Sabtu, 01 Agustus 2009

Perbaikan Bendungan Walahar


Pintu bendungan walahar yang jebol beberapa waktu yang lalu, mulai diperbaiki. Rencananya perbaikan tersebut selesai akhir tahun

3 Parpol Siapkan Kursi Baru DPRD Karawang,Jika Putusan MA Dilaksanakan

KARAWANG, RAKA – Untuk mengantisipasi pelaksanaan amanat putusan Mahkamah Agung No.16 P/HUM/2009 yang membatalkan Peraturan KPU No.15/2009 terkait penghitungan kursi DPRD Kabupaten/Kota, tiga parpol besar pemenang Pemilu 2009 sudah mulai ancang-ancang menghitung kursi tambahan.

Misalnya Partai Demokrat. Pemenang kedua suara terbanyak di wilayah Kabupaten Karawang ini telah memastikan bakal ketiban rejeki 3 kursi. Di antaranya, menurut Ketua Bapilu Demokrat, Apid Hapid Maksum, diperoleh dari daerah pemilihan I, IV, dan VI. Masing-masing atas nama caleg Khaerudin, Nana Kustana, serta satu lagi masih sedang dihitung.

“Karena sisa di dapil VI hanya 115 suara. Kalau di dapil I maupun IV cukup besar. Yakni, 6 ribuan suara dan seribu suara lebih. Tapi kita masih harus menunggu kepastian dari keputusan KPU selanjutnya. Ini hanya persiapan saja jika putusan MA tersebut benar-benar harus dilaksanakan. Intinya, Partai Demokrat siap menerima apapun keputusan yang mesti dilakukan,” tutur Apid.

Begitu pun kubu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Pemenang suara terbanyak pertama untuk mengisi kursi DPRD Karawang telah meyakini bakal mendapat tambahan 3 kursi, sama dengan yang kemungkinannya bisa diperoleh Partai Demokrat. Hanya parpol 'merah' ini masih malu-malu membuka nama-nama yang diperkirakan ketiban rejeki atas putusan MA tersebut.

“Doakan saja, insya Allah kursi yang didapat PDI-P di DPRD Karawang menjadi 12 dari 9 yang telah ditetapkan KPU sebelumnya. Ini terkait putusan MA yang membatalkan Peraturan KPU No.15/2009. Soal nama-namanya, tunggu saja lah. Kita hitung-hitung dulu. Nanti kalau dipublikasikan sekarang, terus tiba-tiba dibatalkan jadi nambah persoalan lagi,” kelit Sekretaris DPC PDI-P, Deden Darmansah.

Sedangkan bagi Partai Golkar, dijelaskan salah seorang pengurusnya, Timi Nurjaman, hanya baru sekedar hitung-hitungan di atas kertas. Kalau soal kepastiannya, tetap menunggu keputusan resmi KPU lebih lanjut. Namun berdasarkan bocoran yang diperoleh dari sekretariat DPD Partai Golkar, disebutkan bahwa kursi tambahan bagi parpol ini di DPRD Karawang dimungkinkan diisi dari daerah pemilihan III dan IV.

“Kelebihan suara Golkar di kedua dapil itu sebanyak 3.591 suara dan 6.893. Caleg pemilik suara terbesar sepertinya Dedi Mulyadi Salaf di dapil IV dengan perolehan 3.022 suara, serta Ade Sulaeman 3.540 di dapil III. Ini kan baru kemungkinan. Kepastiannya, nanti juga diumumkan secara resmi oleh DPD Partai Golkar. Tidak mungkin dalam kondisi sekarang lagi pada terkejut semua pihak akibat munculnya putusan MK tersebut,” ungkap sumber di lingkungan Partai Golkar. (vins)

SK Gubernur Karawang Akhirnya Turun Juga

KARAWANG, RAKA – Akhirnya, Ketua DPRD Endi Warhendi menyatakan, bahwa SK Gubernur Ahmad Heryawan bagi 50 calon anggota DPRD Karawang terpilih hasil Pemilu 2009 telah turun. Kendati sampai pukul 16.30 kemarin, SK tersebut masih dalam perjalanan.

Pernyataan Endi tersebut disampaikan dalam rapat paripurna DPRD yang digelar Jum`at (31/7) sore. “Jangan khawatir, SK gubernur telah keluar. Sekarang masih dalam perjalanan.Orang yang mewakili setwan sudah kembali pulang ke Karawang dari Bandung,” ujar Endi, saat Deden Darmansah dar Fraksi PDI-P mempertanyakan SK tersebut.

Hal senada diyakinkan Sekwan Dadang Rustandar. Kata dia, pihaknya telah menyuruh Kabag Persidangan Setwan, Endang Saprudin, untuk menjemput kembali SK yang kini sedang ditunggu banyak pihak, khususnya ke-50 orang caleg terpilih yang dijadwalkan dilantik, 5 Agustus mendatang. Apalagi ketika muncul putusan kontroversi dari Mahkamah Agung yang membatalkan Keputusan KPU No.15/2009.

Sebelumnya, kemunculan berita mengenai kemungkinan pelantikan calon anggota DPRD tertunda, membuat banyak kalangan turut bersuara. Mereka mengkhawatirkan, bila kondisi demikian terjadi maka kekosongan lembaga legislatif bakal mengalami kekosongan. Artinya, ini bisa menjadi preseden buruk yang tidak boleh terjadi.

“Bicara mengenai kemungkinan lembaga legislatif kosong, waduh, jangan sampai terjadi lah. Masalahnya kita belum pernah mengalami kejadian seperti itu. Sehingga tidak ada referensi hukum yang harus digunakan ketika kursi DPRD dibiarkan kosong dari anggotanya. Tidak mungkin dewan sekarang melanjutkan tugasnya. Karena SK mereka sudah habis sejak 5 Agustus 2009,” ungkap Direktur Eksekutive Madani Institute, Asep Irawah Syafei.

“Lembaga wakil rakyat jangan sampai kosong. Nanti pelaksanaan pemerintahan bisa stagnan (macet -red). Bersyukur lah jika memang benar ada kebar menyebutkan SK gunbernur tersebut sudah diterima setwan. Berarti tinggal menunggu acara pelantikan. Hanya perlu tetap kami ingatkan agar dewan baru jangan lantas tergiur untuk selalu minta fasilitas berlebihan,” tutur Asep.

Di tempat terpisah, salah seorang anggota DPRD periode 2004-2009, Sonny Hersona, berpendapat lain. Sebaiknya, gubernur tidak terlalu terburu-buru mengeluarkan SK bagi anggota dewan baru. Sebab bagaimana pun, menurutnya, putusan MA harus dihargai semua pihak. Jika khawatir soal kekosongan kursi DPRD, gubernur bisa saja mengeluarkan SK baru bagi perpanjangan anggota dewan sekarang. “Ini guna menghindari kekacauan dalam menentukan siapa di antara caleg terpilih hasil Pemilu 2009 yang berhak dilantik sesuai putusan MA,” tegasnya.

Sementara itu, rencana Endi bersama pimpinan fraksi-fraksi, Sabtu (1/8) hari ini mengundang rapat koordinasi dengan KPUD dan Polres Karawang guna membahas persiapan acara rapat paripurna istimewa tentang pengambilan sumpah janji bagi caleg terpilih. Rakor ini dibutuhkan guna mengantisipasi reaksi dari beberapa kalangan yang merasa terganggu atas putusan MA yang kontroversial itu. :Rakor perlu sebagai langkah antisipasi saja,” tandasnya. (vins)

Dua Siswa SMK Cikampek Dibui

KARAWANG,RAKA- Dua anak remaja, Rano bin Ondo (17) dan Moh Sandi bin Mujahidin (16) warga Kampung Pakopen RT 01/03 Desa Tegalsari Kecamatan Purwasari dengan Moh Sandi b Mujahidin (16) warga Kampung Pakopen Desa Tegalsari Kecamatan Purwasari, Karawang, terpaksa dijemput anggota reserse kriminal (reskrim) Polsek Cikampek. Pasalnya, kedua siswa yang masih duduk di bangku kelas XII salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Cikampek itu dipergoki masih menyimpan Hape hasil kejahatannya

Kapolsek Cikampek AKP Zulham Effendi melalui Kanitreskrimnya Aiptu Yudi ketika ditemui wartawan di ruang kerjanya Jumat(31/7) kemarin mengatakan, kedua tersangka dapat ditangkap tidak terlepas dari upaya korbannya yang langsung meneriaki para pelaku dengan teriak maling. Sebab, teriakan korban ternyata mampu memancing respon warga sekitar untuk bertindak. Kebetulan, saat itu, ada seorang anggota satpam PT Timor, Nurdin(36) yang tengah bertugas untuk melakukan pengamanan mendengar teriakan korban."Ketika pelaku tiba di depan pintu gerbang PT Timor tersebut, mereka langsung diamankan dan kemudian diserahkan kepada anggota kita," ujar Yudi.

Dikatakan Yudi, sebelum menjalankan aksinya, pelaku telah hilir-mudik di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) sambil mencari sasarannya. Waktu itu sambung Yudi, pelaku berjumlah tiga orang mengendarai dua sepeda motor. Kebetulan, Kamaludin(17) warga Kampung Kamojing Cikampek nongkrong dan duduk diatas sepeda motor bersama kekasihnya Preti Septia(16) warga Kampung Dawuan Tengah Cikampek. Melihat kedua remaja itu asyik berpacaran, para pelaku pun langsung mendatangi mereka.Tanpa basa basi, senjata golok yang disimpan di balik pinggang Rano langsung ditodongkan ke arah korban."Diam! jangan bergerak, serahkan uang sekarang juga!" perintah Roni.

"Karena kedua korban memang tidak punya uang, mereka diam saja hingga membuat pelaku sedikit jengkel.Selanjutnya, pelaku pun menggeledah isi saku dan dompet korban. Karena memang tetap tak mendapatkan uang, pelaku pun meminta korban agar segera menyerahkan hape Nokia tipe 2100 milik korban. Sesaat setelah menerima hape tersebut ketiga pelaku langsung kabur tancap gas. Namun berkat kesigapan petugas satpam tersebut, Rano dan Sandi tertangkap sedangkan seorang rekannya masih buron," terang Yudi.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, kedua pelaku terpaksa meringkuk dibui Polsek Cikampek. Sedangkan Hape milik korban untuk sementara disita untuk kepentingan penyidikan."Kedua tersangka dijerat dengan pasal 368 KUHPidana(pemerasan/pemalakan) dengan ancaman hukuman diatas 5 tahun penjara," jelas Yudi. (ops)

Jembatan Cibogo Terancam Ambrol

JEMBATAN penghubung antara Desa Mulyasari dengan Desa Mulyasejati Kecamatan ciampel, rusak parah. Terlihat bagian bawah jembatan yang sudah keropos.

kARAWANG, RAKA- Jembatan cibogo yang menghubungkan Desa Mulyasari dengan Desa Mulyasejati Kecamatan Ciampel, terancam ambrol. Pasalnya keadaan pondasi maupun lapisan bawah jembatan sudah keropos. Menurut Enin (32) salah seorang warga, keroposnya jembatan sudah terjadi sejak lama, namun sampai saat ini belum ada tanda-tanda akan diperbaiki.

"Saya tidak tahu kenapa jembatan tersebut belum diperbaiki. Padahal satu-satunya penghubung antara Desa Mulyasari dengan Mulyasejati adalah jembatan itu. Saya takut, apabila tidak segera diperbaiki, jembatan akan rubuh," katanya, Jumat (01/8).

Ia melanjutkan, meskipun saat ini memasuki musim kemarau, segala kemungkinan bisa terjadi. "Kerusakan yang paling parah ada dibagian lapisan bawah jembatan, jadi pada musim kemarau pun bisa saja rubuh. Sebab, setiap hari arus lalu-lintas yang melewati jembatan ini sangat padat, bahkan ada beberapa kendaraan truk bermuatan berat melewati jembatan ini. Melihat hal itu, bukan mustahil ketakutan warga akan terjadi. Saya berharap, pemerintah segera memperbaiki keadaan jembatan," ungkapnya.

Suhardin (22), salah seorang pengendara motor, mengaku meskipun jembatan cibogo tidak teralalu panjang, namun posisinya sangat penting bagi warga kedua desa maupun bagi pengendara motor dan mobil.

"Paling panjang jembatan ini sekitar lima sampai enam meter dengan lebar tiga meter, tapi kita tidak boleh melihat seberap panjang jembatan tersebut. Kalau sudah meresahkan warga atau pengendara, seharusnya pemerintah cepat tanggap. Khawatir apabila dibiarkan terus menerus, ketika jembatan tersebut ambrol ada pengendara yang sedang melewatinya. Bukan saja korban materil, dipastikan korban jiwa pun akan terjadi. Padahal, apabila ada niat dari warga maupun pemerintah untuk memperbaiki jembatan, saya yakin anggarannya tidak terlalu besar, sebab panjang dan lebar jembatan relatif kecil," paparnya.

Sama halnya dengan Suhardin, Erwin (30) salah seorang pengendara motor mengatakan, keadaan jembatan yang sampai saat ini tidak diperhatikan membuat dirinya merasa kecewa dengan pemerintah. "Mereka sangat dekat dengan warga kalau ada maunya, namun ketika kemauannya sudah terpenuhi mereka lupa pada warga. Jembatan yang sudah selayaknya diperhatikan, karena satu-satunya akses jalan bagi warga Desa Mulyasari atau Desa Mulyasejati, sampai hari ini masih seperti ini, bahkan terancam ambrol.

Bagaimana nasib warga apabila jembatan ini ambrol, bukan saja materi, bahkan bisa jadi jiwa pun terancam. Pasalnya perputaran ekonomi salah satunya adalah akses jalan yang memadai, dan seluruh warga disini, menggunakan jembatan ini untuk berhubungan dengan dunia luar," ungkapnya dengan nada kesal. (psn)

Damkar Dengklok Dikeluhkan

RENGASDENGKLOK, RAKA- Unit Mobil Pemadam Kebakaran dianggap pemicu kurang cepatnya penanganan kebakaran yang terjadi di Rengasdengklok, Kamis (30/7) malam. Pasalnya, kapasitas dan peralatan mobil damkar kurang sesuai diwilayah padat penduduk seperti Kota Rengasdengklok. Pasalnya, warga mengharapkan kwalitas pengadaan unit mobil damkar berikut peralatannya di tingkatkan.

