Rabu, 22 Juli 2009

Kober Dibongkar Habis

DIBONGKAR HABIS: Sejumlah petugas Pol PP Karawang yang dikawal aparat Kepolisian dari Polres dan Polsek setempat, unsur TNI, serta CPM terus meratakan bangunan liar di Kobak Biru, Telukjambe Barat yang selama ini dianggap sebagai tempat maksiat.

TELUKJAMBE, RAKA – Sesuai rencana, seluruh bangunan liar di Kobak Biru atau dikenal dengan sebutan Kober di wilayah Kecamatan Telukjambe Barat yang selama ini dianggap sebagai tempat maksiat, akhirnya jadi dibongkar paksa oleh Satuan Polisi Pamong Praja, Selasa (21/7) pagi.

Dengan dikawal aparat Kepolisian dari Polres dan Polsek setempat, unsur TNI, serta CPM, saat petugas datang ke lokasi sempat dihadang ranjau berbentuk pecahan botol minuman yang ditabur di jalan yang sudah dicor. Akibatnya ada kendaraan milik petugas tertusuk ranjau hingga ban kendaraannya kempes.

Akhirnya, semua pecahan botol tersebut dienyahkan dengan semprotan air dari mobil unit pemadam kebakaran yang sengaja turut diterjunkan pada operasi penertiban. Bukan hanya sebatas itu, beberapa orang pemilik bangunan liar ada pula yang sempat melampiaskan kekesalannya dengan cara membakar ban bekas.

Kendati tidak terlalu mengganggu jalannya pembongkaran, tapi terlihat mimik muka beberapa orang yang dimungkinkan sebagai pemilik atau preman di lingkungan itu terlhat sering hilir mudik. Bahkan ada pula yang hanya sekedar berdiri sambil menampakan wajah tidak bersahabat sambil saling berbisik di antara sesama rekannya. Mungkin karena mau melawan tidak sanggup menghadapi aparat berseragam, yang terlihat hanyalah sekedar diam membisu.

"Sebenarnya tadi pagi saat kami datang ke lokasi, beberapa orang di antaranya sempat ada yang protes keberatan. Namun setelah diberikan pemahaman, ternyata mereka menyadari itu. Sebenarnya kan sebelum penertiban dilakukan, Satpol PP terlebih dulu memberikan surat peringatan agar mereka membongkar sendiri gubuk miliknya sebelum dibongkar paksa. Kalau ternyata mereka tidak menggubris, terpaksa kita lakukan tindakan tegas," ujar Kepala Satpol PP, H.D Alamsyah ketika ditemui di lokasi penertiban.

Diakui dia, memang di antara mereka yang telah menerima surat peringatan, separuhnya telah mentaati aturan dengan membongkar sendiri gubuk-gubuk liar miliknya hingga setengah dari seluruh jumlah yang ada. Yakni, dari 84 gubuk liar yang berdiri di sepanjang tanggul irigasi hingga perbatasan dengan Kabupaten Bekasi, sampai aksi pembongkaran dilakukan, kemarin, hanya 42 yang tetap dibiarkan berdiri.

"Hari ini (kemarin -red) terpaksa kita bongkar seluruhnya. Hanya bagi warung-warung biasa, kita berikan toleransi mereka untuk tetap membuka warungnya. Hanya tempatnya dialihkan ke dekat jalan raya menuju Pangkalan. Khusus bagi warung remang-remang, seluruhnya tanpa terkecuali kita bongkar habis.

Selanjutnya kita sudah koordinasi dengan pihak Perum Jasa Tirta II sebagai pemilik tanggul irigasi agar kedepannya seluruh jalur ini dihijaukan, ditanami pepohonan keras. Hingga nantinya tidak lagi dijadikan gubuk-gubuk liar, apalagi untuk tempat maksiat," tandas Alamsyah.

Sasaran berikut yang telah dijadwalkan Satpol PP dalam menertibkan tempat sejenis, lanjut Alamsyah, pihaknya telah siap pula membongkar sarang prostitusi di Cikelor Kecamatan Rengasdengklok, Minggu (26/7) depan. Disaat bersamaan juga pembongkaran dilakukan di Pos Banjir Desa Kertasari pada wilayah kecamatan yang sama. Target lain, kata dia lagi, adalah di Kecamatan Purwasari dan Klari, 12 Agustus mendatang.

"Di Cikelor maupun Pos Banjir masih ada 13 gubuk liar yang selama ini dijadikan sebagai tempat maksiat. Kalau di Purwasari dan Klari, petugas kami masih sedang melakukan pengecekan untuk mengetahui berapa jumlah bangunan liar di sana. Selain itu, kita juga tetap meneruskan penertiban lapak-lapak liar pedagang kaki lima.

Termasuk yang berada di Badami. Surat peringatan telah kita kirimkan ke pemiliknya untuk dibongkar sendiri. Paling cepat, 21 Juli sekarang. Jika lebih dari itu, terpaksa kita bongkar," pungkas Alamsyah. (vins)

Caleg Terpilih Sudah Minta 'Ini-Itu', Padahal Pelantikan Baru Digelar 5 Agustus


KARAWANG, RAKA – Selain isu politik yang bakal menghangat terkait pemilihan ketua DPRD mendatang, para calon anggota legislatif terpilih hasil Pemilu 2009 ini juga belum apa-apa dikabarkan sudah berani meminta berbagai fasilitas. Dari mulai pakaian seragam saat pelantikan 5 Agustus nanti, hingga mobil dinas yang akan mereka gunakan selama menjadi anggota DPRD.

Menurut informasi yang diperoleh RAKA dari salah seorang caleg terplih yang keberatan namanya ditulis, menyebutkan, semua permintaan itu dikemukakan rekan-rekannya saat diundang Setwan di gedung utama DPRD, Rabu (15/7) sore, pekan kemarin. "Dalam pertemuan tersebut tidak sedikit yang mempertanyakan mobil dinas apa yang bisa mereka pakai? Apakah mobil anggota dewan lama? Atau dikasih mobil baru?" ujarnya.

Bahkan pada saat acara pelantikan digelar melalui rapat paripurna istimewa, menurutnya, ada pula yang mengusulkan agar pakaian mereka diseragamkan bersama seluruh istri-istrinya. Sehingga bisa dibedakan mana keluarga mereka sebagai anggota dan tamu undangan lainnya. Kendati usulan-usulan semacam itu disampaikan sambil lelucon, namun sumber RAKA memandang, forum pertemuan tersebut bisa jadi serius.

"Saya kira teman-teman mungkin meminta semua fasilitas itu tidak terlalu serius. Artinya bisa jadi untung-untungan. Ditanggapi pihak Setwan nuhun (terima kasih -red), tidak juga, no problem. Hanya saya sendiri mendengarnya cukup rikuh, malu, sekaligus memang kurang pantas untuk kondisi sekarang. Apalagi kami orang baru yang belum tahu apa-apa. Bekerja juga belum. Kalau saya sih lebih sepakat sederhana. Pelantikan nanti pun mestinya tidak usah terlalu mewah," tuturnya.

Seperti rencana yang telah disiapkan Setwan, acara pengambilan sumpah janji sebagai anggota DPRD periode 2009-2014 yang dijadwalkan berlangsung 5 Agustus mendatang, ke-50 orang caleg terpilih itu malam sebelum pelantikan bakal masuk karantina atau dijamu sambil menginap bersama istri atau suaminya di hotel Karawang Indah. Setiap orang disiapkan satu kamar eksklusif. Berarti malam tanggal 4 Agustus itu pihak Setwan harus menyewa kamar hotel tersebut hingga 50 kamar.

Menurut keterangan yang sebelumnya dikemukakan Sekwan Dadang Rustandar, rencana karantina bagi semua caleg terpilih itu dengan alasan khawatir mereka kesiangan ketika harus datang ke gedung utama DPRD. Karena di antara mereka ada yang rumahnya jauh dari pusat kota Karawang. Sedangkan jadwal rapat paripurna istimewa tersebut diharapkan berjalan tepat waktu, yakni dimulai pukul 09.00 Wib.

Hebatnya lagi, selama dalam karantina, Dadang mengatakan, bahwa aparat pengamanan dari Kepolisian Resort Karawang bakal dikerahkan. Mulai dari pengamanan selama di hotel Karawang Indah hingga gedung DPRD sebagai tempat mereka dilantik. Ini artinya, sangat dimungkinkan kebutuhan anggaran yang harus dikeluarkan Setwan tidak sedikit. Luar biasa. Baru juga melangkah, para wakil rakyat Karawang sudah mulai menerima berbagai fasilitas menggiurkan di mata rakyatnya sendiri.

"Kalau alasan takut kesiangan, saya pikir kurang relevan. Sebab semua pasti meyakini, siapa pun mereka yang sekarang jadi caleg terpilih yang akan dilantik menjadi anggota DPRD secara resmi dan sah berdasarkan Undang-undang, pasti sejak malam menjelang hari H malah ada yang tidak bisa tidur. Inginnya cepat-cepat pagi. Bagaimana membayangkan dirinya disumpah sambil diberikan pin sebagai tanda resmi menjadi anggota DPRD. Saya sendiri merasakan itu. Jadi kenapa harus dikarantina segala macam sih? Sayang kalau sekedar buang-buang duit kalau memang masih bisa dihindari," tandas sumber RAKA lagi. (vins)   

Pemda Salah Rekrut Pegawai

   
KARAWANG,RAKA – Mayoritas pemerintah daerah (pemda) melakukan rekrutmen pegawai tidak sesuai dengan kebutuhan, terutama dalam upaya memperbaiki laporan keuangan pemerintah daerah (LKPD) kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Akibatnya, hingga saat ini sebagian besar LKPD diberi opini disclaimer oleh BPK. Kepala Direktorat Utama Revbangdiklat BPK, Daeng M Nazier mengatakan, mestinya pemda merekrut pegawai yang punya keahlian di bidang pengelolaan keuangan daerah. Ini penting agar keuangan daerah bisa dikelola secara transparan dan akuntabel.

"Litbang BPK sudah melakukan penelitian mengenai SDM pemerintah daerah di bidang pengelolaan keuangan. Ternyata sangat sedikit yang tahu akuntansi, dan yang ahli akuntansi sektor publik jauh lebih sedikit lagi," ujar Daeng M Nazier Selasa (21/7).
Dijelaskan Daeng, sebagian pemda menggunakan lulusan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) untuk memegang jabatan yang terkait dengan pengelolaan keuangan daerah.

Hanya saja, setelah dicek ke kampus IPDN, kurikulum di IPDN juga tidak banyak muatan mengenai ilmu akuntansi sektor publik. Kalau toh ada tenaga khusus dengan latar belakang akuntansi, kata Daeng, mereka tidak menguasai akuntansi keuangan di pemerintahan. "Saat kuliah, mereka lebih banyak belajar akutansi sektor privat atau swasta. Nah, ini masalahnya," urainya.

Daeng mengatakan, kesalahan tidak hanya dilakukan pemda tapi juga pemerintah pusat. Berdasar informasi yang didapat dari sejumlah kepala daerah, sebenarnya beberapa pemda juga sudah mengajukan usulan pegawai yang punya keahlian keuangan. Hanya saja, usulan itu formasinya tidak disetujui Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara.

Daeng menjelaskan, sebenarnya BPK tidak punya kewenangan dalam hal perbaikan SDM pemda. Disebutkan, sudah tiga tahun masalah ini dibicarakan dengan pemerintah, tapi tampaknya belum juga ada langkah-langkah perbaikan. "Perbaikan-perbaikan harus dipaksa, meski soal aturan itu urusan pemerintah dan DPR. Kita sudah bicara satu, dua, tiga tahun, tapi kok masih diam saja, maka kita mesti bergerak," ujar mantan Dirjen Bina Administrasi Keuangan Daerah (BAKD) Depdagri itu.

Disebutkan, Ketua BPK Anwar Nasution dan para anggotanya secara bergiliran berkeliling ke daerah untuk bertemu gubernur, bupati, dan walikota. Langkah awal untuk memaksa daerah untuk menata keuangannya, dengan cara kepala daerahnya diminta membuat surat pernyataan yang berisi komitmen memperbaiki pengelolaan keuangan.

Langkah kedua, daerah diminta membuat rencana aksi agar hasil pemeriksaan LKPD bisa baik. Hanya saja, dari hampir 500 kabupaten/kota di Indonesia, baru 275 daerah yang menyerahkan rencana aksi untuk perubahan sistem pengelolaan keuangan. Selebihnya belum menyerahkan. Ketiga, pemda juga diminta membuat sistem pembukuan keuangan yang terpadu. "Ini sesuai dengan amanat undang-undang, karena dengan adanya pembukuan akan diketahui jelas posisi keuangan kita," ucapnya.

Untuk membangun komitmen perbaikan pengeloalaan keuangan, Rabu (22/7) ini akan digelar seminar di gedung BPK. Rencananya, akan hadir empat menteri sebagai pembicara, yakni Menkeu Sri Mulyani Indrawati, Mendagri Mardiyanto, Menpan Taufiq Effendi, dan Menhan Juwono Sudarsono.

Sementara dalam seminar nasional mengenai transparansi dan akubilitas keuangan negara/daerah melalui pengembangan SDM yang akan digelar Rabu (22/7) ini, BPK direncanakan akan mengundang empat orang menteri. Keempatnya adalah Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Mardiyanto, Menteri Pertahanan (Menhan) Juwono Sudarsono, Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara (Menpan) Taufiq Effendi, dan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani.

"Di dalam acara tersebut juga akan dihadiri oleh beberapa kepala daerah," ujar Kaditama Revbang Diklat PKN BPK RI, Daeng M Nazier kepada wartawan, di kantornya, Selasa (21/7). Dia menjelaskan alasan diundangkan keempat menteri tersebut. "Dengan diundangnya Menhan kita ingin mengetahui bagaimana cara mereka menyelesaikan masalah keuangan.Kita ingin dengar pengalaman di sana, bagaimana tentara mengurus keuangan, bagaimana menyusun anggaran dan menggunakannya. Maka kita bisa menilai transaparansi dan akuntabilitasnya," jelasnya.

Mendagri akan lebih fokus memberikan penjelasan mengenai keuangan daerah. Menkeu Sri Mulyani, lanjut dia, juga didaulat untuk memberikan penjelasan mengenai sistem keuangan negara.

