menyatakan, jembatan timbang akan difungsikan sebagai posko angkutan lebaran 2009 dan rest area yang bisa dijadikan tempat istirahat bagi para pemudik.

Kris menyatakan, jembatan timbang di wilayah Jawa Tengah yang akan dialihfungsikan menjadi rest area sebanyak 17 lokasi, yakni Jembatan Timbang Tanjung Brebes, Ajibarang Banyumas, Wanareja Cilacap, Subah Batang, Butuh Purworejo, Tugu Semarang, Klepu Kab. Semarang, Pringsurat Temanggung, Salam Magelang, Katonsari Damak, Lebuawu Jepara, Gubug Purwodadi, Banyudono Boyolali, Sarang Rembang, Sambong Blora, Toyoga Sragen, dan Selogiri Wonogiri. (jpnn)

Taman Burung Sukamandi Diburu Pengunjung

SUBANG, RAKA – Sejak hari pertama bulan suci Ramadhan, lokasi Taman Burung Perumahan Balai Besar Tanaman Padi (BB Padi) Sukamandi, menjadi lokasi yang diburu untuk ngabuburit.
Di lokasi tersebut, ratusan bahkan ribuan pengunjung mendatangi Taman Burung yang ada di BB Padi Sukamandi yang di dalamnya terdapat perumanah karyawan BB Padi Sukamandi, terdapat kantor koperasi, sekolah Taman Kanak-kanak, empang bundar menyerupai Situ Buleud Purwakarta terbentang di antara perumahan BB Padi.

Di tengah-tengah empang terdapat sebuah daratan yang menyerupai danau Toba Sumatera Utara, daratan di tengah empang yang di atasnya terdapat beberapa pohon yang menjadi sarang burung blekok dan burung belibis serta ada sejumlah hewan reptil jenis biyawak yang selalu memangsa burung Blekok maupun burung belibis.

Tempat itulah yang menjadi sorotan utama pengunjung yang datang dari berbagai daerah, karena selain tempatnya cukup nyaman, teduh karena di sekitar empang tumbuh pepohonan yang dapat merindangi dan menjadi tempat yang sejuk untuk berteduh.

Taman Burung, itulah sebutan lokasi yang ada di BB Padi yang setiap harinya ada saja yang berkunjung, bahkan menjadi tempat rekreasi baru bagi siswa TK dan SD, dan menjadi tempat ngobrol bagi muda-mudi yang sedang kasmaran.

Secara khusus, pada bulan Ramadhan ini kondisi taman burung menjadi sangat ramai dikunjungi orang, bahkan bisa dikatakan pengunjung naik drastis, karena di hari-hari biasanya hanya ada puluhan sampai dengan ratusan pengunjung. Namun di bulan Ramadhan ini menjadi ribuan pengunjung.

Menurut Sri Mulyani (17) yang mengaku masih duduk di sekolah SMA di wilayah Kecamatan Ciasem, dirinya hampir setiap hari mendatangi lokasi Taman Burung dan menurutnya taman burung menjadi tempat yang aduhai untuk bermain. “Jujur saja saya hampir setiap hari mendatangi tempat ini, alangkah terkejutnya hari ini pada saat saya baru nongkrong setengah jam, ari burudul teh banyak orang yang datang, enggak biasanya pengunjung sebanyak ini,” ucap Sri.

Sri pun mengaku saat di rumah bete, kesel dan sedang pusing karena ulah temen di sekolah kebawa ke rumah, dirinya langsung menuju kelokasi taman burung dan menyepi. Kadangkala, kedatangannya ke lokasi itu ada janji sama temen-temen maupun teman dekat. “Bener lho, lokasi ini bikin pikiran adem, damai dan sejuk pada saat di tempat ini, apalagi ada janji sama temen dekat,” akunya.

Sementara itu demi keamanan lingkungan di lokasi tersebut dipasang petugas satpam guna mengantisipasi hal-hal yang tidak dinginkan, seperti yang dikatakan Prapto, seorang satpam yang bertugas di lokasi Taman Burung. Ia mengaku, dirinya ditugaskan oleh pimpinannya guna mengamankan lokasi taman burung. “Hari ini saya bertugas untuk pengamanan lokasi ini, saat pengamanan di sini seneng juga bisa cuci mata,” sebutnya. (pir)

NumberOfComments

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 
 
 
 
Copyright © Subang Raya
Design by Eko Subang