Dari awal terjadinya kebakaran, sekitar pukul 22.00 WIB, unit Mobil Damkar baru tiba sekitar satu jam setelahnya, padahal jarak lokasi kebakaran, dengan UPTD Cipta Karya Rengasdengklok hanya berjarak kurang lebih 200 meter. Imbasnya, kobaran api kian membesar dan semakin sulit dijinakan. Api yang melahap sebuah rumah yang didominasi terbuat dari kayu, berhasil dijinakan kurang lebih selama 3 jam. Padahal, saat kejadian kondisi cuaca angin relatif tenang.

Kebakaran itu, dapat seluruhnya dijinakan setelah 2 unit mobil Damkar Kabupaten membantu. Pasalnya, keterlambatan pemadaman akibat kapasitas mobil Damkar yang kurang sesuai.
Sementara itu salah seorang supir Damkar UPTD Rengasdengklok Dana Sudana (49) kepada RAKA, Jumat (31/7) mengatakan, saat terjadinya kebakaran yang telah melahap satu buah rumah yang berada di Dusun Krajan Desa Rengasdengklok Utara, mobil Damkar harus bolak balik isi ulang air sungai, dan itu memakan waktu cukp lama.

"Untung langsung mendapatkan bantuan dari petugas Damkar Kabupaten, selain Linmas serta masyarakat yang datang ke TKP setelah beberapa menit peristiwa terjadi," terangnya.
Selain satu unit mobil pemadam kebakaran berkapasitas 4000 liter air, yang selalu berjaga dilokasi kantor UPTD Cipta Karya Rengasdengklok yang kurang sesuai. Diketahui, petugas kekurangan personel karena hanya beranggotakan 6 orang yang dibagi dalam 3 bagian.
"Namun begitu, kami terhitung sigap memadamkan api, selain, karena bantuan 2 unit Damkar," kilahnya.

padahal, selisih waktu sekitar 15 menit, antara pemadam kebakaran Kabupaten Dengan mobil damkar UPTD Cipta Karya kecamatan Rengasdengkl berjarak cukup jauh.
Menangapi hal itu, tutur Dana, Mobil Pemadam kebakaran Rengasdengklok, terkendala dengan jumlah kapasitas air dalam tangki yang kurang. setelah sebelumnya telah terkuras dari saluran pembuangan.

Selain kapasitas mobil, kata Dana, sejumlah peralatan yang tersedia kurang mendukung. Mengingat faktor lokasi kejadian kebakaran yang sempat membuat warga sekitar panik. Berada tepat ditengah pemukiman padat penduduk.

"Hal itu membuat kami kesulitan mencari lokasi yang terdekat dengan lokasi kebakaran. Bahkan, akhirnya kami harus memanjat beberapa gedung disekitarnya. Supaya posisi selang air mampu menjangkau titik kobaran api.
"Hal itu, karena selama ini kami tidak memiliki selang air yang cukup panjang. Dan itu menyulitkan kami dalam melakukan penanganan yang cepat," jelasnya.

Meski demikian, kata Suarni (44) warga sekitar kejadian, dalam hal penanganan pemadaman api yang dilakukan petugas. Diharafkan, penanganan agar lebih cepat dan tanggap. Sebab, wilayah Rengasdengklok berpotensi terjadi kebakaran hebat, jika lambat dalam hal penanganan. Mengingat pemukiman di Wilayah Rengasdengklok sangat padat. Jadi api bakal cepat merambat ke lokasi yang ada di sekitar tempat kebakaran. "Selain, karena moto lebih cepat lebih baik," harapnya sambil bercanda. (get)

Orang-orang yang Pernah Dipenjara dengan Tuduhan Terlibat Jaringan Noordin, Kamal Jualan Daging Ayam, Imam Buka Percetakan

Tiga warga Pekalongan pernah ditangkap tim Densus 88 pascaledakan bom Bali II 2005 lalu. Mereka dituding ikut menyembunyikan Noordin M. Top dan anak buahnya. Apa yang mereka lakukan setelah keluar dari penjara?


MATAHARI persis di atas kepala. Desa Rowoyoso, Kecamatan Wonokerto, Pekalongan, Jateng, tampak sepi. Tak ada aktivitas menonjol di desa yang masih dalam pengawasan polisi karena salah seorang warganya, Kamal Yudianto, pada 2005 lalu dibekuk Densus 88.

Koran ini kemarin mendatangi rumah Kamal yang sederhana. Bangunan itu hanya berukuran 4 x 8 meter, terbuat dari bata merah dan belum disemen. Mengenakan baju putih lengan panjang, Kamal menemui dengan ramah.

Siang itu dia baru saja selesai salat Duhur. Kamal terang-terangan enggan dikaitkan dengan teroris. "Saya tidak tahu apa-apa tentang jaringan teroris maupun bom. Makanya, saya bingung kok dulu divonis 3,5 tahun oleh pengadilan," kata pria yang sempat menghuni Lapas Cipinang, Jakarta, itu.

Kamal mengaku mengenal Noordin M. Top melalui foto-fotonya saja. Namun, secara fisik dia belum pernah bertemu gembong teroris tersebut."Kalau dengan anak buah Noordin M. Top, yaitu Wawan, saya memang kenal. Dia teman berdagang ayam. Namun, dengan Noordin M. Top, saya tak kenal," katanya lantas tersenyum.

Kamal ditangkap Densus 88/Antiteror Mabes Polri pada 18 November 2005 bersama Imam Bukhori dan Sekjen Front Pembela Islam (FPI) Fathurohman. Saat itu polisi mengejar Noordin M. Top, pascaledakan bom Bali II pada Oktober 2005. Akhir cerita, Kamal dinyatakan bersalah dan divonis 3,5 tahun penjara. "Saya cuma pedagang ayam dan kue singkong keliling. Tak paham soal pengeboman," kata bapak dua anak itu.

Setelah menjalani hukuman 3,5 tahun, Kamal dan istrinya, Purwanti, serta dua anaknya kembali tinggal di RT VI RW III Desa Rowoyoso. Dia kembali menekuni pekerjaan sebagai pedagang ayam potong. Pria yang suka mengenakan jubah itu juga rajin nyantri di Ponpes Al Muslimin di desa setempat.

Lelaki kelahiran Kelurahan Bojongbata, Kabupaten Pemalang, itu mengaku ingin hidup damai bersama istri dan anak-anaknya. "Saya tak mau terusik soal terorisme atau bom," ujarnya.
Hingga kini Kamal mengaku belum paham mengapa diseret ke meja hijau dan dijebloskan ke Lapas Cipinang. Dia mengaku dituduh ikut menyembunyikan Noordin M. Top saat gembong teroris itu berada di Pekalongan. Dia didakwa menyembunyikan informasi tentang Noordin. "Jangan sampai terulang lagi masuk penjara," katanya.

Selain Kamal, Sekjen FPI Pekalongan Fatkhurohman, 43, juga ditangkap Densus 88 pada November 2005. Dia dituding menyembunyikan Wawan, anak buah Noordin M. Top. Pria yang akrab disapa Fath itu pun dinyatakan bersalah dan dijebloskan ke Lapas Cipinang. Dia bebas pada 17 Agustus 2007. Kini Fath kembali beraktivitas di rumahnya, Kelurahan Kramat Sari Gang, Pekalongan Barat.

Fath mengaku mendapat banyak hikmah selama dipenjara. Pria delapan anak satu cucu itu lebih mendalami agama. Soal tuduhan menyembunyikan Noordin, Fath bersikukuh menolak tudingan tersebut. Dia menilai, ada motif lain di balik tuduhan tersebut. "Ada sesuatu di balik tuduhan itu semua. Coba tanya anggota Densus 88 saja. Sebab, dari dulu saya tak tahu terorisme atau bom," kata Fath yang juga ketua RT 03 RW III Kramatsari.

Saat ini Fath mengaku tak ambil pusing dengan maraknya publikasi soal pelaku bom di kawasan Mega Kuningan dan perburuan Noordin. Dia memilih fokus menangani usaha pemotongan ayam dan kambing di Pasar Grogolan dan usaha percetakan. "Alhamdulillah, usaha pemotongan ayam dan kambing di pasar terus berkembang. Tiap hari ratusan ayam dan beberapa kambing kami potong," ucap suami Siti Uripah itu. Selain itu, Fath sering diundang untuk memotong kambing warga yang menggelar hajatan. Yang paling sering untuk aqiqah.

Pascaledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, dia mengaku masih ada pihak-pihak yang mencurigainya. "Masih ada orang-orang berpakaian preman yang mengawasi rumah saya dan kegiatan keluarga saya. Hampir tiap hari. Tapi yang resmi, belum ada polisi berseragam yang ke rumah," aku pria asli Pekalongan itu.

Fath juga tahu ada orang yang mempergunjingkannya terkait teroris. Ada juga pesaing usahanya yang mencoba memfitnah terkait terorisme. "Ada teman pedagang ayam yang menyindir. Ada juga yang penasaran. Ada juga yang menggunjing. Semua itu saya hadapi dengan tawakal dan tetap berperilaku positif. Akhirnya, malah banyak yang simpatik," bebernya.

Keseharian Fath sebenarnya wajar-wajar saja. Dia bergaul dengan para tetangga. Dia juga sering ikut acara di kelurahan, menghadiri hajatan tetangga, dan ikut pengajian seperti layaknya umat Islam lain. Dia juga kerap bergabung dengan para aktivis NU, Muhammadiyah, Rifaiyah, dan yang lain.

Demikian pula sang istri, Siti Uripah, beserta anak-anaknya. "Alhamdulillah, tak ada masalah dengan lingkungan. Malah istri saya aktif di posyandu. Biasa, menimbang balita. Lha wong dulu para tetangga pada bingung dan heran, kok Pak RT ditangkap polisi," katanya lantas tersenyum.

Fath menganggap penangkapannya tersebut hanya salah sasaran. Tapi, semua itu dianggap sebagai risiko berdakwah. Meski pernah dipenjara, saat ini Fath tetap berdakwah dan mengikuti acara pengajian. Namun, Fath juga berharap polisi lebih profesional jika menangkap seseorang. "Jangan asal tangkap," kata pria berkacamata itu.

Satu lagi warga Pekalongan yang pernah ditangkap Densus 88. Dia adalah Imam Bukhori, warga Jalan Tentara Pelajar, Dukuh, Pekalongan Utara. Sama dengan Kamal dan Fath, dia ditangkap Densus 88 pada November 2005. Dia juga dituduh menyembunyikan Wawan, anak buah Noordin M. Top.

"Sampai kini saya tak paham kesalahan saya. Teroris dan bom, saya tak tahu. Mungkin ada rekayasa saat itu," ujar Imam Bukhori yang ditemui seusai salat Duhur di Musala Al Ikhlas, Kelurahan Dukuh, Pekalongan.

Sehari-hari Bukhori membuka usaha percetakan. Usahanya buka pukul 08.30 hingga pukul 21.00. Istrinya, Salwa, mengurusi kios voucher. Imam mengaku, belakangan ini masih sering ada aparat berpakaian preman mengawasi dia dan keluarganya.

Kadang orang-orang itu nyanggong di warung sekitar rumahnya. Ada juga yang bolak balik lewat depan rumah. "Malah ada yang pura-pura memesan cetak kalender. Tapi, setelah itu tak datang lagi. Ada juga yang pura-pura menawarkan komputer," ungkapnya. Maklum, saat ini Bukhori melayani pembuatan kalender, stiker, undangan, kartu nama, dan barang cetakan lain.

Bukhori mengaku, karena pernah berurusan dengan Densus 88, pelanggan percetakannya berkurang. Dia menduga pelanggan khawatir dianggap dekat dengan dirinya. Namun, aku dia, secara umum warga di lingkungan tempat tinggalnya percaya kepada Bukhori.

Bukhori sendiri asli warga Dukuh. Jadi, warga tahu persis perilaku keseharian Bukhori dan keluarganya. "Makanya, saya heran kok masih ada orang-orang yang mengawasi kami. Itu berlebihan," ujar ayah dua anak itu. Namun, sejauh ini belum ada aparat berseragam yang meminta keterangan ke rumahnya.

Imbas penangkapan Bukhori saat itu juga dirasakan dua buah hatinya yang duduk di bangku SD. Keduanya sempat diejek teman-temannya di sekolah. Karena itu, aku Bukhori, anaknya sempat minder. Namun, setelah dijelaskan, keduanya tak masalah.

Salwa, istri Bukhori, juga mengaku tak ada masalah dalam berkomunikasi dengan para tetangga. "Kalau ada yang menggunjing, saya anggap wajar saja. Yang jelas, warga di sini tahu persis keluarga kami. Jadi, para tetangga insya Allah tak ada yang memusuhi," ungkap Salwa.

Dia mengakui menjadi aktivis dakwah di Front Pembela Islam. Hingga kini pun Bukhori masih aktif berdakwah. "Penangkapan dan penjara itu hanya risiko berdakwah. Apalagi, penangkapan itu terkesan sarat kepentingan. Status saya sekarang ini masih bebas bersyarat. Nanti 8 Desember 2009, baru bebas murni," imbuhnya. (jpnn)

Jalan Raya Kosambi Masih Dilanda Kemacetan


TETAP MACET: Walaupun Jalan Raya Kosambi telah diperbaiki dan diperlebar, namun hal tersebut belum bisa mengurangi kemacetan, terutama di depan Pasar Kosambi. Setiap menjelang sore, jalan tersebut selalu mengalami kemacetan dan kedaraan pun menumpuk. Lalulintas di kawasan itu tidak teratur, karena keterediaan petugas pengatur lalulintas tidak memadai. (asy)

Desa Tegalsari Masih Kekeringan

PURWASARI, RAKA - Jika di beberapa daerah di Kecamatan Cikampek sudah mulai mengalami kekeringan di musim kemarau saat ini, namun di daerah Kampung Tegalamba, Desa Tegalsari, Kecamatan Purwasari, ketersediaan air untuk pertanian ataupun kebutuhan hidup sehari-hari masih aman.