"Intinya, dari ketiga menteri yakni Menhan, Mendagri dan Menkeu harus dapat memberikan atau menceritakan bagaimana kiat-kiatnya dalam mengelola keuangan negara serta pengembangan SDM yang sebaiknya dilakukan saat ini," imbuhnya. Sekadar untuk diketahui, dalam masalah pengembangan SDM dan menciptakan sistem keuangan yang bersih di daerah, BPK juga telah melakukan roadshow di beberapa daerah.

"Di dalam roadshow tersebut, seluruh kepala daerah dikumpulkan di suatu tempat, dan kertua BPK beserta anggotanya memberikan sosialisasi mengenai masalah transparansi dan akubilitas keuangan negara/ daerah," paparnya. (JPNN) 

KPUD Menghemat Rp 6 M


KARAWANG, RAKA – Sampai awal pekan ini, KPUD telah menghabiskan anggaran pelaksanaan tahapan Pilpres 2009 hingga Rp 7,5 miliar. Karena tahapan masih ada, terutama untuk kebutuhan membayar honor Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan Panitia Pemungutan Suara (PPS), maka dimungkinkan anggaran yang diberikan APBN pada KPUD Karawang masih tersisa sekitar Rp 6 milar-an.

Hal tersebut dikemukakan Sekretaris KPUD, Hadis Herdiana, di kantornya, Selasa (21/7) siang. "Total anggaran yang diberikan APBN kepada kita sebesar Rp 42,1 miliar. Makanya sampai sekarang kita tidak pernah mengambil uang dari APBD di sini yang disiapkan hingga Rp 3 miliar. Bukan apa-apa. Ternyata uang APBN pun malah lebih. Nanti setelah pelaksanaan tahapan Pilpres 2009 dinyatakan selesai, baru kita kembalikan kelebihannya itu ke kas negara," ujar Hadis.

Diakui dia, penghematan ini bisa dilakukan apabila benar-benar pelaksanaan Pilpres 2009 cukup dinyatakan selesai satu kali putaran. Kalau pun indikasi satu kali putaran sudah bisa diprediksi atas hasil penghitungan suara di berbagai KPUD provinsi, namun kepastian mutlak, kata Hadis, ada di tangan KPU Pusat. Apalagi untuk pleno penetapan hasil perolehan suara ketiga pasangan capres/cawapres, Hadis menyebut, KPU baru menyelesaikannya pada 24 Juli lusa.

"Kita juga diminta untuk menunggu hasil proses Mahkamah Konstitusi bila ada tahapan Pilpres diperkarakan. Makanya saat anggota KPU, Andi Nupati, datang ke sini minta agar PPK tidak dulu dibubarkan sebelum ada putusan MK, kita akan manut pada perintah itu. Sekarang kita terus melakukan komunikasi ke pusat (KPU -red). Begitu pun soal penertiban kotak suara yang masih terus tercecer di halaman kantor, sampai kini kita masih menunggu petunjuk lebih lanjut dari KPU," ungkap Hadis.

Ada kemungkinan, menurutnya, proses pelelangan surat suara hasil Pemilu legislatif maupun Pilpres, setelah seluruh tahapan Pilpres 2009 dinyatakan selesai. Untuk sementara, terpaksa seluruh tumpukan kotak suara yang berisi surat suara dibiarkan disimpan di halaman kantor. Karena gudang yang ada, kata Hadis, tidak cukup. Itu pun surat suara hasil Pilpres dititipkan penyimpanannya di gudang BLK yang ada di Disnakertrans, Warungbambu.

"Untuk kebutuhan gudang, sekarang telah ada respon dari Pemkab. Belum lama telah ada tim dari Dinas Cipta Karya mengecek ke sini (kantor KPUD -red). Kemungkinan kalau mau dibangun berlantai dua. Di atas bangunan kantor KPUD ini. Soalnya tidak ada lahan lagi yang memungkinkan. Kecuali mengambil sedikit lahan yang dipakai bangunan Sturada FM di sebelahnya. Ya kita juga berharap tidak terlalu jauh dari kantor KPUD," ucap Hadis.

Sayangnya, ketika hal ini hendak dikonfirmasikan kepada Kepala Dinas Cipta Karya, Tatang Yudianto, yang bersangkutan mengatakan sedang sibuk mengikuti rapat. Sehingga untuk mencari kejelasan informasi terkait rencana pembangunan gudang KPUD, belum dapat digali. "Maaf pak, saya masih sedang rapat," demikian jawaban Tatang saat dihubungi via ponselnya, kemarin sore. (vins)

Residivis Tempuran Masuk Bui Empat Kali


KARAWANG,RAKA-
Hukuman penjara tampaknya belum mampu menimbulkan efek jera bagi Endang Subhana bin Oom Ramlan alias Penjol (39). Buktinya, warga Dusun Kalen Asem RT 05/03 Desa Pagadungan Kecamatan Tempuran ini diketahui masih tetap mengulangi perbuatannya meski telah mendapatkan sanksi hukum yakni dipenjara selama 1 tahun 6 bulan karena memiliki narkotika jenis ganja.

Malah sebelumnya,lelaki yang masih berstatus bujangan ini ternyata juga sudah pernah menjadi 'santri' di lapas Warungbambu selama 6 bulan di tahun 1997 dan 8 bulan pada tahun 1999 karena kasus pencurian. Sehingga, hampir dapat dipastikan, Penjol akan kembali penghuni lapas Warungbambu untuk yang keempat kalinya.

Penjol kembali ditangkap anggota reserse dari Satuan Anggota Narkotika dan Obat Terlarang (Satnarkoba) POlres Karawang Sabtu(18/7) lalu ditepi  Jalan Raya Syeh Quro tak jauh dari Pom Bensin Lamaran Kelurahan Palumbonsari, Kecamatan Karawang Timur.

Saat ditangkap, polisi langsung melakukan penggeladahan badan tetapi tidak menemukan barang bukti. Akan tetapi, setelah Penjol digiring ke rumah kontrakannya untuk keperluan penggeledahan, polisi akhirnya menemukan sebanyak 5 bungkus daun ganja atau setara dengan 4,5 ons yang disimpan di dekat kamar mandi rumah kontrakan tersebut.

Penjol menjadi sasaran pengejaran bukan tanpa alasan. Sebab, sehari sebelumnya, polisi juga sudah terlebih dahulu mengamankan Rahmat Kurniawan alias Bule alias Ile bin Karso(27) warga Dusun Krajan I RT 03/01 Desa Kalibuaya Kecamatan Telagasari, Karawang. Mantan karyawan kontrak PT Yamaha  KIIC ini ditangkap di sekitar bantaran irigasi Dusun Krajan Desa/Kecamatan Telagasari, Karawang, Jumat(17/7) sekitar pukul 18.00 WIb lalu saat akan bertransaksi dengan Fikri(belum tertangkap).

Kapolres Karawang AKBP Rudi Antariksawan,S.Ik melalui Kasatnarkobanya AKP A Margani ketika ditemui RAKA di kantornya Selasa(21/7) kemarin mengatakan, penangkapan terhadap tersangka dilakukan berdasarkan informasi yang diterima pihaknya dari masyarakat tentang adanya bisnis haram yang tengah digeluti tersangka. Pasalnya, warga tidak menginginkan anaknya menjadi korban penyalahgunaan narkotika tersebut. "Atas informasi tersebut anggota melakukan penyelidikan hingga penangkapan," ujarnya.

Saat menjalani pemeriksaan, kata Margani, tersangka Ile tanpa sungkan langsung menyebutkan nama Penjol sebagai pemasok barang haram tersebut. Ile mengaku telah beberapa kali melakukan transaksi dengan Penjol dan, terakhir kali sambung Margani, Rabu(15/7) lalu, Ile membeli 1 bungkus besar ganja kering seharga Rp 500.000. Namun, Ile baru membayarnya setengahnya dan sisanya akan dibayarkan setelah seluruh'barang' terjual.

Dijelaskan Margani, Penjol sendiri mendapatkan zat narkotika golongan I ini dari Asep di sekitar Stasiun Kereta Api (KA) Bekasi.Daun ganja yang disita dari tangan tersangka Penjol, baru sekitar 4  jam dibeli disimpan di rumah kontrakannya setelah dibeli dari Bekasi. Penjol membeli ganja tersebut sehargta Rp 300.000 per bungkusnya. "Karena membeli sebanyak 4 bungkus secara tunai, dia akhirnya mendapatkan bonus satu bungkus sedang," jelas Margani.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, residivis narkotika ini akan dijerat dengan pasal 82 ayat (1) huruf a jo pasal 78 ayat (1) huruf a Undang Undang Republik Indonesia(UURI) No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika.Ancaman hukumannya maksimal,  pidana mati, seumur hidup atau 20 tahun penjara."Khusus untuk tersangka Penjol yang sudeah berpredikat residivis, hukumannya akan bertambah sepertiga lagi dari vonnis hakim," tandas Margani. (ops)

Assegaf Bantah Dibayar


JAKARTA,RAKA-Gara-gara merilis data tentang pelaku ledakan bom di Hotel JW Marriott, Jakarta, nama Abdurrahman Assegaf menjadi perbincangan. Tapi, protes mengalir tak kalah keras dari sejumlah kelompok Islam yang ditujukan kepada ulama asli Betawi tersebut. Siapa sebenarnya Habib Abdurrahman Assegaf?

Postur tubuhnya terbilang kecil. Logat bicaranya kental dengan istilah Betawi. Cablak, ceplas-ceplos, dan berintonasi tinggi. Tapi, namanya sangat disegani di kalangan sejumlah kelompok Islam garis keras di tanah air.

Ingat kasus penyerangan markas Islam Ahmadiyah di Bogor, pembubaran kelompok Al Qiyadah Al-Islamiyah di bawah pimpinan Ahmad Musadek, atau penggerebekan komunitas Lia Eden di Jakarta? Itu adalah kasus yang melibatkan Habib Abdurrahman, pemimpin majelis Taklim Al Mustofawiah yang juga ketua umum Gerakan Umat Islam Indonesia (GUII).

''Ane kagak niat ganggu hidup orang. Tapi, kalau ganggu ajaran Islam, itu yang ane urus,'' tegas Habib Abdurrahman di teras rumahnya, Jalan Witananaharja III, Blok C, Pamulang, Tangerang (20/7).

Udara siang yang panas membuat keringat habib beranak empat itu mengucur. Sorban putih yang biasa dikenakannya pun dilepas dan dipakai untuk mengelap keringat di dahi, wajah, dan lengannya.

Di teras rumahnya terparkir empat mobil mewah. Dua di antaranya Mercedes-Benz edisi baru dan Jaguar hitam. Salah satu mobil itu memakai nomor pelat khusus, yakni B 234. ''Itu nomor kesayangan ane. Entar yang satu juga mau ane ganti nomornya. Jadi B 234 HB,'' katanya sambil menunjuk Jaguar hitam kebanggaannya.

Abdurrahman lantas membeberkan data setebal 40 halaman yang ditulis tangan dengan tinta hitam. Dia mengaku data soal identitas pelaku pengeboman di Hotel JW Marriott itu adalah hasil investigasi tim GUII. Tidak ada sumbangan atau informasi dari intelijen atau pihak lain.

''Ane punya santri yang punya keahlian khusus. Tidak benar kalau data ini dari Densus 88 atau BIN. Justru ane yang kasih mereka data,'' papar suami Syarifah Noer Eliza yang gemar rokok kretek itu.

Dia mengaku data itu dikumpulkan sejak 1999 saat gerakan Islam radikal mulai mewabah. Indikasinya berasal dari sejumlah wacana Islam yang menolak pemilu, tidak patuh pada pemeirntah, atau sejenisnya.

Gerakan itu dinilai sangat merusak citra Islam dan tak sesuai akidah Islam sebenarnya. Karena alasan itu, Abdurrahman mulai merintis organisasi berbasis pesantren dan majelis taklim tersebut. GUII didalangi 53 ulama se-Jawa. Tiga di antaranya ulama ternama di Indonesia.

Siapa saja mereka? ''Sudah, ente gak perlu tahu ulama itu. Cukup ane aja,'' jawab ulama kelahiran 10 Mei itu.
Abdurrahman juga berkali-kali membantah bahwa temuan organisasi teroris itu upaya mengadu umat Islam. Dia berdalih temuannya itu sebagai langkah penyadaran umat Islam soal bahaya laten organisasi Wahabi radikal. Jadi, mereka tidak bergabung dan mengisolasi organisasi sejenis itu.

Dia juga menolak kegiatan intelijennya disebut sebagai aksi bayaran. ''Demi Allah, ane ngomong enggak ada yang bayar ane untuk kasih data ini. Semua murni dari hati,'' tegas pengusaha batu bara dan pertambangan itu.

Semua kegiatan organisasi, aku dia, diperoleh dari dana yang sah dan halal. Sebagian besar justru dari margin bisnisnya di bidang eksplorasi batu bara. Bisnisnya itu berada di Kalimantan dan Aceh. ''Ane jual ke China atau negara lain. Hasilnya, ente bisa lihat sendiri. Ini semue hasil kerja keras. Bukan maling,'' katanya dengan mata melebar.

Terkait nama pelaku teroris yang mirip keterangan polisi, Abdurrahman memastikan itu bukti bahwa hasil temuannya benar. Polisi dan intelijen dinilainya sering terlambat bertindak atau tidak serius bekerja. ''Akibatnya, aksi teroris terus terulang,'' katanya.
Bagaimana soal kedekatan dirinya dengan Densus 88 dan BIN (Badan Intelijen Negara)? Abdurrahman tidak mau berbicara banyak. Tetapi, dia mengaku bahwa kedekatan itu dipicu oleh niat yang sama untuk memberantas terorisme. (jpnn)

Terminal Cikampek Masih Kumuh, Perbaikan Nunggu Tahun Depan

MENUNGGU REHAB:   Kondisi Terminal Cikampek masih tetap memprihatinkan. Ironisnya, hal ini telah terjadi sejak beberapa tahun silam. Rencananya terminal tersebut baru akan diperbaiki tahun depan.

