Selasa, 03 November 2009

KH. TB. Ahmad Bakri Sempur, Mata Rantai Penghubung Keilmuan Salaf

MAKAM KH. Ahmad Bakri Sempur bin KH. Tb. Syeda bin KH. Tb. Arsyad Keraton Banten, di Kampung Cibolang, RT 01/01, Desa Cibogogirang, Kecamatan Plered.

DIANTARA penyiar islam nama KH. Ahmad Bakri Sempur bin KH. Tb. Syeda bin KH. Tb. Arsyad Keraton Banten, termasuk cukup populer. Terlebih untuk daerah Banten dan sekitarnya. Di Purwakarta ia malah dikenal dengan sebutan Mama Sempur dikalangan ahlussunah waljamaah.

Kemasyuran nama KH. Tb. Ahmad Bakri Sempur merupakan sebuah gambaran akan kebesaran dan keleluasaan ilmu yang dimiliki oleh penyiar islam ini. Melihat kebesaran namanya, penyiar yang akrab disapa Mama Sempur ini masih memiliki garis keturunan dari Keraton Banten, dengan mengambil garis KH. Tb. Arsyad dari keraton Banten.

Mama Sempur, semasa hidupnya dikenal sebagai seorang penyiar yang memiliki wawasan luas dengan ketinggian ilmunya menyebar hingga pelosok tanah jawa. Mama Sempur adalah nama yang sudah sangat melekat dan dikenal di kalangan masyarakat Purwakarta. Hal tersebut disampaikan oleh Mama Dudus, seorang putra sekaligus generasi penerus dari Mama Sempur.

Ketika itu RAKA memang mengunjungi kediaman Mama Dudus. Tidak begitu sulit untuk menemukan rumah Mama Dudus. Setelah bertanya kesana-kemari, alhasil RAKA menemukan alamat yang pasti yakni Kampung Cibolang, RT 01/01, Desa Cibogogirang, Kecamatan Plered. Di kampung kecil jauh dari keramaian itulah keturunan langsung Mama Sempur ini berdiam dengan keluarganya.

Keterbukaan dan familiar dengan sedikit aroma magis bisa dirasakan RAKA saat itu. Terlebih kediaman ini juga yang selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah yang ingin ngalap karomah dari kesucian dan kebersihan hati Mama Sempur. Seperti dituturkan Mama Dudus, nama Mama Sempur ini sangat melekat dihati masyarakat setempat. Keluasan ilmunya itu tercermin dari besarnya kharisma yang dimilikinya.

Hingga saat ini nama Mama Sempur masih sangat dihormati sebagai guru yang berpengaruh dalam dunia pesantren. “Bahkan di tatar Jawa Barat ia telah menjadi salah satu mata rantai penghubung keilmuan salaf untuk dekade ini, ” ucap Mama Dudus. Pondok pesantren Salafiyah yang berada di Desa Sempur, Kecamatan Plered yang lokasinya menjorok beberapa meter dari jalan raya sempur menjadikan pesantren tersebut dizamannya menjadi tempat yang sangat strategis.

Pondok tersebut dahulu kerap dijadikan tempat rapat-rapat ketika akan melawan musuh seperti Belanda. Para pejuang islam tadkala merasa aman bila berada di pondok itu. Apalagi dengan letaknya yang agak tersembunyi sehingg luput dari perhatian Belanda. Tahun 1975, Mama sempur meninggal diusianya yang sudah tidak lagi muda. Namun karena kebesarannya, banyak orang berlomba datang ke makam Mama Sempur yang sebagian besarnya untuk berziarah dan mengharap keberkahan.

Sementara berkah lain dari kehadiran Mama Sempur bagi masyarakat sekitarnya adalah setiap tahunnya di areal pemakamannya setiap tahun selalu digelar acara haulan (tahun atas meninggalnya, red). Setiap menjelang tanggal yang telah ditentukan yakni akhir Dzulkaidah, masyarakat disekitar Sempur dengan sendirinya selalu mendapat keuntungan. Terutama dalam pengelolaan kios yang selalu siap disewa oleh para perantau yang ingin ikut mencari nafkah dengan berdagang di ruas jalan menuju lokasi haulan. (Oyang Este Binos)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

NumberOfComments

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 
 
 
 
Copyright © Subang Raya
Design by Eko Subang