Masyarakat tidak mengalami kekurangan pasokan air. Hal tersebut dikatakan oleh warga setempat, Acim (27), Jum'at (31/7) sore, di rumahnya. Menurutnya, ketersediaan air untuk pertanian masih berjalan dengan normal. Dia menilai, jika musim kemarau tiba, air tidak terlalu menjadi permasalahan di daerah itu.

Air selalu tersedia, baik untuk kebutuhan pertanian maupun kebutuhan rumah tangga. Sehingga untuk pertanian pun saat ini masih berjalan dengan lancar. "Untuk masalah air, Alhamdulillah tidak ada kendala untuk masyarakat di sini. Semuanya berjalan dengan baik," tuturnya.

Acim melanjutkan, dalam masalah pertanian, saat ini dia tidak begitu banyak mengalami kendala. Hama yang menyerang pun tidak begitu banyak. Sehingga dia berharap hasil pertaniannya nanti bisa memiliki hasil yang maksimal. Saat ini padinya belum memasuki masa panen, walaupun di beberapa daerah lainnya sudah dipanen. "Hama tidak terlalu banyak menyerang, kalaupun menyerang tidak terlalu ganas, semuanya bisa diselesaikan," tuturnya.

Acim menambahkan, melihat tanaman padinya saat ini, dia memperkirakan hasil panennya akan bagus jika tidak ada hal-hal yang menggagalkannya. Walaupun hama saat ini tidak banyak menyerang, namun dia merasa khawatir di tengah perjalanannya hama menyerang terutama hama tikus. Menurutnya, hama tikus masih menjadi hama yang terganas yang menyerang padi. "Saya berharap tidak ada hama lagi yang menyerang tanaman padi saya hingga memasuki masa panen. Agar padi yang dihasilkan pun bisa maksimal," pungkasnya. (asy)

Digusur, PKL Cikampek Pasrah


PASRAH: Para pedagang kecil yang ada di sepanjang Jl Jend A Yani akan membongkar lapaknya sendiri.

CIKAMPEK, RAKA - Setelah mendapatkan surat edaran dari Satpol PP Kecamatan Cikampek, perihal penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL). Para pedagang kecil yang ada di kota itu mengaku pasrah dengan rencana penertiban tersebut.

Pasalnya, tidak ada kekuatan hukum untuk melawan. Hal tersebut diantaranya dikatakan aslah seorang PKL yang berjualan di Jl Jend A Yani Cikampek, Rosyid (36) saat ditemui RAKA, Jum'at (31/7) siang.

Lapak yang dibangunnya, lanjutnya, didirikan di atas trotoar jalan, sementara dalam aturannya, di atas trotoar tidak boleh dibangun tempat berjualan. Menyadari hal tersebut, ia tidak akan melakukan perlawanan jika suatu saat pemerintah melakukan penertiban. Bahkan sebelum ditertibkan juga, setelah mendapatkan surat edaran dia langsung membongkar lapaknya. "Saya lebih baik membongk lapak saya sekarang, karena kalau nanti oleh petugas, barang dagangan saya akan disita," tuturnya.

Rosyid melanjutkan, dalam surat edaran tersebut, direncanakan penertiban PKL akan dilakukan pada hari ini. Untuk itu, sebelum jatuh tempo dia sudah membenahi lapak tempatnya berjualan. Agar pada waktunya nanti dia tidak berurusan dengan petugas. "Saya sadar bahwa tempat dagang sekarang merupakan tempat umum dan pemerintah tidak memperbolehkannya. Jadi buat apa saya harus ngotot mempertahankannya, karena saya berada dijalur yang kurang tepat," tutupnya.

Sama halnya dengan Rosyid, PKL lainnya, Eman (26) menambahkan, dia tidak akan mempertahankan tempat berjualannya saat ini jika harus ditertibkan oleh pemerintah. Pasalnya, tempatnya berdagang saat ini merupakan fasilitas negara dan milik umum. Rencananya dia akan memindahkan warungnya tersebut ke tempat yang tidak dilarang oleh pemerintah. "Sebetulnya saya sudah meresa capek harus terus pundah pindah tempat dagang. Tapi mesti gimana lagi, saya mau sewa tempat yang permanen tidak punya modal. Ini sudah menjadi resiko usaha di jalanan," keluhnya.

Jika menghitung rugi, lanjutnya, dia merasa kerugian jika tempat usahanya saat ini dibongkar lantaran tempat tersebut diperolehnya dengan cara menyewa. Setelah warungnya dibongkar, dia juga harus mengeluarkan modal untuk membangun warungnya lagi. "Saya belum tahu akan pindah membuka warung dimana lagi, nasib pedagang kecil yang memang seperti ini. Saya berharap penggurusuran bisa dihentikan biarkan pedagang kecil membuka usahanya dengan tenang," harapnya. (asy)

Kalihurip Mulai Dilanda Kekeringan, Warga Minta Dibangun Penampungan Air Bersih


CIKAMPEK, RAKA - Memasuki musim kemarau, warga di Kampung Kamuning, Desa Kalihurip, Kecamatan Cikampek, sudah merasakan kekeringan. Air sumur milik warga di desa tersebut sudah mulai surut. Keadaan seperti ini membuat resah warga sekitar khawatir kekurangan sumber air bersih.

Salah seorang warga, Umar Suhada (70), Jumat (31/7), mengatakan, pipa mesin pompa miliknya saat ini telah ditambah sepanjang dua meter. Hal ini dilakukanya karena air sumurnya sudah mulai menyusut. Dia menambahkan, dalam keadaan normal, ketinggian air disumurnya bisa mencapai 6 meter dari kedalaman sumur sebanyak 13,5 meter. Tapi saat ini ketinggian air sumur hanya setinggi 1,5 meter. "Paling banyak juga, air paling tinggi mencapai 3 meter.

Surutnya air di sini sudah mulai dirasakan sejak beberapa minggu yang lalu," terangnya.
Walaupun demikian, kebutuhan air bersih untuk keluarganya masih tercukupi. Pasalnya, air bersih di sumurnya tidak mengalami kekeringan dan hanya mengalami penyusutan. Tapi jika musim kemarau yang dialami cukup panjang, sumur miliknya bisa mengalami kekeringan. "Saya berharap musim kemarau ini tidak terus berkepanjangan, agar air bisa kembali normal. Bahkan beberapa tetangga saya air sumurnya sudah mengalami kekeringan hingga tidak ada air sama sekali," tuturnya.

Sementara itu, ketika ditemui dikantornya, Kepala Desa Kalihurip Sukandi membenarkan perihal kekeringan tersebut. Namun menurutnya, kekeringan di desanya tersebut dialami oleh satu dusun yakni dusun satu Kampung Kamuning. Menurutnya, kekeringan ini setiap musim selalu terjadi. Hal ini terjadi karena dampak pembangunan yang terjadi di desa tersebut.

Dia melanjutkan, bahkan dampak dari pembangunan tersebut bukan hanya kekeringan, namun kebanjiran juga sering terjadi saat musim hujan tiba. "Desa Kalihurip diapit oleh dua kawasan, Kujang dan Indotaisei. Setelah kawasan tersebut berdiri, desa kami sering mengalami kekeringan dan kebanjiran. Ditambah lagi setelah Tol Cipularang dibangun," tuturnya.

Akibat dari pembangunan tersebut, lanjutnya, hutan yang berada di Desa Kalihurip ditebang, sehingga daerah resapan air menjadi tidak ada. Jumlah keluarga yang mengalami kekeringan di dusun tersebut, sebanyak 20 KK. "Kami telah meminta pada kawasan yang ada di sekitar desa kami untuk memberikan bantuan. Dari kawasan menjanjikan akan memberikan bantuan air bersih dengan menggunakan tanki," tuturnya.

Sukandi mengharapkan, bantuan tersebut bukan hanya berupa kiriman air bersih. Dia lebih mengharapkan untuk dibangun bak penampungan air yang permanen di desanya, untuk memudahkan warga mendapatkan akses air bersih. Tapi ajuannya tersebut belum ditanggapi. "Kami berharap kawasan bisa mengetahui kondisi masyarakat di desa kami. Sehingga mereka bisa merealisasikan bantuan secara maksimal pada masyarakat," harapnya. (asy)

Perlu Penerangan Jalan Wilayah Kecamatan Klari


RAWAN: Selain rusak parah, jalan yang menghubungkan Tamelang-Curug tak memiliki lampu

PURWASARI, RAKA - Kondisi jalan yang menghubungkan antara Desa Tamelang, Kecamatan Purwasari, dengan Desa Curug, Kecamatan Klari, rusak parah. Selain itu, jalur tersebut juga tidak memiliki lampu penerangan.

Kondisi seperti ini dikeluhkan oleh warga lantaran dapat memudahkan pelaku kriminalitas untuk melakukan tindak kejahatan. Menurut salah seorang pengguna jalan, Sadi (28), Jumat (31/7) siang, kondisi jalan tersebut sudah lama tidak terurus. Padahal jalan tersebut sering dipergunakan oleh masyarakat untuk melakukan aktivitas karena jalur tersebut merupakan akses utama beberapa perkampungan menuju kota.

Kondisi jalan tersebut tidak terawat. Semak-semak juga tumbuh tinggi menjulang, sehingga membuat jalan tersebut rawan tidak kriminal. "Dulu jalan di sini banyak yang melewatinya, karena kondisinya masih bagus. Tapi sekarang jarang terutama di malam hari," paparnya.
Lebih lanjut dia menuturkan, selain warga setempat, jalan tersebut juga sering dipergunakan oleh karyawan yang akan pergi bekerja. Pasalnya, jalan tersebut merupakan jalan alternatif menuju kawasan industri Indotaise. "Saya berharap jalan di sini segera diperbaiki, karena banyak masyarakat yang mempergunakannya. Kerusakan sudah lama terjadi dan hingga saat ini belum nampak ada perbaikan," jelasnya.

Sementara itu, warga Kampung Pasir Namprak, Desa Karanganyar, Kecamatan Klari, Samsudin (46) mengatakan, Jalan Raya Tamelang-Curug merupakan salah satu jalan utama menuju desanya. Dia merasa berada di desa yang terisolir. Pasalnya, akses jalan menuju desanya tersebut tidak terawat dengan baik. "Jika malam hari, saya tidak berani untuk keluar sendiri. Jalan di sini banyak totowangnya, ditambah lagi tidak ada penerangan jalan. Sangat riskan untuk keluar malam hari," terangnya.

Padahal, lanjutnya, pada malam hari terkadang dia membutuhkan sesuatu yang mengharuskannya keluar rumah. Jika hal tersebut memang terjadi, dia selalu mengajak teman untuk bepergian ke luar rumah di malam hari, agar keselamatannya bisa terjaga. Samsudin menilai, kesulitan ekonomi yang dirasakan masyarakat saat ini akan memaksa untuk melakukan tindakan apapun untuk memenuhi kebutuhannya. "Saya berharap jalan di sini segera diperbaiki dan bisa dipasang lampu penerangan. Agar masyarakat merasa aman dan nyaman," harapnya. (asy)

Napi Rawan HIV/AIDS

Dari 130 ribu penghuni rutan/lapas, sekitar 14 ribu di antaranya berpotensi terkena HIV/AIDS. Mereka merupakan bagian dari 30 persen penghuni penjara kasus narkotika, yang jumlahnya di seluruh Indonesia kini ditaksir sudah mencapai 40 ribu napi maupun tahanan.
"Kebanyakan dalam usia produktif 18 sampai 50 tahun," ungkap Menteri Hukum dan HAM Andi Matalatta, selepas menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), Jumat (31/7).

Jika ancaman ini terus dibiarkan, lanjut Andi, kemungkinan besar begitu keluar dari tempat binaan (rutan/lapas) mereka langsung jadi "manusia tak berguna". Kondisi ini katanya, bertentangan dengan misi departemennya, yakni membuat para napi diterima dan berperan lagi di masyarakat selepas menjalani hukuman.

Andi mengakui, ancaman HIV/AIDS di dalam penjara tidak terlepas dari semakin tak seimbangnya kapasitas rutan/lapas dengan pertambahan tahanan. "Sekarang ini kapasitas rutan/lapas 80 ribuan, tapi diisi 130 ribu napi/tahanan. Berarti kelebihan 60 persen," jelas Andi.
Hal ini, menurut Andi pula, disebabkan karena penambahan napi/tahanan per tahunnya mencapai 6 persen, sedangkan pertambahan tingkat hunian yang bisa dilakukan pemerintah hanya 3 persen.

MoU yang baru ditandatangani itu sendiri akan dilaksanakan di 72 lapas/rutan. Bentuknya antara lain berupa pendidikan pencegahan HIV, pemberian kondom, rujukan perawatan pasien, serta pelatihan bagi petugas kesehatan di lapas tentang pencegahan dan pengobatan. (pra)

Pemangkasan Tabungan Untuk Perbaikan Sarana Sekolah

KUTAWALUYA, RAKA - Pemangkasan tabungan siswa anak Sekolah Dasar, untuk melakukan perbaikan sarana sekolah terjadi di SDN Sindang Mukti II, Kecamatan Kutawaluya. Kendati diakui komite sekolah sebagai perwakilan wali murid, berikut pihak sekolah. Setelah sebelumnya melalui musyawarah dengan para wali murid. Namun, tetap ada saja sebagian kecil wali murid yang mengaku menyetujuinya dengan terpaksa.