Terminal Cikampek Masih Kumuh, Perbaikan Nunggu Tahun Depan

NUNGGU REHAB: Kondisi Terminal Cikampek masih tetap memprihatinkan. Ironisnya, hal ini telah terjadi sejak beberapa tahun silam. Rencananya terminal tersebut baru akan diperbaiki tahun depan.

CIKAMPEK, RAKA - Hingga kini, masyarakat masih mengeluhkan keberadaan Terminal Cikampek yang tampak kumuh dan kotor. Di sekitar terminal, banyak sampah yang berserakan. Bahkan di pelataran terminal tersebut, juga terdapat kubangan air tepat di pintu masuk terminal.
Sehingga, kesan indah dan asri tidak nampak di Terminal Cikampek. Salah seorang penumpang mobil angkutan umum, Dadan (36) tyang ditemui RAKA, Selasa (21/7) siang, di Terminal Cikampek mengatakan, keberadan terminal sangat diperlukan bagi suatu daerah. Pasalnya, dengan keberadaan terminal bisa mengatur laju lalu lintas.

Namun, menurutnya, kondisi Terminal Cikampek sudah sangat parah. Jalannya tidak rata dan tampak kotor. Hal ini, terkadang membuat penumpang enggan naik mobil di terminal tersebut dan lebih memilih di pinggir jalan raya. Dengan begitu akan menimbulkan kemacetan di jalan, karena mobil banyak yang ngetem. "Penumpang lebih nyaman naik mobil angkutan di tepi jalan raya bila dibandingkan di terminal. Karena kondisi terminal tidak nyaman dan terkesan kumuh," paparnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh salah seorang penumpang bus, Andi (46). Menurutnya, kondisi terminal tersebut sudah lama berantakan. Belum ada perbaikan yang dilakukan oleh pemerintah, sehingga terminal tersebut terkesan dibiarkan. Padahal keberadaan terminal ini, sangat bermanfaat bagi masyarakat. "Dengan adanya terminal, akses masyarakat untuk menggunakan kendaraan umum menjadi mudah. Tapi kalau melihat Terminal Cikampek, saya merasa tidak nyaman dan membuat enggan untuk naik mobil di terminal," ungkapnya.

Dia berharap, Terminal Cikampek bisa segera dilakukan renovasi. Karena kerusakan terminal tersebut sudah cukup parah. Kondisi jalannya tidak rata dan banyak lubang. Keberadaan kaki lima juga, lanjutnya, membuat kebersihan terminal kurang terawat. Banyak sampah yang dibuang ke dalam terminal dan air dari pedangan juga sering dibuang ke terminal. Sehingga banyak ditemukan genangan air. "Saya berharap Terminal Cikampek bisa segera diperbaiki. Kondisinya sudah tidak nyaman. Dengan keadaan seperti ini, fungsi terminal jadi kurang maksimal," harapnya.

Sementara itu, saat ditemui RAKA di kantornya, Plt Kepala Dishubkominfo Kabupaten Karawang H Miftah Zaini mengatakan, pada mulanya perbaikan Terminal Cikampek akan dilakukan tahun ini, bersamaan dengan perbaikan Terminal Klari dan Tanjungpura, adapun dana yang dialokasikan untuk tiga terminal tersebut sebesar Rp 2 miliar. Tapi karena pada tahun ini jalan lingkar Karawang akan dibuka, "jadi perbaikan terminal hanya difokuskan ke Terminal Tanjungpura dan Klari. Karena kedua terminal tersebut akan dijadikan tempat transit," terangnya.

Lebih lanjut Miftah menuturkan, alokasi anggaran untuk kedua terminal tersebut melebih anggaran sebelumnya, yaitu sebesar Rp 2,4 miliar. Karena tahun ini perbaikan hanya diperuntukan untuk kedua terminal tersebut, perbaikan terminal Cikampek akan dilakukan pada tahun 2010. "Sebetulnya perbaikan terminal ini merupakan kewenangan Cipata Karya, tapi kami selaku user akan mengupayakan sebelum perbaikan dilakukan, agar terminal tersebut dibenahi. Jalannya yang rusak bisa ditambal, agar kenyamanan masyarakat bisa terjaga," pungkasnya. (asy)

Macet, Petugas Diminta Atur Lalin

SEMBARANGAN: Akibat berhenti sembarangan, jalan sering macet.

PURWASARI, RAKA - Setiap sore, menjelang pulangnya karyawan PT Bukyung yang ada di Desa Tamelang, Kecamatan Purwasari, banyak angkot ngetem di depan pabrik tersebut. Sehingga sering menimbulkan kemacetan di jalur Cikampek-Karawang tersebut.

Keadaan seperti ini dikeluhkan oleh pengguna jalan lainnya. Karena laju kendaraan menjadi terhambat. Wahyu (26), pengguna jalan, kepada RAKA, Selasa (21/7), menuturkan, keberadaan angkot tersebut sering menimbulkan kemacetan lantaran angkot-angkot tersebut hampir menghabiskan badan jalan. Sehingga ruang untuk pengguna jalan yang lain menyempit.

Dengan begitu, kemacetan sering terjadi dinjalan tersebut. Antrian angkot tersebut, terkesan sembarangan dan tidak dilakukan dengan tertib. Padahal jika dilakukan dengan tertib resiko kemacetan akan sedikit diminimalisir. "Angkot terkadang bebas menghentikan kendaraannya dimana saja, sehingga jalan untuk kendaraan lain menjadi sempit dan kemacetan pun tidak bisa dihindari," tuturnya.

Dia menambahkan, setiap hari dia sering menggunakan jalan tersebut, karena jalur itu merupakan satu-satunya akses menuju rumahnya. Dan setiap hari pula, ia mengalami kemacetan di depan PT Bukyung. Dia berharap, ada petugas yang dapat mengtur angkot di depan PT tersebut, sehingga mereka bisa ngetem dengan tertib dan kendaraan lainnya menjadi tidak terganggu. "Saya tidak bisa melarang angkot ngetem di situ karena tempat ini merupakan ladang mereka. Tapi kalau bisa dilakukan dengan tertib, agar pengguna jalan lain tidak terganggu," harapnya.

Sementara itu, salah satu supir angkot, Asep (26) mengatakan, jam pulang kerja merupakan salah satu jam di mana dirinya bisa mendapatkan rupiah. Pasalnya pada jam tersebut banyak penumpang yang bisa didapat dari karyawan. Dengan begitu, setoran mobilnya pun bisa terpenuhi. Dia mengakui memang angkot yang ngetem didepan PT bisa menimbulkan kemacetan, namun dia menilai, kemacetan tersebut masih bersifat wajar. "Kemacetan tidak berlangsung lama, setelah karyawan pulang semua juga laju kendaraan berlangsung normal kembali," paparnya.

Dia melanjutkan, jika tidak mengandalkan dari karyawan, dia merasa kesulitan untuk memenuhi setoran dan kebutuhan hidupnya sehari-hari. Karena penumpang yang didapatnya dijalanan dinilainya sedikit, sehingga tidak bisa mendapatkan penghasilan yang cukup. "Penumpang rame ya ketika pagi dan sore hari, karena pada jam tersebut karyawan dan anak sekolah pada pulang. Selain dari jam tersebut penumpang sepi. Jadi mau tidak mau saya harus ngetem di sini untuk memenuhi kebutuhan saya," jelasnya. (asy)

Menangkap Sinyal Humanisme


KLARI, RAKA - Rajab, merupakan salah satu bulan yang disucikan oleh umat Islam. Pasalnya, dalam bulan tersebut ada peristiwa besar yang terjadi. Dimana pada bulan tersebut, Nabi Muhammad SAW mengadakan perjalanan spiritual yang memiliki dampak yang besar terhadap proses keberagamaan. Perjalanan itu disebut dengan Isra Mi'raj.

Pimpinan Ponpes Al Maghfiroh Agus Fudholi SPdI mengatakan, semangat Isra Mi'raj harus dapat ditangkap oleh umat Islam, terutama nilai-nilai humanisme. Dalam Isra Miraj tersebut, Rasulullah melakukan perjalanan spritual dengan naik ke langit. Dalam perjalanan tersebut, Rasulullah juga telah melihat surga dan isinya.

Namun melihat surga dalam perjalanannya tersebut, Rasulullah memutuskan untuk kembali ke dunia untuk menyelamatkan umatnya dan mendapatkan titah untuk melakuan ibadah shalat dari Allah SWT. "Hal ini merupakan pesan humanisme dari peristiwa Isra Mi'raj. Rasulullah tidak mementingkan dirinya sendiri, tapi lebih mementingkan orang lain, yaitu umatnya," tuturnya.

Padahal saat melihat surga, lanjutnya Rasulullah bisa saja tidak kembali lagi ke dunia dan tetap tinggal di surga, tapi hal tersebut tidak dilakukannya. Rasulullah malah memilih tetap kembali ke dunia untuk umatnya. Nilai-nilai humanisme ini yang harus ditangkap dan diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh umat Islam.

Tragedi bom beberapa waktu lalu di Jakarta, tidak akan terjadi jika manusia telah mengaktualisasikan nalai-nilai humanisme yang terdapat dalam Isra Mi'raj. "Kita harus merefleksikan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam setiap pesan ajaran agama Islam. Agar Islam rahmatan lil 'alamin bisa terwujud dengan sempurna dan sikap indivisualistik bisa dikikis," jelasnya.

Agus menambahkan, selain pesain humanis, Isra Mi'raj juga sarat dengan pesan ilmu pengetahuan. Seperti telah diketahui bersama, dalam perjalanan tersebut, Rasulullah menggunakan 'Burok' sebagai kendaraannya. Dalam bahasa Arab, 'Burok' berasal dari kata 'Barkun' yang berarti kilat. Kilat memiliki kecepatan yang sangat tinggi, jadi bukan hal yang mustahil perjalanan Isra Mi'raj bisa dilakukan dengan satu malam. "Isra Mi'raj bukan merupakan peristiwa metafisikan melainkan peristiwa fisika yang dapat diuji oleh ilmu pengetahuan," ungkapnya.

Dia melanjutkan, pesan humanisme dan ilmu pengetahuan ini, harus mampu diaktualisasikan oleh seluruh umat Islam. Dalam segi teknologi, umat Islam saat ini masih tertinggal, padahal dalam ajaran agama telah disampaikan mengenai keunggulan ilmu pengetahuan. Bahkan setiap peristiwa spiritual seperti Isra Mi'raj juga tidak lepas dari ilmu pengetahuan. "Perhatian terhadap ilmu pengetahuan termasuk teknologi harus ditingkatkan, agar Islam lebih maju lagi. Pesan teknologi pun telah tersirat dalam peristiwa Isra Mi'raj," terangnya. (asy)

Minat Organisasi Minim

MINIM PEMINAT: Acara Konferda PII Karawang.

TIDAK semua masyarakat memiliki pandangan baik terhadap organisasi, terutama oranganisasi yang berbau agama di kalangan pelajar. Masyarakat seperti mengalami phobia terhadap organisasi yang bernafaskan keagamaan. Masyarakat khawatir anak-anak mereka salah mengikuti organisasi dan tersesat olehnya.

Hal tersebut dikatakan oleh Ketua Umum Demisioner Pelajar Islam Indonesia (PII) Karawang Muhammad Arisendi, Senin (20/7), setelah mengikuti Konfrensi Daerah ke-18 PII Karawang di Graha Pemuda Karawang.

Menurutnya, pandangan masyarakat tersebut, menjadi sebuah tantangan bagi PII itu sendiri. PII harus mampu menunjukan pada masyarakat bahwa PII bukan organisasi yang seperti mereka kira. PII harus membuat kegiatan yang konkrit, positif dan dapat membantu pengembangan masyarakat. Agar pandangan masyarakat terhadap organisasi terutama PII bisa positif.

Pandangan negatif masyarkat terhadap PII sendiri, menurutnya, sedikit menghambat proses perekrutan anggota PII, karena banyak orang tua yang tidak mengizinkan anak untuk mengikuti organisasi. "Tidak saya pungkiri masih ada pandangan negatif orang tua terhadap organisasi, mereka khawatir organisasi yang ada menyesatkan dan beraliran keras. Hal ini menjadi tantangan bagi kami untuk membuktikan bahwa kami organisasi yang positif," tutur siswa kelas 3 SMAN 5 Karawang ini.

Dia melanjutkan, selama masa kepengurusannya, masih banyak kekurangan yang terjadi dalam kepemimpinannya. Untuk itu, dia berharap, kepengurusan PII ke depan bisa membawa PII kearah yang lebih baik lagi. Pandangan negatif masyarakat terhadap organisasi keagamaan juga harus dinetralisir dengan kegiatan-kegiatan kongkrit. "Pembinaan dan follow up terhadap komisariat PII juga harus dimaksimalkan serta perbaikan akhlak pengurus serta anggota PII juga harus ditingkatkan. Agar PII bisa mencapai tujuan organisasinya," ungkapnya.

Ditemui di tempat yang sama, mantan Pengurus Daerah PII Karawang, Deden Komarudin mengatakan, setelah mengalami kevakuman beberapa waktu lalu, PII saat ini bisa kembali eksis hingga menginjak usia 5 tahun. Sebagai organisasi yang bergerak di bidang pendidikan, regenerasi harus dilakukan. "Penyatuan kembali pelajar-pelajar harus ditingkatkan. Saat ini PII telah mampu melahirkan badko yang merupakan tempat berkumpulnya para pengurus osis di Karawang. Prestasi ini harus tetap dipertahankan," tuturnya yang sekarang menjadi pengurus wilayah PII Jawa Barat.

Dia menambahkan, sebagai organisasi yang netral, PII harus tetap memegang teguh indenpedensinya. Tantangan organisasi ke depan akan semakin berat, terutama perhelatan politik yang akan dihadapi. Setidaknya ada momen politik yang akan dihadapi pengurus baru. Musda KNPI dan Pilkada Karawang akan mereka jelang. Dalam menghadapi perhelatan politik tersebut, komitmen dan independensi organisasi harus tetap dijaga. "PII jangan sampai dimanfaatkan kelompok tertentu yang memiliki kepentingang politik. Independensi PII harus tetap dijaga," tandasnya. (asy)

Peran KNPI Belum Maksimal


KLARI, RAKA
- Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) yang merupakan wadah berhimpunnya organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP), idealnya merupakan wadah pemersatu dan perekat pemuda Indonesia yang memiliki tugas dan tanggung jawab dalam pembangunan daerah.

