Jumat, 28 Agustus 2009

Makam Syeh Quro Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang Wadas, Tetap Ramai

TETAP DIKUNJUNGI: Memasuki bulan Ramadhan, makam Syeh Quro tetap dikunjungi para peziarah.

LEMAHABANG WADAS, RAKA - Makam Syeh Qurrotul 'Ain atau yang lebih dikenal dengan Syeh Quro Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang Wadas, pada Ramadhan ini tetap ramai dikunjungi peziarah.
Masyarakat yang melakukan ziarah, umumnya ingin mendapatkan keberkahan dari makan tersebut. Menurut kuncen makam Syeh Quro Entis Supena, sebelum Ramahdan datang, peziarah cukup banyak yang datang. Begitu pula setelah memasuki Ramadhan, jumlah peziarah tidak berkurang.

Menurut Entis, setiap harinya selalu ada orang yang melakukan ziarah ke makam keramat tersebut. Hal tersebut dikatakannya saat ditemui RAKA, Kamis (27/8) siang. Dia melanjutkan, puncak peziarah ke makam penyebar Islam di Karawang tersebut, terjadi pada setiap Jum'at malam. Ribuan orang selalu berdatangan untuk mengikuti tawasulan bersama.

Peziarah bisa datang dari berbagai penjuru nusantara. Umumnya, mereka datang untuk melakukan ziarah, sekaligus ingin mendapatkan keberkahan atas karomah dari waliyullah. Jum'at malam merupakan pertama kalinya ditemukan keberadaan makam Syeh Quro, sehingga pada malam tersebut selalu diadakan tawasulan akbar dan ramainya peziarah datang pada malam tersebut. "Aktifitas peziarah pada Ramadhan tetap sama seperti hari-hari biasa, peziarah tetap banyak yang datang ke sini untuk melakukan tawasul," paparnya.

Diterangkannya, biasanya pada malam Nuzulul Quran, tetapnya pada 17 Ramadhan, jumlah peziarah meningkat. Bahkan setiap tahunnya masyarakat Cirebon selalu datang ke makan Syeh Quro untuk memperingati Nuzulul Quran. Syech Quro telah dikenal ke seluruh pelosok Nusantara, peziarah datang dengan berbagai motivasi.

Tapi yang terpenting, jelasnya, hikmah ziarah yang harus diambil mengenai ketokohan Syeh Quro. Keilmuan, ajaran, serta perilakunya harus dijadikan sauri teladan oleh setiap peziarah. Selain itu, dengan berziarah, akan mengingatkan peziarah akan kematian. Dengan begitu, peziarah akan senantiasa melakukan kebaikan. "Syeh Quro tidak akan diziarahi oleh ribuan orang seperti sekarang jika hanya orang biasa. Tentunya dia seorang ulama besar dengan keilmuan yang tinggi. Ketokohan beliau lah harus diambil hikmah dan pelajaran oleh setiap peziarah. Tentunya selain ingin mendapatkan barokah dari ziarah ini," paparnya.

Keberadaan makam Syech Quro, lanjut Entis, merupakan salah satu bukti adanya penyebaran Islam di Karawang. Namun, saat ini nilai-nilai ke-Islam-an itu sendiri sudah mulai luntur di kalangan masyarakat. Sebagai contoh kecilnya, mengenai penanggalan Islam. Masyarakat lebih mengetahui penanggalan masehi, ketimbang penanggalan Islam.

Untuk itu, pada setiap peringatan tahun baru Hijriyah di desanya selalu mengadakan peringatan yang akbar, hal ini untuk mengingatkan masyarakat akan ke-Islaman. "Satu Muharram selalu diadakan perayaan yang besar, agar masyarakat mengetahui tentang hal terkecil sekalipun mengenai agama Islam. Tanpa dilakukan upay seperti ini, masyarakat akan semakin melupakannya," pungkasnya.

Ramainya pengunjung makam Syeh Quro, dikatakan pula oleh petugas keamanan makam tersebut, Wardi (35). Menurutnya, pada setiap Jum'at malam peziarah bisa lebih dari 1.000 orang. Sebelum Ramadhan juga, peziarah cukup banyak yang datang, dan hingga memasuki Ramadhan peziarah tetap banyak. "Peziarah tetap ramai, baik Ramadhan atau pun di luar bulan Ramadhan. Terutama pada malam sabtu, paling banyak peziarah hingga mencapai ribuan orang. Peziarah datang dari dalam dan luar Karawang, bahkan dari luar Jawa," paparnya. (asy)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

NumberOfComments

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 
 
 
 
Copyright © Subang Raya
Design by Eko Subang