Tabungan orang tua yang dititpkan kepada anaknya sebagai para siswa SD. Dijelaskan para orang tua sebagai wali murid. Merupakan tabungan yang diperuntukan menghadapi kebutuhan anaknya jika akan meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi kelak agar anak mereka tidak sampai putus sekolah. Hal itu dikatakan salah seorang wali murid Dusun Rawa kepuh, Desa Sindang Mukti yang tidak ingin disebutkan namanya demi keselamatan anaknya. Menurutnya, Pemangkasan tabungan yang terjadi di SDN Sindang Mukti II, sebesar 20 000. Sebagian untuk perbaikan pagar sekolah dan sisanya akan digunakan untuk merayakan acara kenaikan kelas itu. Terpaksa diikutinya, dengan alasan tidak enak jika menolak.

"Namun, jika dilakukan rutin setiap satu tahun, ada pemotongan tabungan dalam rangka acara perbaikan pagar sekolah. Kami jadi bertanya tanya? Memang tidak ada dana dari pemerintah untuk perbaikin sarana sekolah."terangnya.Diketahui, jumlah murid yang belajar di SDN sindang Mukti II yang terdapat dalam selebaran surat pemotongan berjumlah sebanyak 150 siswa.

Pihak Sekolah melalui Kepala Sekolah, Suprapta S.Pd bersama komite Sekolah Ali H, saat ditemui RAKA, Jum'at (31/7). ketika dikompirmasi hingga sempat salah seorang guru Memaksa meminta surat tugas. Membenarkan pemotongan tabungan sebesar 20.000 itu, untuk memperbaiki pagar sekolah. Dengan alasan,"Pemotongan ini untuk memotifasi dan meningkatkan kwalitas pendidikan di SDN Sindang Mukti II."Kilahnya.

Fenomena pemotongan Tabungan yang terjadi di Sekolah Dasar tersebut, telah mencerminkan bahwa peningkatan dalam bidang pendidikan yang digemborkan pemerintah dengan program sekolah Gratis tidak real dimata masyarakat. Terbukti, untuk urusan perbaikan sarana sekolah. Pemerintah Kabupaten karawang Dinas pendidikan pemuda dan olahraga SD Negeri Sindang Mukti II di Dusun Rawakepuh Desa Sindang Mukti Kecamatan Kutawaluya, masih mengandalkan tabungan siswa SD untuk melakukan meningkatkan kwalitas pendidikan. (get)

KNM UNSIKA Beri Bantuan Pada Warga Makmurjaya

JAYAKERTA, RAKA - KNM (Kuliah Nyata Mahasiswa) Unsika memberikan bantuan kepada masyarakat Di Desa Makmurjaya, Kecamatan Jayakerta, setelah satu bulan penuh mahasiwa ini telah banyak memberi wawasan berbagai ilmu kepada warga setempat.

Diantaranya PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), Kesehatan Posyandu mengenai ibu hamil dan Balita, juga Ekonomi Kerakyatan tentang UKM pengrajin rajut termasuk memberi keterangan bagaimana cara meningkatkan motivasi supaya usaha masyarakat berkembang. Selain itu, keagamaan pun diajarkan melalui Majlis Ta'lim bagi lanjut usia dan yang terakhir yaitu memberi pemahaman mengenai sanitasi lingkungan dan penghijauan

Menurut Ketua Kelompok KNM Unsika di Desa Makmurjaya, Agus Suwarsono, kedatangan dia dan mahasiswa lainnya di desa ini selain melaksanakan program kuliah juga memberikan pengetahuan ilmu kepada masyarakat diantaranya penyuluhan hukum ujarnya. Kata dia, selama satu bulan program ini belum maksimal, tetapi para mahasiswa sudah berupaya agar pengetahuan yang telah diberikan dapat membantu bagi warga masyarakat pedesaan, terutama masyarakat di Desa Makmurjaya.

Pada kesempatan terakhir, sebanyak 15 mahasiswa yang KNM memberikan bingkisan kepada masyarakat Makmurjaya berupa tiga papan nama PAUD Pelangi,Attuyiba dan Miftahul Huda berikut jam diding, juga white bor. Menanggapi hal ini, Kepala Desa Makmurjaya, Mumuh disela sambutannya mengucapkan banyak terima atas bantuan yang telah di berikan para mahasiswa Unsika Karawang baik moril maupun materil kepada masyarakatnya. Dia berharap, program seperti ini tidak hanya sampai disini, tapi bisa berkesinambungan. (spn)

Tempat Prostitusi Diwilayah Kota Rengasdengklok

CILEBAR, RAKA - Menyusul penertiban yang dilakukan Para petugas Sat pol PP, di dua lokasi yang diduga kerap digunakan untuk kegiatan prostitusi diwilayah Kota Rengasdengklok. Pasalnya, keberadaan sejumlah lokasi lainnya, termasuk tempat tempat di pasisir pantai utara karawang, telah diberi ancaman akan ditertibkan. Imbasnya, Para penjaja seks di Wilayah Pesisir Pantai Utara Karawang sebagian besar mengaku akan pulang kampung.

Bulan Agustus 2009. Para petugas penertiban akan mulai meluaskan gerakannya. Setelah pembongkaran warem Cikelor dan Pos Banjir Rengasdengklok, Kamis (30/7). Target bidikan para petugas selanjtnya ditujukan kepada beberapa warem besar yang berada di sepanjang pantai utara Karawang."tidak akan lama lagi warem pesisirpun akan kami bongkar, tinggal menunggu gilirannya saja."Kata Kasat Pol PP H.D. Alamsyah, saat dimintai keterangan oleh RAKA, ketika ditemui saat pembongkaran di lokaslisasi Rengasdengklok.

Terkait pembongkaran dua warem di Kecamatan Rengasdengklok itu, beberapa lokalisasi yang terdapat di 4 kecamatan lainnya. Yakni, Cilebar, Pedes, Cibuaya dan Pakis. Dari keterangan yang diperoleh dari sang mucikari, tidak sedikit penghuninya telah banyak yang pulang kampung halaman (mudik). Disinyalir, para perayu hidung belang itu, banyak yang khawatir dengan tempat yang dihuninya selama ini, juga akan segera ditertibkan. Menyusul ancaman yang dilontarkan Kasat Pol PP belum lama ini.

Menghindari hal itu, kemungkinan besar para kupu kupu malam itu, memilih aman dengan cara segera angkat kaki sebelum penertiban terjadi. Menanggapi fenomena itu, Masyarakat yang didominasi para kaum hawa bersuami, mengaku sangat mendukung dengan apa yang dilakukan petugas pembongkaran, jika penertiban dilakukan secara merata pada tempat maksiat yang selama ini sudah sangat meresahkan. Hal it, Sekaligus merealisasikan harapan masyarakat yang menyatakan, bahwa menjelang bulan ramadhan semua tempat maksiat di Kabupaten Karawang ini harus sudah rampung di bongkar petugas Pol PP.

Ibu rumah tangga warga Dusun Cikunir, Hj. Anda (42). Menuturkan bahwa kebanyakan para PSK di tempat maksiat itu bukan warga asli Karawang, kalaupun ada hanya sebagian kecil tetapi kebanyakan PSK dari luar karawang. "Dari Subang,Indramayu,Bogor, Sukabumi ada juga dari Jawa Tengah dan Timur." terangnya

Ditambahkan H.Anda, warem yang telah dibongkar seharusnya sering di kontrol petugas Pol PP. Sehingga para penghuni yang akan membuka kembali dapat terpantau dan ditegur, karena selama ini operasi penertiban sering tidak tuntas bahkan dalam waktu yang tidak lama warem menjamur kembali. (get)

Suami-Istri Tewas Dilalap Sijago Merah

RENGASDENGKLOK, RAKA - Dua rumah di Dusun Krajan, RT 05/08, Desa Rengasdengklok Utara, Kecamatan Rengasdengklok ludes dilalap si jago merah, Kamis (30/7) pukul 21.30 WIB, satu pasangan suami-istri tewas terbakar hingga hangus akibat terperangkap disudut kamar mandi rumahnya ketika berusaha menyelamatkan diri. Ketika ditemukan bahkan kedua jasadnya sudah sulit dikenali.

Korban tewan itu bernama Uhi Ruhiyat (61) bersama istri tercintanya Dedeh (48) yang kesehariannya dikenal sebagai pedagang kue di pasar Rengasdengklok. Menurut keterangan warga setempat, saat kejadian Uhi berada diluar rumah, namun ketika mendengar teriakan istrinya di dalam kobaran api yang melalap rumahnya, maka ia pun berusaha menolong istrinya, tapi naas keduanya terperangkap dan tidak bisa melarikan diri ke luar rumah ketika kobaran api semakin membesar, keduanya tidak tertolong dan tewas seketika.

Sementara warga berjibaku memadamkan api yang dikhawatirkan akan merambat ke rumah lainnya, di dalam rumah yang terbakar, pasangan suami-istri itu saling berpelukan disaat detik-detik menjelang kematiannya. Sedangkan warga terus berusaha memadamkan api dengan alat seadanya, karena armada pemadam kebakaran terlambat datang ke lokasi kejadian.

Bahkan, armada kebakaran yang sudah siaga di Rengasdengklok sulit menjangkau lokasi kebakaran, mengingat lokasinya berada di tengah pemukiman. Setelah berusaha masuk dan tidak bisa mendekati rumah yang terbakar, akhirnya armada tersebut memadamkan api dengan menyemprotkan air keatas melewati atap rumah warga dengan tetap mengarahkan air pada kobaran api.

Api bisa dijinakan dua jam kemudian, namun telah menghanguskan dua rumah. Rumah kedua yang terbakar yaitu milik Apad Bin H. Sanusi (50). Hasil penyelidikan sementara, pihak kepolisian menduga kebakaran ini akibat kompor gas yang meledak akibat tabung 3 kg bocor saat menyala dan menyemburkan api besar sehingga membakar dua rumah. Kejadian ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban. Padahal, menurut keterangan warga setempat, rencananya Senin (3/8) besok, korban akan menikahkan anak lelakinya yang bernama Deni. (spn)

Abrasi Pantai Karawang, Salah Siapa?

Ketika menyusuri pesisir utara kota Karawang, terlihat jelas keadaan pantai yang jauh dari kata aman. Pasalnya hampir disepanjang garis pantai, tidak satupun terlihat hutan mangrove yang dominan. Padahal seperti diketahui, hutan bakau atau mangrove layaknya ginjal pada tubuh manusia, yaitu sebagai penyaring air run-off daratan dan air tanah. Fungsinya untuk menjernihkan perairan terbuka di wilayah pesisir sehingga mempermudah tumbuhan laut untuk berfotosintesa.

Selain itu mangrove juga berfungsi sebagai pengontrol polutan agar zat-zat yang terkandung didalamnya tidak mencemari lautan. Maka apabila di sepanjang pesisir pantai tidak ditumbuhi mangrove, sudah dapat dipastikan akan banyak bencana melanda, seperti abrasi dan terganggunnya keseimbangan ekosistem laut.

Hubungan antara mangrove dengan kehidupan perairan laut sangat tidak terpisahkan. Karena ekosistem mangrove dan terumbu karang selain melindungi satu sama lain, juga dapat menanggulangi pergerakan hayati laut yang selalu berubah-ubah. Dengan menyerap energi dari gelombang besar yang disebabkan badai dan angin, mangrove juga berperan sebagai efek pemecah gelombang alami yang membantu menghentikan erosi. Sehingga mencegah kerusakan pada pemukiman sekaligus menyelamatkan nyawa manusia di wilayah pesisir.

Namun dikarenakan kondisi hutan bakau di Karawang sudah sangat parah, maka jangan heran apabila banyak terjadi bencana di daerah pesisir. Baik itu yang sifatnya produksi maupun non produksi. Menurut Kabid Kelautan Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Durahim melalui staff ahli divisi kelautan Ade Komarudin, mengatakan, kerusakan yang dialami oleh mangrove sudah pasti berakibat pada terumbu karang, yang akhirnya akan mengakibatkan pada minimnya jumlah ikan.

"Apabila rusak, lambat laun akan mengakibatkan abrasi atau terkikisnya tanah disepanjang pesisir pantai. Mangrove juga sebagai tempat tumbuh dan berlindung bagi bermacam juvenil ikan dan invertebrata seperti tongkol, tuna, barakuda, lobster dan udang-udangan lainnya. Selain itu mangrove juga merupakan tempat bertelur bagi banyak burung air seperti bangau, merpati dan burung-burung fregat. Selain itu mangrove juga memiliki nilai estetika sehingga berpotensi untuk dijadikan tempat wisata.

Untuk itu diperlukan kerja sama dari berbagai pihak untuk menjaga dan melestarikannya. Dari luas wilayah laut di Karawang yang cukup luas, yaitu 628,352 Km2, hutan bakau yang ada hanya tiga puluh persen saja, itupun keadaannya memprihatinkan," ungkapnya beberapa waktu yang lalu.

Ia menghimbau kepada seluruh masyarakat pesisir maupun pihak-pihak yang terkait, untuk senantiasa menjaga dan melestarikan hutan bakau. Karena mangrove sangat berperan vital bagi kepentingan manusia akan kehidupan yang nyaman di muka bumi. Menjaga dan melestarikannya sudah harus menjadi salah satu tanggungjawab kita bersama. Akhirnya yang paling merasakan akibatnya adalah nelayan. Tapi yang menjadi aneh, ketika pihaknya mengetahui bahwa biasanya yang melakukan perusakan terhadap hutan mangrove adalah nelayan.

Namun sangat disayangkan sekali sampai saat ini Pemkab belum memprioritaskan perlindungan dan pelestarian hutan bakau. Saya harap setelah kita mengetahui betapa pentinganya mangrove, akan ada usaha-usaha untuk memeliharanya. Tanpa ada pencerahan pola pikir, betapa pentingnya mangrove bagi kehidupan umat manusia, saya yakin sangat mustahil hutan mangrove bisa kembali seperti semula.

Itu berarti tanpa ada rasa sadar diri, lingkungan hidup Kabupaten Karawang dari Utara sampai selatan tidak akan pernah mengalami perubahan. Tanpa adanya perubahan, maka kehancuran siap melanda Kabupaten yang sangat kaya ini. Bayangkan saja, dari gunung sanggabuana, sungai citarum sampai pesisir pantai, keadaannya dalam kondisi sangat menyedihkan. (*)

Jelang Puasa Harga Sayuran Naik

KARAWANG, RAKA- Jelang bulan Ramadhan harga sayuran di Pasar Johar Karawang cenderung naik, meskipun kenaikannya belum signifikan, namun menurut Ani (30) salah seorang pedagang sayuran, seiring mendekati bulan Ramadhan harga akan terus naik dan puncaknya H-3 Hari Raya Idul Fitri.