Karena, peranan pemuda dan lingkungan strategis sulit dipisahkan. Tapi peranan seperti ini masih belum terlihat, sehingga pemuda di Karawang belum terakomodasi dan terdistribusi dengan baik. Hal tersebut diakui Wakil Ketua DPD KNPI Karawang Abdul Majid SAg kepada RAKA, Selasa (21/7) siang.

Lebih lanjut, Majid menuturkan, persatuan dan kesatuan merupakan inti dari keberhimpunan. Dikatakannya, keberhimbunan di KNPI, hendaknya dilihat dalam kerangka pemberdayaan pemuda Indonesia yang tergabung dalam tiap OKP yang ada di KNPI dan pemberdayaan masyarakat. Dengan begitu, keberhimpunan pemuda di KNPI tidak hanya sekedar berhimpun, namun ada suatu agenda dan program konkrit yang akan dikerjakan.

"Sejarah telah mencatat, pemuda merupakan pelopor dan penggerak dinamika perkembangan bangsa serta pembangunan nasional. Keberhaslan program pembangunan, akan sangat ditentukan oleh SDM yang memiliki kualitas, rasa tanggung jawab dan komitmen kebangsaan," tuturnya.

Selain itu, dia menambahkan, saat ini KNPI masih dianggap sebagai organisasi elitis dan jauh dari kepentingan masyarakat, karena kebijakan dan orientasi kerjanya bersifat subordinasi dari pusat sampai kecamatan. Sehingga kadang tidak bersentuhan dan berjauhan dari perseoalan yang bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat di tingkatan lokal. "Program KNPI masih belum menyentuh pada tataran masyarakat bawah. Sehingga KNPI belum dirasakan secara maksimal keberadaannya oleh masyarakat," imbuh Majid.

Beberapa hari ke depan, tepatnya 23 Juli, lanjut Majid, KNPI akan memasuki hari jadinya yang ke 36 tahun. Permasalahan-permasalahan tersebut di atas menurutnya harus terrefleksikan agar ke depan perananan KNPI bisa berjalan dengan maksimal dan eksistensinya bisa dirasakan oleh masyarakat. Dikatakan pula, KNPI harus senantiasa melakukan reorientasi, rekatualisasi, revitalisasi serta responsi atas fungsi dan peranan KNPI. "Sehingga KNPI akan siap menjawab segala tangangan jaman dan kebutuhan bangsa. Reorientasi kiprah KNPI, dimaksudkan agar KNPI selalu berada pada landasan historis yang membentuk jatidiri KNPI," terangnya.

Hemat Majid, revitalisasi peran dan fungsi KNPI, dimaksudkan agar keberadaan KNPI senantiasa dirasakan oleh masyarakat. Karena banyak potensi pemuda yang belum tergali dan dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan daerah. KNPI juga harus memiliki visi yang jauh ke depan serta mampu membaca setiap tanda-tanda jaman. "Dalam konteks ini, KNPI senantiasa dituntut untuk memiliki jiwa kepeloporan, peka, kritis dan berani untuk berfungsi sebagai sarat artikulasi, agresi dan pengembangan pemuda. Semoga diusianya yang ke-36 tahun, peranan KNPI bisa lebih maksimal," pungkasnya. (asy)

Petani Kutawaluya Gagal Panen


KUTAWALUYA, RAKA
- Masalah petani sepertinya tak pernah usai, berbagai persoalan terus mendera. Mulai dari hama, pupuk mahal hingga produksi yang merosot. Seperti diungkapkan petani Kecamatan Kutawaluya H. Abdul Rozak kepada RAKA, Selasa (21/7) siang, tak bisa dipungkiri bahwa pertanian Karawang anjlok.

Dijelaskannya, pada musim gaduh ini petani telah mengeluarkan dana yang tidak sedikit agar hasil panen nanti tidak mengecewakan. Modal petani yang telah dikeluarkan selama musim tanam diantaranya biaya pengolahan tanah Rp 500 ribu, sewa mesin traktor Rp 500 ribu, tanam bibit (tandur) Rp 500 ribu, pupuk urea 2 kwintal/hektar sekitar Rp 270 ribu, pupuk TSP 36 sebanyak 1 kwintal Rp 180 ribu, bibit unggul yang harga per kg Rp 9 ribu dikali kebutuhan sebanyak 20 kg menjadi Rp 180 ribu, ditambah obat septisida Rp 500 ribu.

"Itu semua biaya setandar per musim yang dikeluarkan para petani," ujarnya. Diakuinya, para petani di Kecamatan Kutawaluya memperoleh produksi saat panen sekitar 4 ton per hektarnya, seharusnya produksi panen bisa lebih dari itu, tetapi ada beberapa kendala yang selalu dihadapi petani mulai sejak tanam sampai panen, diantaranya unsur tanah yang mulai berkurang akibat selalu di beri obat yang tidak ramah lingkungan, sehingga ekosistim sawah mati.

Jadi, lanjutnya, kerugian petani sebenarnya bukan karena hama saja tetapi manusia pun ikut andil membuat produksi panen merosot, misalkan sarana saluran air yang selalu diperebutkan, pemakaian pupuk kimia berlebihan. "Apalagi kalau sampai puso lengkaplah penderitaan yang dialami petani. Kerja keras yang telah dilakukan akan sia-sia apabila hal itu terjadi, wajar kalau selama ini posisi petani selalu dilematis dan merugi," ujarnya.

Selain itu, petani pun kerap dipusingkan oleh pemotong padi yang datang eksodus dari daerah lain dengan tujuan memungut sisa padi yang telah di panen. Dia mencotohkan, dalam satu hektar pemotong padi ada 50 orang sedangkan yang memungut sisa padi mencapai 100 orang, yang menjadi petani rugi kalau si pemotong padi suaminya lalu yang memungut sisa padi istrinya.

"Pemotong padi tidak menuai sampai bersih, kalau rata-rata pemungut menghasilkan 10 kg saja, berarti dalam satu hektar petani rugi sekitar 1 ton gabah," katanya. (spn)

Wabup Kunker 3 Kecamatan


RAWAMERTA, RAKA - Wakil Bupati Karawang, Eli Amalia Priatna, melakukan Road show kunjungan kerja minggonan di tiga kecamatan, yakni Rawamerta, Kutawaluya, dan Rengasdenglok, Selasa (21/7) pagi. Hal itu dilakukan sebagai upaya memotifasi kinerja selain memberi wawasan kepada seluruh muspika tentang bahaya penyakit HIV.

Bertempat di Ruang Pertemuan Kantor Kecamatan Rawamerta, sebagai kecamatan pertama dalam kunjungannya, Wabup didampingi Camat Rawamerta, Mamat Rahmat, Kapolsek Rawamerta AKP Winarsa serta Danramil setempat Suharto. Ia memberikan pesan untuk lebih meningkatkan kinerja serta menghimbau kepada para kepala Desa untuk lebih menggiatkan hasil pendapatan daerah.

Wabup Eli dengan tegas mengatakan akan memberikan sangsi kepada para pegawainya yang lalai dalam pekerjaannya, termasuk jika tidak pernah menghadiri acara minggon di kecamatan. Selain hal itu, Eli mengutarakan tentang Peredaran narkoba dan penularan HIV/AIDS di Kabupaten Karawang yang kini cukup memprihatinkan, karena Penyebab utama penularan HIV/AIDS di Karawang, Jabar sebagian besar akibat penyalahgunaan narkoba dan kurangnya kebersihan.

Sedangkan upaya yang telah dilakukan Pemkab Karawang, ialah mengadakan berbagai macam penyuluhan kepada remaja-remaja, dan sempat melakukan tes urine kepada para PNS di lingkungan Pemkab setempat. Jika dalam tes itu diketahui ada PNS yang positif pemakai narkoba, kami tidak segan-segan untuk mencopot PNS yang bersangkutan, katanya menegaskan.

Sedangkan dalam waktu dekat ini, ia menyampaikan, telah bekerja sama  dengan pihak sekolah di kabupaten karawang. Akan melakukan penyuluhan di sejumlah sekolah se Kabupaten Karawang, mengenai bahaya narkoba dan HIV/AIDS, selain akan merajia para pelajar yang mengoleksi vidio porno dihandphonenya.

Menurut dia, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Kabupaten Karawang yang saat ini. jumlah korban narkoba dan HIV/AIDS memang tidak seberapa. Namun jumlah yang sedikit itu bila tidak segera ditangani akan merusak generasi muda. untuk itu dia mengharapkan agar semua elemen masyarakat untuk terus, mendukung visi dan misi Kabupaten Karawang.(get)

PPL Pertanian Audiensi Status


RAWAMERTA, RAKA
- Sebanyak 80 anggota PPL (petugas penyuluhan lapangan) di bidang pertanian menggelar audensi di Ruang Pertemuan kantor UPTD Pertanian dan Kehutanan di Desa Cibadak, Kecamatan Rawamerta, Selasa (21/7) sore. Pertemuan itu terkait akan habisnya masa kontrak para PPLTHL angkatan tahun 2007 November mendatang.

Audensi membahas tentang hasil pertemuan para perwakilan PPL yang hadir pada pertemuan Rakor THLTBPP Jawa Barat, selama 2 hari kemarin, di Desa Kalang jaladri, Kecamatan Parigi, Wilayah Pangandaran. Seperti dikatakan Ketua Koordinator Muhamad Baliya kepada RAKA ditemui di sela pertemuan. Dia menyampaikan bahwa hasil pertemuan para PPL se kabupaten karawang ini akan di bawa untuk di ajukan ke DPR RI komisi II dan IV.

Perwakilan Rakor THLTBPP Jawa Barat menyampaikan bahwa aspirasi yang dihasilkan pada pertemuan audensi itu, supaya dapat di akomodir oleh pemerintah pusat. Mengingat, kata Dia, kinerja para PPLTHL selama pertama kali dibentuk telah mampu meningkatkan hasil pertanian. Untuk itu, dia meminta agar dikeluarkannya Kepres yang berkaitan dengan kesejahteraan para PPLTBPP yang selama ini telah menjadi pahlawan pertanian.

Salah satunya, kata Muhamad, seluruh anggota PPLTHL dari berbagai angkatan meminta adanya kepastian status, dari status yang dijabatnya sekarang ini, agar bisa menjadi CPNS.  Walaupun, jelasnya, hal itu tidak tertera pada perjanjian awal terbentuknya PPLTHL. Namun, hal itu di karenakan semua jasa para PPLTHL yang telah mampu membawa hasil pertanian pada level terbaiknya seperti sekarang ini.

Dalam rapat persiapan audensi berikutnya, tertulis dalam agenda bahwa para PPLTHL seluruh anggota PPLTHL dari berbagai angkatan di kabupaten Karawang itu, akan mengadakan suatu gerakan dengan membawa aprirasinya, di halaman mesjid Istiqlal jakarta, dalam waktu dekat.(get)

Bina Marga Jabar Lambat Perbaiki Jalan Rusak

JALAN MIRING: Kondisi jalan miring yang dikeluhkan oleh pengguna jalan. Kendati belum diketahui adanya korban jiwa namun di ruas jalan ini kerap terjadi kecelakaan.

RENGASDENGKLOK, RAKA - Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat mulai menggunakan alat beratnya untuk memperbaiki jalan yang miring dan rusak di Desa Dewisari, Kecamatan Rengasdengklok.

Diketahui, jalan ini amblas sebelah dan menyebabkan jalan jadi miring, di jalan ini kerap terjadi kecelakaan karena memang kondisi jalannya sangat membahayakan pengguna jalan. Perbaikan jalan ini dianggap warga sangat lambat, karena jalan itu telah dibiarkan rusak bertahun-tahun.

Melihat perbaikan jalan ini, masyarakat setempat berharap kepada pemerintah untuk memberikan proyek kepada pemborong yang bonafid dan jangan asal tender, warga meminta supaya pemerintah memilih kontraktor yang benar-benar profesional dan pertanggung jawabannya jelas, tidak asal menguntungkan mereka tapi kwalitas jalan sesuaikan berdasarkan bistek. "Jangan sampai usia jalan ini hanya seumur jagung," kata Wartam (34) warga setempat.

Hal itu diungkapkannya mengingat di jalan tersebut tidak sedikit yang telah menjadi korban kondisi jalan rusak parah, satu bulan terakhir ini sedikitnya lima kali kecelakaan terjadi di jalan itu, satu diantaranya sebuah truk tercebur ke sungai karena sopir berusaha menghindari jalan miring. Perbaikan jalan dari Bina Marga Provinsi Jabar ini merupakan angin segar bagi warga dan seluruh pengguna jalan, perbaikan jalan ini memang sudah lama ditunggu. Namun begitu, sebenarnya hampir jalan Rengasdengklok-Batujaya rusak dan perlu perbaikan total.

Sementara itu, seorang warga setempat Darman (42) pesimis jika perbaikan jalan itu akan bagus, diakuinya perbaikan jalan tersebut seharusnya menggunakan paku bumi terlebih dahulu sebelum diratakan, bukan menggunakan rucukan bambu karena kondisi tanahnya labil. "Kalau pekerjaannya tidak paham kondisi tanah jalan ini maka jalan tidak tahan lama, beberapa bulan saja pasti akan rusak lagi," ujarnya. (spn)

Lodaya Siapkan Kader Pilkada


SEBANYAK seratus kader LSM Lodaya disiapkan untuk menghadapi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2010 mendatang. Hal itu diungkapkan oleh Ketua LSM Lodaya Nace Permana, senin (20/7) siang dimarkasnya.

"Menghadapi Pilkada 2010, kami akan menebar kader-kader ke kecamatan untuk melakukan penelitian tentang figur Bupati Karawang yang diinginkan oleh masyarakat. Tujuannya itu sendiri, agar siapapun yang memimpin nanti, merupakan orang yang tepat bagi masyarakat Karawang. Hasil penelitian tersebut akan diadakan lokakarya, yang insya Allah akan diikuti oleh semua orang yang mencalonkan diri sebagai Bupati. Disana kita akan melihat, apakah mereka cocok atau tidak," ungkapnya.