"Hanya minyak sayur dan cengek saja yang mengalami kenaikan, yaitu minyak sayur Rp. 7.500 perkg menjadi Rp. 8.000 perkg, cengek Rp.5.500 menjadi Rp. 6000 perkg. Sedangkan Harga sayuran yang lain masih relatif stabil, bawang Rp 12.000 perKg, tomat Rp. 4.000 perkg, wortel Rp. 3.000 perkg, Kol Rp. 2.500 perkg. Biasanya kenaikan akan sangat terasa ketika memasuki pertengahan bulan ramadhan dan menjelang Hari raya Idul Fitri," ungkapnya, Jum'at (01/8) pagi.

Kenaikan harga pada bulan Ramadhan dipicu oleh banyaknya permintaan dari konsumen, namun persediaan barang minim karena tersendatnya pasokan barang dari suplier. "Bulan ramadhan tahun ini, berbarengan dengan musim panas. Sudah bisa dipastikan, persediaan sayuran akan minim," tandasnya.

Ketika disinggung apakah kenaikan harga tersebut menguntungkan pedagang atau tidak. Ia mengatakan, dilihat dari angka penjualan sangat menguntungkan pedagang, tapi dari segi harga tidak berpengaruh. "Kalau dihitung-hitung sih sama saja, Tapi kami tertolong dengan membludagnya pembeli. Hari-hari biasa, keuntungan bersih yang kami terima sekitar Rp. 150.000,00 sampai Rp. 200.000,00, namun bulan Ramadhan, keuntungan bisa mencapai Rp. 500.000,00" ucapnya.

Sama halnya Anim, Iman (32) pedagang sayuran dipasar baru Karawang, mengatakan, keuntungan bersih yang ia terima pada saat bulan ramadhan bisa berlipat-lipat. "Bulan ramadhan adalah bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh pedagang pasar. Hari-hari biasa, keuntungan yang saya terima mencapai Rp. 75.000,00 sampai Rp. 150.000,00, pada bulan ramadhan bisa mencapai Rp. 400.000,00," ungkapnya.

Terkait dengan perehaban pasar baru karawang yang akan dimulai awal bulan Agustus, ia mengatakan, perehaban harus selesai sebelum bulan Ramadhan. Apabila pada saat bulan ramadhan, perehaban masih dilakukan, ditakutkan akan mengganggu pembeli yang datang kesini. "Bisa saja, akhirnya para pembeli beralih ke pasar lain atau ke Mall yang keadaannya jauh lebih nyaman. Untuk menghindari kerugian dari dampak perehaban, saya himbau kepada pemerintah agar, secepat mungkin menyelesaikan perehaban," tuturnya.

Kordinator lapangan Ikatan Pedagang Pasar Karawang (IKKP) Nana Sumarna, mengungkapkan rencana perehaban yang dimulai awal agustus, diharapkan bisa selesai seepat mungkin. "Sebetulya, perehaban pasar johar dilakukan bulan-bulan kemarin, namun tidak tahu kenapa terus menerus diundur.

Saya harap, sebelum bulan Ramadhan perehaban sudah selesai, agar aktivitas perdagangan tidak terganggu, karena melimpahnya rejeki bagi pedagang pasar pada bulan ramadhan. Terkait harga sayuran, sudah dipastikan cenderung naik, karena sesuai dengan hukum ekonomi, apabila permintaan banyak namun jumlah barang sedikit, sudah bisa dipastikan harga barang tersebut pasti naik," katanya beberapa waktu yang lalu kepada RAKA. (psn)

Penjual Bendera Laris Manis

KARAWANG, RAKA - Meskipun Hut RI ke 64 masih 17 hari lagi, namun penjual atribut agustusan sudah mulai meramaikan Kota Karawang. Mereka menjajakan aksesoris berbau nasionalis dipinggir jalan protokol. Menurut Endi (22) salah seorang pedagang atribut mangaku, ia menjual atribut agustusan sudah satu minggu. Atirbut yang dijual berupa bendera berukuran sedang dan tempel, kipas merah putih, umbul-umbul, tirai merah putih dan akesoris lainnya.

"Sudah menjadi kebiasaan penjual atribut sejak tahu demi tahun, menjajakan atribut kemerdekaan jauh-jauh hari. Meskipun masih sepi pembeli, namun pendapatan bersih yang saya dapat bisa mencapai Rp. 50.000 per hari. Bahkan saya memperkirakan, kedepannya pendapat saya akan terus meningkat sampai Rp 150.000 per hari, yaitu pada tanggal 1-10 agustus mendatang.

Mengenai pasokan barang, saya memasok barang dagangan dari garut yang merupakan sentra pembuatan bendera dan atribut hari besar lainnya. Namun saya tidak bisa mengatakan berapa modal usaha saya atau berapa harga beli dari pemasok," tuturnya, jum'at (01/8) pagi.

Amo (50) pedagang bendera ukuran besar dan umbul-umbul sekaligus pengrajin bendera asal garut mengaku, pada tahun lalu dirinya mampu meraup untung Rp. 200.000 perhari."Saya mulai jualan minggu lalu, namun sampai saat ini masih sepi pembeli. Biasanya mendekati tanggal 17 sudah mulai rame, karena sudah menjadi rutinitas tahunan, penjual bendera meraup untung berlimpah," katanya sambil menjajakan atribut di trotoar sisi jalan A. Yani.

Kendati harga yang dipatok pedagang cukup tinggi, namun pembeli tidak keberatan untuk merogoh koceknya, pasalnya mereka menganggap harga tersebut masih wajar. Hal itu diungkapkan oleh Oni (28) salah seorang pembeli, Jum'at (01/8) siang. "Jika di nilai dengan uang Rp. 5000 perbendera, tidak sebanding dengan perjuangan para pejuang jaman dulu," tuturnya sambil mengendarai motor.
Berbeda dengan Oni, Agus (21), ia mengaku untuk tahun ini tidak akan membeli bendera. "Percuma mas, tetap saja bangsa ini masih menderita, meskipun kita mengibarkan bendera pada 17 agustus nanti," tandasnya singkat.

Ketika disinggung apa makna kemerdekaan bagi pedagang penjual atribut agustusan, Endi mengatakan para pedagang mencoba menumbuhkan kembali jiwa nasionalisme rakyat indonesia, terutama masyarakat karawang dengan menjajakan bendera merah putih dan aksesoris lainnya "Warna merah dan putih menjadi warna wajib pada setiap perayaan hari kemerdekaan RI, bukan sekedar warna bendera, namun warna merah juga mencerminkan perjuangan penuh untuk merebut kemerdekaan indonesia dari penjajah. Dan warna putih bisa diartikan sebagai ketulusan hati untuk membela tanah air. Meskipun hanya sebagai pedagang atribut, tapi saya bangga telah menjadi bagian dari hari kemerdekaan," ungkapnya dengan penuh semangat. (psn)

Penjual Bendera Laris Manis

KARAWANG, RAKA - Meskipun Hut RI ke 64 masih 17 hari lagi, namun penjual atribut agustusan sudah mulai meramaikan Kota Karawang. Mereka menjajakan aksesoris berbau nasionalis dipinggir jalan protokol. Menurut Endi (22) salah seorang pedagang atribut mangaku, ia menjual atribut agustusan sudah satu minggu. Atirbut yang dijual berupa bendera berukuran sedang dan tempel, kipas merah putih, umbul-umbul, tirai merah putih dan akesoris lainnya.

"Sudah menjadi kebiasaan penjual atribut sejak tahu demi tahun, menjajakan atribut kemerdekaan jauh-jauh hari. Meskipun masih sepi pembeli, namun pendapatan bersih yang saya dapat bisa mencapai Rp. 50.000 per hari. Bahkan saya memperkirakan, kedepannya pendapat saya akan terus meningkat sampai Rp 150.000 per hari, yaitu pada tanggal 1-10 agustus mendatang. Mengenai pasokan barang, saya memasok barang dagangan dari garut yang merupakan sentra pembuatan bendera dan atribut hari besar lainnya. Namun saya tidak bisa mengatakan berapa modal usaha saya atau berapa harga beli dari pemasok," tuturnya, jum'at (01/8) pagi.

Amo (50) pedagang bendera ukuran besar dan umbul-umbul sekaligus pengrajin bendera asal garut mengaku, pada tahun lalu dirinya mampu meraup untung Rp. 200.000 perhari."Saya mulai jualan minggu lalu, namun sampai saat ini masih sepi pembeli. Biasanya mendekati tanggal 17 sudah mulai rame, karena sudah menjadi rutinitas tahunan, penjual bendera meraup untung berlimpah," katanya sambil menjajakan atribut di trotoar sisi jalan A. Yani.

Kendati harga yang dipatok pedagang cukup tinggi, namun pembeli tidak keberatan untuk merogoh koceknya, pasalnya mereka menganggap harga tersebut masih wajar. Hal itu diungkapkan oleh Oni (28) salah seorang pembeli, Jum'at (01/8) siang.

"Jika di nilai dengan uang Rp. 5000 perbendera, tidak sebanding dengan perjuangan para pejuang jaman dulu," tuturnya sambil mengendarai motor.
Berbeda dengan Oni, Agus (21), ia mengaku untuk tahun ini tidak akan membeli bendera. "Percuma mas, tetap saja bangsa ini masih menderita, meskipun kita mengibarkan bendera pada 17 agustus nanti," tandasnya singkat.

Ketika disinggung apa makna kemerdekaan bagi pedagang penjual atribut agustusan, Endi mengatakan para pedagang mencoba menumbuhkan kembali jiwa nasionalisme rakyat indonesia, terutama masyarakat karawang dengan menjajakan bendera merah putih dan aksesoris lainnya. "Warna merah dan putih menjadi warna wajib pada setiap perayaan hari kemerdekaan RI, bukan sekedar warna bendera, namun warna merah juga mencerminkan perjuangan penuh untuk merebut kemerdekaan indonesia dari penjajah. Dan warna putih bisa diartikan sebagai ketulusan hati untuk membela tanah air. Meskipun hanya sebagai pedagang atribut, tapi saya bangga telah menjadi bagian dari hari kemerdekaan," ungkapnya dengan penuh semangat. (psn)

Aktifitas Penambang Pasir Kampung Cilayung


BERKURANG: Aktifitas penambang pasir Kampung Cilayung, Desa Cilalawi, Kecamatan Sukatani, saat ini mengalami penurunan. Pasalnya, memasuki kemarau volume air mejadi menurun dan menyebabkan pasir tak mudah larut dari hulu ke hilir. (rif)

Gelapkan Benang, 7 Karyawan Dibui

PURWAKARTA, RAKA - Gara gara kedapatan melakukan pencurian benang milik perusahaan, tujuh oknum karyawan PT Indorama Synthetic (IRS), dibekuk polisi, Kamis (30/7) lalu. Ketujuh karyawan tersebut kini meringkuk di tahanan Polsek Jatiluhur untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Wakapolsek Jatiluhur Inspektur Satu Suparlan menuturkan, penangkapan ketujuh karyawan perusahaan tersebut berawal ketika Tar (50), seorang pengusaha yang biasa membeli limbah dari perusahaan mendapatkan DO untuk membeli barang bekas pabrik berupa dus-dus bekas Kenyataan, pada saat DO itu diambil, dus-dus bekas yang akan diberikan kepada Tar oleh para pelaku diisi benang yang selama ini diproduksi pabrik yang membuat serat sintetis tersebut. Saat akan keluar dari pabrik, tiba-tiba petugas Satpam IRS yang berada di Pos A mendapatkan laporan agar menahan truk yang mengangkut dus bekas tersebut.


"Saat diperiksa, di dalam dus yang akan dibawa keluar itu berisi benang. Dari hasil penyelidikan petugas satpam ternyata ada tujuh orang karyawan PT IRS yang bekerjasama dengan pembeli barang bekas tersebut," ujarnya ketika dihubungi, Jumat (31/7).

Setelah mengamankan ketujuh orang karyawan tersebut, pihak manajemen kemudian melaporkannya ke Polsek Jatiluhur. Ketujuh karyawan itu adalah Uj (35), Bud (40), As (38), Dad (46), Jap (28), Ik (34) dan Na (37). Dia menambahkan, akibat perbuatan yang dilakukan para tersangka menyebabkan pihak perusahaan menderita kerugian sebesar Rp 29 juta. "Untuk sementara ketujuh karyawan PT IRS itu ditahan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya," kata Inspektur Satu Suparlan.

Sedangkan, sumber RAKA di PT IRS mengatakan, Tar yang dikenal sebagai pembeli limbah meneruskan usaha mantan lurah yang ada di sekitar pabrik. Awalnya, saat Tar mengambil limbah di departemen II (CV II) yang berada di sebelah TFO II tidak ada masalah, namun pada pengambilan kedua di departemen I limbah yang diambil bercampur dengan papertub yang didalamnya ada filaminnya.

Setelah pengambilan barang yang kedua selesai ditimbang, tiba-tiba petugas keamanan yang berada di Pos A mendapat informasi bahwa truk yang mengangkut barang bekas yang dimiliki Tar harus diamankan karena berisi barang yang bukan haknya. "Benar saja ketika diperiksa di dalam
dus tersebut terdapat benang," ujarnya.

Sementara, Manajemen PT IRS Purwakarta yang diwakili Dwi Agus Kurniawan mengatakan, kemungkinan pencurian dan penggelapan yang dilakukan oleh ketujuh oknum karyawan itu berlangsung lama dan tidak terungkap karena kerjasama rapi antara pemesan barang dengan karyawan yang mengisi kardus serta adanya oknum petugas timbangan pabrik yang turut membantu untuk melakukan manipulasi berat timbangan dengan berbagai cara.