Rencana menghadapi Pilkada yang akan dilakukan oleh LSM Lodaya tersebut, diberitahukan kepada semua Kader pada saat DIklat bela negara di bumi perkemahan Tegal waru, sabtu (18/7) sore kemarin. Menurut Nace Diklat tersebut untuk mengasah pola pikir para kader agar pada saat diterjunkan ditengah-tengah masyarakat bisa memanikan perannya dengan baik. "Kami ingin masyarakat bisa merasakan manfaat adanya kader Lodaya diantara mereka. Agar masyarakat bisa merasakan kehadiran kami, maka saya selalu menekankan kepada para kader untuk profesional dalam hal apapun," tandasnya.

Tujuan Diklat itu senditi, menurut Nace, sebagai transformasi ilmu. "Adapun materi yang disampaikan adalah audit lingkungan, materi dari kejaksaan karawang yang membeberkan uu anti korupsi dan aplikasinya, pertahanan semesta, manajemen aksi dan mental spritual. Mudah-mudahan materi yang disampaikan bisa diterapkan dan bisa dijalankan dengan baik oleh para kader tersebut," tuturnya. (psn)

Masyarakat Butuh Sosialisasi Tentang Kesehatan


BUDAYA tradisional yang membawa petaka masyarakat minim pengetahuan kesehatan medis merupakan penanganan kesehatan yang lazim digunakan masyarakat luas di era sekarang. Padahal, penanganan kesehatan secara medis sudah lazim digunakan di era sekarang ini.

Meski demikian, sebagian masyarakat justru masih menganggap tindakan penanganan diluar medis  merupakan alternatif terbaik. Padahal, tak jarang penanganan diluar medis kerap membawa petaka. Seperti dialami Suhati (15) gadis asal Desa Payungsari Kecamatan Pedes, Kabupaten Karawang. Ia meninggal setelah mendapati perawatan selama kurang lebih dua bulan disebuah tempat pengobatan tradisional.

Meski demikian, pihak keluarga merelakan kepergiannya dengan ikhlas digarisan takdir. Orang tua Suhati, Taim (40) di dampingi istrinya, Rusmiti (35), saat ditemui RAKA dikediaman, menuturkan, awal peristiwa terjadi semenjak putrinya diduga mengalami depresi sekitar 8 bulan lalu tanpa alasan yang jelas.

Mengetahui ketidakberesan mental putrinya, Taim kemudian berinisiatif membawa suhati untuk di obati kepada orang yang bisa. seminggu berselang sambung Taim, pengobatan berjalan lancar, meski kondisi suhati belum menunjukan perubahan. Hingga pada bulan ke dua, putri ke tiga dari lima bersaudara itu dinyatakan meninggal dalam pengobatan.

Pemerhati sosial, Haryanto, SH, ketika dijumpai mengemukakan, ditingkat masyarakat kecenderungan memilih pengobatan tradisional dalam penyembuhan sejumlah kasus penyakit merupakan hal yang sulit dihilangkan. Sebab, kata dia, metode pengobatan itu sendiri datang dari tabiat mastarakat yang akhirnya membudaya dan berlaku dalam satu tatanan sosial, Kendati diketahui, di era sekarang hal tersebut di anggap tabu sebagian masyarakat." dalam hal ini di perlukn sosialisasi dari sektor kesehatan, masyarakatpun jangan pasif, "jelas Haryanto.

Karenanya, ke depan, lanjut Haryanto, Dinas kesehatan diharafkan mengoptimalkan kinerja melakukan pengawasan dan pantauan pada lokasi lokasi praktek kesehatan demi perlindungan kesehatan masyarakat. Dalam hal ini, semua elemen masyarakat perlu berperan mengajak bila perawatan medis lebih aman ketimbang perawatan tradisional. seperti diketahui, di era sekarang perawatan medis bagi masyarakat luas cenderung jadi primdona. (get)

Kejurnas Region II seri 4, Memicu Adrenalin Pembalap


TRACK
yang manis namun berbahaya di sirkuit Kota Deltamas, Cikarang, memicu adrenaline para pembalap. Betapa tidak, hampir setiap kelas yang dipertandingkan ada saja pembalap yang terjatuh atau menabrak dinding pembatas jalan. Menariknya tak seorangpun terluka dari mereka.


Riuh-riuh penonton yang harus bersahabat dengan terik matahari, ternyata tidak memutuskan animo mereka melihat para pembalap yang kebanyakan masih berusia belia. RAKA sendiri ketika meliput kejurnas tersebut sangat merasakan belaian sinar matahari yang sesekali menusuk kulit.

Namun ketika para pembalap tersebut menggeber kuda besinya, rasa panas tersebut seakan-akan hilang, sebab gerungan suara mesin dan liukan para pembalap di tikungan berleter S berhasil menyihir ratusan mata yang memandang, hingga mereka lupa tubuhnya sedang terbakar, bahkan ketika menyaksikan para pembalap itu menabrak dinding pembatas jalan dan terjatuh.

"Mereka kok bisa tidak apa-apa ketika jatuh berguling-guling lalu bangun lagi dan langsung menggeber motornya, padahal saya tahu dia tidak bisa menyusul pembalap yang lain. Saya berharap semua pembalap yang mengikuti kejuaraan ini tidak ada yang sampai ke rumah sakit," ungkap Citra (26) salah satu supporter dari tim Yamaha Yamalube Rafid Popy HDS IRC, disela-sela pemberian trophy. 

Kejurnas region II seri 4 yang sempat diundur tersebut ternyata tidak mengurangi semangat juang para pembalap. Gelaran yang digeber setelah pelumas Pertamina Enduro 4T Racing, Enduro Matic dan juga TDR selaku produsen sparepart Racing Motor di Indonesia mendapatkan kesempatan menjadi sponsor, akhirnya penyelenggaraan putaran keempat Region II acara Pertamina TDR Racing Motorprix Championship 2009 yang berlangsung dari tanggal 18-19 Juli di sirkuit Kota Deltamas Cikarang, berlangsung dengan semarak.

Kehadiran event yang bergengsi khususnya untuk wilayah Region II pulau Jawa dan Madura tersebut diikuti oleh ratusan pembalap Top Seeded B dan pemula asal Pulau Jawa dan Madura, maupun pembalap-pembalap non Indoprix, dan tidak ketinggalan ada beberapa kelas baru yang digelar, yaitu kelas supporting race motor, khusus jenis scutic/matic, yang dibagi lima kelas, yaitu matic 115 cc pemula, matic 125 cc pemula, matic 125 cc open, matic 150-155 cc open dan matic FFA sampai dengan 350 cc.

Total hadiah yang diperebutkan para pembalap yang mencapai lima puluh lima juta rupiah plus hadiah tambahan dari TDR dan pertamina enduro matic selaku sponsor tersebut, hanya mengambil lima terbaik dari setiap kelas yang dipertandingkan. Berikut adalah nama-nama pemenang dari kelas motor bebek seeded.

Kelas Bebek 4T 110 cc TU-Seeded, juara pertama disabet oleh Rafid Topan dari Tim Yamaha Yamalube Rafid Popy HDS IRC (DKI), juara kedua Gilang Pranata Sukma dari Tim Yamaha Yamalube FDR Trijaya (DIY), disusul Rizaludin Sidqy dari Tim Suzuki IRC U Mild AHRS (Banten), Asep Eko dari tim HMTC NHK Cakra (DIY), Bima Oktavianus dari tim BRT Tunas Jaya Federal Oil (Jateng).

Kelas Bebek 4T 125 cc TU-Seeded, juara pertama disabet oleh Rafid Topan dari Tim Yamaha Yamalube Rafid Popy HDS IRC (DKI), Rizaludin Sidqy dari Tim Suzuki IRC U Mild AHRS (Banten), Bima Aditya dari tim Adipura Utama FDR Federal Oil Rextor (DIY), Nur Iwan dari tim Cahaya Yamaha IRC BAF (Jatim), Gilang Pranata Sukma dari Tim Yamaha Yamalube FDR Trijaya (DIY). (Pian Sopyan)

Tanjungpura-Klari Dibuka, Rencananya 4 Trayek Akan Dialihkan

JALUR LINGKAR: Pengalihan lintasan angkutan jenis pelayanan ke jalur lingkar Tanjungpura-Klari akan diberlakukan per 17 Agustus 2009.

KARAWANG, RAKA
- Jalur lingkar Tanjungpura-Klari sepanjang 11,58 Km rencananya akan diresmikan per 17 Agustus tahun ini. Selain itu, sebanyak empat trayek juga akan dipindahkan kejalur tersebut. Demikian Plt Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Miftah Zaini, Selasa (21/7) pagi dikantornya.

"Pada saat jalur lingkar efektif semua kendaraan angkutan yang akan dialihkan lintasannya dilarang masuk kota. Angkutan yang akan dialihkan trayeknya adalah angkutan jenis pelayanan trayek angkutan antara provinsi (AKAP)/angkutan dalam propinsi (AKDP), angkutan lokal kapasitas 14 seat keatas, operasional angkutan khusus karyawan dan pariwisata serta lintasan angkutan barang. Mudah-mudahan dengan dialihkannya trayek angkutan tersebut, kemacetan yang sering melanda Kota Karawang bisa ditanggulangi. Pasalnya dengan pengalihan tersebut akan dipastikan volume kendaraan yang melewati perkotaan akan berkurang," ungkapnya.

Ia melanjutkan, sebetulnya ketertiban lalu-lintas merupakan tanggungjawab semua pihak, sebab semua saling berkaitan. "Agar Kota Karawang terlihat sangat cantik, maka diperlukan peran serta dari semua pihak. Sekarang tidak ada alasan lagi bagi orang hanya mementingkan pribadi dan aspek finansial untuk menghalang-halangi pembangunan Karawang.

Memang perpindahan ini akan mengurangi aspek finansial bagi pengusaha angkutan umum, dan penumpang dari arah Cikampek harus dibebani dengan menaiki kendaraan dua kali kalau mau ke Kota Karawang. Namun apabila kita berbicara seperti itu terus, maka permasalahan tidak akan pernah selesai. Sebetulnya pembangunan jalur lingkar tanjungpura-klari bertujuan agar Kota Karawang tercinta ini bisa terlihat sangat indah, nyaman dan tertib," paparnya.

Peresmian jalur lingkar tersebut, menurut Miftah diperkirakan bertepatan dengan hari ulang tahun Karawang, yaitu tanggal 14 september. "Mudah-mudahan rencana tersebut bisa terealisasi," tandasnya.

Ditempat yang sama, Ketua Rekayasa Lalu-Lintas Dishubkominfo Dede Sudrajat, mengatakan secara keseluruhan semuanya sudah beres, namun ada dua lagi fasilitas yang belum ada. Yaitu rambu yang menunjukan hati-hati terhadap terpaan angin dari kiri dan kanan, serta dua halte yang akan dibangun digerbang jalur lingkar Klari dan Tanjungpura. "Untuk rambu peringatan angin akan segera diselesaikan, namun untuk pembangunan halte diperkirakan akan dibangun tahun 2010," tandasnya.

Terkait dengan adanya perubahan trayek angkutan umum jurusan Cikampek-Karawang menjadi Cikampek Klari, Dede mengungkapkan sebetulnya dari tahun 1998 sudah tidak ada trayek jurusan Cikampek-Karawang. "Menurut perjanjiannya trayek jurusan cikampek hanya sampai Klari. Namun seiring dengan banyaknya permintaan dari masyarakat agar lebih ekonomis, maka dengan berbagai pertimbangan akhirnya diadakan trayek jurusan Cikampek-Karawang," ungkapnya.

Ia melanjutkan, setelah jalur lingkar diresmikan, kemungkinan akan ada trayek baru, yaitu jurusan Klari-Tanjungpura. "Kami akan memaksimalkan terminal Klari. Untuk melayani masyarakat dan pengusaha angkutan, maka trayek tanjungpura-klari yang melewati jalur kota akan direalisasikan," paparnya. (psn)

BPLH Dinilai Mandul

MANDUL: Sungai Karanggelam yang Sampai sekarang airnya tetap berwarna pekat.

KARAWANG, RAKA
- Konsiai Sungai Karanggelam maupun Citarum yang semakin mengkhawatirkan membuat masyarakat sekitar bantaran sungai resah. Akibatnya banyak yang mulai menganggap peran Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH) mandul.

Sampai saat ini belum ada sedikitpun perubahan yang lebih baik dalam bidang lingkungan. Hal itu diungkapkan oleh Rahmat (27) warga Desa Dawuan Tengah, Kecamatan Cikampek, Selasa (21/7) siang. "Kondisi sungai Karanggelam sudah dalam tingkat paling parah. Padahal warga disini melalui salah satu LSM di Karawang sudah mengeluhkan hal ini kepada BPLH. Namun sampai saat ini belum ada perubahan sedikitpun. Akhirnya kami menganggap peran pemerintah dalam hal ini BPLH tidak ada sama sekali, bahkan kami berani berkata BPLH itu mandul," ungkapnya.

Ia melanjutkan, semenjak Sungai Karanggelam tercemar, warga tidak bisa lagi mempergunakan air sungai tersebut untuk keperluan sehari-hari. "Dulu warga bisa mencuci, mandi maupun mengambil air minum dari sungai ini. Namun sangat disayangkan, sungai yang sangat dicintai oleh warga, sekarang sudah sangat tercemar. Kami minta kepada BPLH, supaya berani tegas menindak perusahaan yang telah berani merusak kualitas air sungai karanggelam," ucapnya.

Ditempat berbeda, Ketua LSM Lodaya Nace Permana, selasa (21/7) siang mengatakan peran BPLH bisa dianggap mati. "Banyak temuan yang kami laporkan ke BPLH tentang kerusakan lingkungan yang dialami pencemaran citarum dan karanggelam. Namun mereka tidak pernah melakukan tindakan apa-apa, sebab BPLH lebih suka melakukan ceremonial lingkungan hidup," ungkapnya.

Terkait tidak beraninya BPLH melakukan tindakan terhadap perusahaan yang mencemari sungai, ia mengatakan, menurut UU no 23 tentang lingkungan hidup menyatakan siapapun yang merusak ekosistem harus mendapatkan saksi. Namun kenyataannya BPLH seperti tidak mempunyai keberanian menindak perusahaan yang nakal. "Sekarang ini ada tidaknya BPLH tetap saja lingkungan semakin rusak. Lebih baik BPLH dibubarkan saja, daripada tidak menghasilkan apa-apa," tandasnya.