Menurutnya, setelah petugas keamanan pabrik berhasil mengungkap aksi pencurian dan penggelapan barang milik pabrik, pihak manajemen kemudian melaporkannya ke Polsek Jatiluhur. Oleh karena itu, pihaknya perusahaan sangat menyesalkan perbuatan oknum karyawan tersebut. "Pengurus serikat pekerja dan semua pihak yang ada di dalam perusahaan bertekad mengungkapkan kasus ini sampai keakar-akarnya agar hal yang sama tidak terulang kembali," ujar Dwi Agus Kurniawan. (rif)

Pertandingan Persahabatan Polisi vs Wartawan, Meski Badan Kecil, Wartawan Tetap Semangat

Pertandingan futsal antara kesebelasan Polres Purwakarta melawan para wartawan se-Purwakarta, digelar di Gedung Futsal Jl RE Martadinata, Purwakarta, Jumat (31/7) sore. Meski nampak perbedaan fisik, namun seluruh pemain dari kubu wartawan tidak tampak berkecil hati.

Para wartawan dengan koordinator Jay Abraham (reporter TV One) yakin, meski kesehariannya berkecimpung dengan liputan, tidak mengurangi semangat untuk bisa memenangkan pertandingan persahabatan melawan para penegak hukum itu. Kesebelasan Polres Purwakarta sendiri, diperkuat skuadnya yang berjumlah sekira 10 anggota yang didampingi langsung Kapolres Purwakarta AKBP Hendro Pandowo.

Menurut satu anggota Polres Purwakarta, pertandingan persahabatan ini sebagai bentuk kemitraan antara kepolisian dengan para wartawan yang telah terjalin selama ini. ’’Dengan olahraga, polisi bisa menjalin kebersamaan dengan wartawan,’’ katanya, sebelum pertandingan.

Ia mengatakan, momen seperti ini terbilang jarang dilakukan. Meski dimikian dirinya berharap, kegiatan semacam ini dapat terus terjalin untuk membangun kerja sama serta kemitraan antar profesi yang lebih banyak berkecimpung untuk masyarakat tersebut.

Juru bicara para wartawan, Tita Winarsih yang juga reporter Republika mengatakan, pihaknya akan membuka lebar pihak-pihak yang ingin menjalin kerja sama dan kebersa­maan lewat olahraga dengan para wartawan. ’’Tidak hanya kepolisian, pihak mana pun kami siap meladeni,’’ ungkap Tita.

Pertandingan persahabatan itu sendiri berlangsung seru. Sampai berita ini dibuat, skor kemenangan ada di skuad wartawan, yakni 7-6. Pertandingan ini menarik perhatian penggila futsal sekitar, sehingga berlangsung cukup meriah. (rif)

7.100 Ha Lahan Perhutani Kabupaten Karawang Dirambah

PURWAKARTA, RAKA - Sebanyak 7.100 hektar dari 11.250 hektar lahan hutan milik Perhutani yang berada di kawasan hutan negara di Telukjambe, Kabupaten Karawang, selama empat tahun belakangan dirambah oleh 2.192 orang. Saat ini, pihak Perhutani mengaku tengah mengupayakan untuk mengambil kembali lahan tersebut.

Adanya bagian lahan Perhutani yang 'lepas' itu merupakan buntut dari lahirnya SK Menhut dan Perkebunan nomor 831/KPTS-II/1999 tentang Penunujukan Kawasan Hutan Negara itu sebagai hutan pendidikan. "Sejak lahirnya Keputusan Menhut dan Perkebunan nomor 831/KPTS-II/1999 yang merubah hutan produksi dan lindung seluas 11.230 hektar di Telukjambe menyebabkan terjadinya penjarahan atau penguasaan kawasan hutan negara menjadi miliki perorangan dan kelompok.

Namun tahun 2004 keputusan itu diubah kembali menjadi bentuk semula, yaitu kawasan hutan negara dan sejak itu Perhutani berupa mengembalikan tanah yang dikuasai perorangan tersebut, tapi belum membuahkan hasil," kata Kepala Seksi Humas Perum Perhutani Unit III Jabar dan Banten Ronald G Suitela di kantor Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwakarta, baru-baru ini.

Menurutnya, berbagai upaya telah dilakukan Perum Perhutani untuk mengembalikan lahan yang dikuasi perorangan atau kelompok tersebut, salah satunya memperkarakan seorang penguasa lahan milik Perhutani yaitu Prof Dr Ir Jhon W Limbong karena telah merusak tanaman milik Perhutani pada tahun 2008 lalu.

Diakuinya, pihak Perhutani mengalami kesulitan untuk mengambil alih kembali lahan yang dikuasai perorangan dan kelompok yang ada di Telukjambe, Karawang, itu. Sebab, para penggarap atau pihak yang menguasai lahan milik Perhutani itu memiliki sertifikat yang dikeluarkan oleh BPN setempat.

Dijelaskan, dalam SK Menhut nomor SK.365/Menhut-II/2004 menyebutkan dalam rangka optimalisasi kawasan hutan, maka dipandang perlu untuk mencabut Keputusan Menhut dan Perkebunan nomor 831/KPTS-II/1999 tanggal 1 Oktober 1999 tentang penyerahan hutan pendidikan seluas 11.250 hektar kepada Perum Perhutani.

Berdasarkan catatan yang diperoleh, wilayah BKPH Telukjambe secara administratif terletak di Kabupaten Karawang tersebar di Kecamatan Telukjambe, Pengkalan dan Ciampel. Desa sekitar hutan terdiri atas Desa Mulyasari, Kutanegara, Kutamekar, Parungmulya, Sirnabaya, Puseurjaya, Sukaluyu, Margakaya, Margamulya dan Mulya Sejati.

Sejak tahun 1989 PT Hutan Pertiwi Lestari (HPL) mengajukan permohonan tukar menukar lahan milik Perhutani. Tanah yang dipersiapkan PT HPL seluas 2.929,86 hektar di Banten, namun audit BPK pada tahun 1995 menyimpulkan ratio 1:1 yang dilakukan PT HPL dengan Perhutani merugikan negara karena mestinya ratio itu 1:27.

Kawasan hutan yang ditukar (dikeluarkan) dicukupkan dengan tanah pengganti 2.929,86 hektar yaitu hanya 110 hektar (1:27), sisanya seluas 6.990 hektar batal dipertukarkan terletak di di BKPH Telukjambe 5.551,70 hektar, BKPH RPH Kutalanggeng 767,2 hektar dan BKPH RPH Paranggombong 671 hektar.

Untuk mengembalikan lahan tersebut, kata Ronald, Perum Perhutani melakukan koordinasi dengan BPN dan Pemkab Karawang membahas permasalahan tukar-menukar dan rencana sosialisasi perubahan luas kawasan hutan yang ditukar, pengukuran dan pemasangan pal batas hutan bersama BPN, sosialisasi surat Menhutbun nomor 731 tahun 1999, melarang plang larangan merambah hutan dan laporan resmi adanya pendudukan kawasan hutan ke Polres Karawang. (ton)

Kemarau, Penghasilan Penambang Pasir di Kecamatan Sukatani Anjlok

PURWAKARTA, RAKA - Sejumlah penambang pasir di Kecamatan Sukatani, Purwakarta, mengaku cukup kelimpungan dengan menurunya volume air Sungai Cilalawi beberapa waktu terakhir. Mereka mengatakan, penurunan volume air membuat material pasir tidak lagi larut dalam jumlah besar dari hulu sungai ketimbang saat volume air meningkat.

"Material pasir dari hulu sungai biasanya akan larut bersama air sungai yang banjir di musim penghujan, tapi kemarau sekarang material pasir tidak semuanya larut dan membuat pasir sulit didapat," ujar Gagah (34), penambang pasir warga Kampung Cilayung, Desa Cilalawi, Kecamatan Sukatani, Jumat (31/7) kemarin.

Padahal, biasanya material yang larut akan ditambang buruh pasir yang jumlahnya mencapai puluhan di sepanjang alur Sungai Cilalawi dengan menggunakan perahu. Di tempatnya, sedikitnya ada sekitar 5 perahu yang siap dioperasikan untuk mencari pasir. Setiap satu perahu diisi antara dua hingga tiga penambang.

Berbekal perahu itulah, disusurinya kawasan sungai yang dirasakan penuh dengan pasir. Setelah ditemukan, pasir kemudian diambil dengan cara menyelam bersama-sama. "Kalau air sungai pasang kami bisa mengumpulkan pasir lumayan banyak sekitar lima-enam kubik. Setiap kubik pasir harganya mencapai Rp 60 ribu," tutur Jamis (30), penambang yang lain.

Pasir rata-rata disetorkan pada pembeli yang datang dari Karawang, Cikarang, bahkan Subang. Apabila pasir diperoleh banyak, para penambang akan memperoleh penghasilan antara Rp 35-Rp 45 ribu setiap harinya.

Sementara, saat kemarau ini, setiap penambang hanya mampu mengantongi uang sekira Rp 20 ribu per hari. Kondisi tersebut biasa terjadi pada musim kemarau dimana persediaan pasir di sungai mulai menipis. "Kalau kemarau datang pasir yang dikumpulkan setiap kelompok terkadang tidak mencapai satu atau dua kubik sehari. Berbeda ketika musim penghujan yang bisa mencapai 4-6 kubik sehari," ujar Jamis.

Wardi (40), penambang pasir lainnya menuturkan, kemarau merupakan musim yang sangat menyiksa bagi penambang. Pasalnya, mereka tidak punya pekerjaan sampingan selain mencari pasir. Pada musim ini, yang biasa terjadi sekitar bulan Agustus, para pencari pasir harus bisa hemat belanja kebutuhan sehari-hari. Kalau tidak, ujar Wardi, penambang warga Desa Cilalawi, bersiap untuk berpuasa selama sehari karena tidak ada penghasilan dari mencari pasir. (rif)

Pedagang Tradisional di Jabar Tradisional Dilindungi

Kadis Perindag Jabar Agus Gustiar dalam keterangannya, Jumat (31/7), mengungkapkan, dalam tahun ini Pemprop Jabar sudah menggulirkan berbagai program yang berorientasi pada perlindungan pasar tradisional.

Program tersebut, melalui pendukungan dana dari DAK Departemen Perdagangan dan APBD Propinsi Jabar, dalam waktu dekat ini akan direalisasikan revitalisasi pasar tradisional di beberapa Kabupaten/Kota di Jabar.

Program tersebut akan terus berlanjut. Di Tahun 2010, direncanakan revitalisasi pasar tradisional selain akan dilaksanakan melalui kegiatan fisik, juga direncanakan akan dilaksanakan melalui kegiatan pembinaan kepada para pedagang di pasar tradisional. Pembinaan tersebut, dimaksudkan agar para pedagang di pasar tradisional mempunyai kompetensi pelayanan seperti di pasar modern.

Tentang perkembangan pasar tradisional dari aspek penataan secara fisik di beberapa tempat ada yang sudah sukses diantaranya Pasar Kiaracondong Kota Bandung karena di lokasi tersebut banyak pedagang yang sudah memanfaatkan pasar tersebut.

Namun, di Pasar Tradisional yang berlokasi di kawasan Jalan Sudirman Kota Bandung, perlu dilakukan penyempurnaan mengingat di lokasi tersebut masih banyak pedagang yang memanfaatkan lokasi luar pasar sebagai tempat berdagang.

Pemprop Jabar, di sisi lain terus melakukan pemantauan atas perkembangan pasar tradisional. "Langkah tersebut, dimaksudkan untuk mencegah atau menghindari terpuruknya pasar tradisional oleh pasar modern," tandasnya.

Pemprop Jabar, ujar Gustiar, akan memberikan peringatan kepada Kabupaten/Kota jika ada indikasi ketidakseimbangan perkembangan pasar tradisional dengan pasar modern karena izin untuk mendirikan pasar merupakan kewenangan dari pihak Pemkab/Pemkot. (jgi)

Dinkes Pantau Wabah Flu Babi Di Jawa Barat

Wabah flu babi diduga telah masuk ke tiga pesantren di Jawa Barat. Dinas Kesehatan tengah memantau pesantren itu yang tersebar di Purwakarta, Garut, dan Tasikmalaya.

“Besok kami akan periksa yang di Garut dan Tasikmalaya,” kata Kepala Seksi Pencegahan Pengamatan Penyakit Matra Dinas Kesehatan Jawa Barat Uus Sukmara, Jumat (31/7).

Pondok pesantren Al Hikamussalafiyah Kampung Cipulus, Desa Nagrog, Kabupaten Purwakarta, telah didatangi petugas Dinas Kesehatan setempat untuk pengambilan contoh apus tenggorokan beberapa santri, Kamis (30/7) lalu.

Sementara lokasi dan nama dua pesantren lainnya di Garut dan Tasikmalaya masih dirahasiakan. “Nggak enak sama pesantrennya,” kata Uus.

Tapi yang pasti, ujar Uus, ada 64 santri di Tasikmalaya yang dicurigai terkena flu babi. Sejauh ini, belum diketahui asal muasal virus yang menyebar di tiga pondok pesantren itu. Dinas Kesehatan Jawa Barat menyatakan daerah tersebut cluster. “Penderita yang diduga flu babi di satu lokasi dalam jumlah yang besar,” kata dia.

Dinas Kesehatan menganjurkan santri yang sakit flu untuk tidak keluar rumah dulu agar tidak menulari orang lain. Jika bersin atau batuk, kata Uus, masyarakat diminta menutup mulut atau hidung.

Selain pesantren, Dinas Kesehatan mengawasi SMAN 4 Karawang. Menurut laporan petugas kesehatan setempat, kata Uus, ada 150 siswa yang sakit flu massal. Mereka telah diliburkan. “Tapi kami belum berani meliburkan sekolah itu,” kata dia.

Dari gejalanya, para siswa mengalami flu tingkat ringan dan sedang. “Tidak ada yang berat disertai komplikasi,” kata Uus. Hari ini, petugas kesehatan telah mengambil contoh apus hidung dan tenggorokan dari sejumlah siswa.

Sejauh ini, kata Uus, di empat lokasi itu belum ada satu pun yang dinyatakan positif flu babi. Sampai kemarin, di Jawa Barat tercatat sedikitnya ada 40 orang yang dinyatakan positif flu babi.
Sementara itu, persediaan alat pemeriksa apus hidung dan tenggorokan pasien flu di Jawa Barat kian menipis. Alat berupa tabung kecil berisi cairan kimia itu dibutuhkan untuk menentukan apakah pasien terkena flu babi atau tidak. “Stoknya minim,” jelas Uus.

Menurut dia, pihaknya sudah meminta penambahan alat ke Departemen Kesehatan. “Tapi Depkes juga keteteran karena jumlahnya terbatas,” ujarnya. Setiap daerah di Indonesia kini banyak yang meminta penambahan alat pemeriksa itu.

Akibatnya, Dinas Kesehatan hanya bisa mengambil contoh dari beberapa pasien flu yang dicurigai mengidap virus tipe A H1N1 di berbagai daerah. Dalam satu kelompok orang yang dicurigai mengidap flu babi, katanya, petugas hanya mengambil 2-5 sampel sesuai ketersediaan alat.

Jawa Barat, katanya, sangat membutuhkan penambahan alat itu. Dia mengaku belum tahu jumlah alat yang dibutuhkan dan yang tersisa karena masih dihitung petugas lain. “Kami khawatir flu babi ke depannya akan booming,” katanya. (tm)

Jalan Jenderal Sudirman Diwarnai kemacetan


SELALU MACET: Setiap jam pulang sekolah, ruas Jalan Jenderal Sudirman diwarnai kemacetan. Seperti dalam foto, kondisi macet tak jarang membuat kendaraan mengantri hingga ratusan meter. Sementara para petugas pengatur lalulintas tak dapat berbuat banyak. (rif)

Dua Begal Motor di Kecamatan Jatiluhur Dicokok Petugas

PURWAKARTA, RAKA - Dua dari empat pelaku pencurian dengan kekerasan (curas) sepeda motor milik tukang bakso di bawah jembatan KA Cijenggot, Jl Raya Cisalada Kecamatan Jatiluhur yang terjadi 5 Mei 2009 lalu, Jumat (31/7) kemarin, dibekuk petugas Reskrim Polsek Jatiluhur.

Penangkapan terhadap pelaku ini dilakukan dirumahnya masing masing di Pemalang dan Tegal, Jateng. Berdasarkan keterangan yang berhasil dihimpun RAKA, saat dilakukan penangkapan, para pelaku tak berkutik ketika polisi menyergap keduanya di rumah mereka masing-masing. Bahkan, kedua pelaku masing-masing yakni Kador (38), warga Tegal dan Taufik (18), warga Pemalang, Jateng itu, diketahui masih sesama tukang bakso. Keduanya pun langsung digiring dan dijebloskan ke sel Mapolsek Jatiluhur.

Wakapolsek Jatiluhur Iptu Pol Suparlan dihubungi RAKA, Jumat (31/7) siang, membenarkan penangkapan kepada dua pelaku. Menurutnya, kedua pelaku ini pun sebelumnya melakukan curanmor disertai penganiayaan terhadap korban Sumarto (38), warga Tegal yang bermukim di Ciganea, Jatiluhur. "Kawanan ini telah lama kita buru dan baru semalam berhasil ditangkap di rumahnya di Pemalang dan Tegal," ungkapnya.

Disebutkan Wakapolsek, kejadian pencurian dengan kekerasan ini terjadi pada 5 Mei 2009 lalu di bawah jembatan rel KA Cijenggot, Desa Cisalada. Saat itu, pelaku Taufik yang sudah lama mengenal korban berkunjung ke rumah korban Sumanto di Ciganea.

Tak lama berkunjung, Taufik pamitan untuk pulang dan meminta diantar ke rumahnya. Karena sudah kenal dan merasa sekampung, Sumarto mengiyakan lalu mengeluarkan motor Honda Grand No Pol T 6369 AD dan mengantarkan Taufik pulang.

Di tengah jalan, tepat di bawah jembatan Rel KA Cijanggot, korban dicegat 3 pelaku yang juga sudah dikenalnya. Tak menaruh curiga, korban berhenti dan menepikan motornya. Belum juga memarkirkan motornya, tiba-tiba 3 kawannya tersebut menyerang dan memukuli korban beramai-ramai hingga korban jatuh tersungkur tak sadarkan diri. "Mereka mengiranya korban sudah mati lalu meninggalkan di pinggir jalan dan membawa kabur motor milik korban," terang Suparlan.

Korban sendiri ditemukan pengguna jalan yang melintas dan melarikannya ke Klinik Anisa yang berada di Desa Bunder, Jatiluhur. Esok harinya, korban siuman dan baru sadar telah dirampok 4 temannya. Kemudian, melapor ke petugas Polsek Jatiluhur.

Menurut Suparlan, kedua pelaku Kador dan Taufik kini telah meringkuk di sel Polsek Jatiluhur. Polisi menjerat kedua pelaku dengan pasal 365 tentang curas dengan ancaman hukuman diatas 5 tahun penjara. "Dua pelaku lainnya Sae (36) dan Am (27), buron dan kini masih dalam pemburuan," pungkasnya. (ton)

PKS Purwakarta Ikut റെസ്, Atas Putusan Mahkamah Agung

PURWAKARTA, RAKA - Putusan Mahkamah Agung (MA) yang menerbitkan pembatalan peraturan KPU terkait perhitungan suara kursi DPR RI, DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten/Kota, bukan hanya membuat resah para anggota DPRD baru.

Sejumlah fungsionaris Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Purwakarta pun turut bereaksi akan keputusan tersebut dan menganggap keputusan ini sama dengan mengabaikan suara rakyat.

Ketua Mejelis Pertimbangan Daerah (MPD) PKS Purwakata Thoha Maksun, Jumat (31/7), mengatakan, dengan terbitnya keputusan Mahkamah Agung (MA) itu berarti aspirasi masyarakat yang telah memilih para wakilnya untuk duduk di DPRD menjadi sia-sia.

Alasannya, keputusan itu sudah tidak mengindahkan suara terbanyak dari pilihan masyarakat itu sendiri.
"Apa namanya kalau bukan sia-sia. Pemerintah mengumandangkan pesta pemilu legislatif dipilih langsung oleh rakyat. Kalau begini jadinya, suara rakyat jadi diabaikan. Semisal, caleg terpilih yang meraih suara dari rakyat banyak tapi bisa kalah oleh caleg yang hanya mengantongi suara minimum," ungkap Thoha.

Menurutnya, pemberlakukan putusan MA ini pun berpotensi besar akan memunculkan gejolak di daerah. Sebab bagaimana pun secara otomatis KPUD akan kembali mereposisi susunan 45 caleg DPRD Purwakarta terpilih yang akan berpijak terhadap putusan MA. "Tidak perlu dibayangkan lagi, yang jelas keputusan MA itu telah membuat resah para caleg terpilih.

Sebab bisa saja yang sebelumnya telah ditetapkan terpilih kemudian harus dianulir. Ibarat permainan bola, mendekati injury time wasit mengganjar kartu dan menghadiahi penalty hingga akhirnya kalah," paparnya.

Akan tetapi, atas masalah ini pihaknya mengaku telah mendapatkan mandat serta adanya intruksi DPP PKS untuk meminta seluruh jajaran pimpinan khususnya di daerah agar bersikap tenang menyikapi putusan MA karena persoalan tersebut tengah diurus oleh DPP PKS.

Dia mengkalkulasi, raihan kursi PKS di Purwakarta tetap stabil meraih 2 kursi dan tidak terpengaruh oleh putusan MA. Tapi, berdasarkan prediksi perhitungan berpijak putusan MA, Golkar mendongkrak raihan suara kursi dari 11 menjadi 15, disusul Demokrat dari 8 menjadi 11 kursi.

PDIP turun dari 5 menjadi 4 kursi. Gerinda dan Hanura masing masing 2 turun menjadi 1 kursi. "PKB alami anjlok drastis, dari 4 kursi menjadi 1 kursi. Nah seperti ini gimana mengantisipasinya. Apa mereka yang dieliminasi ini akan terima?" tandasnya.

Dihubungi terpisah, Kabag Hubungan Antar Lembaga (Hutarga) Humas dan Protokoler Setwan DPRD Purwakarta Hj Enen Gantina Eliswara menyatakan, hingga kini pelaksanaan pelantikan anggota DPRD baru belum bisa dipastikan. Sebab penetapan agenda, serta turunnya SK atas pelantikan dari Pemrop Jabar pun belum diterimanya. "Hingga kini belum ada kepastian. Sebab, agenda pelantikan ini pun belum sempat ada pembahasan," katanya.

Saat disinggung adanya keputusan MA yang bisa saja merubah formasi 45 caleg yang sebelumnya dinyatakan terpilih, ia yakin keputusan MA tersebut tidak akan merubah ketetapan terpilihnya 45 anggota baru itu.

Akan tetapi, kata dia, jika nantinya putusan MA juga berlaku untuk daerah, berarti lembaganya kembali melakukan pengukuran jas baju. "Tapi itu tidak begitu prinsip. Tugas kami hanya menyiapkan agenda untuk pelantikan saja. Siapapun mereka yang akan duduk di gedung ini, kami akan layani," jelasnya. (ton)

Pintu Air di Blok Lampes, Desa Patimban

RUSAK LAGI: Belum genap mencapai dua tahun, bangunan pintu air di Blok Lampes, Desa Patimban, Kecamatan Pusakanagara, sudah rusak lagi. Akibatnya, pintu pembuang yang diharapkan dapat meminimalisir banjir tidak lagi berfungsi. Petani tambak yang menggarap di sekitar itu meminta Pemkab Subang segera merehab kembali bangunan tersebut. (pir)

Saatnya PPL di Dusun/Desa Mandalawangi Turun ke Lapangan


SUBANG, RAKA
– Masih adanya petani yang gagal dalam mengolah lahan sawahnya, dinilai akibat petani yang bersangkutan tidak mendapatkan penyuluhan dari petugas PPL.

Hal ini juga yang dirasakan para petani di Dusun/Desa Mandalawangi. Mereka mengeluhkan kinerja PPL yang terkesan tidak mau turun ke lapangan untuk memberikan metode cara mengolah sawah yang baik, cara memilih benih padi yang baik, cara tanam, cara perawatan, penggunaan pupuk dan penggunaan obat racun serangga yang selalu menyerang tanaman padinya.

"Jangankan memberikan penyuluhan, petugas PPL yang ditugaskan di desa ini saja saya tidak tahu, bahkan saya dapat bertani dengan baik atas bimbingan pemilik sawah," ucap salah seorang petani Mandalawangi, Erwe.

Hal senada diungkapkan anggota legislatif terpilih, Mimin Hermawan. Dia menilai, tidak adanya penyuluh yang masuk ke wilayahnya menjadikan tanda tanya petani. "Sudah saatnya guna meningkatkan produksi padi, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Kabupaten Subang untuk berpihak dan mementingkan kebutuhan petani dalam memproduksi padi," ucap Mimin saat ditemui RAKA di kediamannya.

Menurut Mimin, peningkatan dan penurunan hasil produksi pertanian tergantung baik dan buruknya kinerja PPL. Bahkan menurutnya, PPL di desanya terkesan tidak mau datang ke wilayahnya. Kalaupun datang, katanya, hanya pada saat ada sejumlah promosi yang ditawarkan penjual produk pestisida, pupuk jenis baru dan kebutuhan produksi petani lainnya yang disodorkan kepada petani melalui kios.

"Apabila PPL datang ke daerah kerjanya hanya untuk mempromosikan sejumlah produk kebutuhan petani. Kapan dia akan kerja optimal untuk petani dan hal tersebut terkesan PPL hanya mementingkan diri sendiri, sementara nasib petani dibiarkannya," ucap Mimin. (pir)

Tawuran di Desa Tambakjat iBerakhir Perdamaian


SUBANG, RAKA – Setelah terjadi insiden pembacokan, Selasa (27/7) lalu, dua perwakilan dari Kampung Karokrok, Desa Jatiragas Hilir dan Kampung Tegalkoneng, Desa Tambakjati, disaksikan oleh kades kedua desa melakukan musyawarah perdamaian, Jum'at (31/7), di aula Kantor Kecamatan patokbeusi.

Perdamaian tersebut dihadiri Danramil 0507 Pabuaran Kapt Inf M Hermawan, Kapolsek Patokbeusi AKP Udi Sahudi dan Camat Patokbeusi Dikdik Solihin. Dari hasil musyawarah tersebut, kedua kubu masyarakat dari dua desa itu bersepakat untuk saling menjaga keamanan kampung di desanya masing-masing untuk tidak terulang lagi kejadian yang sama.

Mereka juga bersepakat apabila keduanya melakukan perbuatan yang serupa,  persoalan itu akan ditangani oleh  pihak berwajib. Sedangkan dua rumah yang sempat dirusak akan diperbaiki oleh masing-masing desa akan dibantu oleh pihak kecamatan.

Sementara itu, mengenai sejumlah warga yang mengakibatkan rumah warga rusak yang dipicu oleh bentrokan kedua kubu  warga sepakat akan melakukan rehabilitasi terhadap pelaku penganiayaan dengan sesegera mungkin untuk ditindaklanjuti.

Kapolres Subang AKBP Drs Sugiyono SH melalui Kapolsek Patokbeusi AKP Udi Sahudi didampingi Kanit Reskrim Aiptu Rasam mengatakan, diadakannya musyarawarah sebagai dampak dari tragedi pembacokan kepada Beni (28), warga Kampung Tegalkoneng, Desa Tambakjati, Kecamatan patokbeusi. Kejadiannya, pada saat itu, Beni beserta istrinya akan mengunjungi rumah saudaranya yang sedang mengadakan pesta hajatan di Kampung Karokrok, Desa Jatiragas Hilir, Selasa (27/7) lalu.