Peranan BPLH yang tidak ada sama sekali, membuat perusahaan bisa seenaknya membuang limbah industri. Hal ini sedikitnya akan mengganggu ekosistem. "Suka tidak suka apabila ekosistem sudah terganggu maka yang akan merasakan akibatnya adalah masyarakat. Pencemaran lingkungan tidak boleh ada tolenransi sedikitpun, meskipun alasan yang mereka lontarkan biasanya adalah ongkos pengolahan limbah yang mahal. Hal itu sudah resiko mereka selaku pelaku industri, sebab mereka harus siap dengan konsekuensi yang harus ditanggung. Sayangnya peran pemerintah tidak ada sama sekali, akhirnya dengan alasan mahal tersebut mereka bisa seenaknya membuang limbah," paparnya. (psn)

Ngisi Ultah Lewat Aksi Sosial, Yuk, 30 Anak Dikhitan Massal, 100-an Armada Donor Darah


NGISI acara ulang tahun (ultah) itu nggak perlu dibikin rame-rame alias meriah tapi percuma, deh. Lewat aksi sosial, malah tentu manfaatnya bisa dirasakan langsung masyarakat.

Kenyataan itu diakui banget tuh sama anak-anak peserta khitanan massal yang digelar armada PT. Mandala Finance Karawang, Selasa (21/7). Kata mereka yang antara lain diantar ortu-nya, jadi peserta kegiatan ultah lembaga keuangan itu jadinya ikutan bisa ngerasain enak juga. "Aku jadi dapet uang," cuap Yusuf, siswa kelas IV SDN Nagasari 4, Karawang Barat, peserta yang datang diantara Bah Oma, kakeknya.

Hal senada juga dilontarkan Pak Ujang Dedi. Kaur Ekbang Desa Tirtasari Kecamatan Tirtajaya, itu mengaku lantaran ada aksi sosial itu maka empat warganya juga terbantu. "Warga saya ada empat orang tuh yang bisa turut merasakan manfaat sebuah ulang tahun itu," aku Pak Ujang Dedi. "Saya juga. Alhamdulillah," sambar ortu Diki, peserta khitanan massal yang asal Anjun, Karawang Kulon, Karawang Barat. 

Ya. Di acara ultah lembaganya, armada PT. Mandala Finance Karawang memang menggelar aksi sosial yang berupa khitanan massal itu. Di acara yang dilangsungkan di lingkungan kantornya, Jl. A. Yani By Pass sekitar Lapang Karangpawitan, Karawang Barat, selain dikhitan juga pesertanya diberikan pakaian Muslim termask sarung.

Nakhoda acara, Pak Cornelis Sembiring bareng salah satu awaknya Ephy Hanafiah yang ditemui Gen-X di sela-sela acara, kasih jelas kalo aksi sosial khitanan massal itu diikuti 30 anak di berbagai daerah. Kecuali khitanan massal, aksi sosial juga berupa donor darah dari relatif keseluruhan armadanya yang mencapai 100-an orang.

Diakui Pak Cornelis yang punya jabatan resmi Manajer Pemasaran PT. Mandala Finance Karawang, aksi sosial yang digelarnya itu memang jadi bentuk lain peringatan ultah lembaganya yang ke-12. Aksi itu sengaja dipilih pihaknya, kata Pak Cornelis sebagai bentuk realisasi tanggung jawab sosial, dan demi membagi kebahagiaan buat sesama.

Bahwa buat mengkhitankan anak-anaknya, saat ini masih relatif banyak keluarga yang masih merasa kesulitan alasan ekonomi. Demikan juga soal pentingnya penyediaan darah buat sesama yang lantaran sesuatu hal, jadi teramat sangat membutuhkan. "Ya. Sekitar itulah memang alasannya," papar pimpinan lembaga yang membawahi wilayah Subang lewat Ephy Hanafiah, Cikampek lewat Pak Kuswanto, Rengasdengklok lewat Pak Yaya Heryanto, dan Cikarang melalui Pak Tasmin Hadi ini. (dea wahyudi)

Gak Ada Dusta di MOS SMKN 2 Karawang


"Kami ini peserta MOS. Peserta yang paling the best 2009 tuk jadi siswa teladan," kata temen kita yang ikutan MOS di SMKN 2 Karawang. "Bersama buat barengan. Yuk ah..," timpal teman kita lainnya yang jadi panitia. Dan, kelompok teman-teman kita yang awalnya beda posisi itu pun akhirnya menyatu di kebersamaan.
   
Begitulah masa-masa akhir pelaksanaan MOS (masa orientasi siswa) teman-teman kita di SMKN 2 Karawang. Cuap Wiwin Ayu yang ketemu Gen-X di sekolahannya, Selasa (21/7), acara itu berkesan banget lantaran berakhir bisa saling ngerti posisi.

"Gak ada dendam," papar cewek manis yang di kepanitiaan MOS punya posisi jadi koordinator tim eksekusi ini. "Ya. Waktu MOS itu, buat peserta yang ngelanggar aturan emang kita kasih sanksi. Tapi udahnya kita-kita juga baikan lagi. Gak ada dusta di antara kita. Hehe..," jelas wiwin lagi.   
Yups. Gelaran MOS di SMKN 2 Karawang itu di antaranya konon biar para siswanya ngedukung tujuan pendidikan secara komprehensif, berani mengungkapkan pendapat, juga berjiwa ksatria. Kecuali itu  biar aktif menambah pemahaman melalui pengamatan terhadap lingkungan, sehingga kepercayaan diri mereka bertambah.

Intinya, antara lain saat ikut pembelajaran nantinya, si siswa nggak merasa asing lagi dengan lingkungannya. Coz intinya MOS itu sebagai jembatan siswa baru kenal berbagai kekhususan di jenjang pendidikan barunya.

Trus lewat prinsip gelaran yang berisi penghangat suasana, tambah wawasan, sampai pendidikan demokrasi yang juga pake prinsip mudah, menyenangkan, massal dan meriah yang dibikin sesuai sikon sekolahan, maka jangan jadi heran tuh kalo ada MOS di beda jenjang atawa jurusan sekolah, gelarannya juga gak sama. Itu dibolehin, kok. Yang penting tentu saja emang sesuai koridornya.

Nah.. dari boleh beda pelaksanaan tadi, khusus MOS teman-teman di SMKN 2 Karawang ini soal lama waktunya mencapai empat hari. Selama itu para peserta, yang biasanya disebut junior, kudu nurut abis tuh sama kakak-kakak kelasnya yang jadi panitia alias senior. Dus lantaran di SMKN 2 ini didominasicewek, jadi panggilan buat sang senior biasanya Teteh.

Biar begitu, ketika MOS sampe di penutupan, keakraban instan terjalin. Nggak ada acara junior kudu pake dot, atawa si Teteh yang minta juniornya duduk, atau berdiri, atau lainnya. Di acara pentas seni yang jadi pengiring penutupannya, semua gantian nyanyi bareng, joget bareng, ketawa-ketiwi juga barengan.

Keplak MOS, Utari Dwi Pr, nyebutkan soal lamanya waktu MOS buat siswa baru di sekolahannya, sebab materinya relatif padat. Doi bareng Ketum Narkasih, juga lainnya di kepanitiaan, malah karenanya  harus rela selalu nginep di sekolahan. Sementara soal peserta yang harus mengenakan tampilan berbeda kayak rambut yang diiket kecil-kecil, atawa wajib pake dot itu, "Itu sih buat variasi aja. Kan biar berkesan," katanya.

Sementara Kepsek Pak Bambang Herdiana, Wakasek Kesiswaan Bu Sri Gendari, juga Bu Endarti yang di kepanitiaan MOS jadi penanggung jawab, kasih jelas kalo pelaksanaan MOS di sekolahannya emang kayak gitu, lantaran udah jadi tradisi. "Termasuk kalau nanti di dunia kerja ketemu hal seperti ini, tidak kaget lagi. Yang penting tetap dalam koridor dunia pendidikan," alasannya. (dea wahyudi)

Menyoroti Otonomi Daerah di Purwakarta (1), Wilayah Strategis Jalur Perlintasan


SEJAK diberlakukannya Otda pemerintah pusat melalui Peraturan Pemerintah (PP) menyerahkan urusan pemerintahan kepada pemerintah daerah. Pelimpahan wewenang itu sekaligus sebuah upaya percepatan perkembangan, perubahan dan penataan roda pemerintahan agar lebih efisien dan efektif.


Memang, Otda membuat daerah berlomba menciptakan strategi untuk memberikan kemudahan, kecepatan, dan kenyamanan dalam pelayanan kepada masyarakat.  Meskipun, dilain pihak, pemberlakuan otonomi daerah justru memiliki dampak karena secara bertahap subsidi anggaran pembangunan daerah yang dibiayai pemerintah pusat akan terus berkurang  hingga pada akhirnya mencapai titik nol.  Implikasinya, pemerintah daerah harus mampu menciptakan peluang-peluang strategis tersebut untuk tetap selaras dengan motto kecepatan, kemudahan dan kenyamanan pelayanan masyarkat.

Sekjen LSM Triloka Purwakarta, Tarman Sonjaya, ketika berbincang-bincang dengan RAKA mencoba mempersempit persoalan dengan menyikapi kondisi pemerintahan Purwakarta. Menurut dia, pemerintah Purwakarta, sejak awal pemberlakukan otda telah berupaya melakukan penataan program pembangunan dalam berbagai aspek kehidupan. Penataan dan perbaikan sarana dan prasarana serta penataan jasa pelayanan yang memberikan berbagai kemudahan dan kenyamanan bagi masyarakat. Begitu juga halnya dengan penataan simpul-simpul jaringan trasnportasi jalan.

Secara geografis Kabupaten Purwakarta memiliki posisi sangat strategis karena terletak pada titik perpotongan arus lalu lintas dan arah timur (arus pantura), dari arah selatan (Bandung) dan arah Barat (Jakarta). Potensi ini harus segera dikembangkan karena tidak saja menyangkut kepentingan daerah Purwakarta tetapi juga tidak menutupkemungkinan berlaku untuk kepentingan nasional dan hajat nasib orang banyak. Apalagi jalur ini merupakan jalur penyangga (buffer) yang berperan sebagai katalisator dalam penataan arus lalu lintas dari arah barat maupun dari arah timur. Terutama pada moment-moment penting dan arus padat lalu lintas, seperti lebaran dan libur-libur panjang.

Namun, dilain pihak, kondisi riil saat ini Dinas Perhubungan Kabupaten Purwakarta hanya memiliki dan mengelola 4 (empat) terminal dengan kualifikasi terminal type C. Sedangkan terminal Sadang, satu-satunya terminal terbesar di Kabupaten Purwakarta sejak 3 (tiga) tahun lalu telah berubah fungsi menjadi pusat perbelanjaan Sadang Terminal Square (STS). "Terminal Ciganea yang selama ini difungsikan sebagai terminal antar propinsi tidak lagi representative mengingat keterbatasan daya dukung yang ada tidak sesuai dengan kebutuhan," kata Tarman. (Riva Arifin )

Syukuran Gaya PGRI 3


"Selain kreasi murid, ini juga untuk memanjatkan doa agar para siswa yang diterima disekolah diberikan kemudahan dalam menimba ilmu," kata Kepala Sekolah PGRI 3 Purwakarta Drs. Oma Karsoma, Selasa (21/7) siang. Dia mengatakan itu terkait penerimaan siswa baru di sekolah itu sekaligus gelar acara sungkeman dalam rangkaian pagelaran budaya dan peringatan Isra' Miraj, serta doa bagi korban bom JW Marriot dan Ritch Carlton, Jakarta.

Karsoma juga mengatakan acara tersebut merupakan rangkaian acara untuk mengucapkan rasa terimakasih murid pada guru setelah diterima di sekolah. Selain merupakan bagian pengembangan potensi murid dalam mengaplikasikan kemampuannya.

Ditambahkannya, perintisan PSB yang dilangsungkan dengan berbagai kegiatan tersebut merupakan langkah untuk mendekatkan murid dengan para staf pengajar. Kedepan, lanjut dia, acara serupa direncakan bakal diulang kembali. "Insya Allah kegiatan ini kita lakukan lagi di tahun tahun akan datang,"ujarnya.

Kabid Dikmen Disdikpora Purwakarta Zainurrijal, melalui Kasi Tenaga Pendidik Disdikpora Purwakarta, Kushayani, menuturkan, rangkaian acara yang dilangsungkan SMA PGRI 3 terbilang awal dirintis disekolah-sekolah jenjang atas   Purwakarta. Ia sepakat, untuk memacu kreatifitas siswa dan mengembangkan budaya daerah dalam sekolah kegiatan semacam ini perlu dikembangkan di sekolah lain. "Ini terbilang kreatif, kedepan diharapkan hal seperti ini dicontoh sekolah-sekolah lain di Purwakarta,"katanya.

Pantauan, acara yang dikemas aktif oleh pihak sekolah melalui OSIS tersebut, antara lain diisi dengan tausyiah, seni sunda degung, dan Nasyid. Di tengah acara, para siswa pun memanjatkan doa bersama untuk para korban Bom Jakarta baru-baru ini. (ton) 

Pembantai Warga Purwakarta Dibekuk


PURWAKARTA,RAKA - Setelah dua hari buron setelah melakukan pembunuhan, AM (17) akhirnya berhasil dibekuk petugas, Selasa (21/7) dini hari, di Kecamatan Dawuan, Kabupaten Subang. Tersangka membunuh Makmun (37) yang tewas bersimbah darah di pinggir Jalan Raya Kampung Cibongkok, beberapa hari lalu.

Motif pembunuhan korban adalah keinginan pelaku untuk mengusai motor korban setelah keinginannya memiliki motor tak dipenuhi oleh kedua orang tuanya. Aksi AM menghabisi korbannya tergolong sadis. Korban ditusuk pisau dapur pada bagian pundak hingga leher yang nyaris putus. Tak puas, AM menusuk bagian perut sebanyak 10 kali hingga korban meregang tak bernyawa, pada Sabtu (18/7) malam. Mayatnya ia tinggal dipinggir jalan lalu kabur membawa sepeda motor Mio berwarna merah No Pol T 6326 AW.

Dihadapan penyidik Reskrim Polres Purwakarta, Selasa (21/7) siang, pelaku AM mengakui semua perbuatannya. Disebutkan, dirinya nekat menghabisi Makmun karena ingin menguasai sepeda motornya.  "Awalnya saya tidak punya niatan. Saat saya diijinkan dibonceng menumpangi sepeda motor bersama korban ke perempatan Warung Gombong, Kecamatan Wanayasa, Purwakarta, ditengah jalan muncullah niatan itu," ungkap AM.

Tersangka mengatakan, dirinya sakit hakit terhadap kedua orang tuannya yang tidak kunjung membelikan sepeda motor dengan alasan tidak punya uang. "Berkali-kali saya memelas minta dibelikan motor namun tak juga dibelikan makanya saya nekat mencuri motor tersebut," katanya.

Diakuinya, sejak melihat motor milik korban tersebut, pikiran mulai dirasuki niat jahat untuk menguasai sepeda motor tersebut. Singkat cerita, menjelang salat magrib, korban Makmun berpamitan ke ayah AM untuk pulang kerumahnya. Sedangkan AM yang saat itu sudah keluar rumah dengan meminjam pisau dapur ke ayahnya menunggu dipinggir jalan bersama 2 temannya.  Tak lama kemudian, muncul Ma'mun mengendarai motor Mio melintas dihadapan AM dan 2 temannya.

Merasa sudah kenal dekat, AM berani mencegat dan berpura-pura minta diantar ke perempatan Warung Gombong. "Dalam perjalanan itulah saya menghabisi korban dengan cara ditusuk bagian belakang. Korban sempat melawan namun pisau itu kemudian mengena lehernya hingga nyaris putus. Masih bernyawa, saya pun menusuk perutnya hingga tewas," ungkap AM.

Setelah yakin korban sudah meregang nyawa, AM kabur membawa motor ke rumahnya temannya, Sumarna, di daerah Bendul, Kecamatan Sukatani. Sehari menginap disana, AM lantas melanjutkan perjalanan kaburnya ke rumah bibinya di Kecamatan Dawuan, Subang, hingga akhirnya polisi menangkapnya.

Kapolres Purwakarta Ajun Komisaris Besar Hendro Pandowo, mengatakan, pihaknya menjerat AM dengan pasal 365 dengan ancaman hukuman penjara maksimal 15 tahun. " Perbuatan pelaku merampas dan ingin menguasai harta benda hingga merenggut nyawa orang lain, sehingga kami kenakan pasal 365 dengan ancaman pidana 15 tahun penjara," katanya. Untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya, pelaku AM kini telah meringkuk di ruang tahanan Mapolres Purwakarta. (rif)

SDN X Ciseureuh Didemo, Puluhan Orang Tua Murid Protes Penjualan Buku Pelajaran

DEMO BUKU: Kerumunan orang tua siswa SDN Ciseuruh X yang menggeruduk sekolah tersebut, Selasa (21/7) siang. Mereka mempersoalkan penjualan buku tujuh mata pelajaran yang dilakukan pihak sekolah terhadap siswanya.


PURWAKARTA,RAKA
- SDN X Ciseureuh Purwakarta di demo puluhan orang tua siswa, Selasa (21/7). Mereka memprotes sekaligus mempertanyakan kebijakan kepala sekolah menjual buku kepada siswa tanpa musyawarah terlebih dahulu dengan komite sekolah. Padahal di sekolah lain buku yang dijual tersebut dibagikan kepada siswanya dengan catatan pinjam.

Pantauan RAKA, sejak pukul 08.00 WIB, puluhan orang tua siswa berdatangan ke SDN X Ciseureuh berdatangan ke sekolah tersebut. Mereka langsung mempersoalkan penjualan buku-buku dari 7 mata pelajaran yang diajarkan di sekolah tersebut. Nilai total penjualan itu sebesar Rp 395.

Buku yang dijual kepada para siswa SDN X itu antara lain buku matematika IV harga Rp 30.400, Bahasa Indonesia untuk kelas IVA seharga Rp 30.500, Bahasa Inggris Rp 31.500,  IPA kelas IV Rp 29.500, PAI Rp 44.700, seni budaya Rp 31.700, pendidikan lingkungan hidup Rp 23.600, dan delapan LKS dengan harga per item Rp 8.000. Sontak adanya penjualan buku mata pelajaran tersebut diprotes para orang tua murid yang mengaku tidak pernah diajak komunikasi sebelumnya.

Diungkapkan Ketua Komite Sekolah SDN Ciseureuh, Purwakarta, Antoe Abdullah, kebijakan sekolah terutama Kepsek SDN X Ciseureuh tersebut sebelumnbya tidak dikomunikasikan dulu dengan komite. Ia mengatakan, Kepsek SDN X setiap mengeluarkan kebijakan selalu tanpa melibatkan komite sekolah padahal di dalam aturan sistem kependidikan sekarang, kata dia, komite sekolah itu memiliki peran penting dalam sistem kepengurusan sekolah.  "Selama ini Kepsek SDN X Ciseureuh selalu jalan sendiri saat akan mengeluarkan suatu kebijakan padahal di sekolah ini ada yang dinamakan komite sekolah," katanya.

Keterangan yang dihimpun menyebutkan, sepanjang tiga hari kebelakang para orang tua siswa SDN X Ciseureuh dilanda keresahan, terutama para ibu-ibu orang tua siswa mempergunjingkan surat edaran mengenai penjualan buku terhadap siswa.

Bahkan, pada Sabtu (18/7) kemarin, para orang tua terutama kalangan ibu-ibu yang selalu menunggui anaknya di sekolah nyaris berdemo guna mempertanyakan rencana pihak sekolah menjual buku kepada para siswa. Sedangkan buku-buku yang dijual itu di sekolah lain dipinjamankan kepada siswanya.

Keresahan para orang tua siswa SDN X itu diawali dengan diterimanya surat edaran oleh para siswa mengenai buku-buku kebutuhan siswa yang berkualitas dapat dibeli di sebuah tempat penjualan voucher telefon seluluer di sekitar perumahan Dian Anyar, Purwakarta. Buku yang dicetak oleh sebuah penerbit tersebut ditawarkan dengan harga bervariasi.

Salah seorang orang tua siswa Sri Wahyuni (35), warga Sukamulya, menuturkan sebenarnya para orang tua tidak keberatan membeli buku yang sudah mendapat persetujuan dari sekolah. Tetapi hendaknya sebelum kebijakan itu dikeluarkan orang tua atau melalui komite sekolah diajak bicara.

Sementara, Wakil Ketua Dewan Pendidikan (DP) Kabupaten Purwakarta, H. Agus Marjuki dan H. Anang Abdul Rajak yang datang ke SDN X Ciseureuh mengatakan, kedatangan Dewan Pendidikan Kabupaten Purwakarta ke sekolah ini atas undangan informasi dari orang tua siswa. Dewan itu diminta berperan aktif dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi di SDN X Ciseureuh.

H.Agus Marjuki membenarkan tidak ada aturan untuk sekolah dasar menjual bukunya kepada siswa apalagi SDN X Ciseureuh ini telah mendapatkan bantuan BOS sebesar Rp 311 juta. Namun demikian, kata Agus, DP akan memberikan rekomendasi kepada Dinas Pendidikan Purwakarta untuk mengambil langkah guna menyelesaikan permasalahan yang terjadi di SDN X Ciseureuh.

Sampai aksi demo berakhir, para orang tua yang tadinya mengharapkan dapat berdialog dengan Kepsek SDN X Ciseureuh urung dilaksanakan karena Kepsek SDN X Ciseureuh tidak berada di tempat. (rif)

Sapi Berkeliaran di Tol Tabrakan Beruntun Terjadi


PURWAKARTA,RAKA
- Kendati tidak menelan korban jiwa, tabrakan beruntun yang terjadi di KM 78,800 Jalur B arah Jakarta-Bandung, Tol Cipularang, Selasa (21/7) sekitar pukul 04.05 WIB mengakibatkan kemacetan. Uniknya, peristiwa terjadi justru gara-gara empat ekor sapi meloncat dari truk terbuka ketika melaju di ruas tol tersebut.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, tabrakan beruntun itu melibatkan lima kendaraan yang melaju ke arah yang sama. Para pengemudi yang terlibat kecelakaan lalu lintas tersebut hanya mengalami luka ringan, namun kendaraan mereka rusak dan penyok akibat tabrakan.

Peristiwa tersebut berawal ketika sebuah truk Fuso yang dikemudikan Iskandar Jehan (51), warga Bekasi mengangkut empat ekor sapi melaju di jalan tol Cipularang tujuan Bandung. Entah sapi yang ditaruh di dalam truk itu tidak diikat atau entah kenapa, namun tiba-tiba sapi yang diangkut di atas kendaraan yang tengah melaju itu berloncatan dalam jalan raya.

Ditengah pagi buta tersebut, sopir kendaraan yang berada persis di belakang truk kaget saat melihat sapi berkeliaran bahkan diantaranya ada yang tergeletak di atas jalan. Melihat di jalan raya berkeliaran sapi, mereka langsung mengerem mendadak bahkan diantaranya ada yang sempat menyeruduk sapi yang "nakal" tersebut sehingga tabrakan beruntun pun tak dapat dielakkan.

Kelima kendaraan yang menjadi korban itu adalah Sedan Timor B 1510 YJ yang dikemudikan Rosikun (30), warga Bandung, Toyata Kijang D 1446 MN yang dikemudikan M. Yunus (51), warga Bandung, Toyota Innova yang dikemudikan Fajar (26), warga Bandung, Daihatsu Xenia yang dikemudikan Rudi (27), dan Toyota Innova yang dikemudikan Endang (39), warga Jakarta Timur.

Akibat terjadinya tabrakan beruntun tersebut sempat menimbulkan kemacetan karena posisi kendaraan yang terlibat tabrakan beruntun itu tidak beraturan. kendati demikian, setelah sejumlah petugas berdatangan dan mengatur arus lalu lintas, kemacetan yang terjadi tidak berlangsung lama. Demikian pula, para penumpang yang ada di lima kendaraan tersebut tak ada satupun yang mengalami cidera.

Salah seorang petugas di Rumah Sakit Efarina Etaham, Yana, ketika dihubungi, mengatakan, rumah sakit Efarina Etaham senantiasa dijadikan rujukan para korban yang mengalami kecelakaan lalu lintas di jalan tol. "Berdasarkan buku mutasi yang ada, tak ada satupun korban kecelakaan di tol Cipularang di Km 74,800 yang masuk ke rumah sakit. Kemungkinan para korban tak ada yang cidera parah sehingga tidak perlu mendapatkan penanganan medis," jelasnya. (rif)

SPV Diancam Ditutup


MASYARAKAT
sekitar PT. South Pasifik Viscose (SPV) berlokasi di Kampung sawah meminta pihak kepolisian tanggap dalam menangani persoalan yang disebabkan limbah perusahaan tersebut. Jika polisi tidak mengabaikan hal itu, mereka mengancam untuk memberhentikan kegiatan di perusahaan raksasa itu.

Maksum Hidayat tokoh masyarakat Kp Sawah RT 04/02, Desa Cilangkap, Kecamatan Babakan Cikao, kepada RAKA kemarin mengatakan, pihak kepolisian sepertinya tidak pernah menanggapi persoalan yang disebabkan PT. SPV. Padahal, perusahaan itu mengeluarkan limbah yang berbahaya terhadap warga sekitar.

"Sampai detik ini masyarakat selalu merasakan keresahan. Kami menduga pihak perusahaan sudah terbukti melakukan kesalahan, limbah yang keluar dari corong PT SPV itu menimbulkan penyakit yang berbahaya terhadap keselamatan manusia. Dan itu merupakan bukti otentik yang tidak bisa di pungkiri," ujarnya.

Menurut Maksum, dengan berbagai penyakit yang dirasakan oleh masyarakat membuat dugaan semakin kuat, untuk itu pihak terkait untuk bertindak cepat tegas sehingga masalah yang kini di hadapi masyarakat, dan perusahaan harus memberikan kompensasi yang baik terhadap masyarakat.

"Agar masalah ini tidak berlarut-larut maka semua pihak yang terkait termasuk penyidik harus mengambil tindakan yang cepat dan tegas sehingga perusahaan bisa mencari solusi yang terbaik. Saat ini untuk sementara kami meminta pihak perusahaan memberikan konpensasi.

Seperti melakukan medical check-up terhadap masyarakat, memberikan susu gratis, pengobatan gratis  dan harus mempekerjakan masyarakat sekitar. Serta hal yang paling penting adalah bagaimana caranya perusahaan ini melakukan aktifitasnya dengan baik tanpa harus membuat kehawatiran terhadap manusia yang ada di sekitar

perusahaan, yakni tidak produksi yang di hasilkan tidak menimbulkan zat-zat yang berbahaya bagi kelangsungan mahluk hidup," ujarnya. (sep)  

Gasibu Sebar Sembako


PURWAKARTA, RAKA
- Gabungan anak situ buleud (Gasibu) menggelar acara bhakti sosial dengan membagikan sembako kepada 50 warga Kampung Legok Situ RT 30/05, Kelurahan Nagri Tengah, Kecamatan Purwakarta. Khususnya mereka yang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Ketua Gasibu Purwakarta, Genta didampingi Panitia pelaksana Indra Martakusumah kepada RAKA seusai acara pembagian sembako di Hotel Grand Situ Buleud, Senin (20/7) mengatakan, pembagian sembako ini merupakan bentuk keperdulian gasibu kepada warga sekitar Situ Buleud.