Namun, tiba-tiba ada seseorang membacok bahu sebelah kiri Beni. Akibat insiden tersebut, korban menderita luka bacok dan sempat dilarikan ke Puskesmas Patokbeusi untuk mendapatkan perawatan dan menurut petugas puskesmas korban bahu kirinya mendapat 15 jahitan.

Singkatnya, jelas Kapolsek, berawal dari insiden tersebut terjadilan serang menyerang antara warga dua kampung yang diduga oleh warga Karokrok. Namun selanjutnya diadakan perdamaian. "Sekitar pada pukul 22.00 wib,  Rabu (28/7) malam, sejumlah pemuda Kampung Karokrok melakukan penyerangan ke Kampung Rawakepuh Desa Tambakjati. Akibat serangan tersebut, dua buah rumah yaitu milik Toyib dan Agus kaca rumahnya pecah dilempari pemuda," jelas Kapolsek.

Sementara itu, sejumlah pelaku pembacokan, pelaku penyerangan dan sejumlah saksi sedang diproses guna dimaintai keterangannya. (pir)

Pesawahan Patimban Masih Kering, Air Belum Digelontorkan


SUBANG, RAKA
– Camat Pusakajaya Dra Ela Nurlela MSi meminta agar pasokan air untuk pesawahan yang ada di Desa Patimban, serta desa lain yang ada di wilayahnya ditambah.

Hal tersebut terungkap saat Ela mengunjungi area pertanian di Desa Patimban, Jum'at (31/7), yang hingga saat ini lahan sawah yang ada di daerah itu belum mendapatkan air. Camat yang saat itu didampingi Kades Patimban M Soleh, selanjutnya camat merencanakan memantau pintu pembagi air di wilayah Bugis. Pasalnya, hari Sabtu malam ini akan dilakukan penggelontoran air ke wilayah pertanian yang ada di Desa Patimban yang masih kering kerontang.

Ela yang juga didampingi sejumlah kades yang ada di wilayah itu mengaku, pihaknya akan mendatangi pintu pembagi air BTT Bugis untuk meminta tambahan pasokan air yang semula pasokan air ke wilayahnya hanya 6 kubik per hari, namun diminta ditambah pasokannya menjadi 7 atau 8 kubik per hari, selama jadual pasokan air kepesawahan Desa Patimban. "Saya harus bisa mendapatkan tambahan volume air kepada pihak Perum Jasa Tirta yang ada di BTT Bugis, agar kebutuhan air bagi petani yang ada di Desa Patimban dapat tercukupi," ucapnya.

Seperti diketahui, sejak terjadinya perebutan air pada pekan lalu yang hampir terjadi baku hantam antar dua kubu petani, sampai berita ini diturunkan, petani yang ada di Desa Patimban belum mendapatkan jatah air guna memenuhi kebutuhan pengolahan sawahnya.

Kades Patimban M Soleh mengatakan bahwa sawah yang ada di Desa Patimban seluas 303 hektar hingga saat ini belum memperoleh jatah air, sehingga petani yang menggarap di sejumlah area pesawahan belum dapat menggarap lahannya.
Soleh pun menyesalkan keterlambatan penyaluran air tersebut lantaran hinga kini ratusan petani di desanya terlambat untuk melakukan pengolahan sawah. "Jangankan untuk penanaman benih padi, seratus persen petani di sini belum dapat mengolah lahan sawahnya lantaran belum adanya air untuk mengairi sawah," ucapnya.

Dia juga menambahkan, kini dirinya mendapatkan sorotan buruk dari petani lantaran hingga kini air belum digelonntorkan ke desanya. Meski begitu, dirinya mengaku telah siap menanggungnya karena apapun yang dilontarkan petani akibat pasokan air untuk kebutuhan mengairi sawah belum juga ada, sementara dirinya tidak dapat berkata apa-apa.

"Mudah-mudahan saja hari ini pasokan air akan dapat sampai ke pesawahan yang ada di desa ini. Adapun pasokan tersebut tidak sampai juga kepesawahan di sini saya akan pasrah. Tapi mudah-mudahan perjuangan saya hari ini dengan camat akan berhasil," ucapnya. (pir)

Rumah Warga di Dusun Cariu, Desa Ciberes, Kecamatan Patokbeusi Terbakar, 2 Motor Ludes


SUBANG, RAKA
– Akibat si jago merah mengamuk, dua rumah warga di Dusun Cariu, Desa Ciberes, Kecamatan Patokbeusi, Kamis (30/7), hangus terbakar. Sementara dua sepeda motor di dalamnya ikut ludes.

Meskipun peristiwa yang terjadi pada pukul 23.30 wib tidak menelan korban jiwa, akan tetapi akibat kebakaran dua rumah milik Sudin (50) dan Warji (80), kenadaraan roda dua milik kedua korban ludes dilalap sijago merah.

Menurut informasi dari sejumlah saksi mata kebakaran tersebut, api berasal dari kamar rumah milik Sudin (50). Diduga ada konsleting listrik arus pendek, karena hembusan angin yang menerpa rumah Sudin yang rumahnya berdempetan ahirnya merembet rumah tetangganya milik Itam alias Warji (80).

Atas kesigapan warga sekitarnya yang langsung mencari sejumlah alat penampung air berusaha memadamkan api, meskipun bantuan warga dapat selain berhasil memadamkan api, akan tetapi dua sepeda motor jenis Honda Blade dan Vespa tidak berhasil diselamatkan. Akibat kejadian kebakaran dua rumah tersebut menelan kerugian sekitar Rp 100 juta lebih.

Kapolres Subang AKBP Drs Sugiyono SH melalui Kapolsek Patokbeusi AKP Udi Sahudi didampingi Kanit Reskrim Aiptu Rasam saat ditemui di ruang kerjanya, Jum'at (31/7), membenarkan kejadian itu. Menurutnya, api berhasil dipadamkan berkat bantuan warga. "Karena untuk mendatangkan mobil pemadam kebakaran dari Subang terlalu jauh, masyarakat di sana yang masih besar rasa sosialnya, akhirnya api dapat dipadamkan," ucapnya. (pir)

Anggaran Pemkab Subang Terbatas, Penerangan Jalan Umum Telantar


Meledaknya bom di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton, Jakarta mungkin tidak ada kaitannya dengan penerangan jalan umum (PJU) yang ada di tengah Kota Subang. Namun bagi pihak keamanan yang sedang memburu dan memeriksa berbagai kendaraan yang dicurigai teroris atau pelaku kejahatan sangatlah diperlukan.

Demikian pula pengguna jalan jangan sampai kondisi jalanan umum apalagi di seputar kota menjadi gelap menyeramkan. Jika pemandangan ini sering terlihat di wilayah Kabupaten Subang, bukan berarti ingin menjatuhkan lembaga atau dinas yang ada. Apalagi harus menyudutkan perorangan, tetapi alangkah baiknya kondisi PJU harus seterang dan selancar pemungutan retribusinya.

Coba saja tengok di seputar kota Subang sudah banyak lampu PJU yang mati enggan hidup pun tak mau. Termasuk di daerah perkebunan teh, tepatnya begitu turun dari batas wilayah Bandung Barat, Tangkuban Perahu menuju Subang yang semula terang benderang malah sudah banyak yang gelap gulita. Belum lagi di pelosok pedesaan, perumahan dan jalur jalan pesisir pantai utara (Pantura) yang merupakan jalur tengkorak karena sering terjadi kecelakaan.

Kapolres Subang AKBP Sugiyono yang dimintai komentarnya, Jum'at (31/7), mengatakan, kondisi PJU di seputar kota memang kerap kurang terpelihara karena kadang nyala dan mati sehingga dilihat dari kacamata keamanan akan menimbulkan kerawanan. "Saat kita melakukan operasi pekat di seputar Wisma Karya Subang harus siap sedia senter karena pas kebetulan gelap dan kalaupun ada yang nyala kurang terang," ujarnya.

Demikian pula di jalan negara wilayah Pantura Subang yang dikenal dengan jalur 'tengkorak' karena kerawanan kecelakaan lalulintas perlu ditinjau kembali PJU dengan sumber tenaga listrik dari sinar matahari yang sudah terpasang di tengah pembatas jalan. Sebab, lebar jalan ditambah arus kendaraan yang cukup padat tidak sebanding dengan terangnya PJU.

"Apalagi sekarang kita dalam kondisi siaga I akibat adanya peledakan bom di Jakarta, dan tidak lama lagi pun digelar operasi ketupat lodaya. Jika PJU terpasang di sepanjang jalan dan sudut jalan perkampungan, sangat membantu tidak saja bagi pengguna jalan, tetapi juga masyarakat lingkungannya," tambah Kapolres.

Bupati Subang Eep Hidayat sendiri tampak memberikan perhatian khusus dalam persoalan PJU ini. Buktinya, sejak tahun anggaran 2008 melakukan terobosan dengan memberikan kepercayaan kepada kepala kelurahan dan desa untuk menentukan titik dan pemasangannya. Sebab, anggaran untuk PJU telah diberikan kepada desa/kelurahan yang disatukan dalam bantuan keuangan kepada pemerintahan desa dan kelurahan (BKUD/K) masing-masing sebesar Rp 3,5 juta. Walaupun mungkin hanya cukup untuk 1 tiang, namun setahun bisa berdiri 253 PJU baru.

Dengan berdirinya PJU baru di pedesaan maupun kelurahan, tentu saja diharapkan akan cepat mendorong terwujudnya kemandirian desa/kelurahan berbasis gotong royong. Hanya saja, belakangan muncul protes warga akibat permasalahan PJU sering padam karena kurang terpelihara. Sementara PLN sendiri angkat tangan dengan munculnya berbagai kerusakan atau gangguan PJU.

"Sudah sejak lama kita tidak menangani persoalan PJU, walaupun cukup banyak masyarakat yang menyampaikan keluhannya kepada kita, "kata Manajer Unit Pelayanan dan Jaringan (UPJ) PT PLN Subang Nurachim Basri ketika ditemui wartawan di ruang kerjanya.

Menurut Nurahim, Jumlah PJU yang legal di Kabupaten Subang mencapai 2.200 buah, meskipun PJU itu tidak mungkin dilepaskan dari pasokan aliran listrik, tambahnya, tetapi PLN bukanlah lembaga yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab untuk mengelola PJU.

"Di Propinsi Jawa Barat dan Banten, pengelolaan PJU menjadi wewenang dan tanggung jawab pemerintah daerah. Kewenangan dan tanggung jawab kami hanya dalam hal penyediaan aliran listrik saja, terkecuali bila diberi kepercayaan untuk membantu memasangnya lain persoalan," tambahnya.

Sebab, menurut Nurahim, dalam pemeliharaan jaringan dan penertiban pemasangan PJU liar, PLN sering menemukan PJU yang padam karena rusak dan langsung berkoordinasi dengan dinas terkait.

"Kita maklumi bila masih ada masyarakat yang meminta pemasangan dan pengaduan persoalan PJU ke PLN, namun setiap permintaan PJU diajukan kembali lembaga pengelolaan PJU di Pemkab Subang, walaupun penarikan pajak penerangan jalan umum (PPJU) dikenakan kepada pelanggan PLN sebagai salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). PPJU yang kita tarik langsung disetor ke kas daerah dan baru kemudian kita tagih untuk penggunaan PJU-nya," jelasnya. (eko)

Pengurus Kwaran Dawuan Dikukuhkan


SUBANG, RAKA - Kepengurusan Kwartir Ranting (Kwaran) Pramuka Kecamatan Dawuan yang merupakan kecamatan pemekaran dari Kalijati, Jum'at (31/7), dikukuhkan. Secara simbolis Waka Kwarcab Pramuka Kabupaten Subang Drs Idrus Gunawan MGTS melantik Ketua Majelis Pembimbing Ranting (Mabiran) Drs Tatang Supriyatna dan Ketua Kwaran Kecamatan Dawuan Misbah SAK SPd MG.

Pelantikan dan pengkuhan kepengurusan periode 2009-2012 dipusatkan di lapangan olahraga SMPN 2 Dawuan, dihadiri oleh Unsur Muspika, pengurus Mabiran dan Kwaran Kecamatan Dawuan serta para penggalang dan unsur pengurus Dewan Kerja Ranting (DKR) se-Kecamatan Dawuan. "Mungkin ini merupakan yang pertama pelantikan diadakan di lapangan, dengan tujuan agar lebih khidmat dan bermakna," ujar Tatang Supriyatna yang juga Camat Dawuan.

Sebagai Ketua Mabiran Tatang berjanji, dirinya akan berusaha menyempatkan waktu untuk kemajuan kegiatan Pramuka. Sebab, menurut Tatang, selain mengandung unsur pendidikan juga kegiatan Pramuka yang sering berisi petualangan akan sangat bermanfaat bagi perkembangan dan pengetahuan anak didik. "Di wilayah kami memang belum ada sekolah setingkat menengah atas, tetapi untuk lancarnya kesekretariatan Kwaran telah direkrut penegak sebagai pengurus DKR," tambahnya.

Sementara Drs Idrus Gunawan MGTS yang mewakili Ketua Kwarcab Pramuka Kabupaten Subang berharap, kepengurusan yang baru dilantik tersebut dapat segera menyesuaikan dan mempersiapkan diri karena berbagai kegiatan sudah di depan mata. "Terutama Gema Pramuka dan HUT Pramuka ke-48. Sebenarnya bagi kakak semua kegiatan merupakan hal yang rutin, tetapi jangan sampai pelantikan dan pengukuhan ini hanya merupakan kegiatan seremonial belaka," harapnya.

Idrus juga mengingatkan kepada seluruh pendidik, kegiatan Pramuka yang sudah dimasukkan dalam ekstra kurikuler (eskul) sebenarnya cukup membantu perkembangan kepramukaan. "Namun dalam kenyataannya seringkali terlupakan oleh pembina di setiap gugus depan untuk mengadakan pelatihan rutin terhadap anak didik. Pramuka ini kan bukan organisasi kepemudaan, tetapi organisasi pendidikan," tegas Indrus. (eko)

NumberOfComments

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 
 
 
 
Copyright © Subang Raya
Design by Eko Subang