Menurutnya, sembako ini didapat dari hasil Gasibu mengelola PKL pada pameran pembangunan yang berlangsung di Situ Buleud selama Seminggu kemarin. "Pelaksanaan pameran pembangunan dalam rangka HUT Purwakarta ke 178 kemarin, Gasibu mengelola sedikinya 18 PKL, "kata Indra

Indra menjelaskan, selain membagikan sembako, masih dari hasil pameran kemarin Gasibu juga membuat tempat penampungan sampah dilingkungan Karang Taruna RT 17 yang masih berada dinaungan Gasibu. "Gasibu bukan hanya sebatas mempunyai keinginan untuk maju, kami  juga selalu mengharapkan apa yang kita perbuat akan memberikan manfaat, khususnya bagi warga sekitaran situ buleud,"jelas Indra.(sep)

Kasus Pungli

MARAK PUNGLI: Jembatan Timbang Cibaragalan, Purwakarta yang ditengarai marak pungli. Kasus ini sebelumnya sempat mengemuka di media massa. (rif)

HUT Purwakarta Disambut Minoritas


PURWAKARTA, RAKA - Dari tahun ke tahun Sidang Paripurna Istimewa hari Jadi Purwakarta, di Gedung DPRD penuh sesak dihadiri para tamu undangan dan tamu umum lainya. Entah kenapa, hari jadi tahun ini peringatan ke-178 sepi dan tampak lengang.

Dari pantauan dilapangan, untuk mengisi kekosongan dalam Gedung DPRD. selain 12 orang (23%) anggota DPRD tidak dapat hadir, sebagaimana yang telah dipersiapkan oleh panitia. Salah satu yang terjadi tamu undangan umum yang pada setiap tahunnya menduduki tempat pada posisi diluar gedung. Seperti halnya para Lurah, Kades dan Camat mendapat kehormatan lain.

Mereka duduk di dalam ruangan karena di dalam gedung DPRD yang biasanya penuh itu tampak kosong. Para tamu umum tersebut, bisa merasakan suasana lain dengan menyaksikan prosesi secara langsung dan tidak hanya mendengar dari alat pengeras suara dan melihat prosesi itu dari layar Televisi.

Wawan Ridwan, Direktur Eksekutif Lembaga Swadaya Masyarakat Team Operasional Penyelamat Aset Negara (LSM Topan-RI) Pengurus Daerah Purwakarta, saat ditemui RAKA selasa (21/7) menanggapi hal ini. Dia mengatakan, setiap tahun peringatan Hari jadi di DPRD ramai dihadiri oleh berbagai kalangan masyarakat purwakarta. Namun kini diakui entah kenapa ada apa sebenarnya. "Pihak kami tak dapat menduga-duga yang jelas, hari jadi tahun ini kurang ramai, termasuk lebih dari seperempat anggota DPRD yang terhormat Ngak Hadir," jelasnya didampingi para pengurus lainya yang turut hadir pada hari jadi itu.

Selain itu tambahnya, hal inipun menjadi pertanyaan besar, termasuk berbagai alasan yang menyeruak baik spekulasi dari masyarakat yang hadir. Dan mendapat kabar seputaran kegiatan di DPRD dalam pelaksanan Prosesi peringatan detik-detik sidang paripurna Istimewa hari jadi Purwakarta ke -178 senin 20 juli kemarin. "Terlebih, jauh sebelum pihak Sekretaris DPRD Purwakarta telah melakukan persiapan yang lebih setara, dengan pelaksanan tahun sebelum. termasuk diakui telah menyebarkan undangan kesetiap lembaga, Dinas, Istansi, Departemen, Organisasi maupun masyarakan umum lainya," terang Wawan..

Senada dengan hal itu sebelumnya, Wakil Ketua DPRD Purwakarta H. Saepudin Zukhri, SH mengakui, sepanjang sejarah hari jadi Purwakarta tidak biasa seperti peringatan hari jadi tahun ini padahal sidang paripurna ini merupakan momentum penting masyarakat Purwakarta. Termasuk para petinggi di DPRD pun, menanggapi moment kali ini beragam, walaupun tidak secara rinci mengutarakannya dan berspekulasi, Hal ini menjadi tanda tanya besar. "Adapun hal ini terjadi, belum dapat dijawab apa alasanya," kata politisi yang akrab disapa Diding ini. (ton)

4 Kecamatan Terancam Krisis Air

 
PURWAKARTA, RAKA
- Memasuki musim kemarau ini, sejumlah desa di empat kecamatan sekitar Kabupaten Purwakarta terancam kesulitan air bersih. Bahkan keadaan ini, kerap dialami di desa tersebut. Hal itu di ungkapkan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi kepada RAKA, kemarin.

"Setiap musim kemarau, kami khawatir masyarakat Purwakarta di empat kecamatan itu kesulitan air, karena hal itu selalu terjadi di setiap kali musim kemarau," kata Bupati. Keempat kecamatan yang hampir selalu berlangganan kesulitan air setiap tahun, khususnya pada musim kemarau seoerti Kecamatan Tegalwaru, Plered, Darangdan, dan Kecamatan Bojong.

Namun, tidak seluruh desa di empat kecamatan itu yang kesulitan air bersih setiap musim kemarau. "Itu pun hanya beberapa desa saja, tidak keseluruhan desa yang ad dikecamatan itu,"katanya. Untuk mengatasi hal tersebut, bupati mengaku akan membuat beberapa terobosan mengatasi kesulitan air bersih. Di antaranya ialah dengan membangun sumur yang bersumber dari air bawah tanah dan air gunung. Tetapi menurut bupati hal itu perlu kajian lebih lanjut.

Bahkan saat disinggung terkait proyek embung di kecamatan maniis yang di duga tidak sesuai bestek. Bupati meminta proyek tersebut segera diatasi. "Itu proyek yang di danai melalui APBN, dan kami meminta kontraktor segera memperbaikinya sebab keberadaanya untuk mengairi areal pertanian dikawasan itu,"tukasnya. (ton)

4 Kecamatan Terancam Krisis Air


PURWAKARTA, RAKA - Memasuki musim kemarau ini, sejumlah desa di empat kecamatan sekitar Kabupaten Purwakarta terancam kesulitan air bersih. Bahkan keadaan ini, kerap dialami di desa tersebut. Hal itu di ungkapkan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi kepada RAKA, kemarin.

"Setiap musim kemarau, kami khawatir masyarakat Purwakarta di empat kecamatan itu kesulitan air, karena hal itu selalu terjadi di setiap kali musim kemarau," kata Bupati. Keempat kecamatan yang hampir selalu berlangganan kesulitan air setiap tahun, khususnya pada musim kemarau seoerti Kecamatan Tegalwaru, Plered, Darangdan, dan Kecamatan Bojong.

Namun, tidak seluruh desa di empat kecamatan itu yang kesulitan air bersih setiap musim kemarau. "Itu pun hanya beberapa desa saja, tidak keseluruhan desa yang ad dikecamatan itu,"katanya. Untuk mengatasi hal tersebut, bupati mengaku akan membuat beberapa terobosan mengatasi kesulitan air bersih. Di antaranya ialah dengan membangun sumur yang bersumber dari air bawah tanah dan air gunung. Tetapi menurut bupati hal itu perlu kajian lebih lanjut.

Bahkan saat disinggung terkait proyek embung di kecamatan maniis yang di duga tidak sesuai bestek. Bupati meminta proyek tersebut segera diatasi. "Itu proyek yang di danai melalui APBN, dan kami meminta kontraktor segera memperbaikinya sebab keberadaanya untuk mengairi areal pertanian dikawasan itu,"tukasnya. (ton)

Dealer Subur Plus Dibobol Empat Maling Bertopeng


KARAWANG,RAKA
- Dealer Subur Plus yang berlokasi di Jalan Wirasaba, Kelurahan Adiarsa Barat, Kecamatan Karawang Barat,  Senin(20/7) sekitar pukul 21.47 menit dibobol  maling .Sebanyak 73 juta uang tunai hasil penjualan dan uang muka sepeda motor selama dua hari(Minggu-Senin) lenyap dibawa kabur empat kawanan maling yang menggunakan topeng (cadar, teregos)

Yudison Hamdani(33) saat melaporkan kejadian tersebut kepada penyidik mengatakan, aksi pencurian  diketahui Selasa(21/7) sekitar pukul 07.40 WIB,  setelah melihat kondisi ruangan administrasi kantor khususnya ruangan kasir acak-acakan. Apalagi, cash box berisi uang tunai sebanyak Rp 73 juta ditemukan dalam keadaan rusak di luar bangunan gedung. Padahal, sebelumnya cash box itu disimpan di dalam meja kasir dan dikunci (digembok)."Uang hasil penjualan biasanya disetorkan langsung ke Dealer Subur By Pass Karawang setiap pukul 15.00 WIB. Tapi karena kantor tersebut masih tutup, maka uang tersebut disimpan di dalam cash box itu," kata Yudison kepada penyidik.

Kapolsek Karawang AKP Dwi Susanto,SH melalui Kanitreskrimnya Aiptu Asep Hartono ketika ditemui RAKA di kantornya kemarin,  membenarkan peristiwa tersebut.Berdasarkan hasil olah TKP dilokasi kejadian, Asep memperkirakan pelaku masuk ke dalam gedung dealer tersebut dengan cara memanjat, kemudian memotong kawat berduri serta merusak kaca pentilasi kamar mandi."Pelaku masuk bukan melalui pintu karena tidak satu pun pintu yang dirusak," kata Asep.

Bahkan, berdasarkan rekaman circuit closed television(CCTV) yang terpasang diatas plafon gedung tersebut terlihat empat orang yang menggunakan topeng menuruni gedung itu dengan menggunakan tambang yang dikaitkan pada bagian atap atau bangunan gedung. Keempat pencuri itu terlihat memasuki ruang administrasi dan langsung mengambil cah box setelah merusak laci meja kasir."Hingga kini kita masih mendalami gambar yang terekam dalam CCTV itu," tandasnya.

Semenatara itu, ditempat terpisah, sebuah bis pengangkut karyawan pabrik milik PT Pesona Tata Lintas Dirgantara hilang setelah ditinggal parkir di Jalan Raya By Pass Tanjungpura, Kelurahan Tanjungpura Kecamatan Karawang Barat, Karawang, Selasa(21/7) sekitar pukul 03.30 WIB dinihari  kemarin.

Endang Subarja(47) pengemudi bis karyawan tersebut kepada polisi mengatakan, bis Mitsubishi Fuso bernopol B 7777 DB buatan tahun 1985 itu sebelumnya diparkir di tepi jalan raya itu Sabtu(18/7) sekitar pukul 16.00 WIB. Setelah bis karyawan yang tidak memiliki garasi itu diparkir, Endang tidak langsung pulang. Endang pulang ke rumahnya yang berlokasi di Kampung Pilar RT 002/001 Kelurahan Cikarang Kota  Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, sekitar pukul 19.00 WIB."Selama ini bus diparkir aman-aman saja sehingga selama ditinggal parkir dua hari belum pernah di cek," katanya kepada penyidik.

Mengetahui bus yang diparkirkannya tidak berada ditempat, Endang buru-buru mendatangi rumah Chalia Aziz(46) penurus bus karyawan tersebut. Ternyata, Chalia juga tidak mengetahui siapa yang mengemudikan bus tersebut. "Atas peristiwa tersebut, kami menderita kerugian sekitar Rp 43 juta," katanya.(ops)

Jalan Paket 07 Kalijati-Sukamandi Belum Beres

BELUM RAMPUNG: Entah kenapa sebabnya, pekerjaan jalan paket 07 Kalijati-Sukamandi, tepatnya di depan Kantor Desa Rancabango, Kecamatan Patokbeusi, belum juga dilakukan pengecoran. Akibatnya, jalan di sekitar itu macet. Warga berharap proyek tersebut bisa segera diselesaikan. (pir)

4 Pengedar Ganja Dihukum


SUBANG, RAKA - Dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Subang, Selasa (21/7), empat orang pengedar daun ganja di wilayah hukum Polsek Jalancagak dijatuhi hukuman berbeda, seorang di antaranya ibu muda yang tengah hamil enam bulan turut dihukum 4 tahun penjara.

Dalam amar putusannya, majelis hakim yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Uli Purnama SH dibantu Panitera Sheila M SH dengan jaksa penuntut umum (JPU) Darwadi SH masing-masing menjatuhkan vonis 10 tahun penjara denda Rp 5 juta subsider tiga bulan terhadap terdakwa Agustian alias Agan (33), warga Kampung/Desa Tanjungwangi RT 05/02 Kecamatan Cijambe, vonis itu lebih ringan dari tuntutan JPU 14 tahun penjara serta denda Rp 5 juta subsider enam bulan.

Terdakwa pernah dihukum dalam kasus yang sama, sedangkan terhadap terdakwa istrinya Rizki Syahdiah alias Kiki (19) divonis empat tahun dan denda Rp 3 juta subsider 2 bulan kurungan, vonis itu lebih ringan dari tuntutan jaksa yang menuntut Kiki enam tahun penjara serta denda Rp 5 juta subsider tiga bulan.

Sedangkan terhadap terdakwa Matrapi alias Abang (42), warga Desa Kasomalang Kulon, Kecamatan Kasomalang, divonis lima tahun enam bulan serta denda Rp 3 juta subsider dua bulan, vonis itu lebih ringan dari tuntutan JPU yang menuntutnya dengan hukuman delapan tahun serta denda Rp 5 juta subsider tiga bulan.

Terhadap terdakwa Asep Saepudin alias Japet alias Temon (27), warga Jl Otista Gg Gelatik divonis satu tahun enam bulan serta denda Rp 1 juta subsider satu bulan, vonis itu lebih ringan dari tuntutan JPU yang menuntutnya dengan hukuman dua tahun serta denda Rp 2 juta subsider dua bulan kurungan  Atas vonis majelis hakim tersebut keempat terdakwa menyatakan pikir-pikir.

Awal kejadiannya itu, pada 5 Maret 2009 sekitar pukul 16.00 Wib kedua terdakwa Agustian dan istrinya Kiki dengan memakai sepeda motor pergi ke Desa Bunihayu dengan membawa tas hitam yang berisi tujuh paket sedang daun ganja, tanpa disadari keduanya sudah diintai terlebih dulu oleh anggota Polisi Sektor Jalancagak dan disergap di Kampung Engkel serta barang buktinya.

Polisi membawa keduanya ke kantor Polsek Jalancagak dan ternyata di rumah kontrakan Agustian di Kampung Jabong, Desa Curugrendeng, dalam tas ransel ditemukan 3 kg daun ganja dan mengembang kepada pelaku lainnya yaitu Matrapi alias Abang dan Asep Saepudin alias Japet alias Temon. Polisi Sektor Jalancagak dari keempat pelaku berhasil menyita 4 kg daun ganja. (eko)

NumberOfComments

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 
 
 
 
Copyright © Subang Raya
Design by Eko Subang